
Jalanan begitu ramai, saat jam menunjukan pukul 10 pagi, Vanessa tampak berjalan santai menyusuri panjangnya jalanan.
Hari libur kali ini sangat membuat Vanessa bosan berada di rumah, tapi ia tidak memiliki tujuan untuk pergi menghilangkan bosannya.
Untuk pergi ke rumah Sintia pun rasanya malas, wanita itu masih sangat menjengkelkan baginya sekarang.
"Kak minta uang buat makan Kak."
Langkah Vanessa seketika terhenti saat seorang anak perempuan menghadang langkahnya.
Ia diam menatap anak tersebut, penampilan anak itu buruk sekali, bajunya pun kotor, rambut yang berantakan dan wajah yang mengkhawatirkan.
"Aku belum makan Kak, sedikit saja dari uangnya."
Vanessa melihat sekitar, kasihan sekali anak itu, tapi sayang tidak ada tempat makan didekat sana.
Sintia lantas mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang di dalamnya, tapi tiba-tiba saja anak itu ambruk menabrak Vanessa.
Dompet yang digenggamnya terlempar begitu saja karena Vanessa berusaha menahan anak tersebut, ia menepuk kedua pipinya berulang kali.
"Hey, bangun, kamu kenapa?"
Vanessa tampak panik, bagaimana ini, Vanesaa tidak mau dianggap jahat terhadap anak tersebut.
Ia melihat sekitar, apa tidak ada yang bisa membantunya sekarang, Vanessa tidak tahu harus bagaimana dengan anak itu.
"Hey, bangunlah, kenapa kamu ini."
"Kenapa, Mbak?"
Vanessa menoleh, ia menggeleng, wajah paniknya benar-benar tak bisa ditutupi lagi.
"Tadi dia datang padaku, dia minta uang, tapi tiba-tiba saja dia seperti ini, aku tidak tahu kenapa."
Seorang itu memperhatikan anak perempuan tersebut, ia menggeleng dan berlalu begitu saja.
Vanessa mengernyit melihatnya, kenapa dengan orang itu, tidak bisakah dia membantunya kali ini.
"Bangun dong, tolong," teriak Vanessa.
"Ada apa?"
Vanessa menoleh, ia kembali menjelaskan yang sama pada orang tersebut, berharap kali ini ia akan mendapatkan bantuan.
"Tolong, saya tidak tahu harus bagaimana."
"Baringkan saja dia disana, nanti juga bangun dengan sendirinya, dia sudah biasa seperti itu, jadi sebaiknya kau tak perlu perduli padanya."
"Bagaimana bisa?"
Merasa tak ingin banyak bicara, orang itu lantas menggendong anak perempuan tadi, ia memindahkannya ke pinggiran sana.
Membaringkannya asal, dan kembali pada Vanessa yang masih diam di tempatnya.
"Sudah, biarkan saja dia seperti itu."
"Tapi itu tidak mungkin."
"Pergilah, kau baru lewat sini, makanya kau tidak tahu dia."
Orang itu kembali pergi begitu saja, Vanessa menggaruk kepalanya yang memang tak gatal, memangnya siapa anak itu, kenapa mereka tidak perduli.
Vanessa melihat sekitar, sebelum ia benar-benar dituduh mencelakai anak itu, mungkin memang sebaiknya ia pergi saja terlebih dahulu.
Vanessa mengangguk, ia lantas pergi tanpa melihat anak itu lagi, Vanessa tidak mau dapat masalah apa pun perihal anak itu.
__ADS_1
"Taxi mana lagi ah, mending balik ke rumah saja kalau seperti ini."
"Jangan ikut campur."
"Hey, kau yang tidak tahu diri."
Seketika itu kerumunan orang tampak di sana, bising sekali, mereka tampak berkelahi di sana.
Vanessa yang melihatnya merasa semakin khawatir, apa itu tentang anak perempuan tadi, mungkin saja orang tuanya menemukan dia di sana.
"Ahh tidak tidak, aku tidak mau."
Vanessa menggeleng, ia berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut, tidak ada taxi yang lewat dan Vanessa tidak bisa tenang menunggu.
Panjang jalan yang dilalui kakinya, Vanessa merasa kelelahan, ia melihat warung pinggir jalan, tanpa ragu ia berhenti di sana dan meminta air mineral.
"Cepat bu, haus sekali."
"Silahkan."
Vanessa membukanya dan langsung meneguknya tanpa jeda, pemilik warung tampak bingung melihatnya yang seperti itu.
"Haaah ...."
Vanessa berusaha mengatur nafasnya, kalau tahu bakal seperti ini, lebih baik dia tidur saja di rumah.
"Kenapa, Neng?"
"Aku tidak mengerti, tadi disana ada yang berkelahi."
"Oh, itu sudah biasa, pasti gara-gara anak perempuan itu lagi."
Vanessa yang berniat meneguk minumannya itu harus diam, kalimat pemilik warung berhasil menarik fokusnya.
"Maksudnya bagaimana?"
"Lalu?"
"Lalu nanti ada orang yang menghampiri, dan orang itu pasti berkata biarkan saja anak itu dipinggiran jalan, nanti juga bangun sendiri."
Vanessa berpaling, apa maksud semua itu, kenapa kalimatnya seperti itu, apa itu maksudnya Vanessa kena tipu.
Vanessa memejamkan matanya, entahlah, kena tipu apa, Vanessa tak bisa berfikir.
"Biasanya kalau sampai ribut seperti itu, pasti ada yang memergoki ulah mereka, pasti ada korban di sana."
"Korban apa, pengeroyokan?"
"Itu bisa, tapi korban lainnya yang kehilangan barangnya, atau juga uang."
Vanessa mengernyit, otaknya bekerja dengan cepat kali ini, dengan segera ia menyimpan minumannya dan membuka tasnya.
Apa-apaan ini, Vanessa telah melupakan dompetnya, kemana dompetnya sekarang, tidak ada di dalam tasnya.
"Kenapa lagi, Neng?"
"Dompet saya tidak ada di dalam tas."
Pemilik warung itu justru tersenyum, rupanya Vanessa yang menjadi korban anak penipu itu.
Vanessa mengusap wajahnya perlahan, kenapa bisa seperti itu, Vanessa lupa jika dompetnya sempat terjatuh tadi.
"Ah sial," umpat Vanessa pelan.
"Tidak apa-apa Neng, kalau memang tidak bisa bayar, saya mengerti kok."
__ADS_1
Vanessa diam, itu memang benar adanya, semua uang Vanessa ada di dalam dompetnya.
Benar-benar keterlaluan anak itu, awas saja kalau nanti bertemu lagi, Vanessa akan membawanya ke kantor polisi.
"Bu, rumah saya lumayan dekat dari sini, saya bisa balik lagi nanti untuk bayar ya, Bu."
"Tidak perlu seperti itu ...."
Vanessa menoleh, ia terlonjak dari tempatnya saat melihat Damar yang babak belur.
Damar memberikan dompet yang berhasil didapatkannya tadi, Vanessa mengangkat kedua alisnya, jadi Damar yang berkelahi tadi, tapi bagaimana bisa.
"Belajarlah untuk lebih berhati-hati, cek dulu apa ada yang hilang."
Vanessa menelan ludahnya, ia mengambil dompetnya dan memeriksa isinya, semua masih lengkap seperti semula.
"Kamu ...."
"Segera pulang, atau mereka akan mengejar mu lagi."
Damar ngeloyor pergi tanpa pamit, Vanessa menggeleng, dengan tergesa ia membayar minumannya dan segera mengejar Damar.
"Neng, kembaliannya."
Tak ada jawaban, Vanessa tak ada waktu untuk menunggu kembalian.
"Hey tunggu," ucap Vanessa.
Damar hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya, kenapa harus ia mengalami kesialan seperti ini.
Dua hari lagi Damar harus ada mendampingi Sintia, mana bisa jika dalam keadaan bonyok seperti itu.
"Hey berhenti apa kau tidak dengar."
Damar berdecak dan menghentikan langkahnya, ia menoleh dan sedikit terkejut karena Vanessa sudah ada tepat di belakangnya.
"Apa kamu ini tuli?"
"Jangan banyak bicara, aku sudah menyuruh mu pulang."
"Mana bisa seperti ini, kamu sudah menolong ku, jadi biarkan aku menolong mu sekarang."
"Ah itu sangat tidak perlu."
Damar kembali melangkah, tapi kali ini gagal karena Vanessa lebih dulu menghalanginya.
Damar menghembuskan nafasnya pasrah, menyebalkan sekali, apa Vanessa tidak tahu jika ia sedang kesakitan saat ini.
"Kita ke Dokter."
"Tidak perlu, ini hanya luka kecil."
"Tetap saja harus diobati, diamlah jangan banyak bicara."
Damar mengernyit, bukankah wanita itu yang sejak tadi banyak bicara, dia terus saja menghalangi Damar.
Vanessa menghentikan taxi, tanpa berkata apa pun ia menarik Damar agar masuk taxi bersamanya.
"Pak, ke Rumah Sakit terdekat," ucap Vanessa.
"Baik."
"Berlebihan sekali kamu ini, aku tidak perlu perawatan Dokter."
"Diamlah, apa kau tidak bisa diam."
__ADS_1
Damar berpaling, ia mengusap pelan lukanya, sentuhan tipis saja cukup membuatnya kesakitan.
Ah Sintia pasti tidak mau jalan dengannya, wanita itu akan jadi bahan tontonan jika jalan dengan Damar yang penuh lebam.