Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Pulang Saja


__ADS_3

Pagi hari Zahra sudah siap dengan penampilannya, ia menggenggam map di tangannya, tatapannya kosong, entah apa yang sedang difikirkannya pagi hari ini.


"Zahra," panggil Bian.


Zahra menoleh, lelaki itu baru siuman dari tidurnya, Zahra memasukan mapnya pada tas yang akan dibawanya.


"Apa itu?" tanya Bian.


"Bukan apa-apa, aku harus mengantarkan ini ke Kantor, jadi aku harus pergi sekarang."


"Biar aku antar."


"Tidak perlu, kamu istirahat saja, aku hanya pergi sebentar."


Zahra berlalu tanpa berniat mendengarkan Bian lagi, langkahnya terhenti diambang pintu, Zahra kembali melirik Bian di sana.


Lelaki itu tampak tersenyum, tapi Zahra berpaling saat itu juga, Zahra keluar dan menutup pintunya.


Zahra harus kuat, bukankah perasaannya sudah mati, hidupnya tidak akan ada harapan lagi.


"Bi, aku berangkat ya."


"Sarapan dulu, Non."


"Antarkan sarapan untuk Bian, dia sudah bangun sekarang."


"Baik, Non."


Zahra mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya, Zahra tidak boleh ingkar dengan perasaannya sendiri.


Hidupnya adalah pilihannya, tidak boleh lagi Zahra bergantung pada siapa pun, karena setelah ini mungkin Zahra akan benar-benar terbuang dari semuanya.


 ----


Kania berjalan menyusuri lorong rumah sakit, pagi ini ia mendatangi rumah sakit untuk menemani Inggrid.


Sejak kemarin Inggrid hanya sendirian di sana, karena Kania yang memang sedang tidak di tempat.


"Mami," panggil Kania seraya menghampiri.


Inggrid tampak melihat belakang Kania, sejak kemarin ia tak henti memikirkan Zahra, wanita itu juga belum mengunjunginya sampai sekarang.


"Cari siapa?"


"Kamu tidak bersama Ayra?"


"Aku tidak sempat ke rumahnya, aku langsung kesini tadi."


Inggrid mengangguk, Nur juga tidak ada memberinya kabar apa pun, apa Zahra baik-baik saja di sana, apa Bian sudah kembali lagi dan bagaimana mereka di sana.


Kania membuka makanan yang dibawanya, ia yakin Inggrid pasti belum makan saat ini, tidak ada salahnya ia menyiapkan semua.


"Mami, mau makan sekarang?"


"Mana Kemal?"


"Ke Kantor, mungkin nanti siang baru kesini."


"Sebaiknya kamu ke rumah Zahra, lihat dia apa baik-baik saja disana."


"Iya, nanti aku kesana, sekarang Mami makan dulu."


"Pergi sekarang."


Kania diam, kenapa seperti itu, bukankah Bian pasti ada di sana, dan ada mbak rumah juga, kenapa Inggrid harus selalu mengutamakan wanita itu.

__ADS_1


Inggrid tampak duduk, itu bukan hal yang bisa membuatnya tenang, Inggrid harus melihat sendiri keadaan Zahra.


"Mami mau apa?"


"Panggil Dokter, Mami mau pulang sekarang."


"Tidak bisa seperti itu, Mami harus tetap disini sampai pulih."


"Mami mau pulang sekarang, kalau kamu tidak mau bantu, biar Mami usaha sendiri."


"Iya iya, iya sabar dulu, biar aku coba temui Dokter."


Inggrid mengangguk, itu jawaban yang paling benar, sesuai dengan keinginan Inggrid.


Kania lantas pergi meninggalkan ruangan, apa yang akan dikatakannya pada dokter nanti.


"Suster," panggil Kania.


"Iya Bu, ada yang bisa dibantu?"


"Saya mau bertemu Dokter, saya mau minta pasien atas nama Bu Inggrid untuk pulang sekarang, beliau memaksa untuk itu."


"Sebentar saya panggilkan."


"Terimakasih."


Suster mengangguk dan berlalu, Kania bisa apa, kalau ia membantah pasti hanya akan kena omel Inggrid saja.


Kania juga memang khawatir dengan Zahra, apa yang diketahuinya semakin membuat dirinya simpatik terhadap Zahra.


"Permisi."


"Ah iya, Dokter mohon maaf, tapi Ibu saya tetap ingin pulang sekarang."


"Iya, tapi tetap saja tidak bisa."


Dokter menggeleng, kenapa selalu ada saja pasien yang bandel seperti itu, padahal aturan yang diberlakukan adalah untuk kebaikannya sendiri.


Kania berpaling sesaat, kalau saja dokter tidak mengizinkannya, Inggrid pasti akan pergi dengan sendirinya.


"Dokter, mungkin saja bisa rawat jalan, atau dirawat di rumah saja, tidak apa saya bayar lebih yang penting Ibu saya tidak terbebani dengan keinginannya sendiri."


"Baiklah, biar saya periksa dulu."


"Silahkan Dokter."


Keduanya kembali memasuki ruangan, Inggrid masih tetap dengan posisi duduknya, ia sudah sangat tidak sabar dengan kepulangannya.


"Mami, biar Dokter periksa dulu."


"Silahkan saja, saya sudah baik-baik saja sekarang."


"Semoga saja, Bu."


Inggrid perlahan berbaring, ia membiarkan dokter memeriksanya, mau apa pun hasilnya Inggrid akan tetap minta pulang.


Kenapa hanya dirinya saja yang harus bertahan di rumah sakit, bukankah Zahra juga terluka, tapi wanita itu diizinkan pulang sejak kemarin.


"Apa tidak bisa Ibu menunggu sampai besok?" tanya dokter.


"Tidak, saya harus pulang sekarang."


"Hanya satu hari lagi, Mami," sahut Kania.


Inggrid diam, mereka meminta untuk berdebat, apa mereka fikir akan menang mendebat Inggrid.

__ADS_1


Kania menggeleng, tidak ada harapan lagi, Kania sangat tidak ingin diomeli Inggrid nantinya.


"Pulang atau tidak saya sekarang?"


"Tunggu besok, Bu."


"Kalau begitu biar saya pergi sendiri saja."


"Mami."


"Apa, kamu diam saja, lebih baik kamu pulang saja."


Kania dan Dokter saling lirik, mau bagaimana lagi, lebih baik memang mereka mengizinkan Inggrid pergi saja.


Kania akan menjaganya di rumah, sekalian Kania juga mengawasi Bian di sana, Kania ingin tahu ulahnya setiap waktu.


"Baiklah, tapi kalau sampai ada apa-apa, saya tidak bertanggung jawab," ucap dokter.


"Saya akan baik-baik saja, apa itu tidak terdengar?" tanya Inggrid.


"Mami, sudahlah, Dokter kalau gitu saya akan selesaikan semuanya."


"Silahkan Bu, kalau begitu saya permisi."


"Terimakasih."


Dokter kembali meninggalkan mereka, ia sudah mengatakan keharusannya, tapi mereka tetap tidak mau mendengar, jadi biarkan saja semaunya.


Kania turut pamit untuk menyelesaikan administrasinya, yang penting Inggrid bisa pulang sekarang dan mereka tidak perlu terburu-buru.


 


"Kita harus berangkat sekarang?" tanya Damar.


"Menurut mu kapan?"


Damar diam, salah sekali karena ia tidak sempat meminta kontak Inggrid atau Ayra, sekarang ia akan kembali mengusik mereka.


Jika saja ada kontak yang bisa dihubungi, Damar akan menghubungi mereka untuk mengatakan niat kedatangannya.


"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Yosep.


"Tidak ada, hanya saja aku khawatir jika ucapan mu tidak sesuai dengan apa yang akan terjadi nanti."


"Terserah saja mau berfikir seperti apa."


Damar mengangguk, ya memang terserah saja, karena Damar tidak akan biarkan lelaki itu berulah lagi.


Semoga saja mereka sedang dalam keadaan baik, sehingga tidak akan membuat keadaan terlalu buruk.


"Ya sudah, ayo berangkat," ajak Damar.


"Sejak tadi aku menunggu mu selesai berfikir."


Keduanya lantas berjalan keluar rumah, mereka akan kembali mendatangi rumah Zahra.


Meski dengan kekhawatiran yang tidak bisa dipungkiri, Damar harus mendampingi Yosep, paling tidak ia bisa membantu meredam kekacauan yang bisa saja terjadi.


"Kamu yakin mereka ada di rumah?" tanya Yosep.


"Mereka pasti ada, bukankah itu rumah mereka, dan keadaan mereka sedang tidak baik sekarang."


Yosep hanya mengangguk saja, keduanya diam menikmati perjalan menuju rumah Zahra.


Mereka sibuk dengan fikirannya sendiri, tidak ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi nanti di sana.

__ADS_1


__ADS_2