Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Berubah Fikiran


__ADS_3

"Ayo Pah, kita pulang saja, biarkan saja Bian dengan keinginannya sendiri sekarang."


Kemal mengangguk dan berlalu memasuki mobilnya, Kania masih saja menatap Bian, rasa kecewanya terhadap Bian telah semakin besar sekarang.


"Mah, Bian ...."


Kania berlalu memasuki mobil tanpa menunggu kalimat Bian selesai, Bian tidak perlu katakan apa pun lagi jika itu hanya akan menambah sakit hati Kania saja.


"Mah, Pah."


Bian mengetuk kaca mobil, tapi bukan terbuka, mobil itu justru melaju pergi meninggalkan rumah tersebut.


Bian mengusap wajahnya, bagaimana sekarang, kenapa mereka datang tanpa menghubungi Bian terlebih dahulu.


Bian melirik pintu di sana, bagaimana keadaan Zahra sekarang, wanita itu tidak terlihat datang menemui Bian dan mereka kesana.


Bian lantas memasuki rumah dan langsung naik ke lantai atas, Bian harus memastikan keadaan Zahra tetap baik-baik saja.


"Zahra," panggil Bian seraya mengetuk pintu.


"Zahra buka, kamu di dalam kan, ayo buka."


Bian melihat sekitar, Zahra selalu ada di kamar itu, jadi sekarang pun Zahra pasti ada di dalam sana.


"Zahra, kamu dengar aku, buka pintunya."


Bian terus mengetuk pintu tersebut, tapi tak kunjung terbuka, apa mungkin Zahra sedang keluar, tapi tadi Kania dan Kemal begitu marah bukankah itu artinya mereka sudah bertemu Zahra.


"Zahra, ini aku, aku sudah kembali."


Tid .... Tid .... Tiiidd, Bian menoleh, suara klakson mobil, apa mungkin Kemal dan Kania kembali ke rumah itu.


Bian beranjak dari tempatnya, dan bersamaan dengan itu pintu terbuka, Bian menoleh dan melihat Zahra yang sudah siap untuk pergi.


"Zahra, kamu mau kemana?"


Zahra tak menjawab, dan berjalan melewati Bian begitu saja.


"Zahra," panggil Bian.


Zahra tak peduli dan terus berjalan menuruni tangga.


"Apa yang akan dilakukannya sekarang."


Bian lantas menyusul kepergian Zahra, apa pun masalahnya Zahra tidak bisa pergi begitu saja.


"Zahra, Zahra tunggu, Zahra."


Zahra tampak memasuki mobil, rupanya itu taxi online yang pasti telah dipesan Zahra sejak tadi.


"Zahra tunggu, kamu gak bisa seperti ini, Zahra."


"Jalan, Pak."


"Tapi Bu, itu orangnya."

__ADS_1


"Jalan, Pak."


Zahra tak peduli dengan Bian yang menggedor kaca, Zahra ingin pergi saja untuk saat ini, Bian pasti akan turut memarahinya karena telah menemui orang tuanya tadi.


Bian berlari ke depan mobil saat mobil itu melaju, tentu saja itu membuat mobil kembali berhenti.


Zahra nyaris terjatuh karena rem yang mendadak itu.


"Maaf Bu, tapi saya gak mungkin tabrak orang di depan, lebih baik Ibu temui dulu, saya akan menunggu sampai selesai."


"Pak, buka pintunya Pak," ucap Bian.


"Tolong Bu, jangan menyulitkan saya, saya hanya sopir taxi dan saya sangat butuh pekerjaan ini."


"Pak buka pintunya, atau saya harus memaksa?"


Zahra memejamkan matanya sesaat lantas keluar, Bian tampak berlari menghampirinya.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau jalan sebentar, aku pusing diam di rumah."


Bian menyipitkan matanya, tidak akan salah jika Zahra memang habis menangis, apa yang telah dilakukan Kania dan Kemal tadi.


"Kamu kenapa, kalau kamu mau pergi, kamu harusnya bilang sama aku."


"Aku mau pergi sendiri, permisi."


Zahra kembali memasuki taxi, tapi Bian menahan pintu itu agar tidak tertutup.


"Urusan kita memang belum selesai, tapi sepertinya aku mau fikirkan ulang semuanya."


Bian mengernyit, apa maksudnya, kenapa Zahra bisa berkata seperti itu.


"Apa maksud kamu, aku bilang jangan pergi dengan cara seperti ini, ayo keluar."


"Aku gak mau."


Bian menggeleng dan menarik Zahra hingga keluar, memang sedikit sulit dan mungkin Bian telah menyakiti Zahra sekarang.


"Lepas ih."


"Pak, jalan Pak."


"Enggak, aku mau pergi, lepas."


"Pak jalan sekarang, dia gak jadi pergi."


"Baik, pak."


Taxi itu melaju pergi meninggalkan rumah, dan Bian menarik Zahra kembali memasuki rumah, Bian tak peduli dengan penolakan Zahra saat ini yang terpenting adalah Zahra tidak pergi dari rumah itu.


"Lepas, sakit."


Suara Zahra telah berhasil membuat mbak rumah berlari untuk melihatnya, tapi tak ada yang bisa dilakukannya, karena tidak mungkin juga jika harus kurang ajar pada majikannya.

__ADS_1


"Lepas sakit, Bian."


"Kamu gak akan kesakitan seperti ini kalau kamu gak keras kepala."


"Aku bisa jalan sendiri, lepas."


Bian tak peduli, Bian terus menariknya hingga kembali ke kamar, Bian mengunci pintu itu dan mengantongi kunci tersebut.


Bian melepaskan Zahra, sekarang Zahra tidak akan bisa kemana-mana lagi.


"Ada apa ini, aku sudah bilang kalau kamu mau pergi kamu harus sama aku."


"Kenapa, kenapa harus seperti itu?"


"Ya agar aku tahu kemana kamu pergi, aku sudah bilang sama kamu kalau aku akan jaga kamu selama urusan kita belum selesai."


"Lalu tadi kamu kemana?" bentak Zahra.


Bian mengernyit, berani sekali Zahra membentaknya seperti itu, apa pun alasannya Bian tetaplah lebih tua dari pada dirinya.


"Kemana kamu, kemana kamu waktu Mamah kamu tampar aku, kemana kamu waktu Mamah kamu membentak aku berulang kali, kemana kamu?"


Tak ada jawaban, apa benar itu yang terjadi, apa benar Kania bisa berbuat kasar seperti itu pada orang lain, bahkan pada Zahra.


"Kemana kamu, kenapa hanya diam saja?"


"Zahra, aku tadi ...."


"Main, kamu sibuk main sama teman-teman kamu itu, kamu sibuk bersenang-senang dengan mereka, itu kan kemauan kamu, kamu ingin selalu bebas menjalani hari kamu."


"Kenapa kamu jadi marah-marah sama aku?"


Bian jadi turut emosi karena mendengar Zahra yang terus membentaknya, apa masalahnya kalau memang Bian bersenang-senang dengan temannya.


"Dari awal juga kamu yang maksa buat nikahi aku kan, dari awal aku sudah mau pergi dari tempat ini bahkan dari kota ini, tapi kamu yang menghalangi aku."


"Memang benar, lalu apa, kamu fikir dengan seperti itu berarti kamu bisa membentak aku seperti ini, jangan kurang ajar kamu."


Zahra menggeleng, air matanya kembali menetes, Bian tak mengerti dengan perasaan Zahra saat ini.


Setelah Zahra merasa terluka karena bentakan dan tamparan Kania, sekarang Bian turut memarahinya.


"Kenapa diam, sejak awal memang aku yang paksa kamu, tapi disaat itu juga kamu setuju, kenapa sekarang jadi seperti ini?"


"Kalau gitu, aku berubah fikiran, aku gak mau melanjutkan perjanjiannya."


"Apa maksud kamu, kamu fikir kamu bisa gitu saja pergi dari aku?"


"Kita belum menikah, aku masih bisa pergi sebelum pernikahan itu terjadi."


"Jangan main-main."


Bian menarik kasar lengan atas Zahra, Zahra seketika memejamkan matanya dan mendunduk.


"Disini, aku yang membuat aturan, dan aturan yang aku buat sudah kamu setujui, jadi kamu bisa merubah aturan kalau memang aku menyetujuinya, kamu mengerti?" bentak Bian

__ADS_1


__ADS_2