
Bian berjalan memasuki rumah, beberapa hari ia tidak menginjak rumah, dan hari ini ia memutuskan kembali setelah semua dirasa lebih tenang.
"Zahra," panggil Bian.
Kakinya terus melangkah, ia mencari sosok yang memang ingin dilihatnya pagi ini.
"Zahra, apa kamu tidak mendengar ku?"
"Den Bian."
Bian menoleh, bukan wanita itu yang sedang dicarinya, untuk apa dia datang.
"Non Ayra pergi sama Ibu, sudah dua hari."
"Pergi kemana?"
"Katanya mau ke rumah Ibu."
"Ke rumah Oma?"
"Iya."
Bian diam, apa maksudnya, bagaimana bisa Zahra meninggalkan rumah begitu saja, apa lagi Bian sedang tidak ada di sana.
"Den Bian tidak boleh menyusul, itu pesan Ibu sebelum pergi."
"Apa maksudnya, bisa sekali melarang ku seperti itu."
Bian menggeleng dan berlalu begitu saja menaiki tangga, langkah yang salah, kenapa mereka malah meninggalkannya sendirian seperti itu.
Bian memasuki kamar dan mengeluarkan ponselnya, ia duduk di sofa seraya menghubungi Zahra.
"Dia harus segera kembali, bisa-bisanya pergi tanpa pamit."
Bian mengulang terus menerus panggilannya, Zahra yang tak merespon membuat Bian kesal sekali.
Harusnya Zahra kapok dengan apa yang telah terjadi padanya, bukan malah membuat ulah yang lain lagi.
"Kemana dia, berani sekali mengabaikan ku seperti ini."
Bian berkutat dengan ponselnya, mengirim pesan penjelasan jika ia sangat marah saat ini.
Tapi beberapa saat kemudian, panggilan video masuk yang justru dari Inggird, Bian tersenyum kecut, wanita itu pasti telah mengadu pada Inggrid.
"Mana wanita itu?" tanya Bian setelah panggilan tersambung.
"Untuk apa menanyakan dia?"
"Tentu saja, berani sekali dia meninggalkan rumah tanpa izin ku."
"Kemana saja kamu, sudah berapa hari Zahra tidak di rumah dan kamu baru mencarinya sekaran?"
"Mana dia, berikan ponselnya."
"Tidak akan, dengar baik-baik, Oma akan menjaganya, kamu tidak akan lagi bisa mengganggunya apa lagi sampai menyakitinya, tunggu saja apa yang akan kamu dapatkan dari sikap buruk mu itu."
"Kalian bersekongkol untuk membalas ku, apa Oma tidak lagi menyayangi ku?"
Inggrid tersenyum seraya menggeleng, apa bisa Inggrid tidak menyayangi cucunya sendiri, rasanya sangat tidak mungkin.
Bian akan tetap jadi cucunya meski seburuk apa pun kelakukannya, tapi disisi lain Inggrid juga menginginkan Zahra untuk tetap bersamanya.
"Kembalikan dia, suruh dia pulang atau aku yang akan menyeretnya kesini."
"Benarkah, berani kamu lakukan itu, coba saja kalau memang bisa."
"Itu bukan hal sulit, dengar baik-baik, aku akan hancurkan semuanya seperti apa yang aku inginkan, dan Oma tahu jika itu bukanlah keinginan Oma."
__ADS_1
"Tutup mulut mu itu."
"Simple saja, kembalikan wanita itu, biarkan dia disini bersama ku."
"Dia bersama mu hanya akan sia-siakan nyawanya saja."
"Oma ...."
Sambungan terputus tiba-tiba, Bian menoleh melihat ponselnya yang direbut begitu saja.
Ada kemal dan Kania di sana, untuk apa mereka datang, tidak ada yang mengundang mereka sama sekali.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Kemal.
"Kembalikan ponsel ku."
"Tidak bisakah kamu hidup lebih baik lagi, kenapa harus selalu seperti ini?"
"Kembalikan ponsel ku, itu tidaklah sulit."
"Diam kamu, Bian," sahut Kania.
Bian menoleh, ia diam menatap keduanya bergantian, seharusnya Kemal ke kantor sekarang, tapi kenapa malah datang ke rumahnya.
"Kamu kalau mau celaka, celaka saja sendiri, jangan mencelakakan orang lain juga."
"Apa maksud Mama?"
"Apa maksud Mama, kamu masih bertanya sampai sekarang?"
Bian kembali diam, apa lagi sekarang, setelah Zahra dan Inggrid, kini Kemal dan Kania juga turut membuatnya pusing.
Kemal melemparkan berkas yang dibawanya itu ke dada Bian, satu detik kemudian, ia juga melemparkan ponselnya asal.
Nyaris saja mengenai wajah Bian, jika ia terlambat menghindarinya.
"Ada apa ini?" tanya Bian.
"Ulah apa, aku disini, tidak melakukan apa pun juga, kalian melihat sendiri."
"Cukup Bian," sela Kania.
Bian mengernyit, ada apa dengan mereka berdua, aneh sekali kelakuannya.
Bian mengambil ponselnya, bersama dengan berkas yang berantak itu juga, ia memastikan ponselnya baik-baik saja, hingga ia membuka lembaran kertas yang dipungutnya itu.
"Bacan dengan benar, bukankah otak mu itu pintar," ucap Kemal.
Bian menoleh sekilas, ia mengamati semuanya, itu adalah laporan kerugian perusahaan Kemal selama dua bulan terakhir.
"Apa ini, kenapa dilemparkan padaku?"
Plakk ....
Bukan mendapat jawaban, Bian justru mendapatkan tamparan dari Kemal.
"Papa, diam dulu," ucap Kania.
"Kamu yang diam," ucap Kemal sedikit membentak.
"Apa ini, kalian baru saja datang tapi sudah seperti ini?"
"Tidak bisakah kamu bersikap lebih baik, apa kamu tidak mengerti dengan maksud pertemuan ini."
"Papa."
"Sebaiknya kamu keluar," ucap Kemal pada Kania.
__ADS_1
Bian mengangkat kedua alisnya, kepalanya mulai pusing, dan Bian bisa saja mengusir keduanya jika ia mau.
"Kembalikan semua kerugian itu," ucap Kemal.
"Kembalikan?" tanya Bian.
"Kembalikan semuanya, apa kamu sudah tidak bisa berfikir lagi sekarang!" bentak Kemal.
Bian menyipitkan matanya, apa yang sudah dilakukannya, bahkan Bian tidak sehari pun mengurus perusahaan.
Kerugian apa yang dimaksud, sampai mereka menyalahkan Bian, bukankah Kemal sendiri yang mengurus semuanya.
"Kenapa diam, kamu masih sangat bodoh untuk bisa mengerti itu?"
"Aku tidak mengerti apa-apa, jadi jangan membuat ku semakin pusing."
"Benarkah, jadi anak ku sudah jadi bodoh sekarang ini."
Kemal tersenyum seraya mengusap bahu Bian, jengkel sekali perasaannya, jika saja Bian bukan putranya, mungkin Kemal sudah menyakitinya lebih dari pada tamparan itu.
"Semua hilang, Oma yang ambil semuanya, Bian," ucap Kania.
"Oma, lalu kenapa aku yang ditampar?"
Kemal seketika berpaling seraya mengusap wajahnya, memang menjengkelkan lelaki itu, ia benar-benar telah menjadi bodoh.
"Kamu tetap tidak memperlakukan Ayra dengan baik?" tanya Kania.
"Tentu saja baik, dia Istri ku."
"Apa harus Papa tampar kamu lagi, biacara dengan benar karena kamu bukan bocah TK lagi."
"Lalu apa yang harus aku katakan, sudahlah aku sedang pusing sekarang, sebaiknya kita bicara lagi nanti."
"Bian," panggil Kania.
"Dia memang sudah tidak mampu berfikir dengan baik, dia sudah tidak waras."
"Benarkah, aku tidak tahu kesalahan ku apa."
"Berhenti berpura-pura, kamu sudah sangat menyakiti wanita itu, dan imbasnya adalah kerugian itu semua."
Bian berpaling, apa benar wanita itu juga mengadu pada mereka, menjengkelkan sekali dia.
Kemal menarik baju Bian, ingin sekali ia memukulnya dengan kasar saat ini.
"Kembalikan kerugian perusahaan, semua adalah ulah kamu, kamu memaksa menikahi wanita itu, tapi sekarang kamu justru merugikan semuanya."
"Wanita itu terlalu menjengkelkan."
"Kalau kamu tidak mau lagi dengannya, tinggalkan dia, kamu bebaskan dia dari pernikahan kalian."
"Aku belum mendapatkan apa-apa, bagaimana bisa aku melepaskannya?"
Plaakk ....
Kedua kali, Bian menyentuh pipinya, Kemal menamparnya di pipi yang sama, tentu saja kali ini terasa lebih sakit.
"Kamu fikir dengan kamu mempertahankan dia dan terus menerus menyakiti dia, itu bisa menguntungkan mu?"
"Dia tetap jadi jalan terbaik untuk ku."
"Tapi jalan terburuk untuk kami!" bentak Kemal.
"Bian, kamu tinggalkan saja wanita itu, kamu bisa menikahi wanita lain yang lebih kamu inginkan, dengan begitu kamu bisa bersikap baik padanya dan tidak akan ada yang dirugikan," ucap Kania.
Bian diam, benarkah seperti itu, bukankah Bian menginginkan Vanessa, bisakah mereka menikah dan bisakah hasilnya sesuai dengan keinginan Bian.
__ADS_1
"Apa yang kamu fikirkan, kamu akan menunggu semua hancur tak tersisa, kamu mau buat kita semua hidup susah?" tanya Kemal.
Bian tak menjawab, tak ada yang bisa jadi jawabannya sekarang, Bian harus berfikir terlebih dahulu untuk jawabannya.