
Bian kembali ke rumah sakit, fikirannya saat ini sangatlah tak terarah, apa yang dikatakan Dion padanya sangatlah mengganggu.
Bian memasuki kamar rawat Zahra, wanita itu tampak tertidur dengan selang infus di tangannya.
"Zahra," panggil Bian seraya duduk di sampingnya.
"Zahra, kamu masih bisa dengar aku?"
Bian melihat sekitar, tidak ada yang menemaninya di sana, padahal Bian sudah kabarkan pada orang tuanya tapi sepertinya mereka tidak datang.
"Zahra," panggil Bian lagi.
Tangannya terangkat mengusap kepala Zahra.
"Zahra, aku harus jelaskan semuanya, bukankah kamu tahu apa yang terjadi, aku minta maaf tapi aku tidak merenggut kesucian kamu."
Bian tak mendapatkan respon apa pun, bahkan untuk sekedar sedikit pergerakan saja, Zahra diam saja mungkin memang sudah terlelap.
"Zahra, kamu jawab aku, aku harus tahu apa yang kamu fikirkan tentang semuanya, aku tidak melakukan melakukan hal kotor itu."
Bian meraih tangan Zahra, kenapa ada sedikit perasaan sedih melihat Zahra yang seperti itu, apa karena Bian merasa bersalah.
"Kamu pasti dengar aku kan sekarang, kamu sengaja diam karena kamu merasa marah sama aku, iya kan Zahra?"
Bian memejamkan matanya, Bian memang sengaja tidak menemui Zahra untuk mengurus pernikahannya, Bian tidak tahu jika ternyata Zahra tidak mau makan dan minum.
Dan kenapa juga Zahra tidak berpakaian, apa mungkin memang Dion yang berbohong padanya, mungkin saja Dion mengarah tentang semua yang dikatakannya pada Bian tadi.
"Tapi untuk apa, untuk apa dia melakukan itu."
Bian diam, seketika itu ingatannya kembali memutar perkataan Sintia sewaktu di tempat acara tadi.
~^^~
"Kenapa, kalau kamu gak mau wanita itu terluka, harusnya kamu halangi dia untuk bersama Bian."
Dion mengernyit, kenapa seperti itu lagi kalimatnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Bian.
"Maksud aku, kamu mau tahu?"
"Apa, katakan saja."
"Emmm, kamu sepertinya harus tahu, kalau istri kamu itu pacarnya teman kamu sendiri, iya kan Dion?"
__ADS_1
Bian melirik Dion di sana yang juga melirik Bian, Bian mengernyit, apa yang dilakukannya pada Zahra, untuk apa mereka berdekatan seperti itu.
Bian menggeleng dan menarik Zahra agar menjauh dari Dion, Zahra limbung dan jatuh dipelukan Bian, kedua mata Zahra terpejam karena kepalanya yang terasa pusing.
"Jangan kasar dong," ucap Dion.
"Urusan kamu apa?" tanya Bian.
"Benar kan apa yang aku bilang, mereka berdua memang ada sesuatu, mereka begitu pinta menutupi semuanya dari kamu."
Mereka menoleh bersamaan, Sintia pasti sengaja mau membuat mereka ribut, dan sepertinya Bian tidak perlu menanggapi itu.
~^^~
Bian menggeleng seraya mengusap wajahnya, kenapa jadi hal itu yang terlintas difikirannya saat ini, kenapa kata-kata Sintia justru menari indah difikirannya.
"Gak mungkin Ra, apa benar kamu ada hubungan sama Dion sebelum bertemu sama aku?"
Bian kembali menggeleng, bagaimana mungkin seperti, bukankah sebelum ada Zahra pun Bian dan Dion selalu sama-sama.
Mereka selalu menghabiskan waktu di tempat nongkrong, dan Bian tidak pernah mendengar apa lagi melihat Dion bersama Zahra.
Tapi kenapa Sintia bisa berkata seperti itu, atas dasar apa juga Sintia mengatakan semua itu.
Bian berdecak dan mengacak rambutnya kasar, kenapa Bian harus sampai prustasi seperti itu,
"Zahra, bangun, kamu gak tidur sekarang aku tahu itu, ayo bangun."
Bian mengoyak tubuh Zahra, kenapa wanita itu hanya diam saja, bahkan setelah Bian bicara panjang lebar pun Zahra tetap saja diam.
"Zahra, kamu jangan buat aku marah lagi, kamu tahu kalau aku marah, aku bisa lakukan apa saja sama kamu, apa lagi sekarang kamu sudah jadi istri aku."
Bian memukul besi ranjang itu, sungguh menjengkelkan wanita di hadapannya itu, apa dokter telah membiusnya atau mungkin memang dia mati bukan sekedar tidur.
"Zahra, bangun."
"Ada apa, Pak?"
Bian menoleh dan melihat suster memasuki ruangan, jam berapa ini, kenapa masih ada suster yang masuk.
"Jangan mengganggu pasien, biarkan dia istirahat terlebih dahulu."
"Apa dia dibuat tidak sadarkan diri sekarang?"
"Tidak, hanya saja mungkin tidurnya yang lelap."
__ADS_1
"Gak mungkin, saya sudah bicara panjang lebar sama dia sejak tadi, kalau dia hanya tidur sudah pasti bisa mendengar suara saya, tapi ini enggak."
"Maaf Pak, pasien memang sedang tidak dalam kondisi baik, mungkin sekarang pasien merasa lebih nyaman sehingga bisa tidur dengan tenang."
Bian menggeleng, apa benar seperti itu, tapi kenapa sampai tidak ada respon sedikit pun juga, Bian sudah mengoyak tubuhnya apa mungkin Zahra tidak bisa merasakan itu semua.
"Lebih baik Bapak menunggu di luar saja, biarkan pasien istirahat dulu, semakin tenang istirahatnya maka akan semakin cepat juga proses penyembuhannya."
Tak ada jawaban, Bian tidak ingin Zahra diam saja, Bian hanya mengajaknya bicara tidak untuk mengajaknya lari.
"Silahkan menunggu di luar saja, Pak."
"Nanti saya keluar."
"Baiklah, tapi jangan ganggu pasien lagi."
"Sudahlah, pergi saja."
Suster itu mengangguk dan berlalu meninggalkan keduanya, paling tidak ia sudah mengingatkan Bian untuk tidak mengganggu Zahra.
Bian menatap wajah itu, kedua matanya begitu betah terpejam, apa benar jika Zahra sedang terlelap saat ini.
"Zahra, aku sudah janji untuk menjaga kamu, kita sudah menikah sekarang, apa lagi yang kamu takutkan?"
Bian mengusap punggung tangan Zahra dengan ibu jarinya, pernikahan itu memang tidak diinginkannya, tapi Zahra tahu alasannya dan setuju juga.
"Zahra, kita bisa bicarakan semuanya secara baik-baik, kamu buka mata kamu ya, aku janji tidak akan kasar lagi sama kamu."
Bian mengusap pipi Zahra perlahan, berharap jika Zahra bisa terusik dari tidurnya, dan bisa bicarakan semuanya dengan baik dan jelas.
"Ayo Zahra, kalau kamu bangung, kamu bebas mau lakukan apa saja terhadap ku, kamu marah, mau pukul aku, mau maki aku, silahkan saja, tapi biarkan aku minta maaf untuk semuanya, aku akui aku memang bersalah."
Bian menyimpan tangan Zahra di keningnya, ia ingat semua yang dilakukannya pada Zahra malam itu, dan mereka berdua ada dalam keadaan sadar, Zahra tidak mungkin lupa jika Bian tidak sampai merusak masa depannya.
"Ayo bangun, Zahra."
Entah sampai kapan Bian harus bicara sendiri seperti itu, sudah seperti orang gila saja berbicara dengan patung yang tak akan pernah menjawabnya.
"Zahra, aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi, aku akan menghormati kamu, ayo bangun sekarang."
Bian melepaskan tangan Zahra, ia bangkit, mungkin jika terus seperti itu, Bian akan menjadi benar-benar gila, Bian menendang kaki brankar itu, ia lantas keluar tanpa menoleh lagi.
"Brengksek," umat Bian seraya membanting pintunya.
Zahra membuka matanya, air matanya menetes begitu saja, iya, sejak tadi Zahra memang mendengar semuanya, tapi Zahra tak ingin menjawabnya sedikit pun.
__ADS_1