
"Ada apa, kenapa kalian seperti ini, apa tidak ada yang bisa menjawab?" tanya Kemal.
"Apa kamu tidak bisa diam, masih tidak paham jika hanya Dokter yang bisa menjawab pertanyaan mu?" tanya Inggrid tak kalah kesal.
Kemal menggeleng, ia melirik mereka bergantin, Kania dan Zahra yang menangis sudah menjelaskan keadaan tidak baiknya.
"Kenapa lama sekali, apa Dokter itu tidak bisa memeriksa Bian dengan baik?" tanya Zahra.
"Diamlah, untuk apa seperti ini, tidak ada gunanya juga," ucap Dion.
Zahra berpaling, itu sangat tidak bisa dimengerti, kenapa bukan jawaban yang sesuai keinginannya yang terdengar.
"Ayo bangun, dan duduk di kursi."
"Pergilah."
Zahra sedikit mendorong Dion, untuk apa juga lelaki itu ada di rumah sakit, tidak ada yang menginginkannya juga.
"Ayo bangun, cepatlah."
"Aku tidak mau, apa kau tidak mengerti?" bentak Zahra.
Mereka menoleh bersamaan, Dion turut melirik mereka, baiklah ia sudah menimbulkan keributan saat ini.
"Zahra, kemari," ucap Inggrid.
"Tidak."
"Keras kepala sekali," ucap Kemal.
Zahra menoleh, itu tak harus diperdulikannya, terserah saja mereka mau bicara apa, Zahra tidak akan meresponnya.
"Ayo pindah," ucap Dion.
Katika pintu terbuka, Zahra lagi-lagi mendorong Dion, ia lantas bangkit dan bertanya tentang Bian.
"Apa-apaan ini," ucap Dion pelan.
"Bagaimana, Dokter?"
"Itu hanya sedikit respon dari pasien, tidak ada apa pun, dia telah kembali pada kondisinya semula, tidak sadarkan diri."
"Kabar macam apa itu, apa tidak bisa melakukan satu hal saja untuk membuatnya sadar, kenapa hanya membiarkan dia seperti itu terus?"
"Zahra," panggil Inggrid.
"Bian disini untuk diobati, bukan untuk dibiarkan seperti itu, gak guna, lebih baik bawa Bian ke Rumah Sakit lain."
Kemal mengernyit, apa menantunya itu sudah tidak waras, bisa sekali berkata seperti itu.
Kemal sedikit tersenyum, tapi untuk apa dia disini, bukankah sudah jelas jika Bian tidak lagi menginginkannya.
"Kenapa kalian diam?"
"Zahra, diamlah dulu," ucap Kania.
"Sampai kapan, sampai kapan harus diam, apa kalian suka melihat Bian diam seperti itu, kalian lebih suka itu?"
"Hey, apa ocehan mu itu bisa membuat Bian sadar," sela Kemal.
"Tentu saja."
Zahra mengepalkan kedua tangannya, ia lantas menerobos masuk saat dokter masih menghalangi langkahnya.
"Biarkan saja, tolong biarkan dia," ucap Inggrid.
__ADS_1
Dokter mengangguk dan menutup pintunya, ia sudah melakukan yang terbaik, tapi memang mereka masih harus menunggu untuk saat ini.
"Tolong maafkan dia," ucap Inggrid.
"Tidak masalah, tapi tolong perhatikan juga, jangan sampai dia terlalu mengganggu pasien."
Inggrid mengangguk, dokter lantas berlalu meninggalkan mereka semua, bukankah tugasnya telah selesai.
Kemal turut pergi menyusul dokter itu, ada hal yang ingin ditanyakannya tentang Bian, dan bukankah Inggrid bilang hanya dokter yang bisa menjawabnya.
"Tunggu sebentar," ucap Kemal.
Dokter itu menoleh dan menghentikan langkahnya, keduanya sama-sama tersenyum setelah berhadapan.
"Ada masalah lagi?" tanya dokter.
"Tidak, tolong jelaskan kenapa dengan anak saya?"
"Kondisinya masih sama saja, kritis, tadi dia sempat memberikan sedikit respon, tapi itu tak lantas mengembalikan kesadarannya."
"Sampai kapan akan seperti ini?"
"Saya tidak bisa pastikan, tapi semoga saja segera berakhir."
"Apa dia akan kembali?"
"Itu bukan kuasa saya, berdoa saja untuk yang terbaiknya."
Kemal mengusap bibirnya seraya berpaling, baiklah, bukan kepastian yang didengarnya saat ini.
Dokter kembali pamit dan meninggalkan Kemal, sudah cukup, ia harus kembali melanjutkan tugasnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Mami seharusnya bisa jelaskan kejadiannya."
Kemal kembali menemui mereka, tapi ia hanya diam saja, karena sepertinya banyak bertanya hanya akan menimbulkan keributan saja.
----
Vanessa tampak gelisah ada di pembaringannya, malam ini bahkan meski telah larut, Vanessa tetap saja tidak bisa tidur.
Ia sibuk berkutat dengan ponselnya, berusaha terus untuk bisa menghubungi Bian yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi.
"Ah, kemana dia ini."
Vanessa berdecak kesal, kenapa bisa Bian melakukan hal itu, setelah sempat menolak panggilannya, sekarang lelaki itu mematikan ponselnya.
"Menyebalkan sekali, giliran dia yang butuh, aku harus ada, tapi sekarang, curang sekali."
Vanessa melempar ponselnya asal, lalu harus bagaimana sekarang, malas sekali sendirian terus seperti itu.
"Nes," panggil Risa.
Vanessa melirik pintu, itu adalah suara ibunya, ada apa wanita itu mengganggunya.
"Vanessa."
"Kenapa, aku ngantuk?"
"Di luar ada Sintia."
Vanessa mengernyit, kebetulan sekali wanita itu datang, Vanessa jadi ada teman nantinya.
"Vanessa."
"Iya, aku keluar sekarang."
__ADS_1
Vanessa langsung turun dan keluar, keduanya berjalan menemui Sintia di sana, Vanessa seketika memeluk Sintia.
Berapa lama mereka tidak bertemu, Sintia begitu sibuk belakangan ini sehingga tidak ada waktu untuk mereka bersama.
"Lepaskan, kamu ingin membunuh ku?"
"Biar saja, lama sekali tidak datang."
"Aku bukan pengangguran sekarang."
"Sombong."
Keduanya tersenyum, Risa tampak pamit dan pergi meninggalkan keduanya, biarkan saja lagi pula Risa kenal siapa yang menemui anaknya itu.
"Mau disini?" tanya Vanessa.
"Terserah."
"Aku malas berjalan lagi, jadi kita disini saja."
Vanessa duduk lebih dulu, disusul Sintia seraya tersenyum, tentu saja ia menyadari wajah muram sepupunya itu.
"Ada masalah apa?" tanya Sintia.
"Entahlah, apa Bian sudah mati sekarang?"
Sintia mengangkat kedua alisnya, buruk sekali kalimatnya itu, bisa sekali Vanessa berkata seperti itu.
"Kemana dia, apa dia sudah tidak ada sekarang?"
"Apa maksud mu?"
"Dia menghilang sampai sekarang, ponselnya sama sekali tidak aktif."
"Benarkah?"
Sintia tidak pernah lagi mendengar tentang Bian, sejak ia tak mendatangi Vanessa, maka tak ada juga kabar tentang Bian.
Tapi kemana dia, kenapa seperti itu, tidak biasanya Bian mematikan ponselnya, bahkan meski sedang sibuk sekali pun.
"Bukankah aku sudah memberi mu alamat rumahnya?"
"Mana bisa kesana, sekali saja sudah langsung diusir."
Sintia menahan tawa mendengarnya, kasihan sekali wanita itu, sekalinya jatuh cinta, jatuhnya pada suami wanita lain.
"Menurut mu ini lelucon?"
"Ya oke, maaf."
Vanessa berdecak seraya memukul-mukul sofa yang didudukinya, Sintia mengangguk, tapi sepertinya ia juga panasaran dengan Bian.
Mungkin saja ada hal yang terjadi padanya, sehingga ia dengan sengaja mematikan ponselnya, siapa tahu saja lelaki itu sedang bertengkar dengan istrinya.
Sintia tersenyum, ia menggeleng, bisa sekali fikirannya terarah akan hal itu, tapi sampai saat ini perpisahan mereka masih jadi harapan terbesarnya.
"Kita kesana, biar aku temani."
"Benarkah?"
"Tentu saja, jangan khawatir, kita akan temui lelaki itu."
Vanessa tersenyum senang, mungkin dengan begitu Bian akan kesulitan mengusir dua orang sekaligus.
"Masih mikir?"
__ADS_1
Vanessa menggeleng, ia lantas berlalu begitu saja untuk mengambil bekal perjalanannya.
Setelah siap, mereka lantas pergi, bahkan tanpa pamit pada orang rumah lainnya.