Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Memilihnya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kania dan Kemal sudah ada di tempat Inggrid, mereka akan pergi sama-sama untuk menemui Bian.


Tak berselang lama, Zahra mendengar suara dari luar sana, ia berjalan dan berdiri di balkon kamarnya, itu adalah teman-teman Bian.


Zahra tersenyum, bukankah mereka begitu menyayangi Bian, pantas saja Bian tak pernah membutuhkan Zahra.


"Mana Ayra?" tanya Kania.


"Dia masih di atas," ucap Kania.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Kemal.


"Tunggu dulu, apa ini serius, kita bisa masuk bersamaan menemui Bian?" tanya Dion.


Kania menoleh dan mengangguk pasti, sudah dari jauh hari Kania memohon pada pihak kepolisian untuk toleransi tentang itu.


Dan ia berhasil mendapatkan izin, karena itu Kania mengajak mereka semua, dan untunglah mereka semua setuju dengan itu.


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang," ucap Kemal.


"Mana Ayra, kenapa dia tidak juga datang?" tanya Inggrid.


"Bibi, tolong panggilkan Ayra," pinta Kania.


"Sebentar, Bu."


Dengan langkah cepat, Nur menaiki tangga untuk bisa sampai ke kamar Zahra.


Belum sempat Nur mengetuk pintu, pintu sudah lebih dulu terbuka, Nur sedikit heran dengan Zahra yang masih memakai baju tidurnya.


"Non ...."


"Aku gak ikut, bilang saja mereka bisa pergi sekarang."


Nur mengernyit mendengarnya, bisa sekali Zahra berkata seperti itu, bukankah itu hari penting suaminya.


Zahra kembali menutup pintunya, Nur juga tak bisa memaksakan, ia lantas kembali turun dan menghampiri mereka semua.


"Non Ayra tidak ikut, Bu."


Mereka menoleh bersamaan, jelas saja itu kabar yang tidak ingin mereka dengar, Zahra telah membuat mereka kecewa dan kesal.


"Sedang apa dia?" tanya Inggrid.


"Sepertinya memang baru bangun tidur, Non Ayra belum berganti pakaian."


"Untuk apa memikirkan wanita itu, kita kesini untuk jemput Mami, bukan dia," ucap Kemal.


"Apa boleh saya membujuknya?" tanya Dion.


Tanpa berfikir lagi, Inggrid langsung setuju dengan tawaran Dion, lelaki itu lantas berjalan menuju kamar Zahra.


Dion sangat tidak bisa percaya jika Zahra sudah berubah sekarang, dia benar-benar bukan Zahra yang Dion kenal sebelumnya.


"Zahra, aku bisa bicara dengan mu?"


"Pergilah, aku sudah katakan kalian bisa pergi sekarang."


"Biarkan aku masuk sebentar."


Pintu terbuka, Zahra diam menatap Dion, lelaki itu pasti akan berusaha membujuknya atau mungkin memaksanya.


Tapi Zahra akan bertahan pada keinginannya, ia tidak akan datang menemui Bian bersama dengan mereka semua.

__ADS_1


"Zahra, kenapa kamu jadi seperti ini, kamu benar-benar melupakan Bian, bagaimana bisa seperti itu?"


"Kamu harusnya senang karena aku berhasil melupakan dia."


"Iya kamu benar, tapi aku tahu kalau ini palsu."


"Ini masih pagi, aku tidak mau berdebat tentang apa pun, jadi lebih baik kamu pergi, tolong hargai keputusan ku kalau aku tidak mau kesana."


"Itu tidak mungkin."


"Kenapa harus tidak mungkin, aku tidak perduli dengan itu, dan aku tidak akan memohon padamu untuk percaya."


"Zahra, mungkin sekali ini saja kamu bisa temui Bian."


"Aku gak mau, dan sebaiknya kamu pergi sebelum aku juga membenci mu."


Dion mengangguk, mungkin saja Zahra berniat untuk datang setelah mereka, mungkin saja ia punya cara sendiri untuk memperbaiki hubungannya dengan Bian.


Ya semoga saja itu benar, bukankah mereka hanya harus yakin dengan segala kemungkinan baiknya.


"Tunggu apa lagi?" tanya Zahra.


"Aku menunggu mu berubah fikiran."


"Itu tidak akan terjadi, kamu hanya membuang waktu saja berdiri disini."


Dion tak bergeming, ia memilih diam menatap Zahra, wanita itu tampak berpaling untuk menghindari tatapan Dion.


"Zahra, kamu tidak seharusnya melakukan ini, ini berlebihan."


"Kalau begitu jangan lagi menemui ku, kamu harus pergi untuk seterusnya."


"Tidak, baiklah aku akan pergi sekarang."


Dion lantas pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, tidak masalah, jika dipaksa pun mungkin akan membuat keadaan jadi buruk.


Mereka menoleh dan menatap Bian dengan penuh harap, kecuali Kemal yang tampak acuh tak acuh dengan hasilnya.


"Bagaimana?" tanya Kania.


"Zahra memang tidak mau, dia bilang kurang enak badan, jadi mungkin dia akan mengambil langkahnya nanti."


"Dia mau mendatangi Bian?" tanya Inggrid.


"Entahlah, tapi semoga saja."


"Jangan terlalu berharap, dia sudah tidak ada keperdulian sekarang, kenapa kalian masih saja mengurusinya?" tanya Kemal.


Mereka balik menatap heran Kemal, bukannya sadar jika sikapnya itu salah, Kemal justru tetap bertahan pada kekerasan hatinya membenci Zahra.


Memang tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang terhadap Zahra, selain dari pada mengikuti kemana arah fikirnya itu.


"Lebih baik kita pergi sekarang, bukankah waktunya hanya sebentar saja?" tanya Dion.


"Iya, itu benar, kita hanya diberi waktu satu jam saja," ucap Kania.


"Baiklah, ayo pergi."


Mereka lantas keluar, memasuki mobil masing-masing dan pergi meninggalkan rumah.


Zahra tampak memperhatikan mereka semua, mereka benar-benar pergi untuk menemui Bian, bukankah Zahra hebat karena masih bisa bertahan dalam tekanan kerinduannya.


"Semoga kalian bahagia, dan semoga kamu juga bahagia Bian."

__ADS_1


Zahra tersenyum, ia menggeleng seraya memasuki kamar, tidak perlu terlalu lama memikirkan Bian.


Zahra masih bisa dilemahkan oleh sosok Bian, bahkan meski sekedar mengingat kenangannya saja.


Kriinggg .....


Zahra meraih ponselnya dan berbaring, ia tersenyum melihat panggilan video dari Damar, ia lantas menjawabnya tanpa ragu.


"Ini masih pagi, apa kamu lupa?" tanya Zahra.


"Apa hari libur mu masih sibuk dengan pekerjaan, aku sedang kesepian dan sepertinya aku merindukan boneka itu."


Zahra mengernyit, benarkah seperti itu, jadi Damar masih memikirkam boneka itu sampai sekarang.


Tidak bisa, Zahra merasa cemburu dengan hal itu, Damar tampak tertawa setelah puas menatap wajah Zahra di layar ponselnya.


"Jangan katakan itu lagi, aku tidak suka."


"Benarkah, kalau begitu ada satu lagi yang mau aku ucapkan."


"Apa?"


"Aku kesepian dan sepertinya aku merasa rindu dengan pemilik boneka itu."


Zahra merasa konyol dengan kalimat Damar, melihat ekspresi Zahra yang semakin lucu, Damar justru semakin tertawa.


"Baiklah, itu lebih buruk dari pada kalimat sebelumnya," ucap Zahra.


"Tentu saja, aku tahu itu."


"Jadi, ada apa?"


"Apa kamu sibuk, aku mau mengganggu mu hari ini."


"Kamu berani melakukannya?"


Damar mengangguk pasti, entahlah, Damar memang sedang bosan dan ia merasa hanya Zahra yang bisa menemaninya.


Bukan tak memikirkan akibatnya, tapi Damar tak bisa menghindar dari keinginannya untuk menemui Zahra.


"Bagaimana, aku bertanya kalau saja kamu punya waktu luang."


"Tentu saja, aku akan selalu ada waktu untuk mu."


"Benarkah?"


Zahra mengangguk pasti, dari pada di rumah Zahra harus terus merasa bersalah atas semuanya.


Lebih baik Zahra mencari kebahagiaannya sendiri, tidak mau memikirkan hal lainnya lagi, Zahra setuju saja dengan ajakan Damar.


"Mau aku jemput, tapi aku masih pakai taxi."


"Sepertinya tidak perlu, kita bertemu di tempat saja, kemana aku harus pergi?"


"Aku kirim nanti."


"Oke, tapi aku harus siap-siap dulu, dan itu akan memakan waktu cukup lama."


"Tidak masalah, lakukan sesuka mu."


Keduanya tersenyum, itu sangat sesuai dengan keinginan Damar, saat ia ingin bertemu dengan Zahra, saat itu juga mereka benar-benar bertemu.


Zahra menyimpan ponselnya setelah sambungan terputus, tentu saja ia sadar jika itu kesalahan, Zahra telah bersalah untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Menolak menemui sumainya dengan berbagai alasan, Zahra justru dengan mudahnya menerima ajakan pertemuan dari lelaki lain, itu sangatlah buruk bagi statusnya yang masih seorang istri dari suaminya.


__ADS_2