Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tidak Perduli


__ADS_3

Zahra terusik dari tidurnya, ia melihat sekitar, terangnya langit sudah berganti oleh terangnya lampu-lampu disetiap rumah.


Zahra sedikit menggeliat, sakit sekali badannya, ia tertidur di kursi di balkon kamarnya, Zahra benar-benar bisa gila jika terus seperti itu.


"Kenapa Tuhan tidak memanggil ku saja, apa ini belum cukup, harus sampai seperti apa lagi."


Zahra menekan pelipisnya, kepalanya masih saja sakit padahal ia sudah tertidur sejak tadi.


Zahra bangkit dan berjalan memasuki kamarnya, mungkin pindah tidur ke kasur empuk itu akan mengembalikan kondisi baik tubuhnya.


"Zahra, Zahra buka pintunya."


Zahra menoleh, ia memejamkan matanya sesaat, baru saja ia akan berbaring tapi sudah ada yang mengganggunya.


"Zahra, kamu dengar Mama, ayo buka pintunya."


Zahra duduk, untuk apa Kania datang ke rumah, wanita itu pasti ingin membahas Bian lagi.


"Zahra, apa benar kamu tertidur, ayo buka pintunya."


Dengan langkah kecil yang malas, Zahra lantas membuka pintunya, Kania mengernyit melihat wajah Zahra yang ketara bangun tidur.


"Ada apa, bukankah ini sudah malam?"


"Diamlah, jangan banyak bicara sebaiknya kamu siap-siap sekarang."


"Untuk apa, aku mau melanjutkan tidur ku, kepala ku sakit sekali."


Nada bicara Zahra yang terkesan begitu santai, cukup membuat Kania jengkel.


Sampai kapan Zahra akan bersikap seperti itu, apa dia tidak perduli lagi dengan keadaan keluarganya sendiri.


"Zahra, Bian masuk Rumah Sakit, kamu harus datang kesana."


Zahra diam, ia menelan ludahnya, kabar macam apa itu kenapa seperti itu.


"Ayo cepat, setidak perduli apa pun sikap yang kamu tunjukan, Mama tahu kalau kamu masih perduli dengan Bian."


Zarha tak bergeming, berisik sekali Kania ini, kenapa banyak bicara sekali, padahal jelas jika Zahra tidak mau meresponnya.


"Ayo Zahra, cukup membuat kami semua kesal, kenapa tidak kamu mengalah satu kali saja."


Zahra menunduk sesaat, tidak, Zahra tidak mau tersentuh alasan apa pun untuk menemui Bian.


Zahra ingin tetap sendiri sesuai keinginannya, Kania menggeleng, ia merasa sangat jengkel dengan Zahra yang hanya diam saja.


"Jangan pura-pura bodoh kamu ini, ayo cepat kita kesana karena yang lain sudah disana."


"Oma mana?"


"Jelas saja Oma disana, dia terlalu memanjakan mu sehingga dia tidak mau mengganggu tidur mu, itu keterlaluan."


Zahra menggeleng, ia menghembuskan nafasnya berat, saat keadaannya sedang buruk, kenapa harus ada kabar seperti itu.


Zahra berpaling, ia ingin kembali menutup pintu kamarnya, agar tak perlu lagi melihat dan mendengarkan Kania.


"Zahra, sudalah, cukup semua ini."


Kania menarik Zahra dengan kuat, kondisi Zahra yang tidak stabil justru membuatnya terjatuh.


Kania menoleh, ia menggeleng, sandiwara macam apa itu, berani sekali Zahra bertingkah.

__ADS_1


"Ayo bangun, kenapa kamu ini, jangan terus menerus menguji kesabaran Mama, kamu tahu Bian hanya memanggil nama mu saja di sana."


Kania kembali menarik tangan Zahra, tapi tenaga Zahra masih kuat untuk menepisnya.


Kania berdecak, tidak adakah yang bisa membantunya, Zahra sangat menyusahkan.


"Kamu sudah membuat anak ku nyaris gila, dan sekarang dia harus masuk rumah sakit gara-gara kamu, dimana otak kamu sebenarnya?"


"Berhati-hati kalau bicara, aku tidak melakukan apa pun, bahkan melihatnya pun tidak pernah."


"Jangan banyak bicara, ayo kesana, kamu harus temui dia."


Kania benar-benar menyeretnya, bahkan saat menuruni tangga pun Kania tak perduli dan terus menarik Zahra.


Untunglah Zahra berhasil berdiri sebelum ia harus menuruni tangga, pengelihatannya mulai kacau, sakit kepalanya semakin menjadi, Zahra ingin marah pada wanita yang menariknya itu.


"Ibu, Ibu kenapa ini?"


Nur berusaha menghentikannya, tapi Kania mendorongnya begitu saja, ia membawa Zahra keluar dan mendorongnya masuk mobil.


Sudah habis kesabarannya, ia tak perduli apa pun lagi sekarang, mau Zahra terluka, mau Inggrid memakinya nanti karena menyakiti Zahra.


Kania tak mau fikirkan itu, sekarang yang jelas Bian harus melihat Zahra, hanya itu saja yang sedang diusahakannya.


"Jalan, Pak," ucap Kania.


"Baik, Bu."


Mobil melaju, Zahra tampak bersandar pada kaca mobil di sampingnya.


Emosinya benar-benar memuncak, nafasnya terasa sangat sesak, ingin sekali Zahra menyakiti Kania saat ini, tapi Zahra masih harus menahannya.


"Mau kemana mereka?" tanya Vanessa.


Dua orang itu ternyata ada di belakang mobil Kania, mereka sampai satu detik setelah Kania sampai rumah.


Mereka memutuskan menunggu saja di luar, sampai mereka melihat Kania yang menarik Zahra, kini keduanya tengah mengikuti Kania.


"Apa mereka akan ke Kantor Polisi?"


"Diamlah Vanessa, aku tidak tahu sama sekali."


Vanessa menghembuskan nafasnya kesal, kenapa sulit sekali untuk mendapat kepastian seperti itu saja.


Lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Kania masih saja menarik paksa Zahra.


Bahkan meski langkah Zahra sudah tak normal, Kania tetap saja tak perduli itu, yang jelas mereka harus cepat sampai ke ruangan Bian.


"Kamu lihat itu," ucap Kania seraya mendorongnya masuk.


Inggrid dan Kemal seketika bangkit melihat kelakuan Kania, mereka menunggu di luar, dan cukup terkejut dengan kedatangan Kania juga Zahra.


"Apa-apaan kamu ini?" tanya Inggrid.


Kania menoleh sekilas, ia lantas masuk dan kembali mendorong Zahra hingga sampai di samping Bian.


"Lihat hasil dari kelakuan mu selama ini."


Zahra menekan kepala dengan satu tangannya, penglihatannya semakin buruk saja, tapi Zahra tetap bisa melihat Bian meski samar-samar.


Ada apa dengan lelaki itu, kenapa bisa seperti itu, cukup banyak alat medis di tubuhnya, bukankah dia ada dalam sel, kenapa sampai seburuk itu keadaannya.

__ADS_1


"Puas kamu!" bentak Kania.


Zahra terkejut karena bentakan itu, ia menoleh dengan tangan yang bertumpu pada ranjang Bian.


Matanya menyipit, apa kesalahannya, Zahra tidak merasa menyakiti Bian sampai seperti itu.


"Ini semua gara-gara kamu, kalau saja kamu membebaskan Bian sejak lama, keadaan ini tidak akan pernah terjadi, kamu puas sekarang!" bentaknya lagi.


"Kania, tenanglah," ucap Kemal.


Kemal dan Inggrid memang menyusul masuk setelah mendengat bentakan Kania pertama kali, mereka harus menghentikan keributan itu atau dokter akan marah.


"Dia memang bawa sial, seharusnya dia saja yang celaka."


"Kania, diam," ucap Kemal.


Zahra berpaling, ia kembali menatap Bian, beberapa hari lalu Zahra sempat berfikir, jika pun Bian mati besok, Zahra tidak akan mau membebaskannya hari ini.


Apa Tuhan mencatatnya, dan sekarang Tuhan membuktikan ucapan Zahra menjadi nyata, keadaan Bian yang seperti itu, apa benar karena ucapan Zahra.


"Bian memang menyakiti dia, tapi apa keadaannya sampai seperti ini, jawab!" bentak Kania.


Inggrid menggeleng, ia berjalan mendekati Zahra, mengusap pundaknya lembut.


Zahra menunduk, tangisnya datang begitu saja, bukankah memang Zahra itu jahat.


"Jangan menangis, berdoa agar Bian akan baik-baik saja," ucap Inggrid.


"Bian tidak baik-baik saja, apa kalian buta, dia begitu buruk saat ini," ucap Kania jengkel.


"Diam, apa kamu tidak dengar," ucap Kemal.


Zahra menyentuh pergelangan tangan Bian dengan kedua tangannya, ia menggenggamnya dengan amat kuat.


"Ayra," panggil Inggrid.


Ia mengusap tangan Zahra, Inggrid semakin khawatir dengan keadaanya Zahra saat ini.


Zahra menunduk, tangisnya semakin pilu, genggaman tangannya semakin kuat, hingga tampak bergetar.


"Ayra, jangan seperti ini," bisik Inggrid.


"Dia memang hebat, dia berhasil merusak kehidupan Bian, dan sekarang dia mengancam nyawanya," ucap Kania.


"Apa kau tidak bisa membawanya keluar?" tanya Inggrid kesal.


Kemal lantas menarik Kania keluar, penolakan Kania cukup menyulitkannya, Kemal lantas menggendongnya dan keluar.


"Ayra, ayo duduk, lepaskan tangan mu jangan seperti ini."


Zahra tak mendengar, ia seperti bukan dirinya lagi, Zahra benar-benar kehilangan kontrolnya.


Ia ingin marah, marah pada mereka yang terus menyalahkannya, marah pada dirinya sendiri yang begitu mampu menyusahkan mereka.


Zahra marah pada semuanya, pada segalanya, dan itu membuatnya tidak waras.


"Ayra, ayo sudah."


"Aku tidak perduli," ucap Zahra pelan.


Satu detik kemudian, tubuh Zahra ambruk tanpa bisa Inggrid tahan.

__ADS_1


Jelas saja Inggrid panik dengan itu, Zahra kehilangan keasadarannya.


__ADS_2