
Beberapa hari terlewati, Bian masih harus bertahan di tempat barunya, ia semakin tak karuan berada di sana.
Ditambah dengan Zahra yang tak kunjung menemuinya, kemana wanita itu, kenapa tidak mengerti jika Bian begitu menunggunya.
"Permisi, Pak."
"Iya, selamat siang."
"Kami mau bertemu Bian."
Polisi itu diam, ada Sintia dan Vanessa yang datang bersamaan sore ini, mereka kompak mengunjungi Bian.
Kabar tentang vonis hukuman Bian telah sampai ketelinga mereka, tentu saja mereka ingin tahu keadaan Bian.
"Mohon maaf, tapi hanya satu yang bisa masuk, kalian bisa bergantian datang di waktu kunjung berikutnya."
"Kenapa seperti itu, waktu itu saya datang bersama teman saya, dan itu boleh saja."
"Ini sudah peraturan."
Keduanya saling lirik, tapi mereka tidak ada yang mau mengalah, sama-sama meluangkan waktu ditengah kesibukan, tentu saja mereka tidak mau langkahnya sia-sia.
"Biar aku yang masuk sekarang," ucap Sintia.
"Tidak, aku yang mengajak mu kesini, biar aku yang masuk sekarang."
"Vanessa."
"Aku gak mau."
"Kalau kalian mau ribut, silahkan di luar."
Keduanya menoleh dan diam, bertahan dalam fikiran masing-masing, Sintia atau Vanessa sama-sama ingin masuk.
Tapi jika mereka justru ribut, maka keduanya akan sama-sama dirugikan, keduanya kembali saling lirik.
"Vanessa."
"Aku menyesal mengajak mu sekarang."
"Van."
Vanessa menggeleng, dan berlalu lebih dulu, Sintia sedikit berdecak melihatnya, biarlah nanti ia akan menemuinya lagi.
Tak lama, Sintia langsung dibawa untuk menemui Bian, Sintia diam menatap lelaki itu, baru kali ini Sintia melihat Bian sekacau itu.
"Waktu kalian hanya 20 menit."
"Baik, terimakasih," ucap Sintia.
Polisi pun pergi meninggalkan keduanya, Sintia berjalan mendekati Bian, bahkan lelaki itu seperti tak tertarik untuk melihat Sintia.
"Bian, apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat."
"Bian, aku turut sedih dengan keadaan kamu, tapi aku tidak bisa membantu mu."
"Aku juga tidak minta bantuan mu."
__ADS_1
Sintia mengangguk, itu memang benar, dan sebaiknya tidak perlu memperpanjang itu.
Sintia meminta Bian untuk duduk, mereka akan pegal jika terus berdiri seperti itu, tapi Bian tak merespon apa pun.
"Aku hanya meminta mu duduk, bukankah itu akan lebih nyaman untuk bisa berbicara, ayo duduk."
Bian justru menatap Sintia, entah untuk arti apa tatapan itu, yang bisa Sintia lihat hanya kekacauan, gelisah, yang jelas semua buruk.
"Kamu senang dengan ini?"
Sintia mengangkat kedua alisnya, pertanyaan macam apa itu, kenapa Bian justru bertanya seperti itu.
"Ini juga kemauan kamu?"
"Apa maksud mu, apa aku sedang menyalahkan mu, atau aku sedang mentertawakan mu?"
Bian diam, ia kembali bertahan dengan tatapannya, ada apa, itu sama sekali tidak bisa Sintia mengerti.
Kedatangannya bukan untuk mencari ribut, tapi karena Sintia masih perduli dengan lelaki itu.
"Kenapa diam, aku tidak mengerti dengan pertanyaan mu itu?"
"Benarkah?"
"Sudahlah Bian, aku kesini bukan untuk membuat masalah, aku kesini untuk ...."
Kalimat Sintia terhenti ketika Bian memeluknya begitu saja, Sintia mengernyit saat mendengar Bian yang tiba-tiba saja terisak.
Sesadarnya, Sintia tidak melakukan dan mengatakan apa pun yang mungkin menyinggung Bian, tapi kenapa seperti itu responnya.
"Ada apa, kenapa kamu seperti ini?"
Tak ada jawaban, Sintia berusaha mencerna kalimat Bian dengan hati-hati, dan sepertinya Sintia memang mengerti.
"Kamu senang sekarang, ini adalah bayaran untuk sakit hati mu juga."
"Diamlah, aku tidak berfikir seperti itu."
"Tapi mulai sekarang kamu akan memikirkannya."
Sintia kembali diam, apa bisa seperti itu, ia memang kerap sakit hati karena Bian, tapi penjara bukan balasan tepat baginya.
Sintia tidak pernah memikirkan hal itu, ia sendiri tak mengerti Zahra sampai tega melakukan hal tersebut.
"Bian, lepas."
"Sampaikan padanya, dia berhasil, semua telah sesuai dengan keinginannya."
"Diamlah, ini bukan keinginan Istrimu."
"Pergi sekarang."
Bian melepaskan pelukannya, ia berlalu begitu saja meninggalkan Sintia, tak perduli meski Sintia memanggilnya, bahkan berusaha menghentikannya.
Bian menepis tangan Sintia yang berusaha meraihnya, Bian sudah memintanya untuk pergi, dan itu tidak sulit untuk dilakukan.
"Maaf, Bu," tahan polisi.
Sintia seketika menghentikan langkahnya, bahkan kalimatnya belum tersampaikan pada Bian, tujuan kedatangannya belum dijelaskan pada Bian.
__ADS_1
"Silahkan keluar, anda bisa datang dilain waktu."
"Pak, tolong pastikan Bian baik-baik saja disini."
"Iya Bu, silahkan."
Dengan berat Sintia berbalik arah, ia pergi dan hanya itu yang bisa dilakukannya, meski ia berhasil masuk dan menemui Bian, tapi tak ada percakapan apa pun yang tersampaikan dari tujuannya.
Vanessa menoleh, ia bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Sintia, bagaimana bisa wanita itu terlihat kecewa.
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu."
"Tidak tahu, apa maksud mu, bagaimana keadaan Bian?"
Sintia menggeleng, ia kembali melanjutkan langkahnya memasuki mobil.
Vanessa menatapnya dengan heran, apa pertanyaan Vanessa terlalu sulit untuk di jawab.
"Sintia, ada apa kamu ini."
Vanessa menyusul masuk, ia sudah gagal menemui Bian, bagaimana mungkin Vanessa tidak mendapatkan kabar apa pun.
"Ada apa, apa kamu tidak mendengar?"
"Ada apa, aku sudah bilang aku tidak tahu, aku tidak mengerti."
"Apa yang tidak mengerti, jangan tutupi apa pun sekarang."
Sintia mengernyit dan balik menatap Vanessa, apa yang harus ditutupinya saat ini, dan apa pula keuntungan untuknya pribadi.
"Bagaimana kabar Bian?"
"Menurut mu bagaimana, setelah vonis hukumannya keluar, apa bisa dia baik-baik saja?"
"Lalu bagaimana?"
"Aku tidak sempat bicara sama dia, dia tiba-tiba saja memeluk ku dan menangis, lalu dia pergi begitu saja."
Vanessa diam, apa maksudnya semua itu, ada apa dengan Bian, kenapa harus memeluk Vanessa.
Itulah kenapa bukan Vanessa tadi yang masuk, seharusnya memang dia yang dipeluk Bian, Sintia memang menyebalkan.
"Dia menganggap aku senang dengan hukumannya saat ini."
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tanya pada ku, lalu aku harus jawab apa, aku sudah bilang kalau aku tidak mengerti, Bian pergi tanpa penjelasan apa pun untuk kalimatnya itu."
Keduanya diam, Sintia tidak boleh menjelaskan alasannya, bagaimana bisa Sintia mengatakan tentang masa lalunya dengan Bian.
Vanessa tidak tahu itu, jadi biarkan saja wanita itu berfikir sendiri tentang semuanya, mungkin dia akan tahu dengan sendirinya nanti.
"Sudah aku katakan, aku yang masuk tadi."
"Diamlah, hasilnya akan sama saja."
Sintia melajukan mobilnya tanpa mengatakan apa pun lagi, hal itu cukup membuat Vanessa kesal, kalau saja ia tidak mengalah tadi, sudah pasti Bian akan melihatnya bukan Sintia.
__ADS_1
Memang menyebalkan, waktunya benar-benar terbuang sia-sia, Sintia juga tidak mendapatkan apa pun dari pertemuannya dengan Bian.