Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Mengharap Simpatik


__ADS_3

"Itu tidak bisa, Bu, kami akan proses laporannya setelah masuk waktunya, mungkin saja sebentar lagi Cucu Ibu akan kembali."


"Tapi dia sudah hilang dari kemarin siang, apa maksudnya harus menunggu lagi?"


"Oma, sabar."


Bian dan Inggrid sedang ada di kantor polisi, Inggrid benar-benar tidak bisa tenang karena Zahra yang belum juga kembali.


Tapi ia harus merasa kesal karena polisi yang menolak laporannya, Inggrid sama sekali tidak terima itu, hanya kurang beberapa jamnya saja seharusnya polisi bisa menerimanya.


"Silahkan kembali lagi nanti, kami akan membantu."


"Omong kosong, apa kalian akan bertanggung jawab jika Cucu saya kenapa-kenapa, cepat cari dia kerahkan semua bawahan anda."


"Oma."


"Diam kamu, kamu harusnya bantu Oma agar bisa menemukan Istri mu itu."


Bian mengangguk, tapi apa yang harus dilakukannya, bukankah Bian sudah berusaha mencari Zahra sejak kemarin.


Memang Zahra yang begitu pintar bersembunyi, bahkan setelah Dion yang lainnya pun mencari, Zahra tetap saja tidak ditemukan.


"Silahkan kembali lagi nanti."


"Benar-benar tidak berguna."


Inggrid bangkit dan berlalu begitu saja, Bian hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah melihat kekesalan Inggrid.


"Saya mohon maaf."


"Tidak masalah, silahkan kembali lagi nanti."


"Terimakasih."


Bian turut pergi menyusul Inggrid, ia memasuki mobil karena memang Inggrid sudah ada di dalamnya.


"Jalan Pak, kembali ke rumah saja."


"Kita cari Ayra," ucap Inggrid cepat.


"Aku yang akan cari diam, Oma di rumah saja."


"Kemarin kamu pergi semalaman tapi Zahra tidak kembali, apa saja yang kamu lakukan."


"Aku memang tidak menemukannya, tanyakan saja sama sopirnya, aku sudah keliling tapi memang tidak nememukan Zahra."


"Tutup mulut mu."


Bian menggeleng, percuma juga bicara panjang lebar pada Inggrid sekarang, bukankah memang sudah tidak ada lagi kepercayaan untuknya.


Bian meminta jalan, hingga mobil melaju meninggalkan kantor polisi, sepanjang jalan mereka hanya diam saja sibuk dengan fikiran masing-masing, menerka dimana keberadaan Zahra.


 


Nur membuka pintu rumah karena denting bel berulang kali, ia mengangguk hormat saat melihat Kania.


"Ayra sudah pulang?"


"Belum, Bu."


"Kemana Mami sama Bian?"


"Mereka sedang ke Kantor Polisi."


Kania mengangguk, kemarin malam Bian memang turut datang ke rumahnya mencari Zahra.

__ADS_1


Sekarang Kania datang untuk memastikan keadaan terbarunya, ternyata Zahra masih belum kembali.


"Silahkan masuk, Bu."


"Tidak perlu, saya disini saja tunggu mereka kembali."


"Baik, sebentar Bibi bawakan minum."


"Terimakasih banyak."


Nur lantas berlalu, Kania melihat sekitar dan duduk di kursi sana.


Kemana wanita itu, padahal ia sempat melihatnya kemarin, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.


Kania tidak sempat bicara banyak padanya, Inggrid begitu keras mengusirnya kala itu, hingga ia tidak begitu jelas bicara dengan Zahra.


"Apa mungkin dia melarikan diri, mungkin saja dia tidak akan kembali lagi kesini."


Kania menggeleng, tidak mungkin seperti itu, bukankah Zahra begitu menyayangi Bian, dia tidak mungkin meninggalkan Bian begitu saja.


"Silahkan Bu minumnya."


"Iya, Bi."


"Permisi."


Nur hanya menyimpan suguhannya saja dan kembali pergi meninggalkan Kania.


Entah kapan Inggrid dan Bian akan kembali, karena sudah sejak tadi mereka pergi dari rumah.


"Apa aku coba hubungi Ayra, mungkin saja dia mau menjawab panggilan ku kali ini."


Kania mengangguk, itu sepertinya tidak salah untuk dicoba, bukankah selalu ada banyak jalan dalam setiap permasalahan.


Kania segera menghubungi Zahra, tak perlu menunggu lama karena panggilannya dengan cepat diterima Zahra.


"Ayra, kamu dimana sekarang?"


Kania mengernyit, ia diam mendengarkan kalimat panjang orang di seberang sana.


Tentu saja itu bukan suara Zahra, meski pun sama suara perempuan, tapi Kania tahu seperti apa sura Zahra.


"Siapa kamu, kenapa ponsel menantu saya ada padamu?"


Kania kembali diam, ia mencerna setiap kata yang dikatakan orang itu, cukup jelas untuk bisa Kania mengerti.


Dan sepertinya itu kabar baik, Kania akan dengan mudah menemukan Zahra, dengan begitu mungkin Inggrid akan sedikit perduli padanya.


Kania tersenyum, ia lantas bangkit dan pergi meninggalkan rumah itu, Zahra akan kembali bersamanya nanti.


 


Zahra masih sibuk mengamati rumah yang saat ini dipijaknya, rumah itu memang menarik dengan sentuhan klasik.


"Sampai kapan kamu akan seperti itu?" tanya Frans


Zahra menoleh, ia menggeleng seraya tersenyum.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja."


"Lalu apa yang bisa kamu temukan?"


"Aku menyukainya, ini membuat nyaman."

__ADS_1


Frans tersenyum seraya duduk, tentu saja karena itu memang dekorasi pilihannya.


"Kamu sudah makan, bagaimana dengan obat mu?"


"Aku sudah menyelesaikannya."


"Benarkah, lalu apa lagi yang kamu mau?"


"Tidak ada, aku hanya ingin diam disini saja."


"Kaki mu akan sakit kalau berdiri terus disitu."


Zahra kembali tersenyum, ia menggeleng seraya berpaling, biarkan saja selagi Zahra bisa menikmatinya.


Frans membuka ponselnya, ia harus segera melakukan tugasnya, tapi Frans juga ingin tahu yang mana keluarga Zahra.


Paling tidak sampai yang menjemput Zahra datang, Frans akan segera pergi untuk bertugas.


"Zahra, sebaiknya kamu mandi, kenapa dalam pandangan ku saat ini kamu begitu buruk."


Zahra mengernyit, ia melihat dirinya sendiri, benarkah seperti itu, seburuk apa Zahra saat ini.


Frans sedikit tertawa, suara itu membuat Zahra menoleh dan diam menatap Frans.


"Apa, kamu mau marah, marahlah maka kamu akan terlihat semakin buruk nantinya."


"Apa maksud mu?"


Frans menyipitkan matanya, ekspresinya berubah seketika, sebenarnya Frans masih ragu dengan pemeriksaan yang dilakukannya terhadap Zahra.


Tapi sepertinya itu memang benar, wanita di hadapannya memang tidak bisa mempertahankan kontrol dirinya.


"Kemarilah duduk, aku hanya bercanda saja, kenapa kamu begitu serius menanggapinya?"


"Menurut mu itu lucu?"


"Tidak sama sekali, kamu tahu terkadang masalh besar harus bisa kita anggap sepela agar kita bisa melawannya dan melewatinya."


"Aku tahu itu."


"Duduklah, aku rasa bicara dengan mu sedikit nyaman."


"Hanya sedikit?"


Frans mengangguk pasti, ia menepuk kursi di sampingnya, isyarat agar Zahra segera duduk di sana.


Tanpa berkata lagi, Zahra duduk meski dengan kesalnya, Frans tersenyum dengan tetap memperhatikan Zahra.


"Berapa usia mu?" tanya Frans.


"Aku sudah lupa, yang jelas aku harap akan segera berakhir."


"Semoga saja Tuhan tidak mengabulkannya."


"Menyebalkan sekali kau ini."


"Oke oke, ternyata tidak senyaman yang ku bayangkan bicara dengan mu, kenapa kamu begitu serius, aku sudah pusing dengan hal yang serius."


"Bicara saja sendiri."


Frans tersenyum, ia mengangguk perlahan, rasa penasarannya tentang apa yang dialami Zahra sangat kuat.


Apa mungkin Zahra mengalami apa yang sempat dialaminya dulu, sehingga Zahra menjadi depresi seperti itu.


Frans menggeleng, semoga saja tidak sampai seburuk itu, dan semoga saja Zahra bisa melewati tekanan dalam hidupnya meski perlahan.

__ADS_1


__ADS_2