
Bian menghentikan laju mobilnya, kini rumah Sintia telah ada di depan matanya, sudah seharusnya wanita itu ada di rumah, dan bisa menerima kedatangannya juga.
Bian lantas berjalan dan menekan bel rumah tersebut, tak berselang lama pintu terbuka, tapi apa yang dilihat Bian cukup tidak terduga.
"Mama," ucap Bian pelan.
Sama halnya dengan Bian, Kania dan Sintia pun terdiam menatap sosok Bian yang ada di hadapannya.
Apa ini, kenapa bisa terjadi kebetulan seperti ini, apa yang dilakukan Kania di rumah Sintia, bukankah hubungan mereka tak lagi baik-baik saja setelah malah pertemuan dulu.
"Bian, kamu kesini juga, ada apa?" tanya Kania.
"Jangan tanya aku, Mama sendiri untuk apa disini?"
"Mama sengaja kesini, tadi gak sengaja bertemu Sintia di jalan, dan dia ajak Mama mampir kesini."
Bian balik menatap Sintia, apa lagi yang akan dilakukannya sekarang, setelah dengan sengaja mengantarkan Vanessa ke rumahnya, Sintia juga membawa Kania bersamanya.
"Kamu kenapa lihat aku kayak gitu?" tanya Sintia.
Bian berpaling sesaat, jika ada Kania bagaimana bisa Bian bicara soal Vanessa, itu hanya akan membuat keadaan semakin kacau lagi.
"Bian, kamu ada apa kesini, jangan bilang kalau kamu mulai merindukan Sintia."
"Omong kosong apa itu?" tanya Bian kesal.
"Lalu, untuk apa kamu kesini?"
"Mama sudah selesai kan, jadi lebih baik Mama pulang, biar aku urus urusan ku sendiri disini."
Kania mengangguk seraya melirik Sintia, apa yang difikirkannya mungkin saja benar, bisa saja Bian memang mulai sadar jika Sintia lebih baik dari istrinya itu.
"Baiklah, kalau begitu Tante pulang ya, Sin."
"Iya, Tante."
"Mama pulang ya, jangan macam-macan kamu disini."
Bian hanya mengangguk saja, keduanya membiarkan Kania pergi meninggalkan tempatnya, sepertinya Kania memang naik taxi karena tak terlihat mobilnya di sana.
"Jadi, ada apa?" tanya Sintia.
"Sama siapa kamu di rumah?"
Sintia melihat ke dalam sana, ia merasa hanya sendirian saja setelah Kania pergi beberapa detik lalu.
"Apa itu pertanyaan sulit untuk mu."
"Tidak, hanya saja aku memang sendiri, dan untuk apa kamu bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Agar aku bisa bebas bicara sama kamu."
"Bicara apa?"
"Biacara apa, kamu masih bertanya kedatangan ku kesini untuk apa?"
Keduanya terdiam, bertahan dalam tatapan satu sama lain, Sintia sepertinya memang mengerti apa yang jadi tujuan Bian.
Memang sudah sejak tadi Sintia menantikan kedatangannya, dan ternyata benar jika Bian memang datang menemuinya.
Perlahan senyuman Sintia menyembul, cukup manis dipandangan Bian kali ini, tapi satu detik kemudian Bian berpaling seraya mengusap dagunya asal.
"Aku tidak tahu tujuan mu, dan sebaiknya cepat kamu katakan saja, karena aku harus melakukan kegiatan ku sendiri."
"Oke, itu memang benar, lebih cepat lebih baik, agar aku juga bisa segera pergi dari sini."
"Oke, jadi?"
"Untuk apa kamu mengirim Vanessa ke rumah ku?"
Sintia seketika menutup mulut dengan jemarinya, ingin sekali ia tertawa, karena semua sesuai dengan pemikirannya.
"Apa, kenapa kamu seperti itu, jawab."
"Dia bertanya, dia memaksa, dia sampai menangis karena tidak bisa melihat mu sekian lama, dia sepupu tersayang ku, jadi mana bisa aku biarkan dia terus seperti itu."
Bian mengernyit, apa itu sebuah lontaran omong kosong, Sintia pasti sedang berniat membuat keadaan semakin kacau.
"Tapi ini tidak ada urusannya sama kamu."
"Jadi kamu masih tidak mengerti maksud ucapan ku?"
"Sintia, aku ...."
"Diam saja, jangan pernah berfikir seperti itu, kamu tidak akan bisa memperlakukan Vanessa seperti kamu memperlakukan aku."
"Apa maksud kamu, kamu harusnya senang karena aku tidak lagi mengganggu dia."
"Oh, benarkah seperti itu, kamu tidak lagi mengganggunya, lalu bagaimana dengan pesan yang selalu kamu kirim padanya?"
Bian diam, apa yang dilakukan Vanessa, apa wanita itu mengatakan semuanya, kenapa berisik sekali, seharusnya dia diam saja jika mengenai Bian.
Sintia tersenyum seraya menggeleng, ia merasa jika keputusannya melepas dan melupakan Bian adalah yang paling benar.
"Baiklah, sudah selesai, aku harus masuk."
Bian dengan cepat menahan Sintia yang hendak memasuki rumah, tidak bisa semudah itu, Sintia telah membuat Bian semakin kesulitan saat ini.
"Ada apa, atau mungkin benar kamu mulai merindukan aku?"
__ADS_1
"Jaga bicara mu."
Sintia tersenyum, ia mengangkat tangan yang masih digenggam Bian, seketika itu Bian melepaskannya juga.
Sintia semkain tersenyum dengan tingkah Bian, ada apa dengan lelaki itu, memang cukup lucu baginya.
"Ingatkan Vanessa, jangan pernah datang lagi ke rumah."
"Kamu fikir dia akan mau?"
"Tentu saja dia harus mau."
"Hey, apa-apaan ini, kamu yang bertemu dia tadi, harusnya kamu katakan ini padanya langsung."
"Kamu yang mengirim dia ke rumah ku, jadi kamu yang harus menghentikannya juga."
"Apa yang dikatakannya tadi, dia pasti percaya karena sudah bertemu Ayra."
"Tapi dia tidak mau berhenti."
"Tentu saja tidak, apa kamu fikir dengan kamu membohonginya seperti itu, dia akan menyerah begitu saja?"
Bian diam, kemana arah biacara Sintia, kenapa mendadak membut Bian merasa khawatir.
Sintia berdecak, ia sedikit berjalan hingga berdiri sejajar dengan Bian, meski mereka menghadap arah berlawanan.
"Vanessa sama seperti ku, jika dia suka dengan sesuatu, dia akan sangat berusaha untuk mendapatkan dan memilikinya, apa pun itu, termasuk juga cinta."
"Tapi ini salah."
"Semua kesalahan kamu, kamu yang membohongi dia tentang pernikahan mu dan Ayra."
"Tapi seharusnya dia mengerti sekarang."
"Tapi itu tidak mungkin, dia akan tetap bodoh sama seperti awal kamu membodohinya."
"Dan kamu akan membiarkan dia, meski akhirnya dia akan kecewa."
"Kamu fikir dia anak SD yang segala sesuatunya harus diurusi orang tuanya, dia sudah dewasa Bian, dia tahu batasan untuk dirinya sendiri."
"Tapi dia tidak akan tahu kapan aku akan menjatuhkannya, sama seperti apa yang aku lakukan terhadap mu."
"Silahkan saja, Vanessa tidak akan menjadi lemah hanya karena sosok Ayra, coba saja."
Bian menarik dalam nafasnya, ia berpaling seraya mengusap rambutnya dari depan sampai belakang.
Jadi percuma saja kedatangannya kali ini, ternyata tidak menghasilkan apa pun yang dapat membuatnya tenang.
"Kamu sudah selesai, aku harus masuk, berhenti menemui ku, sekarang aku sudah memutuskan untuk melupakan kamu, dan kalau kamu masih mengganggu ku, aku pastikan kamu akan semakin pusing lagi, karena aku akan kembali mengejar mu kapan saja aku mau."
__ADS_1
Bian mengangkat kedua alisnya, berani sekali Sintia berkata seperti itu.
Sintia tersenyum, lalu mengangguk, rasanya itu sudah cukup untuk membuat Bian kesal saat ini.