Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tolong Maafkan Aku


__ADS_3

Damar dan Yosep lebih dulu sampai ke rumah Zahra, mereka melihat sekitar yang tampak sepi.


Apa benar mereka tidak ada di rumah, kemarin Zahra masih tidak baik-baik saja, jadi mana mungkin wanita itu keluar rumah.


Damar menekan bel rumahnya, tanpa menunggu lama pintu terbuka, Damar ingat dengan sosok Nur itu.


"Apa Ayra ada di rumah?"


"Non Ayra sedang keluar, katanya mau ke Kantor."


"Dia bekerja, apa keadaannya sudah membaik?" tanya Yosep.


Nur sedikit menggeleng, ia tidak lupa dengan sosok yang telah buat ribut di tempatnya, dan bukankah lelaki itu juga yang telah melukai tuan rumahnya.


Berani sekali dia datang lagi, apa lagi yang akan dilakukannya sekarang, apa dia membawa polisi lagi.


"Kalau Bian ada?" tanya Damar.


"Ada, Den Bian masih di atas, belum turun."


"Apa kami boleh bertemu dengannya."


"Biar Bibi panggilkan."


Damar mengangguk, keduanya diam menunggu hingga wanita itu kembali bersama Bian.


Ekspresi Bian benar-benar berubah, ia terlihat panik sekaligus marah saat melihat keduanya.


"Ada apa lagi?" tanya Bian.


"Tenang dulu, kami kesini dengan niat baik, tidak perlu ada keributan," ucap Damar.


Bian diam, siapa yang datang dan membuat keributan, lagi pula bukankah Zahra sudah selesaikan semuanya, kenapa mereka harus kembali lagi.


Apa Bian akan tetap ditahan sesuai dengan keinginan mereka, Zahra tidak ada di rumah, tentu tidak akan ada yang membelanya lagi.


Tiiidd ....


Mereka menoleh bersamaan, Bian sedikit tersenyum saat melihat Kania dan Inggrid yang datang.


"Ada apa lagi ini?" tanya Inggrid.


"Sabar dulu Bu, kita kesini dengan niat baik."


"Niat baik apa?"


"Mami, kita masuk dulu, jangan sampai ribut lagi di luar."


Mereka lantas memasuki rumah, tidak salah Inggrid memaksa pulang hari ini, karena sepertinya akan ada kekacauan lagi.


Mana Zahra, kenapa Inggrid tidak melihatnya bersama dengan Bian, apa mungkin keadaan wanita itu memburuk.


"Mana Zahra?" tanya Inggrid.


"Dia bilang mau ke Kantor, dan sudah pergi sejak tadi pagi."


"Kamu biarkan dia pergi?"


"Dia bilang hanya sebentar, mungkin tidak lama lagi dia akan kembali."


Inggrid menggeleng, Bian memang tidak pengertian sama sekali, Zahra sedang tidak baik-baik saja tapi malah dibiarkan pergi.


Entah kemana fikirannya, kenapa sampai sekarang otaknya masih tidak berfungsi dengan benar.


"Bi, bawakan minum," ucap Kania.


Mereka lantas duduk bersama, Inggrid sudah kesal bahkan sebelum mereka bicara.


"Jadi ada apa?" tanya Kania.


"Kami ingin bertemu Ayra," ucap Damar.


"Ada urusan apa?"


"Saya mau minta maaf padanya," sahut Yosep.


Mereka sama-sama diam, apa mereka tidak salah mendengar, bagaimana bisa lelaki itu meminta maaf.


Bukankah ia begitu marah pada keadaan, dan dia menyalahkan Bian juga Zahra, tapi setelah apa yang terjadi pada Zahra, rasanya memang sudah seharusnya dia meminta maaf.


"Tapi sayang Ayra tidak ada di rumah," ucap Damar.

__ADS_1


"Seharusnya dia tidak pergi kemana-mana, saya sudah ingatkan dia untuk diam dan istirahat saja," ucap Inggrid.


Ditengah perbincangan mereka, rupanya Zahra benar-benar kembali, ia terdiam melihat mereka semua di sana.


Yosep seketika bangkit dan hendak menghampiri Zahra jika saja Damar tidak menahannya, mereka diam saat Zahra berjalan menghampiri.


Entah kenapa Zahra begitu murung, raut wajahnya sangat gelisah, apa ada masalah di kantor.


"Ayra, kamu sudah kembali," ucap Yosep.


Zahra hanya diam saja, apa yang akan dilakukannya sekarang, apa belum cukup luka yang diterimanya.


"Ayra, kami kesini ...."


Belum sempat kalimat Damar selesai, Yosep sudah lebih dulu mendekat dan bersimpuh di hadapan Zahra.


Itu cukup mengejutkan mereka, pergerakan Yosep telah membuat mereka berfikir jika lelaki itu akan menyakiti Zahra.


"Tolong maafkan saya, maafkan Istri saya, maafkan untuk semua hal buruk yang terjadi."


Zahra menelan ludahnya, ia tak bergeming sama sekali, fikirannya teramat kacau, Zahra merasa tak ingin lagi meneruskan hidup.


"Tolong maafkan saya, maafkan Istri saya juga, kamu boleh balas perlakuan buruk Istri saya, lampiaskan saja terhadap saya."


Zahra sedikit tersenyum, apa harus Zahra melakukan itu, rasanya semua akan percuma, masalah tidak akan selesai jika mereka terus saling membalas.


"Silahkan lakukan, saya tidak akan menghindar, saya tidak akan penjarakan Suami mu, tapi tolong maafkan semua yang telah terjadi."


"Bapak, bangunlah, saya masih waras untuk tidak melakukan hal buruk seperti itu, ayo bangun."


Zahra membangunkan Yosep, ia memintanya untuk kembali duduk saja, tidak ada gunanya seperti itu, Zahra sudah tidak perduli dengan semuanya.


Bian terlihat bangkit dan menghampiri Zahra, tapi ketika Bian hendak menyentuhnya, Zahra justru menghindar.


Mereka yang melihat itu cukup heran, mereka berfikir jika suami istri itu kembali ribut, atau bisa saja Zahra masih tidak bisa memaafkan Bian.


"Zahra, kamu ...."


"Aku tidak mau banyak bicara, jadi tolong diam."


Zahra berbicara tanpa melirik Bian, tatapan itu tak terarah pada apa pun, bahkan entah sadar atau tidak ketika Zahra melontarkan kalimatnya.


"Zahra kamu kenapa?" tanya Inggrid.


"Zahra, ayo duduk," ucap Kania.


Zahra menunduk, mereka melihat Zahra yang stres sendiri saat ini, mereka mengajaknya berbicara, tapi Zahra seperti tidak mendengar sama sekali.


"Zahra," panggil Bian.


"Permisi," suara dari luar sana.


Bian menoleh, ada tamu, siapa lagi yang datang sekarang, kenapa banyak sekali yang datang.


"Permisi, di luar ada polisi," ucap Nur.


Mereka seketika bangkit bersamaan, sekilas mereka melirik Yosep yang juga tampak bingung.


Damar menatapnya dengan penuh curiga, apa lelaki itu berbuat curang, dia berbohong atas semuanya.


"Tidak, aku tidak memanggil polisi," ucap Yosep tak merasa.


Damar menyipitkan matanya dan menoleh saat polisi itu masuk, mereka tak mengerti dengan semua itu.


"Selamat siang."


"Siang Pak, ada apa ini?" tanya Kania.


"Saya mendapat surat perintah untuk menangkap saudara Bian."


Kalimat itu semakin membuat mereka tak habis fikir, bukankah tadi Yosep mengatakan tidak tahu, dan tidak akan penjarakan Bian.


"Untuk apa, ini pasti kesalahan," ucap Kania.


"Kami menerima laporan dari saudari Zahra, ia melaporkan saudara Bian atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga."


Kini Zahra jadi pusat tatapan mereka, Bian menggeleng, itu tidak mungkin, bagaimana bisa Zahra melakukan itu.


"Zahra," panggil Bian.


Zahra diam saja, bahkan mungkin berkedip pun tidak, Zahra benar-benar mematung di tempatnya.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu mereka segera menarik Bian, suara Kania dan Inggrid terdengar bersamaan menghentikan polisi itu.


"Ini tidak mungkin, Zahra, apa kamu sudah gila?" ucap Kania.


"Tolong jangan persulit tugas kami, kami harus membawa saudara Bian guna mendapatkan informasi selanjutnya."


"Tidak, ini tidak boleh, ini salah."


Kania menarik kembali Bian, lelaki itu hanya diam saja menatap Zahra, semalam wanita itu masih bisa bersikap tenang dan baik-baik saja.


Dia bukan ke perusahaan, tapi dia ke kantor polisi, Bian tersenyum singkat, apa benar perlakuannya ini.


"Maaf Bu, kami harus bawa saudara Bian."


Polisi menarik Bian dan membawanya meninggalkan mereka semua, Kania yang tidak terima segera menyusul berusaha menghentikan polisi.


"Ayra," panggil Damar.


"Aku ingin membencinya, apa kalian tahu itu, berhenti berbicara padaku," ucap Zahra prustasi.


Inggrid menggeleng, apa yang harus difikirkan dan dilakukannya saat ini, ia tidak mau Bian ditahan, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Zahra.


"Jangan, jangan saya mohon jangan," teriak Kania.


Suara Kania membuat Inggrid dan Yosep segera menyusul, mereka membantu Kania untuk menahan polisi itu membawa Bian.


"Aku tidak mengerti permasalahan kalian, tapi fikirkan ulang semuanya, Ayra," ucap Damar.


Zahra menggeleng, ia menutup kedua telinganya, Zahra tidak mau mendengar apa pun sekarang.


Zahra sudah katakan, ia akan hidup tanpa harapan, Zahra akan lepaskan semuanya termasuk juga Bian.


"Kamu harus ke depan."


Damar membawa Zahra keluar, dengan melihat mereka semua, mungkin saja bisa membuat Zahra berubah fikiran.


"Tolong hentikan, Zahra, Mama mohon jangan lakukan ini."


"Zahra, aku sudah minta maaf, kenapa kamu lakukan ini?" tanya Bian.


Zahra sama sekali tak melirik mereka, mata itu justru memilih lantai untuk jadi pusat perhatiannya.


"Zahra, kamu dengar Mama, tolong."


"Maaf Bu, kami tidak bisa membuang waktu."


"Ada apa ini."


Suara kemal terasa menambah sakit hati Zahra kembali menyeruak, Zahra sudah siapkan diri untuk semua yang akan terjadi saat ini.


"Kenapa lagi ini, lepaskan anak saya."


"Tidak bisa, Pak."


Kemal melirik Yosep di sana, dengan cepat ia berjalan menghampiri dan menarik bajunya dengan kasar.


Damar berusaha menahannya, tidak perlu ada keributan lainnya, Kemal tidak tahu yang sebenarnya.


"Berani kamu mengulangi ulah mu, kurang ajar sekali kelakuan mu, lepaskan anak saya sekarang."


"Ini sama sekali bukan ulah ku."


"Omong kosong!" bentak Kemal.


"Ini perbuatan Zahra," ucap Kania.


Sesaat Kemal diam, hingga akhirnya ia melirik dan menatap Zahra, apa telinganya tidak salah dengar.


Polisi kembali menarik Bian, memaksanya agar masuk ke dalam mobil, tapi Kania masih saja menahannya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Kemal.


Bukan menjawab, Zahra justru memilih pergi memasuki rumah, ia mengabaikan mereka semua.


Mengabaikan teriakan Kania dan Bian yang meminta bantuannya, Zahra menutup pintu dengan membantingnya.


"Zahra, aku akan lakukan apa pun, tapi jangan lakukan ini, Zahra," teriak Bian.


"Pak, tolong Pak," melas Kania.


Polisi tak perduli, hanya Zahra yang bisa menghentikan mereka, Bian terpaksa harus masuk dan ikut pergi bersama dengan polisi itu.

__ADS_1


"Bian," jerit Kania.


__ADS_2