Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Gak Rela


__ADS_3

***


"Saudara Bian terbukti bersalah, dan atas kesalahannya itu, ia dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun dan denda sebesar 15 juta rupiah."


***


Mereka semua bubar, setelah semua usaha Kemal dan Kania untuk membebaskan Bian, harus gagal dengan hasil akhir seperti itu.


Bian hanya bisa menunduk dengan putusan tersebut, hati dan fikirannya begitu kacau, berhari-hari ia ada dalam sel sudah sangat membuatnya nyaris gila.


"Ini pelajaran terbaik untuk mu," ucap Inggrid.


Kania dan Kemal menoleh bersamaan, kalimat macam apa itu, kenapa Inggrid bisa berkata seperti itu.


"Ini salah, ini sangat salah," ucap Kemal.


"Ini memang salah, ini kesalahannya sendiri apa kamu masih tidak mengerti?"


"Ini kesalahan wanita itu, kemana dia sekarang?"


Zahra memang tidak ikut hadir, wanita itu menolak datang dengan berbagai alasan, dan saat ini mungkin Zahra sedang di rumah.


Inggrid menggeleng dan berlalu meninggalkan keduanya, Inggrid terluka atas hukuman yang Bian dapatkan, tapi Inggrid tidak bisa melakukan apa pun.


"Mami," panggil Kania.


 ----


Ditengah kemarahan mereka, Zahra di rumah tampak tenang, entah tenang atau pura-pura tenang, yang jelas Zahra sedang duduk santai di balkon kamarnya.


Ia bertahan dengan lamunannya di sana, jujur Zahra menantikan kembalinya Inggrid, Zahra ingin tahu seperti apa hasilnya, semoga saja tidak terlalu buruk.


"Non Ayra, ini minumannya."


Zahra menoleh dan mengambilnya, ia sangat berterimakasih karena Nur selalu memperlakukannya dengan sangat baik.


"Permisi."


"Iya, Bi."


Nur kembali pergi, Zahra meneguk minumannya sedikit, dan menyimpannya di meja.


Zahra kembali diam tenggelam dalam lamunannya, kapan bebannya itu akan berakhir, Zahra sudah sangat lelah dengan semuanya.


Kringg ....


Zahra menoleh, ia melihat layar ponselnya, ada panggilan video dari Kania, dengan cepat Zahra meraih dan menjawab panggilannya.


"Kamu berhasil."


Zahra mengernyit, itu Bian, bukan Kania tapi itu Bian.


"Kamu berhasil membalas semua sakit hati mu terhadap ku."


"Apa maksudnya?"


Jantung Zahra mendadak bergemuruh, begitu lama Zahra tidak melihat Bian, tidak mendengar suaranya seperti itu.


Dan sekarang Zahra kembali melihatnya, kembali mendengar suaranya, itu membuat sakit hatinya kembali menyeruak.


"Kamu bisa tidur nyenyak sekarang, kamu bisa berbahagia sekarang, terimakasih, aku akan coba terima semua ini."


Zahra merapatkan bibirnya, Bian terlihat begitu kacau, tapi kenapa, apa hasilnya kenapa Bian tidak mengatakannya langsung.

__ADS_1


Kemal merebut ponselnya dan menatap Zahra di layar sana, Zahra mengerjap, ia berusaha berani menatap balik Kemal.


"Puas kamu sekarang, kamu sudah berhasil merusak kehidupan kami."


"Ada apa?" tanya Zahra.


"Ada apa, pertanyaan macam apa itu, ini semua sesuai dengan keinginan kamu kan."


"Aku tidak mengerti."


"Kamu tidak akan melihat dia selama 5 tahun, apa itu sesuai dengan keinginan mu?"


Zahra memejamkan matanya, ia menutup sambungannya begitu saja, sudah cukup, Zahra sudah mengerti sekarang.


Ponsel itu terjatuh dari genggamannya, Zahra menunduk, ia menangis begitu saja, itu kabar buruk dan Zahra tidak suka itu.


Zahra diam, kedua tangannya mengepal, nafasnya seketika memburu bersamaan dengan emosi yang dengan mudahnya mencapai puncak.


"Aku memang jahat Bian, kamu tahu sekarang kalau aku lebih jahat dari pada kamu."


Zahra jahat, iya Zahra memang jahat, Zahra sudah membuat suaminya susah di sana, Zahra sudah berhasil merenggut kebebasannya.


"Aku memang jahat Bian, kamu tahu aku jahat sekarang, aaaaa," jerit Zahra membanting gelas yang tadi disimpannya.


Zahra menendang mejanya juga, ia menangis sejadi-jadinya, tidak bisa, Zahra tidak bisa terima itu.


"Non Ayra, kenapa?"


Zahra bangkit, ia berbalik dan menatap Nur di sana.


"Aku jahat, aku orang jahat sekarang."


"Apa maksudnya, ada apa Non?"


Ia menerobos masuk dengan menabrak Nur, Zahra mengacak semua yang tertata dengan rapi, ia menjerit disela tangisnya.


Zahra tidak boleh menyesal dengan semuanya, ia yang sudah memulai semuanya, tapi kenapa Zahra tidak bisa menerimanya sekarang.


"Aaaaa," jerit Zahra seraya membanting kursi kecil itu ke kaca.


Meski kecil tapi kursi itu terbuat dari kayu yang kuat, sehingga tetap saja membuat kaca itu pecah.


Nur terkejut dengan semua itu, ia berusaha menenangkan Zahra tapi sangat sulit.


"Sabar Non."


"Ini salah, semua ini salah, kenapa aku jahat sekali."


"Jangan seperti ini Non, tenang dulu."


Nur berusaha meraih Zahra, tapi tidak bisa, pergerakan Zahra begitu tak terkontrol, Nur kebingunan harus seperti apa.


Pintu yang mendadak terbuka tak lantas menghentikan Zahra, Inggrid rupanya telah sampai ke rumah dan melihat ulah Zahra.


"Ada apa ini, kenapa seperti ini?"


"Saya tidak tahu Bu, tapi tiba-tiba saja seperti ini."


Inggrid melirik Zahra, wanita itu begitu kacau, ada apa dengannya, bukankah tadi dia baik-baik saja saat Inggrid pergi.


"Ayra."


"Jangan mendekat, atau kalian akan terluka."

__ADS_1


Zahra meraih pecahan kaca cermin itu, ia menodongkan pada mereka yang berusaha mendekat.


"Ayra kamu kenapa, ada apa ini?"


"Jangan mendekat, kalian tahu kalau aku jahat sekarang, jadi jangan berani mendekat."


"Apa maksud kamu, kenapa tiba-tiba seperti ini?"


Zahra menggeleng, ia menunduk dengan tetap menangis, Zahra menyesal dengan semuanya.


Zahra tidak mau Bian ditahan selama itu, Zahra tidak menginginkan itu sejak awal.


"Ayra."


"Jangan mendekat!" bentak Zahra.


Inggrid diam, apa yang bisa dimengertinya dari semua ini, Inggrid baru saja datang dan Zahra sudah seperti itu.


"Zahra, jangan seperti ini, kamu bisa bicara baik-baik sama Oma."


"Tidak ada yang baik-baik, aku bukan lagi orang baik sekarang, pergi kalian."


"Zahra."


"Pergi," jerit Zahra


Zahra melempar pecahan kaca itu asal, ia terduduk dengan menjambak rambutnya sendiri, Zahra semakin histeris di sana.


Tak lama dari situ Kemal dan Kania turut datang, mereka melihat kekacauan Zahra di sana.


"Ada apa ini?" tanya Kania.


Mereka menoleh bersamaan, termasuk juga dengan Zahra, Zahra menatap mereka bergantian, hingga berakhir pada sosok Kemal di sana.


"Ada apa dengan mu, apa kamu gila sekarang?"


"Kemal," panggil Inggrid.


"Apa, bagus dia seperti ini, karena hanya orang tidak waraslah yang bersikap tanpa berfikir dulu."


"Kemal, diam kamu."


"Tuhan menghukumnya dalam waktu yang cepat, dia sudah membuat anak ku menderita di penjara, dan sekarang lihat dia, bukankah ini adil?"


"Tutup mulut mu itu!" bentak Zahra.


Mereka saling lirik, benar-benar tak habis fikir dengan semua itu, ada apa dengan Zahra, keadaan itu sangatlah tiba-tiba.


Kemal berjalan mendekati Zahra, ia tak perduli meski Zahra menghindarinya, Kemal tetap dengan langkahnya.


"Jangan mendekat," ucap Zahra.


"Kenapa, ada apa dengan mu, apa ini sandiwara, ini bagian dari tingkah polos mu?"


"Jangan mendekat."


"Jangan berani mengaturku dengan membentak ku seperti itu."


Kemal dengan sigap menarik lengan Zahra, ia sudah sangat muak dengan wanita itu, semua kekacauan terjadi karenanya.


Zahra berusaha menarik tangannya, tapi Kemal begitu kuat menahannya, meski begitu Zahra tak sedikit pun berpaling dari tatapan Kemal.


Sorot kemarahan terpancar jelas dari mata keduanya, yang lain hanya bisa memperhatikan tanpa bisa melakukan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2