Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sudah Tahu


__ADS_3

Kania dan Kemal menjemput Inggrid di rumah sakit, ketiganya sudah kembali ke rumah saat ini.


Cukup lama Inggrid di rumah sakit, dan tak satu kali pun Zahra juga Bian datang menjenguknya.


"Oma, Oma sudah pulang," ucap Bian yang hendak keluar.


Ketiganya menoleh bersamaan, Inggrid yang sudah terduduk tampak diam menatap Bian.


"Oma, aku minta maaf karena aku tidak menjenguk Oma di Rumah Sakit."


"Mana Ayra?"


Mereka diam, Bian berpaling, apa Kania dan Kemal tidak mengatakan tentang kepergian Zahra.


Inggrid menggeleng, ia lantas bangkit dari duduknya, percuma bertanya pada mereka karena tidak ada jawaban yang memuaskan baginya.


"Mami mau kemana?" tahan Kemal.


"Mami mau temui Ayra di kamarnya, kalian hanya membuat kepala Mami pusing saja."


"Mami, diamlah dulu."


Inggrid menoleh, ia balik menatap Kania, sejak kemarin wanita itu hanya memintanya diam dan bersabar seperti itu terus.


Tapi sampai hari ini pun tidak ada Zahra terlihat oleh matanya, Inggrid sudah sehat dan ia bisa berjalan sendiri kemana pun yang diinginkannya.


"Mami."


"Kalian saja yang diam, Mami sudah di rumah, kalian bisa pulang dan kembali pada kesibukan kalian."


Inggrid melajutkan langkahnya, Kania dan Kemal melirik Bian, apa belum ada kabar apa pun soal Zahra sampai sekarang.


"Oma, Ayra tidak ada di kamarnya, dia hilang."


Langkah Inggrid seketika terhenti saat mendengar kalimat Bian, ia berbalik dan menatap mereka semua.


Kania berpaling saat itu juga, sedangkan Kemal mengangguk saja tanpa menghindari tatapan Inggrid.


"Sejak Oma masuk Rumah Sakit, Ayra pergi dari rumah."


"Lalu apa guna dirimu?"


Bian diam, mau bagaimana lagi, sudah seharusnya Bian mendengarkan kekesalan Inggrid kali ini.


Inggrid berjalan kembali menghampiri, terdiam menatap ketiganya bergantian, bahkan sampai selama itu tidak ada yang mengatakan hal tersebut padanya.


"Kenapa diam, Ayra yang pergi atau kamu yang mengusirnya?"


"Dia pergi sendiri, aku sama sekali tidak mengusirnya, bagaimana mungkin aku melakukan itu."


"Lalu apa yang bisa kamu lakukan?"


Bian kembali diam, apa yang bisa dilakukannya, Bian sudah berusaha mencari Zahra kemana yang dia bisa.


Tapi persembunyiannya kali ini memanglah tak terbaca, entah kemana wanita itu pergi dan bersembunyi.


"Kamu tidak bisa jawab, masih akan menyalahkan wanita itu lagi?"

__ADS_1


"Oma, aku tidak mengerti kenapa dia sampai pergi seperti itu."


"Omong kosong, kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa, lalu apa maksud bentakan dan perlakuan kasar mu terhadapnya?"


Bian mengangkat kedua alisnya, apa maksudnya, tidak ada apa pun yang dilakukannya.


Inggrid menghembuskan nafasnya berat, bisa sekali Bian lupa dengan ulahnya sendiri, memang tidak bisa dimengerti sama sekali.


"Oma ...."


"Diam kamu, kalian semua memang sama saja, tidak ada bedanya sama sekali."


Kania dan Kemal saling lirik, itu tidak bisa diterimanya, mereka tidak melakukan apa pun pada Zahra.


"Apa sangat sulit untuk kalian mengatakan ini sejak kemarin, bukankah setiap hari kamu bersama Mami, Kania?"


Tak ada jawaban, Kania memang mengakui itu kesalahannya, tapi Kania melakukan itu karena takut akan gangguan kesehatan Inggrid.


"Dan kamu juga, masih saja kamu membencinya sampai sekarang, senang kamu dia menghilang sekarang?"


Kemal menunduk sesaat, sebaiknya tidak ada yang dikatakan untuk mendebat Inggrid sekarang, itu hanya akan membuat suasana semakin panas saja.


Inggrid melihat sekitar, apa gunanya lagi Inggrid ada di rumah tersebut jika Zahra sudah tidak ada bersamanya.


"Cari, atau kalian semua pergi dari sini, Mami akan jual rumah ini."


"Rumah ini sudah kembali menjadi milik Ayra, bagaimana bisa Mami menjualnya?" tanya Kania.


"Itu bukan urusan kalian, kenapa, apa kalian keberatan rumah ini dijual, bukankah rumah ini milik Zahra?"


Tak ada jawaban, tentu saja mereka keberatan, sedikit pun tidak bisa terima itu karena mereka kembali mengganti nama kepemilikannya.


"Aku sedang berusaha mencari dia, aku sudah lapor polisi dan mereka sedang membantu mencari."


"Dan kau diam saja sekarang, menurut mu itu berguna?"


"Aku akan pergi, tapi aku melihat Oma makanya aku masih disini."


"Kalian tidak bisa berbohong apa pun lagi."


Inggrid melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka, ia berjalan menuju kamarnya sendiri.


Tidak ada gunanya banyak bicara di sana, lebih baik Inggrid segera membantu pencarian Zahra.


"Kenapa kamu tidak pernah temui Oma?" tanya Kania.


"Aku sibuk mencari Zahra, aku fikir aku akan menemukan dia sebelum Oma pulang, tapi ternyata aku gagal."


Kania menggeleng, ia melirik Kemal sesaat, lalu harus bagaimana mereka sekarang.


Bian berlalu begitu saja, ia harus meneruskan langkahnya untuk mencari Zahra.


 


"Dion, aku minta maaf, aku baru bisa kesini sekarang," ucap Sintia.


"Tidak masalah, aku mengerti kamu memang wanita sibuk."

__ADS_1


Sintia menggeleng, niatannya datang waktu itu memang gagal, pekerjaan Sintia begitu menguncinya hingga tidak bisa keluyuran kemana-mana.


"Dimana Ibu kamu?"


"Di dalam, baru saja diperiksa dan aku suruh dia istirahat."


"Baiklah, aku masuk lain waktu saja."


Dion mengangguk setuju, Sintia turut duduk dan melihat sekitar, Dion hanya sendiri di sana kasihan sekali.


"Sampai kapan Ibu kamu disini?"


"Perkiraan Dokter untuk satu minggu lagi, tapi semua tergantung keadaan Mama sendiri."


"Semoga saja bisa lebih cepat."


Tentu saja itu memang harapan Dion juga, sudah jenuh ia berada di rumah sakit setiap saat.


Tidak ada yang bisa menggantikannya, karena Dion hanya membawa Ibunya saja tanpa keluarganya yang lain.


"Kamu tidak bekerja selama ini?"


"Tidak, kondisi Mama sedang drop sekali, aku tidak bisa meninggalkannya."


"Aku turut sedih dengan itu, semoga semua ini cepat selesai."


Dion tersenyum, tidak ada yang bisa dikatakannya untuk hal itu, harapan untuk itu memang jadi harapan terbesarnya.


Harapan yang sampai saat ini belum bisa diraihnya, tapi tidak masalah Dion akan tetap menjalaninya sebaik mungkin.


"Kamu sudah makan?" tanya Sintia.


"Belum, nanti saja aku tidak lapar."


"Baiklah."


"Kamu sudah dapat kabar tentang Zahra?"


Sintia menggeleng, ia bahkan belum sempat mengunjungi Inggrid yang katanya sempat masuk rumah sakit juga.


Dion menunduk, apa Zahra benar-benar pergi dan tidak akan kembali, kenapa Dion tidak lagi jadi tujuan pelarian Zahra.


"Aku rasa Zahra sudah benar-benar jengah dengan kehidupannya," ucap Sintia.


"Lalu kemana perginya dia, harusnya dia selesaikan dulu semuanya."


"Dan kamu akan kembali memperjuangkan dia?"


Dion diam, entahlah kesempatan itu akan kembali ada atau tidak untuknya.


Yang jelas sampai saat ini semua masih sama, Zahra tetap ada dalam sebagian besar harapannya.


"Semoga saja memang ada jalannya," ucap Sintia.


Tak ada respon, Dion hanya diam saja, ia tak mau terlalu besar menyimpan harapan.


Saat ini masalahnya juga sedang banyak, jadi urusan itu biar perlahan saja tanpa perlu terlalu serius difikirkan.

__ADS_1


 


__ADS_2