
"Kamu yakin mereka di rumah?" tanya Vanessa.
"Entahlah, tapi tidak ada mobil Bian disana."
Keduanya terdiam, sebagian lampu rumah juga padam, apa itu artinya tidak ada orang di dalam sana.
Kenapa gelap, dan terlihat sepi, tapi mereka sudah sampai dan sudah seharusnya mereka melanjutkan langkahnya.
"Kamu mau tunggu disini?" tanya Sintia.
"Tidak mungkin, aku ikut."
"Ayo."
Keduanya keluar dan berjalan memasuki halaman rumah, memang tidak ada satpam di sana dan gerbang pun tidak terkunci.
Sintia menekan bel untuk bisa tahu ada atau tidak orang di dalam sana, sesaat menunggu pintu terbuka, mereka tersenyum melihat Nur di sana.
"Bi, apa Bian ada?" tanya Sintia.
"Tidak ada, tidak ada siapa pun disini."
"Tidak ada, memangnya kemana mereka?"
"Semua sedang di Rumah Sakit."
Sintia melirik Vanessa, mungkin saja ia telah salah mendengar kalimat Nur tadi.
Vanessa menggeleng, entahlah apa maksudnya kalimat itu, Vanessa tidak mau berfikir apa pun.
"Siapa yang sakit, Bi?" tanya Sintia.
"Den Bian."
"Bian?" sahut Vanessa.
"Den Bian kecelakaan sewaktu mencari Non Ayra, dan sampai sekarang masih belum sadarkan diri di Rumah Sakit."
Vanessa berpaling, itu tidak mungkin, apa itu alasan Bian menolak panggilannya, dan itu juga alasannya mematikan ponselnya.
Vanessa menggeleng, tidak, itu bukan alasan, itu ketidak sengajaan, Bian kecelakaan sehingga ia tidak bisa fokus pada ponselnya.
"Aku harus kesana sekarang, cepatlah untuk apa kita diam disini?"
Vanessa berlalu lebih dulu, banyak bicara dengan Nur tidak akan menghasilkan apa pun, bukankah Bian sedang tidak sadarkan diri.
"Bi, terimakasih ya informasinya."
"Sama-sama, Non."
Sintia lantas berlalu menyusul Vanessa, ia memasuki mobil dan melihat Vanessa yang tak lagi bisa tenang.
"Jalan, kenapa malah melihat ku seperti itu?"
"Untuk apa seperti ini, pergi begitu saja memangnya kamu tahu tujuannya kemana?"
"Kamu yang tadi bicara sama dia, cepat jalan."
__ADS_1
Sintia menggeleng, menyebalkan sekali, biar saja Bian di sana juga sudah ada yang menjaga, dan lagi istrinya pasti juga di sana.
"Jalan Sintia."
"Iya, sabar dong."
Sintia lantas melajukan mobilnya, mereka tak sadar jika telah berpapasan dengan mobil Dion di sana.
Mobil Dion tampak berhenti saat sadar mobil siapa yang baru saja dilihatnya itu, dan itu tidak akan salah.
"Untuk apa dia kesini, malam-malam seperti ini."
Dion lantas keluar dan berjalan memasuki halaman, untunglah Nur masih di luar sehingga Dion tidak perlu menunggu lama.
"Bibi," panggil Dion.
Nur menoleh, pintu yang hendak ditutupnya kembali di buka.
"Ada apa?"
"Tolong ambilkan pakaian ganti untuk Zahra, sekarang."
"Pakaian?"
"Ya, aku sudah tahu soal Bian, tadi aku habis dari sana dan Oma suruh aku bawakan pakaian Zahra untuk ganti disana."
Nur mengangguk, tentu saja ia paham dan memang bisa dimengerti, Dion melihat sekitar, tidak ada apa pun.
"Cari apa, Den?"
"Tadi ada mobil Sintia di depan, apa dia dari sini?"
"Mereka?"
"Non Sintia bersama temannya."
Dion mengangguk, itu pasti Vanessa, untuk apa lagi mereka mengganggu Bian sekarang, benar-benar tidak tahu malu.
Dion sedikit tersenyum, tapi itu sama saja dengan dirinya yang masih mengharapkan Zahra sampai sekarang.
"Bibi, bawakan dulu pakaiannya ya."
"Ah .... Oh oke, silahkan jangan lama ya."
"Iya, hanya pakaian saja?"
"Kalau bisa sama alat mandi."
Nur mengangguk dan berlalu meninggalkan Dion, setelah sesaat terdiam, Dion berjalan dan duduk di teras.
Ia mengingat Zahra yang tidak bisa tenang karena keadaan Bian, tangis dan amarahnya sangat terlihat mengacaukan wanita itu.
"Kasihan sekali, tapi kenapa kamu juga bersikap seperti itu padaku, aku sudah berusaha baik-baik padamu."
Dion mengusap wajahnya, sepertinya Zahra memang tidak akan bisa untuk meninggalkan Bian.
Bahkan meski mungkin nanti Bian tak kembali, Zahra belum tentu mau untuk menerima Dion.
__ADS_1
"Ini pakaiannya, Den."
Dion menoleh lantas bangkit, baguslah pesanan begitu cepat selesai.
"Terimakasih banyak, Bi."
"Sama-sama, bagaimana keadaan Den Bian sekarang?"
"Masih belum sadar, tadi sempat ada respon, tapi Bian tetap tidak sadar."
Nur diam, kasihan sekali, inginnya Nur ikut ke rumah sakit, tapi Inggrid melarangnya dan mengharuskannya tetap di rumah.
"Bi, aku pergi sekarang ya."
"Iya Den, hati-hati."
"Oke, makasih sekali lagi."
Dion berlalu, ia harus kembali ke rumah sakit dengan cepat, fikirannya terus saja mengingat Sintia dan Vanessa.
Dua wanita itu pasti sudah tahu tentang kecelakaan Bian, dan mereka akan datang ke rumah sakit juga.
"Zahra pasti akan dapat masalah karena mereka berdua."
Dion melajukan mobilnya dengan cepat, mau bagaimana pun keperdulian Dion terhadap Zahra masih tetap sama.
Gimana pun buruk Zahra terhadapnya, Dion tetap yakin jika hanya dirinya yang akan dibutuhkan Zahra disaat sulitnya.
Zahra merapikan selimut yang menutupi setengah tubuh Bian, lelaki itu masih saja bertahan dalam tidurnya.
Zahra sudah tidak tahu lagi harus meminta dengan cara apa agar Tuhan mau mendengarnya, Zahra ingin Bian sadar dan kembali bicara padanya.
Bahkan meski harus makian yang pertama kali didengarnya, Zahra tetap akan merasa senang, Bian tidak boleh hanya diam saja seperti itu.
"Bian, aku lapar, apa kamu mau temani aku makan, sebentar saja."
Zahra memainkan rambut Bian, bolehkah Zahra merasa bosan dengan keadaan saat ini.
"Bian, bangunlah, kamu tahu aku sangat merindukan kamu, aku tidak akan lagi pergi lama seperti kemarin, ayo bangun."
Zahra diam, nafasnya terasa sesak, Zahra memang selalu ingin Bian bersikap tenang, tapi bukan diam seperti saat ini.
"Kamu tahu, aku sudah ada di Kantor sekarang, aku suka dengan kegiatan di Kantor, tapi aku pusing sekali dengan semua berkas disana, kamu mau membantu ku?"
Zahra menggenggam tangan Bian, mungkin saja beberapa sentuhan Zahra bisa membuat lelaki itu terusik dari tidurnya.
Bian selalu menginginkan perusahaan, dan sekarang Zahra sudah memiliki hak atas perusahaan, mungkin saja Zahra bisa membawa Bian untuk terlibat juga.
"Ayo kita temui Oma, aku akan bicara sama dia, aku akan memohon agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, dan aku akan berusaha agar Oma mau melepaskan aku."
Zahra sedikit tersenyum, Bian sudah menjadi tuli sekarang, sekali pun Zahra menjerit, Bian tak juga mampu mendengarnya.
Apa itu artinya Zahra yang gila, ia terus saja berbicara meski tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Bian.
"Aku tunggu kamu disini, aku tidak akan ke Kantor sebelum kamu bangun, sebelum kamu marah sama aku nantinya."
__ADS_1
Zahra mencium punggung tangan yang digenggamnya, entah sudah berapa kecupan yang Zahra lakukan pada suaminya.
Tapi itu tak kunjung membuat Bian sadar, seharusnya Bian bisa merasakannya, Bian bisa sadar meski hanya untuk memarahinya saja.