
Zahra telah diperbolehkan pulang sore ini, Bian segera membawanya juga, dengan begitu Bian tidak perlu bolak-balik terus ke rumah sakit.
"Hallo, kalian sudah pulang."
Keduanya saling lirik, Ingrid ada di rumah itu, kapan wanita itu datang.
"Eh kenapa malah diam, ayo sini, kasihan kamu baru sehat sekarang."
Bian tersenyum dan membawa Zahra ke hadapan Inggrid, keduanya salam pada wanita tua itu.
"Bagaimana, kamu sudah baik-baik saja?"
"Aku sudah sehat."
Inggrid mengangguk, ia membawa Zahra duduk dan segera memberikan gelas minum untuknya.
"Terimakasih."
"Sama-sama, minumlah dulu."
Zahra lantas meneguknya, ia kembali menyimpan gelasnya dan diam tanpa berkata apa pun.
"Apa kata Dokter?"
"Aku tidak apa-apa, aku sudah sehat dan boleh beraktivitas lagi, semua baik-baik saja."
"Syukurlah, maafkan Oma, kemarin gak sempat menjenguk kamu sewaktu di Rumah Sakit.
"Tidak masalah, lagi pula hanya sebentar saja."
Inggrid mengangguk, ia mengusap kepala Zahra, wajahnya masih terlihat pucat saat ini, dan itu artinya Zahra harus istirahat dulu.
"Bian, kamu bawa Istri kamu ke kamar, dia masih harus istirahat, lihat saja wajahnya masih sangat pucat."
Bian melirik Zahra, memang benar apa yang dikatakan inggrid, Zahra belum sepenuhnya pulih.
"Kenapa diam saja, ayo cepat."
"Iya, ya sudah, ayo ke kamar."
Zahra menoleh melihat uluran tangan Bian, malas untuk menjabatnya, tapi mereka harus terlihat baik-baik saja di depan Inggrid.
"Aku antar ke kamar dulu."
"Tentu saja."
Bian membawa Zahra pergi meninggalkan Inggrid, ketika mereka tak terlihat lagi oleh Inggrid, Zahra segera melepaskan genggaman Bian.
"Apa-apaan kamu ini, kenapa harus seperti itu?"
"Kenapa memangnya, biarkan saja, sekarang kita hanya berdua."
Bian menggeleng, baiklah terserah Zahra saja, malas jika harus berdebat dengan wanita itu.
"Aku mau tidur, dan aku hanya mau sendiri."
__ADS_1
"Kamu fikir aku mau menemani kamu?"
"Bagus kalau seperti itu, kamu bisa turun saja tidak perlu ikut masuk ke kamar."
Bian tersenyum acuh, menjengkelkan sekali wanita itu, apa dia fikir Bian mau sekamar dengannya, sangat percaya diri.
"Permisi."
Zahra memasuki kamar dan menutup pintunya begitu saja, Bian menghembuskan nafasnya pasrah, baiklah kali ini biarkan Bian yang mengalah.
"Kenapa kamu berdiri disana?"
Bian menoleh, Inggrid justru menyusul kepergiannya, apa yang harus dikatakannya sekarang.
"Kenapa, masuk dong, urus Istri kamu, ini sudah Oma buatkan susu hangat, berikan padanya, agar bisa langsung diminum."
"Oma, gak kasih sendiri?"
"Mana bisa seperti itu, kamu harus urus dia, jangan lagi mengecewakannya, kamu kan yang berniat tanggung jawab, buktikan kalau seperti itu."
Bian tak bisa berkata apa pun lagi, akan sulit untuk bisa melawan debatan Inggrid, Bian menerima gelasnya dan pamit masuk kamar.
"Bisa sekali seperti itu."
Inggrid kembali pergi, sekarang ia akan bersantai sejenak, seblum nanti istirahat.
"Untuk apa kamu masuk?"
Bian menoleh setelah menutup pintu, ia berjalan menghampiri Zahra di tempat tidur.
"Simpan saja, aku gak mau minum susu, kamu keluar lagi saja."
"Gak bisa, aku akan disini sama kamu."
"Tapi aku gak mau, dan aku lebih gak mau debat sama kamu."
Bian menyimpan gelasnya dan duduk di samping Zahra.
"Aku bilang keluar."
"Gak bisa, kamu fikir ini kemauan ku untuk ada disini, semua ini permintaan Oma, aku harus mengurus mu, menemani kamu disini."
Zahra mendelik, ia tak peduli dengan itu, kepalanya sakit saat ini, dan itu bukan saatnya untuk berdebat.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Kesal, tidak perlu banyak bicara."
"Kepala kamu sakit, biar aku pijat."
Zahra menoleh saat Bian menyentuh kepalanya, apa Bian akan kurang ajar lagi padanya.
"Tenang saja, aku sudah berjanji tidak akan mengulang kesalahan ku lagi, aku hanya sedang merawat mu saja."
Bian memijat kepala Zahra, semoga saja memang seperti itu, Zahra kembali berpaling dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tidur saja, aku tidak akan melakukan apa pun."
"Diam kamunya."
Bian sedikit tersenyum, dengan Zahra masih mau bertahan dengannya, Bian harusnya merasa cukup karena memang itu yang dibutuhkannya.
"Jangan terus menatap ku, suka nanti."
Bian mengernyit dan seketika berpaling, percaya diri sekali wanita itu, bisa-bisanya berkata seperti itu.
"Aku mau tidur."
"Ya sudah tidur, ngapain masih bicara."
Zahra tersenyum singkat, baguslah, tak ada lagi suara dari keduanya, pijatan Bian mampu membuat Zahra benar-benar terlelap.
Hoaam ....
Bian mengusap wajahnya, ia melirik Zahra yang tak lagi ada pergerakan, tangannya lumayan pegal karena terus memijat kepala Zahra.
"Aku juga lelah kali, Ra."
Bian melirik pintu, kalau Bian keluar dari kamar itu, bisa saja Inggrid mendadak masuk, dan tahu kalau Bian tidak bersama Zahra.
"Baiklah, Zahra juga tidur, pasti lama, aku bisa tidur juga sekarang."
Bian maju dan berbaring di samping Zahra, Bian hanya butuh tidur sebentar saja, dan Bian akan bangun lebih dulu dari pada Zahra.
Kali ini, untuk pertama kalinya Bian tidur ditemani wanita, dan ternyata wanita itu adalah istrinya sendiri, Bian sedikit tersenyum, itu memang terasa beda.
"Hemmm, apa gunanya seperti ini, dia hanya istri di atas kertas."
Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, kedua matanya terpejam perlahan, semoga saja ketika Bian kembali membuka mata, keadaan sudah lebih terasa nyaman olehnya.
Uhuk .... Uhuk .... Uhuk
Bian kembali membuka matanya, ia berbalik menghadap Zahra dan kembali memijat kepalanya, mungkin saja dia sadar jika Bian tak lagi memijatnya.
"Tidur saja, jangan fikirkan apa pun."
"Sakit," ucap Zahra nyaris tak terdengar.
"Iya, aku pijat, sebentar lagi juga sembuh, tidur saja dulu."
Tak ada lagi jawaban, Zahra perlahab bergerak balik menghadap Bian, matanya tetap terpejam karena memang sedang tidur.
Bian tersenyum menatap wajah Zahra, sedekat itu ia bisa melihatnya, jika sedang tidur memang begitu tenang, Zahra memang baik dan Bian telah salah atas perlakukannya.
"Kamu akan baik-baik saja setelah ini, tenang saja aku tidak akan kurang ajar lagi."
Semakin lama pergerakan tangan Bian semakin melambat, mata Bian yang perlahan kembali terpejam, membuat kesadarannya mulai menghilang.
"Aku tidur sebentar saja, ngantuk sekali."
Keduanya tertidur, tangan Bian yang tak lagi bertenaga itu, jatuh dan tertahan di pipi Zahra, tak ada yang menyadaru hal tersebut, keduanya memang telah terlelap.
__ADS_1
Semakin lama pergerakan keduanya semakin tak beraturan, Zahra yang terus saja menyeret Bian, dan Bian yang tak mau kalah, sampai akhirnya Bian memeluk tubuh wanita itu, keduanya sama-sama terdiam tenggelam dalam dunia mimpinya yang entah sampai kapan akan bisa berakhir seperti itu.