
Hari terus berganti, Zahra melewati banyak sekali hal penting, ia yang selalu berjalan dengan tegang ketika memasuki kantor, kini terlihat lebih santai.
Zahra tersenyum hangat menyapa semua karyawan yang menyapanya, ia berjalan memasuki ruangannya dan duduk dengan tenangnya.
Kringg ....
Zahra mengeluarkan ponsel dari tasnya, ada panggilan masuk dari Inggrid, senang sekali rasanya.
"Iya, Oma," ucap Zahra semangat.
Senyuman yang terlihat indah perlahan hilang, Inggrid memintanya untuk menghadiri rapat siang ini.
Bagaimana bisa itu dilakukan, Zahra tidak siap dengan kegiatan seperti itu.
"Oma, aku tidak mau, biarkan saja Marvel yang datang."
Zahra diam, ocehan Inggrid tidak boleh menjadikannya marah, Zahra harus selalu menerimanya.
"Baiklah, aku akan berusaha."
Sambungan terputus, ketenangan Zahra seketika menghilang, ia takut dengan meeting itu.
Apa yang harus dikatakannya nanti, Zahra tidak mengerti, bukankah meeting adalah hal serius.
"Permisi."
"Iya."
"Ini materi untuk meeting nanti, Bu."
Zahra menerima berkas dari Marvel, ia membukanya dan sekilas membacanya.
"Kerjasama baru?"
"Ini perusahaan baru, dan Bu Inggrid jadi yang pertama yang mengajaknya bekerja sama."
"Ini bukan perusahaan besar?"
"Tentu saja."
Zahra diam, apa harus seperti itu, kenapa harus perusahaan kecil.
"Saya permisi, Bu."
"Ah oke, terimakasih."
Seperginya Marvel, Zahra kembali membaca materi meetingnya, ia juga membaca peraturan kerjasamanya, nominal bagi hasilnya, dan denda pelanggarannya.
"Banyak sekali, apa mereka akan setuju, ini pasti akan menyulitkan mereka."
Zahra diam, kali ini Zahra yang akan mengurusnya, apa Zahra bisa melakukannya, membuat mereka mau menerima ajakan kerjasama itu.
Beberapa jam terlewati ....
Zahra berjalan bersama dengan Marvel, mereka akan menuju ruang meeting, Zahra semakin panik saja saat Marvel membuka pintu ruangan tersebut.
"Silahkan, Bu."
"Apa mereka ada di dalam?"
"Tentu, mereka sudah menunggu."
__ADS_1
"Bisakah aku pergi saja?"
Marvel tersenyum seraya menggeleng, Zahra memang harus mengurangi rasa takutnya, ia butuh banyak sekali keberanian dalam melangkah.
"Silahkan, Bu."
"Baiklah, kamu tidak mengerti aku sama sekali."
Keduanya memasuki ruangan, Zahra melihat beberapa orang di sana, jantungnya mendadak bergemuruh, Zahra sangat takut dengan hasilnya.
Mereka berjabat tangan saling menyapa satu sama lain, dua pihak itu memang baru bertemu kali ini, jadi pasti canggung.
"Jadi anda pemimpin perusahaan ini, anda terlihat sangat muda."
"Benarkah, sepertinya itu perasaan anda saja."
Marvel mengernyit, nada bicara Zahra sedikit bergetar, itu akan membuatnya terlihat buruk.
"Mungkin saja anda sedang tidak enak badan?"
"Hah, benarkah?"
Mereka tersenyum, sedikit bingung dengan sosok Zahra.
Marvel berpaling sesaat, ia lantas berbicara menjelaskan siapa Zahra di perusahaan itu, dan mereka paham karena ternyata Zahra adalah orang awam dalam berbisnis.
"Baiklah, kita mulai saja pembahasannya, rasanya sudah cukup jelas tentang pemimpin saya."
"Baiklah, itu benar."
Zahra tersenyum, entah apa yang mereka fikirkan tentangnya setelah mereka tahu Zahra hanya bocah yang sok dewasa.
----
Bian mengacak semua isi kamarnya, sampai saat ini Zahra belum juga kembali menemuinya, Zahra juga tidak memberinya kabar apa pun dan bahkan pesan serta panggilan Bian masih saja diabaikannya.
"Dimana kamu Zahra, besar kepala sekali sikap mu itu."
Bian menendang kursi di depannya, sungguh kemarahannya tidak lagi bisa ditahan, saat ini ingin sekali Bian menyusul Zahra.
"Memang dasar tidak tahu diri, selalu saja menjengkelkan kelakuan mu itu."
Sudah dua hari Bian bertahan di rumah, ia berharap jika Zahra akan datang dan menemuinya, tapi ternyata sampai sekarang wanita itu masih bertahan dipersembunyian pribadinya.
"Zahra ....," teriak Bian.
"Berisik sekali mulut mu itu."
Bian menoleh, rupanya Inggrid mendatangi rumahnya pagi ini, mungkinkah jika ia datang bersama dengan Zahra.
"Apa yang kamu lakukan, kamar mu menjijikan sekali?"
"Mana Zahra?"
"Tidak sopan sekali, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."
"Mana Zahra?"
"Dia sedang menikmati hidupnya, kamu mau mengusiknya lagi, dia baru bebas dari penderitaannya, jadi jangan berani kamu melukainya lagi."
Bian diam, tentu saja ia ingat atas apa yang dilakukannya terhadap Zahra, betapa jahatnya Bian kala itu.
__ADS_1
Tapi apa harus sampai selama ini Zahra menjauhinya, bukankah wanita itu selalu berusaha menunjukan keperdulian terhadap suaminya.
Bian menggeleng, apa yang difikirkannya, tidak mungkin jika ia menyesal dengan semuanya, Bian melakukan hal benar, semua terjadi karena Zahra sendiri yang bersalah.
"Kamu sudah putuskan akan kamu bawa kemana pernikahan kalian?"
"Apa maksud Oma?"
"Zahra sudah menyerah dengan mu, ia ingin pergi jika saja Oma tidak menghalanginya."
Bian menyipitkan matanya, benarkah seperti itu, tapi bukankah Zahra sudah mendapatkan hak atas perusahaan.
Inggrid melihat sekitar, kamar itu sangatlah berantakan, apa sebenarnya yang dilakukan Bian, apa lelaki itu berfikir jika Zahra hanyalah selembar kertas yang bisa diselipkan, sehingga ia mengacak semuanya untuk menemukan Zahra.
"Bian."
"Aku tidak akan lepaskan dia."
"Untuk apa, kamu masih ingin menyakitinya?"
"Aku tidak akan lepaskan dia."
Inggrid mengangguk, ia senang mendengar itu, tapi ia tidak bisa percaya dengan maksud dan tujuannya.
Inggrid tetap harus memastikan semuanya dengan baik, untuk alasan apa pun, mereka tidak berhak menyakiti Zahra.
"Oma."
"Ada apa?"
"Oma tidak akan biarkan dia pergi dariku?"
"Tidak ada alasan untuk Oma pertahankan dia demi kamu."
"Oma akan biarkan dia pergi?"
Inggrid mengangguk pasti, tentu saja itu akan dilakukannya, Bian akan semakin salah jika terus menerus dibiarkan bersama Zahra.
Tidak ada yang bisa dipercayanya sampai saat ini, sekali pun mereka adalah jelas keluarga Inggrid.
"Suruh dia pulang, aku akan minta maaf padanya."
"Maaf untuk apa, untuk mengulang semua setelah Zahra memaafkan mu?"
Bian menelan ludahnya, ia memang kesal dengan wanita itu, tapi Bian memang merasa tidak bisa melepaskannya begitu saja.
Zahra harus tetap bersamanya, meski entah untuk tujuan apa, yang sekarang Bian inginkan adalah mereka bisa bertemu.
"Dia sudah begitu sabar menghadapi mu, Oma sudah paksa dia untuk melaporkan kamu saja, tapi dia keras kepala untuk melupakan semua perlakuan buruk mu itu."
Bian tak bergeming, tentu saja Bian bisa mengerti kalimat Inggrid, bukankah selama ini Zahra memang selalu memaafkannya.
Kemarahan yang selalu Zahra tunjukan hanya untuk sesaat saja, lain waktu kemarahan itu akan hilang dan Zahra akan kembali menerimanya.
"Begitu mampu kamu melukainya sampai seperti itu, dia menerima meski kamu tidak bisa membalas perasaannya, dan bodohnya dia yang masih mau menerima setelah semua perlakuan buruk mu itu, bisa kamu berfikir tentang itu, kenapa dia seperti itu?"
Bian tetap diam, itu semua karena Zahra memang menginginkannya, Bian tahu perihal itu, dan pasti tidak akan salah lagi.
"Bagaimana dengan wanita yang kamu sukai, kalian sudah bersama sekarang, bukankah cukup lama Zahra tidak mengganggu mu, dan sepertinya kalian sangat bebas untuk bersama."
Tak ada respon apa pun dari Bian, lelaki itu hanya diam saja, tapi sayang Inggrid tidak bisa mengerti arti diam cucunya itu.
__ADS_1
Bisa saja Bian marah padanya karena semua perkataannya, atau mungkin saja Bian sadar jika kelakuannya telah sangat salah selama ini.