
Sesampainya di rumah Zahra, mereka tetap diam di dalam mobil, Frans melihat mereka di teras sana.
Tiga orang itu tampak berbincang dengan kerap kali melirik mobil Frans, lelaki di sana tampak berniat pergi dari tempatnya, tapi dua wanita itu menahannya.
"Itu Suami kamu?" tanya Frans.
Zahra hanya mengangguk saja menjawabnya, bukankah dengan begitu juga sudah menjelaskan semuanya.
"Ya sudah, ayo keluar, jangan buat dia salah paham karena kamu lama di dalam mobil ku."
"Dia kerap kali membuat ku salah paham, apa tidak boleh jika aku melakukan hal yang sama?"
"Tentu saja tidak boleh, tidak semua hal buruk harus dibalas dengan hal buruk lagi."
"Tapi menjadi baik pun tidak menjamin balasan baik."
Frans mengangguk, ia memang harus banyak bicara dengan Zahra, bukankah berbicara bisa jadi salah satu terapi penyembuhannya.
Mungkin saja dikeluarganya tidak ada yang senang berbincang banyak, sehingga Zahra merasa kesepian dan tidak punya sandaran.
"Ayo keluar, jangan khawatir, kalau kamu butuh teman bicara, kamu bisa datang ke rumah ku, jadwal tugas ku hari kamis sampai minggu dan sisanya aku santai di rumah."
"Ini hari juma'at."
"Ya, kamu benar, jadi ayo biarkan aku antar kamu kesana dan setelah itu aku bisa langsung tugas."
Zahra diam, ia memejamkan matanya sesaat, berat sekali untuk kembali ke rumah itu, bahkan meski Zahra menginginkan rumah itu kembali.
Zahra menoleh sesaat, lantas mengangguk dan keluar diikuti Frans, keduanya berjalan menghampiri Bian, Kania dan Inggrid di sana.
"Ayra," ucap Inggrid seraya menarik dan memeluknya.
Frans sedikit tersenyum melihatnya, ia berpindah pada Bian, lelaki itu tampak memperhatikan Zahra.
"Dari mana saja kamu, kenapa tidak pulang semalaman?" tanya Inggrid melepaskan pelukannya.
"Aku sudah bertemu Mama, aku mau tinggal sama Mama, bisakah kalian biarkan aku pergi, aku mau kembali bersama Mama."
Inggrid mengernyit, ia melirik mereka secara bergantian, apa maksud bicara Zahra, kenapa itu membuat fikirannya kabur.
"Kamu bicara apa?" tanya Bian.
"Iya, jangan sembarangan bicara, apa kamu sadar dengan yang kamu katakan?" tanya Inggrid.
"Aku tidak gila, aku melihatnya, aku memeluknya, dan aku berbincang banyak dengannya, ia Mama ku, aku mau bersamanya."
Bian menggeleng, ia menarik Zahra dan memeluknya, apa Bian sudah membuatnya benar-benar gila.
Kenapa bicara Zahra terkesan ngelantur tanpa arah, Bian tidak mengerti dan mungkin tidak akan pernah bisa mengerti.
"Sebaiknya bawa dia masuk, suruh dia istirahat dulu, mungkin saja dia kelelahan saat ini," ucap Kania.
"Iya, itu benar, ayo kita masuk," sahut.
Bian membawa Zahra masuk, tak ada penolakan karena Zahra mengikutinya juga.
"Aku mau sama Mama, apa kamu tidak bisa biarkan aku pergi?"
__ADS_1
"Tidak, kita akan temui Mama kamu sama-sama nanti."
Zahra menggeleng, ia tak mau itu, Zahra ingin pergi sendiri saja tanpa ada yang mengikuti langkahnya.
Bian tersenyum, ia menciuk kepala Zahra sekilas, dan merangkulnya untuk menaiki tangga.
"Siapa kamu?" tanya Inggrid.
Frans menoleh, ia mengangguk hormat pada Inggrid.
"Siapa kamu?" ulang Inggrid.
"Aku Frans, salam kenal."
Inggrid membiarkan Frans menyentuh tangannya, siapa lagi sekarang yang mendekati Zahra.
Setelah Dion, kemarin datang Damar, dan sekarang ada lagi Frans, kenapa ada saja yang membuat Inggrid pusing.
"Mami, aku izin masuk," ucap Kania.
"Pergilah."
Kania mengangguk dan berlalu meninggalkan keduanya, Inggrid kembali menatap Frans di sana.
"Aku tidak sengaja melihatnya menangis pemakaman, aku sempat melewatinya untuk ke makam Papa, tapi pas aku kembali dia masih disana dan menangis, aku mengingatkannya untuk pulang karena cuaca yang pasti akan hujan, tapi saat dia bangun justru kesadarannya hilang, maaf tapi aku tidak tahu rumahnya disini sehingga aku membawanya pulang," jelas Frans.
Inggrid diam, apa itu yang dimaksud bertemu Mama oleh Zahra, karena dia sempat ke makam orang tuanya.
Kenapa Inggrid tidak terfikir untuk itu, kasihan sekali wanita pasti sangat tidak baik-baik saja.
"Maaf Bu, apa Zahra sedang proses pengobatan?"
"Maaf bukan lancang, tapi saya kebeteluan seorang Dokter, dan saya sempat perikss Zahra."
Inggrid mengernyit, apa benar seperti itu, lelaki di hadapannya adalah dokter.
Apa itu bisa membantu Zahra kembali sehat, mungkin saja dengan Frans, Zahra bisa lebih nurut lagi.
"Aku rasa ini tidak baik untuk dibiarkan, keadaan seperti ini akan sulit disembuhkan jika tidak ada dukungan dari semuanya."
"Kami sedang berusaha."
Frans mengangguk, mungkin memang hanya kepergian orang tuanya saja yang membuat Zahra seperti itu.
Semoga saja tidak ada hal lainnya, wanita tua di hadapan Frans sepertinya menyayangi Zahra, dan tadi pun Frans melihat perlakuan baik suaminya itu.
"Baiklah Bu, aku permisi."
"Tidak masuk dulu?"
"Terimakasih, tapi aku harus segera ke Rumah Sakit untuk tugas."
Inggrid mengangguk, Frans lantas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Inggrid tersenyum, Zahra memang beruntung, dia selalu menemukan orang baik untuk dikenalnya.
__ADS_1
"Nada, bagaimana dengan pengajuan dana itu?" tanya Marvel.
"Belum ada konfirmasi, Pak."
"Apa belum disampaikan?"
"Sudah Pak, sudah sejak awal."
Marvel diam, apa Inggrid tidak bisa menyetujuinya, tapi kenapa bukankah itu penting.
Sebaiknya Marvel tanyakan langsung saja pada Inggrid, bagaimana bisa berjalan cepat, jika ada kendala seperti ini.
"Baiklah, tanyakan ulang, kita butuh cepat."
"Baik, Pak."
Marvel mengangguk dan kembali pergi, ia berdiri di luar seraya berkutat dengan ponselnya.
Ia benar-benar menghubungi Inggrid, apa menjadi permintaannya adalah untuk perusahaan, bukan untuk pribadinya sendiri.
"Kemana Bu Inggrid ini."
Marvel mengulang panggilannya, apa nomor ponselnya tidak lagi diberi nama oleh Inggrid.
"Jawablah, kenapa tidak mengerti jika ini penting sekali."
Marvel berdecak, ia tidak bisa berfikir kalau Inggrid sedang sibuk saat ini.
Panggilan itu terus diulang, tapi tak juga mendapatkan jawaban, itu sedikit mengesalkan Marvel.
"Bisa sekali mengabaikan ku seperti ini."
Marvel kembali masuk, ia kembali ke ruangannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Permisi, Pak."
"Iya, masuk saja."
Marvel menghentikan kegiatannya saat Nada masuk ruangannya.
"Ada apa?"
"Katanya permintaan itu disampaikan pada Pak Bian, bukan Bu Inggrid, dan Pak Bian tidak mengkonfirmasinya sampai saat ini dengan alasan belum ada laporan keuangan bulan ini."
"Jadi Bian kembali ke Kantor?"
"Benar, Pak."
Marvel diam, bagaimana bisa seperti itu, kenapa harus Bian bukankah ada Zahra.
Marvel menggeleng, ia tidak bisa berfikir baik tentang Bian, bukankah lelaki itu selalu merasa tersaingi oleh Marvel.
"Oke, terimakasih, nanti biar saya yang menemuinya."
"Baik, permisi."
Marvel mengangguk, dan membiarkannya pergi dari ruangannya.
__ADS_1
Apa benar Marvel harus menemui Bian, tapi ia juga sedang banyak pekerjaan, tapi dana itu juga penting sekali untuknya.