
"Apa yang salah?"
Zahra merapatkan bibirnya, menelan ludahnya seret, Zahra tak percaya dengan apa yang dikatakan Bian.
Bian sedikit tertawa, buruk sekali reaksi Zahra, apa salahnya memanggil suami dengan sebutan sayang.
"Apa kamu mabuk, bagaimana bisa kamu lontarkan permintaan bodoh seperti itu?"
"Apa kamu bilang?"
Zahra menutup mulutnya, apa yang dikatakannya, Zahra sudah salah bicara.
"Apa yang kamu bilang hah?"
"Tidak, tidak ada, aku minta maaf."
"Kamu mengatai aku bodoh?"
"Tidak, tidak sama sekali, perbaiki pola fikir mu terhadap ku."
Bian mengernyit, menyebalkan sekali Zahra, apa itu sebuah kesalahan, permintaan Bian sederhana saja.
"Sa .... yang," ucap Zahra pelan dan ragu.
Bian mengangkat kedua alisnya, apa harus seperti itu, tidak enak sekali didengarnya.
"S .... Say .... Sayang," ucap Zahra yang kemudian menjulurkan lidahnya.
"Hey, apa maksud mu seperti itu?"
"Hey, permintaan mu itu bodoh sekali."
"Zahra," ucap Bian kesal.
Zahra justru tertawa lepas karenanya, Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal, kenapa istrinya itu menjengkelkan sekali.
Berulang kali Zahra mengatainya bodoh, apa yang salah dari kata sayang itu, memang dasar bocah menjengkelkan.
"Sayang, oh Sayang, Sayang."
Bian menggigit bibir bawahnya, apa Zahra sedang menguji kesabarannya, mungkin saja wanita itu rindu dimarahi olehnya.
"Sayang, ya Sayang, memang Sayang, Sayang sekali aku panggil aku Sayang."
Bian menahan tawanya, dengan gemas ia memeluk Zahra erat seraya menggelitikinya.
Sontak saja Zahra berontak seraya menjerit, jeritan dan tawa yang terdengar beriringan membuat ruangan itu menggema.
"Apa itu lelucon, kamu mengejek Suami mu sendiri."
"Gak, ampun aaaa hahhaha."
Zahra tak henti berontak, entah bagaimana posisi mereka sekarang, karena Zahra yang tidak bisa diam dan Bian yang tidak mau menghentikan ulahnya.
"Bian, ampun," jerit Zahra.
"Berani sekali kamu mengejek ku, apa itu pantas, rasakan saja ini."
Zahra bergerak asal, ia berontak tanpa kontrol, tapi Bian tetap bisa menahannya.
Hingga Bian sadar jika suara Zahra bisa saja membangunkan yang lain, Bian menghentikan ulahnya, ia membawa Zahra berbaring tanpa melepaskan pelukannya.
"Apa datang bulan mu sudah selesai?"
Zahra mengernyit, tawanya seketika terhenti, ia berusaha mengatur nafansya untuk sesaat.
"Tidak, ini masih berlanjut."
__ADS_1
"Belum selesai?"
Zahra menggeleng, Bian berdecak, ia melepaskan pelukannya dan kembali duduk.
Zahra menoleh, ia tersenyum melihat kekesalan Bian saat ini.
"Kenapa lama sekali?"
"Baru juga tiga hari."
"Aahhh," eluh Bian kesal.
"Kamu mau kemana?"
Zahra menahan Bian dengan cepatnya saat lelaki itu bangkit dari duduknya, Bian menoleh dan menepis tahanan Zahra.
"Tidurlah, sudah malam, aku akan kembali setelah pekerjaan ku selesai."
"Biar aku temani saja."
"Diamlah berisik, kamu hanya akan menggoda ku saja, tidur jangan sampai besok kita sama-sama bangun kesiangan."
Bian berlalu begitu saja meninggalkan Zahra, tidak ada usaha untuk Zahra menghentikannya.
Setelah pintu tertutup, Zahra kembali berbaring, ia menatap langit-langir kamarnya, perlahan senyumannya terlihat, bukankah itu menyenangkan.
"Bian bisa bercanda sekarang."
Zahra benar-benar tersenyum, ia menutup wajah dengan bantalnya, seolah baru pertama jatuh cinta.
Zahra menggerakan kakinya seolah menggoes sepeda, menggelengkan kepalanya yang bahkan tertutupi bantal.
Senang sekali Zahra malam ini, meski sempat ada Vanessa yang mengganggunya, tapi Bian benar-benar seasyik itu sekarang.
"Sebenarnya aku tidak mau pulang."
"Apa kamu tidak keberatan aku pulang?"
"Apa maksud mu, ini sudah malam, mau sampai kapan disini?"
"Sampai aku bosan."
Sintia diam, sejak tadi mereka bersama, Damar bertahan di rumah Sintia selesai mereka berbelanja.
"Sintia, apa aku boleh bertanya?"
"Apa?"
"Lelaki mana yang sedang berusaha mendapatkan hati mu?"
Sintia mengernyit, pertanyaan macam apa itu,memangnya lelaki mana yang pernah Damar lihat.
Damar mengangguk, ia berpaling sesaat, apa pertanyaannya terlalu sulit untuk dijawab.
"Apa menurut mu ada yang menyukai ku?"
"Tentu saja, kamu cantik, baik, mana mungkin tidak ada yang menyukai mu."
Sintia mengangguk, benarkah seperti itu keadaannya, tapi siapa yang menyukai Sintia.
Ia tidak merasa disukai siapa pun, bahkan ia tidak berminat untuk itu, tidak ingin mencari juga.
"Sepertinya aku tahu siapa yang menyukai ku sekarang ini?"
"Siapa, yang mana orangnya, apa dia tampan atau bahkan dia pemimpin perusahaan besar, siapa namanya dan dimana rumahnya?"
__ADS_1
Sintia diam, ia menatap Damar dengan heran, apa maksudnya bertanya seperi itu, apa semua itu penting baginya.
Sintia menghembuskan nafasnya sekaligus, ia bersandar pada gerbang yang sejak tadi digenggamnya.
"Dia bukan CEO, bukan lelaki tampan juga, dia karyawan biasa, penampilannya pun biasa tidak ada yang istimewa."
"Kamu menyukainya juga?"
"Dia baik, dia pengertian dan perhatian, dia perduli pada sekitarnya, dan mungkin aku menyukainya."
"Siapa dia, dimana rumahnya?"
"Emmmm"
Damar mengangkat kedua alisnya, emmm apa, kenapa emmm saja jawabannya.
Sintia mengangguk, ia menatap Damar dari atas sampai bawah, dari bawah sampai atas, dan terus seperti itu berulang kali.
"Ada apa, kenapa melihat ku seperti itu?"
"Karena menurut ku, orang yang menyukai ku adalah lelaki yang saat ini ada di hadapan ku."
Damar tersenyum seraya menunduk, dan itu juga membuat Sintia tersenyum.
Apa benar yang dikatakan Sintia, bagaimana kalau Damar justru mengejeknya sekarang, Sintia akan benar-benar malu karena ucapannya sendiri.
"Kamu mau menerima ku?" tanya Damar.
"Hah?"
Damar melihat sekitar, ia juga sempat melihat rumah Sintia, pergerakan Damar diikuti juga oleh Sintia.
Hingga akhirnya Sintia diam karena Damar yang meraih kedua tangannya, jelas saja itu membuat keadaan mendadak canggung.
"Aku pernah mengatakan kalau aku akan lebih memilih mu dari pada Ayra."
Sintia tetap diam, lalu apa, bukankah memang sudah seharusnya seperti itu karena Damar tidak mungkin bersaing dengan Bian untuk mendapatkan Zahra.
"Sepertinya, aku sudah terjebak dalam ucapan ku sendiri."
"Terjebak?"
"Aku menyukai mu, kamu benar kalau aku memang menyukai mu."
Sintia sedikit tertawa, lelucon macam apa ini, malam sudah larut sehingga membuat Damar ngawur seperti itu.
Damar memejamkan matanya sesaat, tidak masalah, tapi Damar tidak sedang bercanda saat ini.
"Sintia, aku serius."
"Apa sih, iya aku akui aktingnya bagus, memang meyakinkan."
Sintia melepaskan genggaman Damar dan kembali menggenggam gerbangnya, entah apa yang harus difikirkannya sekarang tentang Damar.
"Apa kamu tidak menyukai ku?"
Tak ada jawaban, Sintia memilih diam dengan menatap Damar.
Sepertinya lelaki itu tengah serius, lalu apa yang harus dikatakan Sintia padanya sekarang.
"Sintia, aku bisa menyayangi mu melebihi kasih sayang yang kamu harapatkan dari Bian."
"Kenapa harus Bian?"
"Karena dia yang terakhir yang jadi harapan terbesar kamu, dan aku sanggup menggantikannya, menjadikan harapan kamu sebuah kenyataan."
Damar kembali meraih kedua tangan Sintia, ada apa dengan Damar, apa lelaki itu terlewat mengantuk sehingga tidak bisa mengontrol kalimatnya sendiri.
__ADS_1
"Sintia, aku tidak sedang mabuk, aku tidak sedang bercanda, aku serius."
Sintia menelan ludahnya, ini diluar pemikirannya, tadi mereka santai saja dengan bincang-bincang hangatnya.