Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kita Tidak Ada Bedanya


__ADS_3

"Zahra, Zahra kemana wanita itu sekarang, Zahra," teriak Kania.


Ia segera memasuki rumah dan mencari keberadaan Zahra, kurang ajar sekali wanita itu berani memenjarakan putranya.


"Zahra."


"Berhenti membentaknya, jangan pernah berani menyakitinya," ucap Inggrid.


Kania menoleh, itu tidak bisa diturutinya, Zahra sudah mengecewakannya kali ini, padahal baru sesaat saja Kania merasa hangat dengannya.


"Mami tidak perlu terus menerus membelanya," ucap Kemal.


"Lalu Mami harus membela anak kalian, apa kalian tidak dengar alasan polisi membawa anak kalian, bukankah dia bersalah, dan Zahra sudah mengambil langkah yang tepat, lagi pula kalian sendiri tidak mampu merubah anak keras kepala itu."


"Cukup Mami," sela Kania.


"Apa, kamu tidak terima, berani kamu menyinggung Zahra, kamu yang akan menyesal nantinya."


Inggrid berlalu begitu saja, tidak ada guna bicara dengan mereka, manusia egois, selalu ingin nyaman sendiri.


Kania menjerit prustasi, lalu apa guna dia sekarang, bagaimana bisa diam saja saat Bian terancam akan dipenjara.


"Bi, kami kamit," ucap Damar.


"Iya, tolong maklum dengan keadaan ini."


"Tidak masalah, aku akan kembali nanti."


Nur mengangguk dan membiarkan dua lelaki itu pergi meninggalkan rumah, Nur turut berlalu ke dapur meninggalkan Kemal dan Kania di di sana.


Nur tidak mengerti, kenapa keluarga itu selalu saja ribut, pertengkaran selalu ada disetiap waktunya.


Inggrid memasuki kamar, ia melihat Zahra yang terduduk di sofa sana, wanita itu diam saja saat Inggrid duduk di sampingnya.


"Jangan menyesal dengan apa yang sudah kamu lakukan, kamu pasti sudah berfikir sebelumnya."


Zahra tak bergeming, ia begitu tenggelam dalam lamunannya, Inggrid memang tidak bisa mengerti sepenuhnya.


Tapi untuk menyalahkannya pun, Inggrid tidak bisa, bagaimana lagi sekarang, Zahra sudah mengambil keputusannya sendiri.


"Kamu masih harus melangkah, jangan diam seperti ini, masih banyak yang bisa kamu lakukan."


"Aku tidak mau melakukan apa-apa, Oma pergilah."


"Kamu mau seperti ini terus, apa gunanya, tidak ada sama sekali."


"Biarkan saja, aku akan melakukan apa yang aku mau saja."


Inggrid mengangguk, bisa sekali Zahra berkata seperti itu, lamunannya tidak akan menghasilkan apa-apa selain membuatnya gila.


Dan mana bisa Inggrid biarkan itu terus menerus, ia memang sedikit kecewa dengan Zahra, tapi Inggrid sadar kesalahan yang dituduhkan memang benar adanya.

__ADS_1


"Semua akan berubah setelah ini, kamu harus lebih keras belajar untuk semuanya."


"Aku tidak mau berfikir apa pun, Oma tolong pergi."


"Zahra, tidak baik seperti ini."


"Oma mau aku yang pergi saja?"


"Bukan."


Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, kenapa tidak mengerti sekali, Zahra tidak mau banyak bicara sekarang.


Inggrid mengusap pundaknya, selama ini yang ditunjukan Zahra adalah hal baik, dan baru kali ini ia merasa kecewa atas langkahnya.


"Oma sebaiknya susul Bian saja."


"Untuk apa, dia tidak butuh Oma, dia butuh kamu disana."


"Aku tidak perduli lagi."


Inggrid mengangguk, Zahra tidak akan bisa bertahan dalam kalimatnya itu, Inggrid yakin ini hanya sesaat saja.


Zahra hanya merasa harus memberi Bian pengertian, jika Zahra bisa melakukan apa pun jika ia mau.


"Tidak ada yang salah dari ini, tapi kalau kamu sendiri tidak bisa menerima keputusan yang kamu buat, itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri, bukan hanya perasaan."


Zahra mengangguk, tatapannya kembali kosong, Zahra tidak mau merubah apa pun, Zahra sudah berjuang membebaskan Bian dari tuntutan Yosep.


"Aku memang jahat, aku tidak ada bedanya sama Bian sekarang."


"Diamlah, jika dengan cara baik-baik kamu tidak mampu, pilihan ini mungkin yang terbaik."


"Aku tidak tahu."


"Tenangkan diri kamu, jangan memikirkan apa yang belum tentu terjadi, jalani saja apa yang seharusnya kamu jalani."


Zahra memainkan jemarinya, sakit sekali kepalanya itu, Zahra tidak mampu lagi berfikir.


Zahra bangkit, mungkin sebaiknya memang Zahra yang pergi sekarang.


"Kamu mau kemana?"


"Aku gak tahu, aku ingin sendiri."


"Kamu tidak boleh kemana-mana, baiklah biar Oma saja yang pergi dari sini."


Zahra menoleh, ia diam menatap Inggrid, mungkin Zahra sudah kurang ajar, tapi bisakah kali ini saja Zahra berlaku semaunya.


Zahra sudah banyak mengalah untuk semua hal, dan semua itu sangat membuatnya jengah.


"Duduklah, berfikir dengan baik, jika ingin bertahan dalam keadaan ini, bertahan dalam keputusan ini, kamu harus kuat."

__ADS_1


Zahra diam, ia membiarkan Inggrid pergi, saat ini Zahra tidak mau mendengar apa pun, ia tidak akan mengikuti amanat apa pun.


Zahra kembali duduk, ia menunduk dan mengusap wajahnya, jahat sekali Zahra sekarang, ia yang selalu berusaha memperlakukan Bian dengan baik, sekarang justru membuangnya dengan cara seperti itu.


"Oma keluar, jangan lakukan hal bodoh, saat ini fokus untuk dirimu sendiri."


Zahra menoleh, pintu seketika itu tertutup, kini Zahra kembali sendiri, ia menunduk dengan menutup wajahnya.


Memaki dirinya sendiri dalam hati, memohon agar Zahra bertahan dalam keputusannya, Bian harus tahu jika Zahra juga memiliki keberanian untuk menjadi seperti dirinya.


"Aku bisa mengabaikan kamu, kamu akan rasakan seperti apa jadi aku selama ini."


Zahra menghela nafas panjang, ia melihat kasur di sana, tanpa ada apa pun lagi, Zahra bangkit dan merebahkan tubuhnya di sana.


 ----


"Apa wanita itu sudah gila, bagaimana bisa dia melakukan itu, dia begitu membela Suaminya saat akan dibawa polisi kemarin, tapi sekarang justru dia sendiri yang melaporkannya."


Damar diam saja, sejak tadi Yosep tak henti berkomentar tentang Bian dan Zahra.


Apa yang harus dikatakannya, Damar tidak tahu apa pun tentang masalah mereka di sana.


"Tapi baguslah, dengan begitu lelaki itu akan tetap merasakan penderitaan, penjara memang pantas untuknya."


"Dan tolong diam, tidak bisakah diam, kenapa berisik sekali sejak tadi?"


"Hey kau terlalu mendalaminya, untuk apa kasihan padanya?"


Damar menggeleng, siapa yang begitu dikasihaninya, Damar berusaha menghindar untuk tidak memikirkannya, tapi tidak bisa.


Semua sangat menganggu fikirannya, sejak Zahra datang Damar sudah tidak bisa fokus, wajah muram itu cukup mengusik hatinya.


"Kamu menyukai wanita itu?"


Damar mengernyit seraya menoleh, bisakah seperti itu, Yosep benar-benar bertanya hal konyol.


"Ya aku tahu dia memang cantik, dan jelas jika dia begitu penyayang, tentu saja kau pasti akan dengan mudah menyukainya."


"Bisakah seperti itu?"


"Lakukan saja, dia sedang butuh sandaran sekarang, tidak akan susah untuknya berpaling."


Damar mengangkat kedua alisnya, benarkah seperti itu, tapi Damar tidak merasa menyukai Zahra.


Damar hanya bingung saja dengan semuanya, kenapa ada keluarga sekacau itu.


"Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke rumah itu, hibur dia, yang lain pasti sedang di kantor polisi, mereka sedang berjuang untuk hal yang tak mungkin."


"Sudahlah, berisik sekali."


Damar bangkit dan berlalu begitu saja, melihat sikap Damar yang seperti itu, Yosep justru tersenyum.

__ADS_1


Bukankah ini pertama kalinya Damar menyukai wanita, jadi mana bisa dia menghindari perasaannya sendiri.


__ADS_2