
Kini, keluarga itu berkumpul bersama, Inggrid berhasil membuat Kania dan Kemal datang ke rumah tersebut, dan mereka sedang makan malam bersama.
"Mamih, sampai kapan tinggal disini?" tanya Kemal.
"Kenapa bertanya seperti itu, kamu keberatan?" tanya balik Inggrid.
"Tidak, mungkin lebih baik jika Mamih tinggal di rumah ku saja."
"Tidak bisa, enak saja, Mamih akan disini sama pengantin baru, Mamih harus pastikan jika mereka tidak pernah melakukan kesalahan."
Bian dan Zahra saling lirik, itu sungguh kabar buruk bagi mereka berdua, jika Inggrid tetap ada bersama mereka, maka tidak ada celah untuk mereka berjauhan.
Keduanya mendelik bersamaan, sama-sama malas harus berpura-pura bahagia karena kebersamaan itu.
"Mamih, mereka pengantin baru, harusnya Mamih tidak mengganggu mereka."
"Mengganggu apa sih, Kania?"
"Ya kalau Mamih disini, mungkin saja mereka berdua merasa terganggu."
"Apa benar seperti itu, Bian, Zahra?"
Keduanya menoleh bersamaan, sebenarnya iya, tapi tidak mungkin juga mereka mengatakan yang sebenarnya.
"Mereka akan merasa tidak enak jika mengatakan yang sebenarnya," ucap Kania.
"Diam kamu, kenapa jadi kalian berdua yang seperti itu?"
Kania dan Kemal saling lirik, baiklah mereka akan diam tapi untuk sesaat saja.
"Jawab Oma, kalian berdua keberatan?"
"Tidak, kenapa juga harus keberatan," ucap Bian.
"Kamu keberatan, Ayra?"
"Hah, oh tidak, tenang saja aku senang ada Oma disini."
Inggrid mengangguk, bagus kalau memang seperti itu jawabannya, karena Inggrid memang akan di sana sampai ia bosan.
"Oma, akan tetap disini sama kalian, dan mungkin bisa selamanya, atau paling tidak, sampai kalian mampu berikan Oma keturunan kalian."
Uhuk .... Uhuk .... Uhuk
Zahra seketika tersendak hingga terbatuk terus menerus, Bian menahan tawa melihatnya, bodoh sekali, wanita itu pasti terbawa suasana dengan semuanya.
"Bodoh sekali kamu, kenapa hanya diam."
Bian mengusap kepalanya, Inggrid telah dengan sengaja menjitaknya dengan sendok sayur di sana.
__ADS_1
"Berikan dia minum."
"Iya, Oma."
Bian mengisi gelas minum Zahra, dan menyodorkannya.
"Ini minum dulu."
Zahra menerimanya dan meneguknya perlahan, kenapa Inggrid harus berbicara seperti itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bian seraya mengusap punggung Zahra.
Zahra menoleh seraya sedikit menghindar dari sentuhan Bian, tapi seketika itu Bian merangkulnya.
"Maaf ya, aku gak bermaksud mentertawakan kamu."
Zahra tersenyum bingung, apa lagi yang dilakukannya, Bian memang selalu saja kesempatan dalam kesempitan.
"Seperti itu baru benar, Istri kena musibah tapi kamu malah tertawa."
"Iya maaf, Oma."
Zahra mendorong Bian hingga rangkulannya terlepas, Zahra menatapnya dengan kesal, tapi itu justru membuat Bian tersenyum jail.
"Sudah, ayo kalian makan lagi."
"Iya, Oma," ucap Zahra.
"Ayra, kamu bahagia sekali sepertinya, senang ya sudah bisa menikah dengan Bian?" tanya Kania.
Zahra menoleh tanpa menjawab, benarkah seperti itu, tapi rasanya Zahra sama sekali tidak bahagia.
"Semoga saja kamu memang pilihan terbaik anak saya, agar semua tidak sia-sia."
"Apa maksud kamu?" tanya Inggrid.
Kania menoleh dan menggeleng, sudah seharusnya Inggrid mengerti tanpa harus dijelaskan.
"Jelas saja Ayra senang, bagaimana mungkin tidak senang jika menikah dengan lelaki yang dicintainya," ucap Inggrid.
Bian melirik Zahra, apa benar Zahra mencintainya sekarang, atau mungkin besok lusa, dan itu artinya Bian akan benar-benar menyakitinya saat Zahra tahu kalau Bian tidak akan bisa mencintainya.
"Ayra, apa pun kesalahan Bian nanti, kamu jangan pernah membencinya, kamu harus tahu kalau ujian pasangan yang baru menikah itu berat sekali, tapi kalau kamu berhasil melewatinya maka kebahagiaan yang kamu rasakan akan melebihi sakit yang kamu rasakan sebelumnya."
Zahra tersenyum dan mengangguk, jika saja Zahra menikah dengan lelaki yang diinginkannya, Zahra bisa bertahan dan bahkan akan berjuang untuk bertahan, tapi jika ternyata ia menikah dengan Bian, entah apa yang akan dia lakukan.
"Bian, kamu harus ingat, kamu sudah menjadi seorang Suami sekarang, kamu harus merubah semua tingkah buruk kamu, sikap buruk kamu, sifat buruk kamu, kamu harus bisa menghargai Istri kamu."
"Iya Oma, tenang saja aku akan jaga dan perhatikan Istri ku, iya kan Ra?"
__ADS_1
Zahra menoleh, keduanya kembali bertahan dalam tatapan satu sama lain, Zahra pernah bermimpi memiliki pangeran impian, lelaki yang menjadi pilihan hidupnya, yang dicintainya sepenuh hati, dan lelaki yang bisa membalas semua kasih dan sayangnya.
"Kamu kenapa, kamu gak percaya sama aku?"
Zahra berpaling, kesalahan besar jika Zahra percaya padanya, bukankah jelas jika Bian memang tidak bisa dipercaya.
"Tidak masalah, kepercayaan akan semakin kuat dengan sendirinya, asalkan kalian berdua sama-sama berjuang untuk semua yang terbaiknya."
Bian menoleh, ia mengangguk saja menyetujui ucapan Inggrid, dari pada harus berdebat lebih baik Bian menurut saja.
"Maaf, aku permisi sebentar, aku mau ambil minuman berasa," ucap Zahra.
"Oh iya silahkan, Mbak mungkin lupa siapkan itu."
"Tidak apa-apa Oma, aku bisa ambil sendiri."
Zahra lantas pergi meninggalkan mereka semua, Zahra tidak mau meneruskan pembicaraan itu, kenapa Inggrid terus saja memberikan wejangan seperti itu, tanpa ia tak tahu jika pernikahan itu palsu.
"Ada yang kurang, Non?" tanya Nur
"Tidak, aku hanya mau minuman saja, biar aku ambil sendiri."
"Iya, silahkan."
Zahra membuka kulkas dan mengambil satu minuman di sana, setelahnya Zahra menutupnya lagi, tapi Zahra dibuat terkejut karena Kania yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Tante."
"Kamu merasa menang Ayra?"
"Apa maksud Tante?"
"Masih sok polos kamu, setelah kamu berhasil menipu saya, kamu masih bersikap seperti ini."
"Aku tidak pernah menipu siapa pun, aku melakukan semua itu karena permintaan Bian sendiri, Bian yang memaksa aku melakukan semuanya."
"Tutup mulut kamu."
Zahra diam, Nur tampak berlalu pergi dari tempatnya, entah apa yang jadi permasalahan mereka, tapi Nur tidak berhak ikut campur.
"Dengar baik-baik, mungkin sekarang kamu bisa senang dan tenang karena ada Mamih, tapi besok lusa kesenangan itu tidak akan lagi ada."
"Tante, tidak perlu repot mengancam ku seperti itu, semua sudah terjadi, dan ini bukan sepenuhnya kesalahan aku."
"Benarkah, jadi semua salah anak saya, pintar sekali kamu bicara."
Zahra menunduk sesaat, kenapa harus seperti ini, jika saja Zahra lari di hari itu, mungkin sekarang Zahra tidak perlu terjebak ditengah mereka semua.
"Silahkan kamu nikmati kesenangan kamu untuk sementara waktu, karena setelah Mamih tidak lagi disini, saya yang akan mengawasi mu."
__ADS_1
Zahra tak menjawab, ia hanya diam saja bahkan saat Kania pergi meninggalkannya, Zahra menghembuskan nafasnya berat, ia bersanda pada kulkas di sampingnya.