Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sudah Dapat


__ADS_3

"Menjauh kalian semua," ucap salah satunya.


Perlahan tapi pasti mereka membawa Zahra menjauh, setelah dirasa aman, dengan cepat mereka membawa keduanya memasuki mobil.


"Bu Isma," teriak sang sopir.


Ia berdecak seraya mengacak rambutnya prustasi, suasan mulai bising, mereka mulai berisik dengan bicaranya satu sama lain.


Tanpa buang waktu sopir itu memasuki mobil dan mengejar laju mobil tadi, bagaimana bisa ia membiarkan tuannya dalam bahaya.


"Polisi sedang dalam perjalanan."


"Mereka sudah pergi."


"Saya dapat nomor polisi mobil tadi."


Mereka menoleh bersamaan, kabar baik, itu pasti akan sangat berarti saat nanti polisi datang.


"Tolong kirimkan, ini ponselnya."


Orang tersebut menerima ponselnya dan mengirimkan fotonya, setelahnya ia mengembalikan ponselnya.


"Terimakasih banyak."


"Sama-sama."


Mereka lantas membubarkan diri, tidak ada guna terus berada di sana, bukankah penculiknya pun sudah pergi.


"Kenapa bisa seperti ini?"


"Entahlah, aku tidak mengerti, tiba-tiba saja seperti ini."


"Kamu tidak salah kasih alamat?"


"Tidak."


"Kantor polisi dekat dari sini, seharusnya mereka sudah sampai."


"Sabar dulu."


Dua orang itu masih bertahan di tempatnya, mereka menunggu kedatangan polisi yang telah dihubungi sebelumnya.


Hingga beberapa saat menunggu, polisi itu datang mereka keluar dari dalam mobil dan menghampiri keduanya.


"Laporan yang diterima terjadi disini."


"Mereka sudah berhasil membawa pergi dua wanita itu."


Polisi memberikan beberapa pertanyaan untuk sedikit penerangan, hingga mereka memutuskan untuk mencari mobil yang dimaksud tadi.


"Pak, ini nomor polisi dari mobil itu."


Polisi melihatnya dan mencatatnya dengan sempurna, setelah sempat berbincang sesaat, polisi itu pergi kearah pergi mobil sebelumnya.


"Semoga saja mereka tidak sampai celaka."


"Semoga."


Keduanya kembali memasuki toko, mereka masih harus melanjutkan tugasnya di sana.


Firasat yang kuat, wanita itu sempat menulis surat tersebut, tapi mungkin saja itu memang masalah pribadi sebelumnya.


 


Sepanjang perjalanan sopir itu terus mengikuti laju mobil di depannya, malang jalanan yang kosong membuat mobil itu melaju tanpa kontor.

__ADS_1


Berulang kali sopir itu menekan klaksonnya, meminta agar mobil di depannya berhenti, tapi bukan menurut lajunya justru semakin ditambah lagi.


"Siapa mereka, untuk apa melakukan semua ini."


Kringgg ....


Dengan segera sopir itu meraih ponselnya, ada panggilan masuk dari Frans.


"Iya Den, Bapak sedang mengejar mobilnya, entah dimana ini sekarang."


Frans tak kalah panik di sana, sepertinya pesan yang sempat dikirimkan Isma cukup menjelaskan keadaan buruknya.


"Tidak tahu Den, nanti Bapak kabari lagi."


Ia menutup teleponnya begitu saja, saat ini ia harus fokus menyetir agar tidak sampai kehilangan jejak.


Tapi malangnya, lampu lalu lintas justru lebih dulu menghentikan mobilnya, dengan kesal ia memukul stir mobilnya.


"Brengsek," umpatnya.


Ia menoleh saat mendengar sirine mobil polisi, tentu saja mobil itu bisa lewat dengan mudah.


"Itu pasti polisi yang berniat membantu."


Ia melihat sekitar, kendaraan itu berhenti ketika mobil polisi itu lewat, dengan cepat ia melajukan mobilnya sehingga sama-sama berhasil melewati lampu lalu lintas.


Tapi secepat apa pun mereka melaju, mobil itu telah hilang, ada beberapa jalan di sana dan entah arah mana yang dilalui mobil tadi.


Dua mobil itu berhenti dipinggir jalan, mereka keluar dan saling menghampiri.


"Bapak siapa?" tanya polisi.


"Saya sopir pribadi Bu Isma."


"Bukankah dua orang yang dibawa?"


"Ada masalah apa sebelumnya?"


"Tidak ada sama sekali Pak, saya mengenal keluarga Bu Isma tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun."


Polisi itu saling lirik, benarkah seperti itu, lalu untuk apa penculikan itu dilakukan jika tidak ada masalah sebelumnya.


"Tolong temukan mereka, Pak."


"Kami akan berusaha, kami akan beri kabar terbaru secepatnya."


"Tolong, Pak."


Keduanya mengangguk, mereka akan berusaha sebaik mungkin, tapi sebelum itu mereka harus tahu awal permasalahannya.


"Apa Bapak tahu dimana rumah wanita yang bersama Bu Isma?"


"Tidak Pak, tapi anaknya tahu."


"Dimana anaknya sekarang."


"Di Rumah Sakit, dia seorang Dokter dan sedang tugas disana."


"Dia tahu masalah ini."


Sopir itu mengangguk pasti, bukankah Frans sempat menghubunginya, itu artinya Frans tahu apa yang terjadi


Polisi meminta agar sopir itu menghubungi Frans, mungkin saja lelaki itu bisa memban mereka.


 

__ADS_1


Zahra dan Isma ditempatkan di ruangan yang berbeda, keduanya sudah terikat tali kuat dalam posisi duduk di lantai dan mata tertutup.


Zahra mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali, ia bergerak berusaha melepaskan ikatannya.


"Kamu tidak sekuat itu, Ayra."


Zahra diam, ia mengenali suara itu, dan bukankah itu suara Vanessa.


"Vanessa."


Wanita itu tertawa, Zahra menelan ludahnya, tidak salah lagi itu suara Vanessa.


"Vanessa, apa yang kamu lakukan, lepaskan aku."


"Kenapa harus aku?"


Zahra menunduk saat penutup matanya dibuka, ia berusaha menormalkan penglihatannya dan bergerak melihat Vanessa.


"Hallo wanita tangguh," ucap Vanessa pelan.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan."


"Suuttt, ini adalah bukti ucapan ku, kamu harus tahu kalau aku tidak main-main untuk meraih mimpi ku."


Zahra mengernyit, ia tak habis fikir dengan kelakuan Vanessa, bisa sekali Vanessa melakukan hal tersebut.


Zahra kembali bergerak, ia sangat ingin tali itu terlapas dari tubuhnya, tapi kenapa sulit sekali.


"Apa yang kamu lakukan, kamu tidak akan bisa lepaskan ikatan itu."


"Diam kamu, mana Mama ku, kamu bawa kemana dia?"


"Oh, dia Mama mu, bagus sekali aku mendapatkan kalian dalam waktu bersamaan, bukankah aku hebat?"


Zahra menggeleng, dimana Isma sekarang, kenapa Zahra hanya sendiri saja, apa Isma sudah berhasil lolos, semoga saja itu benar.


Vanessa mengusap kepala Zahra, ia tersenyum dan tentu saja itu senyuman mengejeknya.


"Lepas, apa kamu tidak dengar, lepaskan ikatan ini."


"Diam, jangan berani mengatur ku."


Zahra meringis karena jambakan Vanessa, tidak ada yang bisa dilakukannya karena dua tangannya yang terikat kuat.


"Aku sudah katakan pada mu, kalau kamu harus mati, kamu harus mati kecuali kamu mau melepaskan Bian, itu pilihan buat mu!" bentak Vanessa.


"Zahra."


Zahra membulatkan matanya, itu suara teriakan Isma, jadi Isma masih ada di dekatnya, Isma tidak berhasil lolos.


"Itu suara Mama mu?"


"Jangan sakiti dia, urusan mu dengan ku tidak ada urusannya dengan yang lain."


"Tapi Mama mu bisa sangat membantu ku, aku ganti pilihannya, kamu tinggalkan Bian atau kamu kehilangan Mama mu itu."


"Vanessa!" bentak Zahra.


Tak terima dengan itu, Vanessa menguatkan jambakannya hingga membuat Zahra menjerit tanpa bisa ditahan.


"Zahra, kamu kenapa?"


Suara itu terdengar begitu jelas, itu artinya Isma dekat dengannya, apa ada ruangan di sebelah ruangan Zahra sekarang.


"Ambil keputusan mu sekarang, kamu memilih Bian atau Mama mu itu?"

__ADS_1


"Vanessa jangan lakukan apa pun padanya, kamu harus sadar jika urusan mu hanya dengan ku."


Vanessa kembali tertawa mendengar kalimat Zahra, sudah Vanessa katakan jika Zahra tidak bisa mengaturnya sama sekali sekarang.


__ADS_2