Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kalian Membuat Ku Malu


__ADS_3

"Kemana Bian dan Ayra?" tanya Inggrid.


"Mereka ada undangan malam ini, tadi berangkat bareng Non Sintia dan Den Damar."


"Benarkah, tapi ini sudah larut malam, mereka belum kembali?"


"Belum, Bu."


Inggrid mengangguk, ia lantas duduk dan berkutat dengan ponselnya.


Apa Bian lupa jika Zahra harus banyak istirahat, sampai tengah malam mereka belum juga kembali.


"Pesta dimana yang mereka datangi, kenapa juga ada Sintia dan Damar."


Inggrid diam, ia sudah mengirim pesan pada Bian dan Zahra, berharap balasan akan segera datang padanya.


"Apa mereka begitu sibuk sampai lupa waktu."


"Silahkan Bu, minumnya."


"Ah iya terimakasih."


"Ada yang lain, Bu?"


"Tidak, nanti saja."


Nur mengangguk dan kembali pergi meninggalkan Inggrid, tidak mungkin salah jika Inggrid mengkhawatirkan Zahra.


Nur juga berfikir kalau mereka melewati batas, tengah malam masih keluyuran, bukankah itu tidak bagus.


"Kenapa tidak membalas pesan ku."


 -----


"Kalau kamu seperti ini, kita pulang saja."


Zahra diam, ia masih memaksa untuk Bian menunjukan Vanessa, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena memang tidak ada.


"Ada apa ini?" tanya Sintia.


"Aku tidak mengerti maksud perempuan ini."


Sintia melirik Zahra, bukankah tadi Zahra sedang asyik bersama mereka semua, tapi kenapa sekarang sudah sama Bian saja.


"Ayra, kamu kenapa?" tanya Sintia.


"Kamu ajak Vanessa kesini kan, mana dia sekarang, dia pasti mengganggu Bian lagi, dan kamu sembunyikan dia dimana?" tanya Zahra pada Bian lagi.


Bian menggeleng, bahkan ia tidak melihat Vanessa sejak tadi, bisa sekali Zahra berfikir seperti itu.


"Aku tidak ajak Vanessa, siapa yang bilang seperti itu?" tanya Sintia.


"Aku melihatnya tadi, kalian mau membodohi ku?"


"Zahra, ini berisik sekali, aku tidak bisa mendengar suara mu dengan baik, diamlah dan lebih baik kita pulang."


"Aku gak mau."


Mereka diam, Zahra masih saja mencari Vanessa, tidak mungkin ia salah lihat tadi, Vanessa memang ada di sana.


"Jangan memikirkan hal yang belum tentu benar, sebaiknya kamu minum dulu" ucap Damar memberikan minuman.


"Kita keluar saja, mungkin Ayra pusing disini," sahut Sintia.


"Kalian saja keluar."


Zahra meraih gelas di tangan Damar, dan membantingnya begitu saja.


Suara pecahan itu cukup terdengar oleh sebagian orang di sana.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bian.

__ADS_1


"Diam kamu."


Tatapan Zahra mendadak tajam, itu memang tidak bisa mereka mengerti, perubahan Zahra terlalu tiba-tiba.


"Ada apa ini?"


Mereka menoleh bersamaan, sosok Vanessa benar-benar ada di sana, Sintia melirik Zahra sekilas dan kembali pada Vanessa.


"Kamu ngapain disini?" tanya Sintia.


"Aku juga diundang disini, jelas saja aku disini."


Vanessa melirik Bian dan tersenyum tanpa perduli dengan Zahra, hal itu membuat Zahra semakin tak karuan.


Bian berpaling dan meraih tangan Zahra, tapi wanita itu menepisnya, ia berfikir memang benar jika mereka telah membohonginya.


"Kamu kenapa, kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Vanessa.


Nada bicara Vanessa dirasa sangat mengejeknya, Zahra mengepalkan kedua tangannya.


"Zahra, sudahlah ayo pulang," ucap Bian kembali meraih tangannya.


"Kenapa, kenapa aku harus pulang, kamu malu?"


"Bukan, kita harus pulang, ini larut malam."


Zahra menggeleng, tak perduli meski sekarang sudah dini hari sekali pun, Zahra kembali menatap Vanessa di sana.


Perhatian dari sebagian tamu lain sudah tertuju pada Zahra, tentu saja hal itu membuat Sintia merasa gelisah.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Vanessa.


"Vanessa sebaiknya kamu pergi, untuk apa kamu disini," ucap Sintia.


"Diam kamu Sintia," sela Zahra.


"Bukankah kamu juga yang mengajaknya kesini, Riana yang bilang sama aku," tambah Zahra.


"Riana?" tanya Sintia.


Sintia menggeleng, ia menarik Vanessa agar pergi saja dari mereka.


"Apa-apaan ini, aku tidak mau pergi."


Vanessa kembali pada tempatnya semula, Damar tampak menghembuskan nafasnya kesal, wanita itu pasti akan buat keributan.


"Kenapa, kamu takut Bian berpaling lagi sama aku, kamu masih sadar kalau Bian masih menginginkan aku?"


"Vanessa," panggil Sintia.


"Dia harus jujur dengan keyakinannya sendiri, dia harus membuka mata tentang kebenarannya."


"Vanessa, diam," ucap Bian.


"Kenapa, kamu takut juga sama Istri kamu yang lemah ini, dia tidak akan bisa apa-apa, bukankah selama ini dia hanya bisa menangis saja."


Zahra menyipitkan matanya, enteng sekali Vanessa mengucapkan kalimatnya, Zahra tidak lemah bahkan sejak awal sekali pun.


Vanessa tersenyum singkat, tatapan Zahra tak lantas membuatnya takut, Vanessa justru merasa senang dan semakin semangat untuk mengejeknya.


"Van, ayo pulang," ucap Sintia.


"Aku belum bertemu Riana, kenapa harus buru-buru pulang?"


"Vanessa apa kamu sudah lupa semuanya?"


"Tentu saja tidak, tapi aku tidak perduli, Bian adalah yang aku inginkan bahkan meski ada wanita ini aku tidak perduli."


Plakk .....


Bian dengan cepat menarik Zahra, berani sekali Zahra melalukan itu pada Vanessa.

__ADS_1


"Berani sekali kamu menampar ku!"


Zahra mendorong Bian, ia meraih gelas di meja sana dan menyiramkannya begitu saja pada Vanessa.


"Aaaa ...." jerit Vanessa kesal.


Sintia melirik mereka semua, kini semakin banyak orang yang memperhatikan keberadaan mereka.


"Zahra," panggil Bian.


"Wanita tidak punya malu, kau sama sekali tidak punya malu."


"Tutup mulut mu!" bentak Vanessa.


Zahra mengayunkan tangannya, melemparkan gelas yang masih digenggamnya kearah Vanessa.


"Ayra," jerit Sintia.


Nasib baik Vanessa bisa menghindarinya, gelas itu hancur membentur tembok di sana.


Musik seketika mati, lampu yang semula kerlap kerlip mendadak menyala terang.


Kini semua telah mengerubungi Sintia dan kawan-kawan, Bian tampak mengusap wajahnya perlahan.


"Ada apa ini?" tanya Riana.


Wanita itu datang bersama Devan juga, ia melihat semua yang berantakan di sana.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Devan.


"Emmm, tolong maafkan, ini hanya salah paham saja," ucap Sintia.


"Ini bukan salah paham, semua karena wanita tidak tahu diri ini," ucap Zahra seraya mendorong Vanessa.


Tak terima karena merasa dipermalukan, Vanessa balik mendorong Zahra, ia mendekat dan menjabak rambutnya dengan kuat.


Hingga kegaduhan terjadi di sana, tamu lainnya tampak bersorak, ada yang menyemangati ada juga yang meminta berhenti.


"Vanessa, apa kamu sudah gila," ucap Damar menariknya.


"Dia sudah sangat kurang ajar," ucap Vanessa.


"Jaga bicara mu, seharusnya kamu malu dengan kebiasaan murahan mu menggoda Suami orang."


"Aku tidak menggoda Suami siapa pun."


"Omong kosong."


"Apa kalian tidak bisa diam?" bentak Riana.


Keadaan kembali hening, Devan terlihat mengusap pundak Riana, memintanya untuk lebih tenang lagi.


Sintia memejamkan matanya sesaat, bisa sekali mereka membuat kacau semuanya, apa mereka tidak bisa menghargai Sintia.


"Pergi kalian, pengacau seperti kalian tidak seharusnya ada di pesta ku," ucap Riana.


"Riana, aku ...."


"Kamu juga pergi," sela Riana pada kalimat Sintia.


Damar merangkulnya, tidak perlu dilanjutkan, mereka bisa bicara nanti kalau keadaan sudah tenang.


"Pergi aku bilang!" bentak Riana.


Sintia berlalu begitu saja, ia benar-benar kecewa dengan kelakuan Zahra dan Vanessa.


"Ayo pulang," ucap Bian.


Ia membawa Zahra pergi, tatapan wanita itu tetap saja tertuju pada Vanessa.


"Keluar!"

__ADS_1


"Tenanglah," ucap Devan.


Damar menarik Vanessa pergi dari sana, ini buruk dan tidak seharusnya terjadi.


__ADS_2