Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Merindukannya


__ADS_3

Nur memasuki ruangan Inggrid, wanita itu tampak menoleh dan melihat belakang Nur.


"Ada apa, Bu?" tanya Nur.


"Kania belum datang?"


"Belum ada yang datang."


Inggrid mengangguk, kenapa lama sekali, memangnya macet di jalanan sana, Inggrid sudah bosan ada di tempat itu.


Inggrid memang batal pulang, ia memilih tetap di rumah sakit karena Zahra juga di sana.


"Kamu sudah lihat Ayra?"


"Non Ayra sedang istirahat."


"Dia mau makan?"


"Sepertinya makan, karena makanan di meja juga habis."


Inggrid tersenyum mendengarnya, baguslah kalau memang seperti itu, Inggrid tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi.


Nur lantas duduk, tugasnya sudah selesai, Nur tinggal menunggu di suruh pulang saja sekarang.


"Lelaki itu datang lagi?"


"Den Damar?"


"Ya, barangkali."


"Tidak ada, Non Ayra bilang mereka akan bertemu saat sudah ada di rumah."


Inggrid mengernyit, apa maksudnya, apakah mereka berdua membuat janji untuk pertemuan berikutnya.


Apa benar mereka saling menyukai, kenapa Inggrid tidak suka sekali jika itu benar terjadi diantara keduanya.


"Non Ayra hanya mau merespon Den Damar, apa itu sesuatu yang buruk?"


"Tentu saja, seharusnya sudah terfikir jika saja mereka saling menyukai."


"Apa bisa seperti itu, bukankah Non Ayra hanya menyayangi Den Bian saja?"


Inggrid kembali diam, itu memang benar, Zahra memang begitu menyayangi Bian.


Tapi melihat keadaan saat ini, Zahra sudah berani melaporkan Bian ke polisi, ia tidak memperdulikan tentang perasaan Bian lagi.


Bukankah bisa saja jika Zahra sudah mulai berpaling, kekecewaan yang selama ini dirasakannya kemungkinan besar akan menghilangkan kasih sayangnya itu.


"Bagaimana dengan Dion, apa lelaki itu ada menemui Zahra?"


"Tidak ada, mungkin saja lagi sibuk dengan kegiatannya."


"Saya bisa lebih terima jika Ayra sama Dion, bukan Damar."


Nur balik mengernyit, kenapa bisa Inggrid berkata seperti itu, bukankah baik Damar atau pun Dion, Zahra tetap saja berpaling jika meninggalkan Bian demi salah satunya.


"Saya tahu Dion menyukai Zahra, sampai saat ini dia masih menunggu Zahra, berharap adanya kesempatan untuk kebersamaannya dengan Zahra."


"Bagaimana bisa Ibu bicara seperti itu, apa Ibu bisa terima jika Non Ayra meninggalkan Den Bian?"


"Meski pun tidak, tapi saya tidak akan memaksanya bertahan, Zahra memiliki hak untuk hidupnya sendiri."


Nur mengangguk, itu memang benar, tapi kenapa Nur merasa jika Zahra tidak akan mampu melakukan itu.


Sekali pun memang Zahra harus berpaling, Nur merasa Damar adalah pilihannya, bukan Dion seperti yang Inggrid katakan.

__ADS_1


"Mami," panggil Kania menghampiri.


Nur seketika bangkit dan mengangguk hormat pada Kania.


"Lama sekali kamu ini."


"Maaf, tapi jalanan memang macet."


"Cepatlah kita pergi sekarang."


Kania mengangguk, ia bersama Nur membantu Inggrid untuk pindah duduk ke kursi roda.


Nur lantas mendorongnya keluar bersama dengan Kania, jika Kania sudah datang maka Nur bisa langsung pulang.


"Mami, aku mau coba ajak Ayra."


"Untuk apa, itu tidak akan ada gunanya, Ayra tidak akan mau."


"Tapi aku tetap ingin mencobanya."


"Kamu mau membuatnya menangis lagi?"


"Jika masih ada tangisan untuk Bian, pasti masih ada keperduliannya juga."


Inggrid diam, itu benar dan Inggrid juga ingin tahu tentang itu.


Mereka lantas memasuki kamar Zahra, wanita itu memang sedang tidur, tapi biarlah mereka mengganggunya sebentar saja.


"Ayra," panggil Inggrid.


Tak ada respon, sepertinya benar jika Zahra tengah terlelap.


"Dia sedang tidur, kita pergi saja sekarang."


"Tunggu dulu, Mami."


"Ayra, kamu bisa dengar?"


Zahra mengernyit, ia menoleh tanpa mengatakan apa pun.


"Maaf karena sudah mengganggu tidur mu."


"Kenapa?"


"Kami mau menemui Bian, kamu mau ikut?"


Zahra diam, ia seketika berpaling, Zahra sedang menikmati istirahatnya tapi kenapa Kania justru mengganggunya, padahal hanya untuk bertanya tentang Bian.


"Ayra, kamu ...."


"Aku merasa belum pulih, apa aku masih boleh untuk istirahat saja?"


"Zahra ...."


"Kania, sudahlah ayo pergi," sela Inggrid.


Kania menoleh, tidak bisakah Inggrid membiarkannya berbicara pada Zahra saja.


Kania ingin wanita itu ikut menemui Bian, tidak apa meski hanya sebentar saja, siapa tahu dengan melihat Bian, Zahra bisa merubah fikirannya.


"Katakan sama Bian, aku merindukannya."


Kania kembali melirik Zahra, bukankah itu terdengar manis, Kania senang mendengarnya.


Inggrid dan Nur saling lirik, tak hanya Kania, tapi mereka juga merasa senang mendengarnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan menemuinya, aku sedang berusaha mengabaikannya, meski sampai sekarang aku tidak bisa melakukannya."


"Sampai kapan kamu akan memaksakan diri seperti ini, Ayra?" tanya Inggrid.


"Sampai aku tidak bisa lagi, entah itu berhasil melupakan atau berhenti berpura-pura, dan kembali menjadi Ayra yang selalu mengharapkan Bian."


Kania melirik Inggrid, bukankah benar, jika Zahra tidak pernah merubah perasaannya terhadap Bian.


Kemarahan dan kebencian yang diungkapkannya itu hanya luapan emosi sesaat, Zahra masih dengan perasaan yang sama terhadap Bian.


"Aku mau tidur lagi, bukankah kalian mau pergi, mungkin lebih cepat akan lebih baik."


"Ya, kamu benar lebih cepat memang lebih baik, kami akan pergi sekarang," ucap Kania.


"Hati-hati, katakan padanya, dia harus baik-baik saja disana."


"Semoga kamu lekas sembuh."


Kania tersenyum seraya mengangguk, kabar yang sangat bagus dan Bian pasti akan senang mendengarnya.


Kania lantas berlalu dan mengajak mereka untuk pergi, Inggrid mengangguk saat melihat Zahra kembali memejamkan matanya.


"Bu, Bibi langsung pulang saja."


"Gak ikut ketemu Bian?" tanya Inggrid.


"Pekerjaan di rumah sudah menunggu, Bibi titip salam saja untuk Den Bian."


"Ya sudah, terserah saja."


Nur mengangguk, ketika sampai luar ia membantu Inggrid memasuki taxi, mereka berpisah karena memang berbeda arah.


Semoga saja sama-sama selamat, Nur melirik pintu masuk rumah sakit, bukankah Zahra ingin istirahat jadi sebaiknya Nur tidak perlu mengganggunya lagi.


 


"Kemana mereka sebenarnya?" tanya Sintia.


"Mana aku tahu, sejak tadi kita bersama," ucap Dion.


Sintia berdecak, keduanya tengah ada di tempat Zahra, mereka ingin bertemu Zahra saat ini.


Tapi entah kenapa rumahnya seperti kosong, sejak tadi Sintia menekan bel rumah, tapi pintu tak kunjung terbuka.


"Apa mereka sedang menemui Bian?" tanya Sintia.


"Bu Inggrid bisa saja, tapi Zahra, rasanya tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin?"


"Sudahlah, aku rasa sangat tidak mungkin."


Sintia mengangkat kedua alisnya, mungkin itu hanya harapan Dion saja untuk Zahra melupakan Bian.


Padahal Sintia yakin jika Zahra masih tetaplah Zahra, Zahra yang memang memiliki rasa untuk Bian.


"Apa kita pulang saja?" tanya Dion.


"Ya mau gimana lagi, kita gak tahu kapan mereka kembali."


"Ya sudah, sebaiknya kita coba datang ke tempat Bian."


"Aku gak mau."


Dion mengernyit, kenapa gak mau, apa Sintia sudah menemui Bian sebelumnya, sehingga kali ini Sintia tidak mau kesana.

__ADS_1


Sintia melihat sekitar, apa tidak ada satu pun orang di sana, kemana mbak rumah, kenapa bisa rumah dibiarkan kosong.


__ADS_2