Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tinggal Sedikit


__ADS_3

Perjalanan dari waktu ke waktu telah mereka jalani, semua mereka lewati meski dengan berat hati.


Zahra yang semakin sukses dengan perusahaannya, dan permasalahan Inggrid lainnya yang mampu diselesaikan.


Meski perusahaan Kemal masih saja buruk, bahkan kini sudah nyaris runtuh, tapi Kemal tak menyerah.


Sosok Bian pun tak pernah hilang dari ingatan mereka, sudah sekian bulan Bian di sana, dan Zahra belum berniat untuk mengakhiri semuanya.


"Oma, apa kita akan jadi pergi minggu depan?" tanya Zahra.


"Tentu saja, bukankah semua sudah dipersiapkan?"


"Ya, Marvel bilang memang seperti itu."


Inggrid mengangguk, rencana untuk melaksanakan kegiatan tahunan kini benar akan terjadi.


Keadaan baik perusahaan dan semua penghuninya sudah sangat mendukung untuk acara tersebut, dan Inggrid akhirnya setuju untuk melakukan kegiatan tersebut.


"Lusa kamu ada acara?" tanya Inggrid.


"Tidak, besok dan lusa bukan hari kerja jadi aku tidak kemana-mana."


"Kamu mau menemui Bian?"


Zahra seketika diam, kedamaian memang mulai dirasakannya, Zahra tak pernah lagi berat ketika mengingat Bian.


Tapi untuk menemuinya, Zahra belum ingin melakukannya, Zahra masih ingin dengan waktu sendirinya.


"Zahra, mungkin sekali saja, meski hanya untuk beberapa menit saja itu akan sangat berarti untuk Bian."


"Aku tidak memikirkan itu."


"Zahra, kamu memang telah membuktikan semuanya, kamu telah membuat Bian merasakan balasannya, meski bukan untuk membebaskannya, mungkin cukup untuk sekedar menengoknya saja."


"Vanessa dan Sintia sudah sering menengoknya, itu sudah cukup untuk Bian."


Inggrid diam, benarkah seperti itu, tapi Bian selalu meminta agar Zahra datang menemuinya.


Memang benar, dua wanita itu masih kerap mengunjungi Bian, utamanya Vanessa, tapi sepertinya Bian tak lagi menginginkan wanita itu sekarang.


"Oma, aku lupa kalau ada pekerjaan yang aku bawa ke rumah, aku harus kerjakan sekarang sebelum Marvel mengomel nanti."


Inggrid mengangguk saja, Zahra memang selalu seperti itu, ia selalu menghindar dengan berbagai alasan ketika membahas tentang Bian.


Tapi Inggrid pun tak berniat untuk memaksanya, biarkan saja seperti apa maunya, lambat laun Zahra akan berubah dengan sendirinya.


"Aku permisi, kalau ada apa-apa, panggil saja aku akan datang."


"Tidak masalah."


Zahra tersenyum lantas pergi meninggalkan Inggrid, ia memasuki kamarnya dan duduk di depan meja riasnya.


Zahra menatap dirinya di sana, ia merasa hidupnya sudah seperti keinginannya, Zahra merasa bebas dan damai tanpa tekanan apa pun.


Ia berhasil jadi pembangkang, melawan mereka yang berusaha menekan dan menjatuhkannya, bahkan meski itu mertuanya sendiri.


"Apa aku hebat, atau apa sebutan yang pantas untuk kelakuan ku?"


Zahra tersenyum sekilas, sikap semena-mena Zahra selama ini memang berhasil membuatnya bahagia, tapi bukankah itu justru menyakiti orang lain.


"Aku suka seperti ini, apa bisa aku terus seperti ini, perjuangan ku bukan main-main untuk sampai pada titik ini, Zahra apa kamu tahu kesalahan dan kebenaran itu selalu berdampingan, kearah mana langkah mu selanjutnya?"

__ADS_1


Zahra diam, ia fokus menatap cermin itu, seolah dua pasang mata itu adalah dua sosok yang berbeda.


Zahra jahat, iya Zahra akui itu, tapi dengan kejahatannya ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


Zahra melihat tempat tidur di belakangnya melalui cermin, dulu setiap malam Bian ada di sana, dan tak jarang juga mereka tidur bersama di sana.


"Aku selalu berharap kebaikan dan sikap manis mu bukanlah sandiwara Bian, tapi itu hanya harapan bodoh yang aku miliki."


Zahra membuka laci kecil di sampingnya, ia meraih kalender kecil di sana, membuka lembar demi lembarnya, sudah banyak bulatan mereka disetiap bulan ditanggal pernikahannya dengan Bian.


"Sebanyak ini, dan berakhir dengan aku yang membuat mu di tahan disana, apa kamu mengerti jika sekarang aku merasa keadilan masih ada untuk hidup ku?"


Zahra kembali membuka mundur kalendernya, ada satu tanggal lain dari tanggal pernikahan yang ditandainya juga.


Itu adalah tanggal terburuk baginya, dimana Bian merenggut masa depannya, dimana Bian menghancurkan sisa harapan yang dimilikinya, semua terpaksa, dan sampai sekadang Zahra tak bisa merelakannya.


"Keberadaan mu disana, tak bisa menggantikan semuanya, aku tidak bisa mendapatkannya lagi."


Kalender itu kembali dibukanya maju, sampai bulatan akhir dibulan yang sedang berjalan, Zahra tersenyum, bukankah itu adil, lukanya telah berhasil dibayar.


Zahra membuka sampai akhir bulan yang ada di sana, satu tahun tersebut hanya tersisa 2 bulan lagi, tapi pernikahan Zahra dengan Bian terjadi di bulan kedua awal tahun.


Itu artinya masih 4 bulan lagi perjanjian pernikahan mereka berlaku, dan sudah berhasil terlewati 8 bulan dari perjanjian itu.


"Dan sampai sekarang aku masih berharap dengan lelaki itu, kuat sekali kebodohan ku ini Bian."


Zahra menunduk mata dan wajahnya seketika panas, yang terjadi diantara dirinya dan Bian memang buruk, tapi bukankah ketika di depan mereka semua sikap Bian begitu manis.


Semua kenangan itu bertemu, beradu dan saling menentang, Zahra ingin bertahan tapi semua hal buruknya membuat Zahra ingin berhenti.


"Aku harus bagaimana sekarang, waktu ku hanya tinggal sedikit, harusnya aku senang bukan?"


"Ayra."


"Ayra, kamu sedang apa?" tanya Kania.


Zahra menyimpan kalendernya dan menutup rapat lacinya, ia melihat Kania dari cermin sana.


"Kamu sedang sibuk?"


"Tidak."


Zahra berbalik dan salam pada mertuanya itu, setelah sekian lama, akhirnya Kania menemuinya lagi.


Zahra harus siapa jika ia akan mendengar lagi nama Bian, dan akan mendengar berbagai permintaan untuk kebebasan Bian.


"Ada apa?" tanya Kania.


"Ada apa?" tanya balik Zahra yang bingung dengan pertanyaan Kania.


"Kamu menangis?"


Zahra mengernyit, kenapa Kania harus menyadari itu, bukankah Zahra tidak menangis, ia hanya berkaca-kaca saja.


"Ada apa, ada masalah?"


"Tidak, aku hanya pusing saja dengan pekerjaan ku."


Kania mengangguk, meski jujur ia tak percaya dengan jawaban Zahra.


Zahra menggeser kursi yang sempat di dudukinya, dan meminta Kania untuk duduk di sana, Kania juga tak menolak dengan itu.

__ADS_1


"Mama sendiri kesini?"


"Iya, tadi habis dari toko depan, sekalian mampir kesini."


"Beli apa?"


"Mama beli pakaian untuk Bian."


Zahra diam, bukankah benar, tidak akan ada yang lain yang akan didengarnya selain mengenai Bian.


Zahra mengangguk seraya tersenyum, tentu saja itu palsu, karena Zahra tak suka dengan itu.


"Bukankah pakaian Bian banyak disini, dan itu masih bagus-bagus," ucap Zahra.


"Itu benar, tapi mungkin kamu tidak tahu kalau Mama selalu belikan baju baru untuk Bian setiap kali dia berulang tahun."


Zahra kembali mengangguk, itu benar, Zahra memang tidak tahu, dan sepertinya Zahra memang tidak mau tahu.


"Lusa adalah tanggal kelahiran Bian, Mama selalu siapkan baju baru untuknya, meski hanya satu pasang tapi Bian pasti senang."


Zahra memperhatikan Kania yang membuka apa yang dibelinya itu, hanya baju biasa, tidak ada yang istimewa, pakaian santai di rumah saja.


"Biasanya Mama belikan dia pakaian Kantor, tapi karena sekarang dia sedang tidak ke Kantor, makanya Mama belikan dia baju santai saja, apa ini bagus?"


Zahra tak menjawab, ia memilih diam menatap Kania, matanya tampak memerah, tidak salah Kania pasti sedang menahan tangisnya.


Sejahat itu Zahra, dia sudah memisahkan seorang ibu dari anaknya, dia juga sudah menyakiti perasaannya sekian lama.


"Mama akan berikan ini, dan akan minta Bian untuk langsung memakainya, pasti cocok di badannya kan, tapi apa menurut mu dia akan tersenyum saat menerima ini nanti?"


Zahra berpaling, kenapa harus seperti itu, tidak seharusnya Kania bertanya seperti itu, zahra tidak mau mendengarnya apa lagi menjawabnya.


"Ayra."


"Iya."


"Kamu tahu lusa ulang tahun Bian?"


"Tidak, aku tidak tahu itu."


"Itu artinya, kamu tidak siapkan hadiah apa pun untuknya?"


Zahra mengangguk ragu, itu pasti menambah kekecewaan Kania, Zahra benar-benar melupakan Bian sekarang.


Kania turut mengangguk, ia merapikan kembali pakaiannya, dan menyimpannya.


"Kamu masih tidak bisa memaafkannya, kamu masih tidak bisa mengakhiri hukumannya, tidak masalah, tapi bisakah kamu datang dihari spesialnya?"


"Untuk apa, bukankah Mama akan ada disana, dan pasti yang lain juga ada disana."


"Karena Bian meminta Mama untuk membawa mu kesana."


Zahra tersenyum sekilas, semakin lama sosok Kania dan semua ucapannya, semakin membuat Zahra sesak.


Perasaan bersalahnya semakin menyeruak menekan dirinya, Zahra menyentuh pipinya seraya berpaling, apa yang harus difikirkannya sekarang.


"Kalau memang kamu begitu membenci Bian, tidak masalah, kamu tidak perlu berbicara padanya, kamu cukup datang saja dan biarkan Bian melihat mu."


Zahra sedikit menggeleng, apa bisa seperti itu, apa mereka sedang merencanakan sesuatu terhadap Zahra nanti.


"Baiklah, jangan marah, Mama tidak sedang memaksa mu, Mama bicara normal saja, kalau memang kamu tidak mau juga tidak masalah, maaf Mama sudah menambah pusing kepala mu hari ini, silahkan lanjutkan pekerjaan mu saja."

__ADS_1


Kania bangkit dan berlalu begitu saja, Zahra hanya diam menatap kepergian Kania, semua kacau, fikiran dan hati Zahra tak lagi satu arah.


Itu berlawanan, mereka sedang saling melawan, fikirannya tak mau perduli dengan Kania dan semua ucapannya, tapi hatinya begitu membela Kania.


__ADS_2