
Damar mengikuti langkah Zahra memasuki rumahnya, di sana ada Inggrid yang sedang duduk dan Nur yang siapkan suguhannya.
"Ayra, kamu sudah pulang," ucap Inggrid.
Zahra tak merespon ia lurus saja menaiki tangga untuk sampai ke kamar, Inggrid melirik Damar yang tampak belakangan.
Dua wanita itu seketika bangkit, lagi inggrid melihat lelaki itu, apa lagi yang dilakukannya sekarang.
"Masih berani kamu menemui Ayra, apa yang kamu lakukan?"
"Tidak ada, aku dan Ayra hanya makan."
"Kau membawanya tanpa izin, dan kau mengembalikannya dalam keadaan seperti itu."
"Tidak ada apa pun yang terjadi antara kami, Ayra seperti itu karena Bian."
Inggrid mengernyit, kenapa Bian, mereka yang pergi bersama tapi Bian bersalah.
Damar mengangguk dan berjalan mendekati Inggrid, ia salam meski dengan sedikit penolakan.
"Permisi."
Nur lantas pergi meninggalkan keduanya, ini di rumah dan Nur akan tahu apa yang akan terjadi nanti.
"Tadi Bian telepon Ayra, dan disitu Ayra menangis."
"Kau sedang berbohong?"
"Tidak, ini kebenarannya, bukankah Ibu dan yang lain tadi menemui Bian, seharusnya Ibu tahu kalau Bian menghubungi Ayra dengan ponsel Mamanya."
Inggrid diam, itu tidak diketahuinya karena Inggrid pulang lebih dulu, pantas saja Kania begitu memaksa untuk pulang paling akhir.
Bagaimana bisa Kania melakukan itu, dia akan bersalah jika membuat Zahra murung lagi.
"Sepertinya Ayra tidak bisa merubah apa pun."
"Apa maksud kamu?"
"Dia tetap ingin pergi dari kalian semua, tapi perasaannya terhadap Bian lebih kuat menahannya, tapi Ayra tidak mau mengikuti perasaannya sendiri."
"Duduklah."
Damar mengangguk, keduanya lantas duduk, padahal Inggrid sudah senang melihat keadaan Zahra akhir-akhir ini.
Dan sekarang, apa benar wanita itu akan kembali murung, Inggrid sama sekali tidak inginkan itu.
"Aku sudah mencoba memberinya pengertian, tapi aku tidak tahu akan seperti apa cara Ayra menanggapinya, aku harap Ayra bisa mengerti dan segera memutuskan langkahnya ke depan."
"Seperti apa?"
"Aku tidak tahu, bukankah hanya Ayra sendiri yang tahu."
__ADS_1
Inggrid diam, apa yang harus difikirkannya sekarang, seharusnya Inggrid mengawasi Kania tadi.
Memang tidak bisa dipercaya, Inggrid sudah sering katakan untuk membiarkan Zahra dengan keinginannya sendiri, mereka selalu saja membantah.
"Aku yakin Ayra akan mau menarik tuntutannya kalau memang Bian berubah, dia hanya perlu diyakinkan untuk itu."
"Dia tidak akan tahu perubahan Bian, dia tidak pernah mau menemui Bian."
"Itu karena Ayra tidak percaya dengan perubahan Bian, sampai saat ini hanya hal buruk yang diingatnya tentang Bian."
"Tapi dia akan tahu kalau dia mau menemuinya."
Damar mengangguk, bukankah itu tugas mereka untuk membujuk Zahra, kenapa sepertinya sulit sekali.
Dulu soal makan pun mereka tidak bisa membujuknya, dan sekarang, mereka juga mengalah begitu saja.
"Aku akan menemuinya lain waktu, aku coba bicara sama dia kalau dia masih tidak mau menemui Bian."
"Jangan jadikan itu kesempatan."
"Jangan berfikir buruk tentang kedekatan kami, itu tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan."
"Itu hanya awal saja."
Damar mengangguk, baiklah, terserah mau berfikir apa, memang tidak semua orang bisa percaya dengan mudah pada orang lainnya.
Damar yakin, ia selalu mengingat Zahra karena keperduliannya saja, bukan karena ada rasa lain yang tidak seharusnya.
"Zahra memang baik pada semua orang, tapi kamu harus ingat siapa Zahra sekarang."
"Tentu saja, aku paham dengan itu, tidak perlu khawatir karena aku tahu batasannya."
"Semoga saja itu bukan omong kosong diawal."
"Akan aku pastikan semuanya."
Damar lantas bangkit, ia salam pada Inggrid dan berlalu meninggalkannya, sudah cukup, jika diteruskan mereka hanya akan berdebat saja.
Meski Inggrid tak suka, tapi selama Zahra tidak keberatan maka Damar akan tetap menemuinya, apa lagi jika Zahra yang menginginkannya.
"Bibi, bawakan minum ke kamar Ayra."
"Baik Bu."
Inggrid lantas pergi ke kamar Zahra, di sana wanita itu tampak diam melamun, Inggrid benar-benar akan marah pada Kania.
"Ayra."
Zahra menoleh, ia sedikit berdecak, Inggrid datang dan itu membuatnya sedikit keberatan.
"Kamu kenapa, ada masalah?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, kepala ku mendadak pusing."
Inggrid mengangguk seraya duduk, mata sembab Zahra begitu jelas terlihat.
Entah apa yang dibicarakan Bian, sampai membuat Zahra seperti ini, sepertinya Inggrid tidak bisa tanyakan itu sekarang.
"Bagaimana acaranya, apa kalian bahagia?"
"Tentu saja, Bian tampak senang, dia merasa kerinduannya sedikit terobati, meski dia tetap mengharapkan kedatangan kamu."
"Aku sudah katakan, itu tidak perlu."
"Ayra, Oma juga masih marah sama Bian tetang semuanya, Oma masih tetap merasa kecewa terhadapnya, tapi Oma selalu menemuinya karena Oma mau tahu perubahan seperti apa yang dia tunjukan."
Zahra menoleh, dan mungkin perubahan yang ditunjukan Bian adalah sandiwara terbaiknya.
Bian akan berusaha menunjukan dia berubah, dia baik, dan dia bisa dipercaya, setelah kepercayaan itu didapatkannya, Bian akan menunjukan kebenaran dari sandiwaranya.
"Ayra, Oma bersama Bian sejak dia bayi, Oma tahu seperti apa dia, dalam keadaan buruk seperti apa pun, dia tidak pernah menangis, tapi kali ini kamu harus tahu kalau dia begitu lemah."
"Dia sedang berusaha melakukan apa yang aku lakukan, bersikap lemah saat ia tak lagi dipercaya."
"Mengobati sakit hati itu memang sulit, bahkan meski orang yang bersalah sudah meninggal pun, kadang luka itu masih tetap ada, tapi tidak ada orang lain yang bisa menyembuhkannya selain diri kamu sendiri, Ayra kecurigaan kamu dan semua pemikiran buruk kamu yang akan selalu menumbuhan kebencian terhadap Bian semakin kuat."
Zahra berpaling, lalu Zahra harus bagaimana, ia sama sekali tidak mau membebaskan Bian dengan alasan apa pun.
Bahkan meski besok Bian meninggal pun, sepertinya Zahra tetap tidak mau untuk membebaskannya hari ini.
-----
"Sampai kapan kamu akan diam saja?" tanya Vanessa.
Sintia menoleh, mereka ada di rumah Sintia saat ini, Vanessa memaksa untuk mampir meski Sintia menolaknya.
Sejak sampai keduanya hanya diam saja, Vanessa yang menunggu Sintia sadar dan mau mengaku lebih dulu.
Dan Sintia yang justru menunggu Vanessa bertanya lebih dulu, bukankah itu hanya membuang waktu saja.
"Kenapa, kamu akan tetap bungkam?"
"Bian, dia lelaki yang pernah dijodohkan dengan ku, tapi dia menolak ku dan memilih menikah dengan Ayra."
"Dan kamu tutupi itu sejak awal, pantas saja kamu selalu bersikap seolah kamu paling mengenal Bian, jadi ini alasannya?"
"Aku sudah melupakannya, aku rasa aku tidak perlu ceritakan ini pada siapa pun, termasuk kamu."
"Wah, bagus sekali pemikiran mu, kamu tidak sadar jika kamu sedang membodohi ku?"
"Vanessa, tidak ada niat ku untuk seperti itu."
Vanessa berdecak seraya berpaling, ia menggeleng, benar-benar tak habis fikir dengan semuanya.
__ADS_1
Vanessa jadi semakin yakin jika Sintia memang menyukai Bian, dia akan kembali berjuang mendapatkan Bian setelah Zahra melepaskannya nanti.