
Kaki Zahra terus terayun tanpa henti, sejauh Zahra berjalan, ia tak berhenti meski hanya satu detik saja.
Zahra merasa begitu banyak tekanan dalam dirinya saat ini, tapi itu tidak bisa dimengerti olehnya sendiri.
Zahra sadar ia selalu merasa kacau secara tiba-tiba, kontrolnya kerap hilang tanpa terduga, dan itu adalah tekanan kuat baginya.
"Aku lelah," ucapnya nyaris tak bersuara.
Zahra memasuki peratan luas di sana, ia mengedarkan pandangannya, mencari apa yang jadi tujuannya.
Hingga ia sampai di dua makam bersisian, Zahra terduduk di tengahnya, kakinya seketika lemas kala matanya melihat dua nisa itu.
"Aku butuh kalian," ucap Zahra pelan.
Kedua tangannya mengepal kuat menggenggam tanah dari kedua makam tersebut, Zahra menunduk, ia menangis begitu saja.
Zahra merasa berdosa karena tidak pernah datang ke tempat tersebut, Zahra tidak bisa terima dengan kepergian kedua orang tuanya itu.
"Aku butuh kalian, apa kalian kalian tidak bisa mengerti ini, aku tidak bisa seperti ini, tolong."
Tangis Zahra semakin menjadi, ia tak bisa menahannya sama sekali, apa ada yang mengerti perasaannya saat ini.
Zahra hanya ingin pelukan orang tuanya, ia ingin kekuatan dari orang tuanya, apa ada yang bisa membantunya untuk mendapatkan itu.
"Aku tidak bisa terima hidup seperti ini, aku tidak bisa, apa Mama dan Papa sudah bertemu Tuhan, tolong sampaikan padanya kalau aku tidak bisa seperti ini, sampaikan padanya aku butuh kalian kembali."
Kalimatnya terbata-bata, Zahra tidak bisa mengontrol emosinya, kenapa selalu seperti itu.
Zahra seperti tak mengenali dirinya sendiri sekarang, semua selalu saja diluar kendalinya, Zahra merasa asing dengan dirinya sendiri.
"Bukankah aku sudah kuat selama ini, aku sudah sangat bertahan selama ini, tapi harus sampai kapan, tolong tanya pada Tuhan sampai akan aku seperti ini."
Zahra tampak memeluk makam sang mama, ia mengusap nisannya dengan penuh luka dihatinya.
Dulu wanita itu tidak pernah membiarkan Zahra menangis, ia selalu marah jika satu tetes saja air mata membasahi pipi Zahra.
"Mama, Ayra tidak sekuat yang Mama fikir, Ayra tidak sehebat yang Mama banggakan, kenapa Mama biarkan Ayra seperti ini?"
Mata Zahra terpejam, semua kenangan manis bersama Mamanya tengah menari indah difikirannya.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan meski Inggrid begitu menyayanginya, tapi Zahra tidak bisa merasakan kasih sayang seperti mamanya.
"Mama seharusnya duduk di samping Ayra sekarang, biarkan Ayra berbaring di pangkuan Mama dan biarkan Ayra tidur karena belaian tangan Mama, tidak bisakah Ayra merasakan itu lagi?"
Zahra mengusap nisannya pelan, bukan sosoknya yang dilhat sekarang, tapi hanya huruf-huruf yang merangkai namanya saja.
Zahra kembali duduk, ia menutup wajahnya sesaat, jika mamanya tidak bisa mendengar, mungkin saja papanya bisa mendengar.
Zahra berbalik, ia mengusap-usal gundukan tanah itu, tanah yang telah dengan sempurna menghilangkan tubuh papanya.
"Seharusnya Papa kasihan sama aku, seharusnya Papa tidak pergi meninggalkan aku seperti ini, apa Papa tahu bagaimana sulitnya hidup aku sekarang."
Ingin sekali Zahra menggali kuburan itu, memastikan jika tubuh papanya masih ada di dalam sana.
Zahra ingin memeluknya, ia butuh dekapan cinta pertamanya, cinta yang tak akan pernah bisa diganti dengan cinta lainnya.
Bahkan meski Zahra telah memiliki Bian, itu tak lantas mampu memberikannya cinta yang sama seperti papanya.
"Aku bosan harus menjadi orang lain seperti ini, aku tidak kuat, aku tidak mampu melawan semuanya, aku tidak mau terus seperti ini, bagaimana caranya untuk aku lari dari kehidupan ini, tolong katakan."
Zahra semakin kesulitan mengucapkan kalimatnya, tangisnya begitu menggambarkan luka hatinya.
Tidak ada lagi pelukan hangat untuk tangisnya, Zahra benar-benar kehilangan semuanya, sampai saat ini hanya sepi yang menemaninya.
"Zahra mau ikut Papa, bagaimana caranya Zahra bicara sama Tuhan kalau Zahra sudah lelah dengan waktu hidup ini, ini terlalu lama buat Zahra."
"Tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu."
Zahra seketika diam, ia menahan isakannya saat mendengar suara di belakangnya.
Zahra melirik tangan yang memasangkan jaket di pundaknya, bukan, itu bukan suara Bian.
"Kemungkin orang yang sudah meninggal juga menyesal, dan dia ingin hidup kembali bersama kita, tapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi, kamu harus tahu kehidupan ini berarti untuk kita yang masih hidup, jangan mengeluh apa lagi putus asa seperti ini."
Zahra mengusap air matanya perlahan, ia berusaha mengingat suara siapa yang didengarnya.
Tapi satu pun tidak ada yang diingatnya, siapa pemilik suara itu, Zahra benar-benar tidak bisa mengenalinya.
"Tuhan masih memberikan mu waktu, itu artinya Tuhan percaya kalau kamu mampu, jadi jangan sia-siakan kepercayaan yang Tuhan berikan padamu, karena penyesalan tidak pernah datang diawal kehidupan mu."
__ADS_1
Zahra sedikit menoleh, ia tidak bisa sekedar melihat kaki orang di belakangnya, apa mungkin jika itu hantu.
Bagaimana bisa hantu memberikannya jaket seperti itu, suaranya pun nyata di telinga Zahra.
"Sampai kapan akan disini, kamu tahu mungkin saja mereka yang disana ikut terluka melihat mu seperti ini, kamu telah membuat kehidupan barunya terasa buruk."
Zahra menunduk, ia memejamkan matanya kuat, kepalanya mendadak terasa sakit.
Apa benar Zahra memiliki penyakit serius, kepalanya jadi sering mengalami gangguan seperti itu.
"Bangun dan kembali pada kehidupan mu yang semestinya, berhenti menyesali semuanya, dan mulailah berfikir untuk mengalahkan luka yang ada."
Zahra membuka matanya, pandangannya buram, ia mengerjap berulang kali, tangannya bertumpu pada tanah yang dipijaknya.
Baiklah, Zahra berfikir suara itu adalah malaikat yang akan menjemputnya pergi dari dunia saat ini, Zahra siap dengan itu.
"Ayo bangun, sebentar lagi pasti turun hujan, langit sudah sangat gelap saat ini."
Zahra menggeleng, ia kembali memejamkan matanya kuat, tubuhnya mendadak lemas seakan semua tenaganya telah lenyap.
"Biar ku bantu kamu berdiri, istirahatkan fikiran mu dengan baik dan benar."
Ia meraih kedua lengan atas Zahra, perlahan menariknya bangkit, tidak ada penolakan karena Zahra mengikutinya juga.
"Dimana rumah mu, biar aku antar pulang."
Zahra menekan keningnya, hal diluar kontrolnya kembali terjadi, Zahra merasa kacau dengan semuanya.
"Kamu baik-baik saja."
Perlahan Zahra mengangkat kepalanya, dengan penglihatan yang kabur Zahra berusaha mengenali sosok di depannya.
Tapi sayang, kesadarannya lebih dulu hilang, semua gelap hingga tubuh itu terkulai tak berdaya dalam tahan orang di depannya.
"Ada apa ini, hey kenapa dengan mu?"
Ia menepuk kedua pipi Zahra bergantian, tapi tidak menghasilkan apa pun, hingga tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya.
Tanpa berfikir panjang, ia menggendong Zahra dan membawanya pergi meninggalkan pemakaman.
__ADS_1