
"Aku sudah bilang, ini berlebihan."
"Ah sudahlah, ini obatnya, minum itu biar gak meriang kamu."
Damar menggeleng, ia menerima obatnya tanpa berkata apa pun lagi.
Vanessa memang mengantarkan Damar sampai ke rumahnya, dan sekarang ia masih bertahan di sana.
"Kamu sendirian disini?"
"Ya sendiri saja, lalu sama siapa, kamu mau tinggal disini?"
Vanessa berdecak seraya berpaling, ia tak henti mengamati ruangan tersebut.
Bagaimana bisa Damar betah tinggal di tempat sempat seperti itu, setiap hari kerja sudah seharusnya dia bisa untuk sekedar sewa rumah lebih layak.
"Kenapa sih, gak nyaman, pulang saja sana."
"Gimana bisa kamu tinggal di tempat seperti ini, kenapa gak sewa rumah saja yang lebih besar."
"Untuk apa rumah besar, aku cuma tinggal sendiri, mau dipenuhi setan nantinya?"
Kalimat Damar sedikit membuat Vanessa tertawa, bagaimana bisa fikirannya seperti itu, kalau memang rumah besar bukankah bisa saja Damar ajak teman-temannya juga.
Damar menyimpan obatnya dan berkutat dengan ponselnya, sesaat Vanessa melihatnya sampai akhirnya ia juga memilih fokus pada ponselnya.
"Sampai kapan kamu mau disini?" tanya Damar.
"Kenapa, kamu keberatan?"
"Bukan, aku harus pergi soalnya."
"Pergi kemana, bukannya gak akan kerja hari ini?"
Damar diam, kemana pun itu lalu apa urusannya dengan Vanessa.
Mereka memiliki urusan masing-masing, jadi biarkan saja Damar mau kemana, tidak perlu menjelaskan juga pada wanita itu.
"Baiklah, kalau kamu mau aku pergi, aku bisa pergi sekarang."
"Aku gak usir, aku tanya baik-baik."
"Ya aku paham, tenang saja aku tidak tersinggung."
Damar tersenyum, Vanessa berbicara dengannya, tapi matanya justru fokus pada ponselnya, seharusnya Damar marah dengan itu.
Vanessa menghembuskan nafasnya berat, dan itu cukup membuat Damar mengernyit, apa mungkin Vanessa sedang ada masalah.
"Baiklah, aku pergi, permisi."
"Ada apa?"
Vanessa yang hendak bangkit, kembali duduk, ia melirik Damar tanpa berkata.
Damar kembali tersenyum, ia menggeleng dan menyimpan ponselnya, mungkin saja masih ada yang bisa mereka bicarakan.
__ADS_1
"Bukannya mau pergi?"
"Iya memang, tapi mungkin saja kamu masih ingin disini."
"Untuk apa?"
"Mana aku tahu, kelihatannya kamu merasa berat untuk pergi."
Vanessa diam, ia kembali berkutat dengan ponselnya, entah apa yang dilakukannya dengan ponselnya, Damar tidak mungkin mengintipnya.
Vanessa berdecak, ia mengangguk-angguk pelan, seperti orang yang sedang berfikir keras, Vanessa tampak serius dengan tatapannya.
"Ada masalah?" tanya Damar.
"Gak ada, masalah apa juga."
"Kalau aku tahu, untuk apa aku bertanya, lalu bagaimana kabar mu?"
Vanessa mengernyit, tiba-tiba saja Damar bertanya seperti itu, bukankah sudah sejak tadi mereka bersama.
Damar mengangguk, baiklah, mungkin saja wanita itu sedang dalam masalah, dan sepertinya Damar tahu apa yang jadi permasalahannya.
"Aku pulang saja."
"Masih musuhan sama Sintia?"
Vanessa diam, bisa sekali Damar bertanya seperti itu, apa juga alasannya.
Damar menghembuskan nafasnya sekaligus, ia memperbaiki posisi duduknya, tubuhnya mulai terasa tidak enak saat ini.
"Untuk apa pertanyakan itu, ada urusannya sama kamu?"
"Sebenarnya tidak, tapi mungkin saja kamu butuh cerita, jangan sampai seperti Ayra, kamu pendam semuanya sendiri, akhirnya nanti kamu sakit juga."
"Sakit apa?"
Damar diam, benarkah Vanessa tidak tahu, apa Sintia tidak ceritakan soal Zahra.
Tapi semoga saja memang tidak tahu, agar Vanessa tidak perlu mengganggu Bian saat Zahra sedang tidak sehat.
"Ada apa?" tanya Vanessa.
"Tidak, aku hanya kasih jalan kalau memang kamu mau cerita."
"Aku harus pergi, aku mau ketemu Bian."
"Masih saja mengganggunya, kamu tahu aku sedih sekali melihat tingkah laku mu."
"Dan aku harus perduli itu?"
Damar kembali diam, bukankah wanita itu keras kepala, bahkan mungkin semua wanita keras kepala.
Sudah terlihat sejak awal, Vanessa memang selalu memaksakan semuanya, baiklah memang Damar yang salah melontarkan pertanyaan.
"Vanessa, apa kamu tidak punya teman lelaki lain, apa teman mu hanya Sintia saja?"
__ADS_1
"Apa maksud mu, kamu berniat mengejek ku?"
"Ada apa ini, aku bertanya, tidak perlu emosi."
"Memang tidak ada, kamu tahu aku besar di luar negeri, aku sekolah disana hidup disana, dan baru sekarang aku disini."
"Benarkah?"
"Pentingnya apa aku paksa kamu percaya?"
Damar mengangguk seraya tersenyum, benar sekali memang tidak ada pentingnya, tapi paling tidak kalau Damar tahu sedikit banyak dia bisa membantu.
Vanessa meneguk minuman yang disediakan Damar, sensitif sekali ia saat ini, semua terasa menjengkelkan baginya.
"Bukankah kamu bekerja, seharusnya kamu dapatkan teman di tempat kerja itu."
Vanessa tak menjawab, ia hanya diam saja dengan lamunannya sendiri.
"Semua pasti merasa kalau apa yang jadi pilihan kamu sekarang adalah salah, kamu benar-benar mengusik kehidupan orang lain, dan itu tidak akan memberikan akhir baik buat mu."
"Bicara saja seperti itu, bisa memang karena kamu tidak pernah jatuh cinta kan?"
"Itu benar, dan perlu kamu tahu, lebih baik aku tidak pernah jatuh cinta dari pada harus jatuh cinta pada istri orang, sama seperti mu yang jatuh cinta pada suami orang."
"Kamu akan merasakannya jika kamu mengalaminya, jadi jangan berceramah kalau kamu tidak tahu kebenarannya."
"Tidak ada kebenaran atas perasaan mu terhadap Bian, apa kamu tidak sadar, semakin kamu menyakiti Ayra, semakin terluka juga diri kamu."
Vanessa diam, kenapa jadi membahas itu, apa Damar sengaja ingin membuatnya marah saat ini.
Untuk apa ikut campur masalahnya dengan Bian, kenapa tidak Damar membantunya saja untuk mendapatkan Bian.
Vanessa melirik Damar, lelaki itu tampak diam saja dengan tatapan lurus ke lantai sana, apa mungkin jika Damar bisa menyukai Zahra.
"Vanessa, aku rasa kamu harus hentikan semuanya."
"Sayangnya aku tidak mau, dan sebaiknya kamu bantu aku, bukankah Ayra menyukai mu, kalian bisa bersama kalau mereka berpisah, itu sama-sama menguntungkan."
Damar balik menatap Vanessa, buruk sekali pemikirannya itu, berlebihan, dan tidak pantas sekali.
Vanessa tersenyum singkat, sepertinya Damar tidak menyadari itu, dan mungkin saja Damar juga sedang bersandiwara saat ini.
"Aku tidak mengerti, kenapa laki-laki selalu saja berlagak tidak perduli terhadap cinta, padahal mereka merasakannya juga."
"Tidak, tidak seperti itu, jelas saja aku perduli dengan cinta, tapi cinta yang terarah, cinta yang seharusnya, bukan cinta yang dipaksakan seperti cinta mu itu."
"Kamu lupa, kalau cinta itu perlu diperjuangkan?"
"Tidak jarang kita memang harus melakukan itu, melupakan sesuatu yang tidak seharusnya selalu diingat."
Vanessa mendelik, Damar hanya sedang menguji kesabarannya, dan itu tidaklah penting bagi Vanessa.
Ia meraih tasnya, memasukan ponselnya, dan pergi begitu saja, tidak ada pembahasan yang harus dipertahankan.
Damar akan sangat menjengkelkan jika mereka terus berbincang, melihat kepergian Vanessa hanya bisa direspon dengan gelengan Damar.
__ADS_1
"Tidak paham lagi dengan wanita itu."