
Zahra mengikuti langkah lelaki itu, Inggrid memaksanya untuk berkeliling, agar Zahra tahu tempat-tempat di kantor itu.
Dengan malas Zahra berjalan, dan mendengarkan setiap penjelasan lelaki di sampingnya.
"Seharusnya, ini ruangan sekretaris Pak Bian, tapi ia diberhantikan oleh Bu Inggrid."
"Kenapa seperti itu?"
"Karena beliau memutuskan untuk tidak mempekerjakan Pak Bian lagi."
"Tapi kenapa?"
"Seharusnya Ibu lebih tahu soal itu."
Zahra diam, apa lelaki itu tidak tahu siapa Zarah, sepertinya Inggrid tidak mengatakan jika Zahra adalah istri dari Bian.
"Dan itu ruangan HRD."
Zahra menoleh, ia mengangguk, kakinya tak henti melangkah seraya mendengarkan semua yang dikatakan lelaki di sampingnya.
"Lalu ruangan mu dimana?"
"Di tempat tadi kita bertemu, tapi saya tidak tahu akan dipindah kemana setelah Ibu bergabung nanti."
"Kenapa harus memanggil ku Ibu, apa aku terlihat tua?"
"Itu panggilam hormat, jadi jangan permasalahkan itu."
"Aku bukan siapa-siapa."
"Tapi mulai besok, Ibu akan menjadi seseorang disini, sudah seharusnya saya menghormati Ibu."
Zahra menggeleng seraya berpaling, terserah saja Zahra malas berdebat, sebaiknya ia simpan energi untuk nanti menghadapi Bian.
Lelaki itu menyebutkan dan menjelaskan semuanya, Zahra juga memperhatikannya dengan baik, dan sepertinya ia mampu mengingat beberapa penjelasan dari lelaki itu.
"Apa kita akan mendatangi semua lantai bangunan ini?" tanya Zahra.
"Tidak perlu, Ibu hanya harus mengingat yang ada disini saja, kalau Ibu perlu dengan orang di lantai lain, Ibu bisa menghubungi mereka."
"Caranya?"
"Di ruangan nanti ada telepon, dan ada buku kecil disana, Ibu bisa mencari data disana untuk menghubungi bagian yang Ibu butuhkan."
"Baiklah."
Lelaki itu kembali menjelaskan hal lainnya, semakin lama minat Zahra semakin kuat, ia tersenyum teringat orang tuanya.
Dulu ayahnya pasti seperti itu, menginjak perusahaan besar dan memimpinnya juga, apa Zahra akan menjadi seperti cinta pertamanya itu.
"Bu Zahra, sudah paham sampai sini?"
"Oh, tentu saja, aku akan tanyakan ulang kalau aku lupa."
"Tidak masalah, kita akan bekerjasama nanti."
Keduanya tersenyum, apa Zahra harus menerimanya, mungkin saja Zahra akan menemukan titik baru dalam hidupnya.
Tidak melulu hanya menghadapi Bian saja, nengurusi sekelumit bebannya karena Bian, Zahra bisa menemukan dan melakukan banyak hal menarik di perusahaan.
__ADS_1
"Ada yang mau ditanyakan, Bu?"
"Siapa nama kamu?"
Lelaki itu tersenyum, benar juga, mereka sudah cukup lama bersama tapi Zahra tidak mengetahui namanya.
"Saya Marvel, Bu."
"Marvel, baiklah sudah cukup, kepala ku akan pusing jika terus mendengarkan penjelasan mu, itu terlalu banyak."
"Oh seperti itu, baiklah saya minta maaf, kalau begitu kita kembali ke ruangan?"
"Ide bagus, kaki ku juga sudah pegal sekarang."
"Silahkan."
Zahra tersenyum dan berjalan lebih dulu, nanti juga Zahra akan hafal dengan sendirinya setelah terbiasa berada di sana.
Mereka kembali menemui Inggrid yang masih menunggu di ruangan itu, mereka duduk bersama dan berbincang beberapa hal.
"Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Inggrid.
"Mungkin aku masih harus berjuang untuk itu semua."
"Tidak masalah, yang penting ada kemauan."
"Jadi dia cucu yang Ibu maksud?" tanya Marvel.
Keduanya menoleh bersamaan, Inggrid mengangguk membenarkan pertanyaan itu, Zahra menunduk perlahan, Inggrid pun tidak mengenalkan ia sebagai istri dari cucunya.
Sepertinya Inggrid mendukung Bian yang tak mengakui Zahra, baiklah, tidak perlu berfikir berlebihan, Zahra akan tetap bertahan untuk semuanya.
"Entahlah."
"Marvel akan menemani kamu setiap hari, dia memang lebih tahu tentang semuanya, tapi setelah kamu bergabung, dia jadi bawahan kamu."
"Mana bisa seperti itu?"
"Bisa saja Bu, saya hanya menggantikan Pak Bian saja."
Zahra menoleh dan mengangguk, baiklah terserah saja, Zahra tidak mau banyak berdebat.
"Baiklah, sekarang kita pergi."
"Kemana lagi, Oma?"
"Beli keperluan buat kamu ke Kantor besok, jangan main-main, kamu jadi pemimpin disini dan tentu kamu harus memberi contoh baik."
Zahra diam, secepat itu Inggrid memutuskan, padahal Zahra kerap memaksa Inggrid untuk mengembalikan kepercayaan perusahaan pada Bian.
Sepertinya, hidup Zahra memang tidak akan bisa tenang, bahkan meski kekayaan ada di tangannya sekali pun.
"Zahra."
"Ya, Oma."
"Ayo berangkat."
Zahra melirik Marvel, lelaki itu tampak mengangguk, Zahra lantas bangkit dan berjalan menyusul Inggrid yang ternyata sudah pergi lebih dulu.
__ADS_1
Marvel mengangguk, ia tersenyum setelah dua wanita itu pergi dari hadapannya, ia pun bangkit dan kembali pada kesibukannya sendiri.
"Oma, tolong bicarakan ini pada Bian terlebih dahulu."
"Oma tahu itu, kamu tidak perlu ajari Oma."
"Berarti aku tidak harus masuk esok hari."
"Apa-apaan kamu ini?"
"Oma, Bian pasti marah sama aku."
"Untuk apa marah sama kamu, perusahaan adalah kuasa Oma, tidak ada yang bisa mengatur apa pun untuk perusahaan ini selain Oma."
Zahra diam, apa benar Inggrid masih tidak mengerti beban Zahra, kenapa seperti itu perkataannya.
Sekarang, sepertinya Zahra malas untuk pulang ke rumah itu, lebih baik Zahra pergi kemana saja yang bisa membuatnya tenang.
"Papa, kenapa pulang?" tanya Kania.
Kemal terlihat duduk tanpa menjawab Kania, lelaki itu terlihat lemas sekali, beberapa saat lalu Kemal begitu baik-baik saja.
"Papa, sakit?"
Kemal tetap bungkam, ia memijat pelipisnya, Kania tampak serius memperhatikan suaminya itu.
Sepertinya sedang terjadi masalah, Kemal tidak seperti itu jika memang sedang sakit, dan Kania tidak mungkin salah mengartikan.
"Ada apa, jangan diam saja."
"Bu Retno, dia memutus kerjasama begitu saja, tidak ada perkataan apa pun sebelumnya."
Kania mengernyit, tentu saja itu kabar buruk baginya, nama yang disebutkan Kemal adalah pemilik tunggal perusahaan terbesar, bagaimana bisa mereka kehilangan itu.
"Papa belum bertemu dengannya?"
"Ini semua gara-gara Mami."
"Mami?"
"Dia yang melakukan ini, Mami menarik Bu Retno ke perusahaannya dan harus melepaskan perusahaan kita."
Kania memejamkan matanya seraya berpaling, apa lagi yang dilakukan Inggrid, kenapa bisa wanita tua itu bertingkah sampai seperti itu.
Bahkan perusahaan Bian pun belum dikembalikan, dan sekarang Inggrid berusaha menjatuhkan perusahaan milik Kemal, sangat tidak waras.
"Aku akan temui Mami sekarang."
"Untuk apa, kamu mau membuat semua semakin berantakan?"
"Lalu kita harus apa, Papa mau melepasnya begitu saja, kalau mau dapat untung itu cari jalan sendiri, bersih, jangan mengganggu ketenangan orang lain seperti ini, lagi pula perusahaan Mami sudah sangat sukses."
"Bian pasti berulah lagi, dan Mami berfikir kalau kita tidak bisa mengingatkannya."
Kania kembali diam, Bian lagi, apa yang dilakukannya sekarang, apa mungkin soal Vanessa atau ada hal lainnya lagi.
Kania menarik nafasnya dalam, ya .... Kania memang belum bertemu lagi dengan lelaki itu, dan Kania belum dapatkan penjelasan apa pun dari anaknya itu.
__ADS_1