Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Melupakan Itu


__ADS_3

Saat dini hari, Frans terbangun dari tidurnya, mata yang terpejam tak lantas membuatnya terlelap.


Frans masih saja memikirkan Isma yang entah dimana, sampai saat ini polisi belum juga menemukan mereka berdua.


"Dimana Mama."


Frans meraih ponselnya, ia membuka kembali pesan yang dikirimkan Isma sewaktu pagi kemarin.


Sial, Frans telat membukanya sehingga ia tak sempat menyelamatkan Isma dengan cepat.


"Kemana aku harus mencari Mama sekarang."


Frans melihat jam di meja sampingnya, ia memejamkan matanya sesaat, tenang tetap tenang tapi Frans tidak bisa menghilangkan gelisahnya.


Frans berkutat dengan ponselnya, dengan otak yang terus saja berputar mencari cara dan untuk menemukan Isma.


"Ahh bodoh sekali," umpat Frans.


Kenapa tidak terfikir tentang lokasi di ponsel Isma, Frans memeriksanya dan nasib baik itu bisa terbaca dengan jelas.


"Jauh sekali," ucapnya pelan.


Frans kembali melihat jam di sampingnya, jika menunggu terang, mungkin saja cerita akan berubah dan bisa saja tempat akan berganti.


Frans turun, ia mengambil jaket dan kunci mobilnya, dengan tergesa Frans pergi meninggalkan rumahnya.


"Bian, dia harus mau pergis sekarang, tidak ada waktu lagi jika memang mau Zahra segera kembali."


Laju mobil Frans melebihi aturan, ia tak perduli, jalanan yang kosong tentu saja mendukungnya untuk cepat sampai di rumah Bian.


"Tidak ada kontaknya, itu artinya aku harus mengganggu mereka semua."


Frans menghentikan laju mobilnya, ia melihat rumah Bian di sana, mungkin memang tidak sopan tapi mereka harus mengerti dengan tujuan kedatangannya.


Frans keluar, ia berjalan dan menekan bel dari balik gerbang, berulang kali karena tidak juga ada yang membuka pintu.


"Ah, apa benar mereka bisa tidur nyenyak setelah Zahra menghilang, hebat sekali mereka semua."


Tangannya terus saja bergerak menekan bel, ia tidak akan berhenti sampai ada yang menemuinya.


"Bian, bisa sekali kamu mengabaikan Zahra."


Pintu tampak terbuka, Frans menurunkan tangannya, bagus mereka keluar bersamaan.


"Siapa itu?" tanya Inggrid.


"Tidak tahu Bu, sebentar."


Nur berlalu dan membuka gerbang, ia sedikit heran dengan kedatangan Frans saat dini hari seperti saat ini.


"Den Frans."


"Aku harus bawa Bian pergi, katakan sama dia ini soal Zahra."


Nur mengangguk, ia lantas kembali pada Inggrid dan Bian.


"Siapa?" tanya Bian.


"Den Frans, katanya mau ajak Den Bian pergi sekarang, ini soal Non Zahra."


Bian dan Inggrid saling lirik, lelaki itu mendapatkan informasi terbaru.

__ADS_1


"Oma ikut."


"Tidak perlu, Oma tunggu saja di rumah."


"Bian."


"Tidak, aku tidak tahu akan seperti apa nanti, jadi jangan membuat ku repot."


Inggrid diam, ia membiarkan Bian pergi begitu saja, tidak ada apa pun yang dibawa Bian saat ini.


"Bagaimana, kamu dapat kabar baik?"


"Tidak ada kabar yang aku dapat, tapi aku mendapat lokasi Mama."


"Benarkah?"


"Tempatnya jauh, sepertinya mereka keluar dari Kota ini."


Bian mengernyit, pantas saja Vanessa menolak saat diajak bertemu, dan alasannya pun sedang di luar kota.


"Apa yang kamu fikirkan sekarang?" tanya Frans.


"Segera pergi."


Frans mengangguk, keduanya lantas memasuki mobil, Bian benar-benar melupakan barang yang mungkin penting untuk dibawa.


Mereka pergi begitu saja tanpa pamit pada Inggrid dan Nur di sana, biarkan saja dua wanita itu pasti akan mengerti juga dengan keadaan saat ini.


"Ibu, ayo masuk."


"Harusnya saya ikut."


Inggrid menggeleng, ia juga ingin melihat Zahra segera, mengetahui keadaannya dengan cepat.


Nur menghembuskan nafasnya perlahan, saat ini mereka hanya bisa berdoa saja, biar Bian dan Frans yang akan membawa mereka kembali.


"Ayo Bu, angin malam tidak baik untuk Ibu."


Nur membawa Inggrid masuk, ia menutup dan mengunci pintunya, lantas mengantarkan Inggrid ke kamarnya lagi.


"Istirahat lagi, Bu."


"Saya akan menunggu kabar dari Bian."


"Kita tidak tahu kemana mereka akan pergi, sebaiknya kita menunggu mereka pulang saja, Ibu juga harus perhatikan kondisi Ibu disini."


Inggrid tak menjawab, bukankah ia baik-baik saja sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan darinya saat ini.


Yang seharusnya dikhawatirkan adalah Zahra, dan sekarang Bian pun turut pergi, akan seperti apa keadaan mereka di sana nantinya.


 


"Zahra, kamu baik-baik saja?" tanya Isma.


Zahra mengangguk, kali ini mereka memang ditempatkan di ruangan yang sama, meski dengan tetap terikat, tapi mereka bisa saling melihat.


"Perut mu sakit?"


Zahra kembali mengangguk, mereka ditinggalkan begitu saja tanpa bekal apa pun juga.


"Siapa mereka, kamu mengenal mereka?"

__ADS_1


"Dia wanita yang menginginkan Bian, apa Ibu bertemu dengannya?"


"Tidak, hanya ada dua orang itu saja."


Zahra diam, baguslah kalau memang seperti itu, dengan begitu Isma akan tetap baik-baik saja.


"Apa tidak ada yang bisa membantu kita?"


"Frans akan datang, tenang saja dia hanya belum menemukan caranya."


Zahra kembali diam, bagaimana dengan Bian, apa lelaki itu tidak mengkhawatirkannya sama sekali.


Atau mungkin Bian sedang bersama Vanessa sekarang, bukankah wanita itu sudah tidak terlihat lagi oleh Zahra.


"Zahra."


"Emmm."


"Apa pernah seperti ini sebelumnya?"


"Dia yang memukul ku, bukankah aku sudah bercerita."


Isma mengangguk, Zahra memang sudah membuka semuanya tentang Bian dan Zahra.


Sesuai dengan yang dikatakan Frans pada Bian, jika Zahra tidak sulit dan ragu untuk bercerita tentang semuanya.


"Apa Bian juga masih menginginkan wanita itu?"


"Aku tidak tahu, Bian selalu mengatakan tidak, tapi aku tidak tahu itu benar atau bohong."


Zahra memejamkan matanya sesaat, sakit sekali perutnya saat ini, kepalanya juga mulai pusing.


"Kamu pasti lapar, bahkan tidak ada minum sama sekali disini."


"Kenapa ikatan ini sulit sekali dilepas."


"Diamlah, itu hanya akan melukai mu saja."


Zahra menunduk, siapa yang akan menolongnya sekarang, kasihan Inggrid pasti sedang mengkhawatirkannya.


Wanita tua itu akan terganggu kesehatannya jika terlalu stres, Zahra melihat sekitar, tidak ada jalan keluar selain dari pada pintu itu.


Apa yang bisa dilakukannya sekarang, Zahra ingin pergi dari ruangan tersebut, tapi bagaimana caranya.


"Zahra, apa kamu tidak membawa ponsel?"


"Ponsel ku diambil Vanessa."


Isma mengangguk, sebenarnya ada ponsel di sakunya, tapi cukup sulit untuk meraihnya.


"Mama ada ponsel di saku, tapi susah untuk mengeluarkannya."


Zahra mengangkat kedua alisnya, benarkah seperti itu, kenapa Isma tidak bicara sejak tadi.


"Apa Mama bisa bergeser kesin?"


"Tidak bisa, ikatannya kuat pada meja ini."


Zahra diam, ia juga tidak bisa bergeser karena diikat pada ranjang besi di belakangnya, tempat apa ini sebenarnya.


Bisa sekali Vanessa menemukan tempat seperti ini, dan dimana mereka sekarang, tidak adakah keperdulian sama sekali untuk sekedar memberinya minum.

__ADS_1


__ADS_2