
Saat malam tiba, Kemal dan Kania kembali datang ke rumah itu, mereka menunggu Bian di rumah tapi tak kunjung datang, akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi rumah tersebut.
Kania menekan bel dan terdiam menunggu pintu terbuka, tak harus menunggu lama karena pintu memang langsung terbuka.
"Ibu, Bapak."
"Bian, disini?" tanya Kania.
"Den Bian, tidak ada, sudah pergi sejak tadi sore."
"Pergi, sama Ayra juga?"
"Tidak, hanya sendiri saja."
"Lalu Ayra?"
"Non Ayra ada di atas, tadi Den Bian pesan agar Non Ayra tidak keluar kecuali kalau Den Bian yang ajak."
Kania tersenyum dan mengangguk, sampai seperti itu Bian menjaga wanitanya, baguslah Kania senang mendengarnya.
"Istimewa sekali wanita itu, padahal tidak jelas asal usulnya."
Kania menoleh dan menggeleng, Kemal masih saja marah pada wanita itu.
"Sudahlah Pah, mau sampai kapan seperti ini, Bian kan sudah putuskan pilihannya pada Ayra, kita hanya harus mendukungnya saja."
"Mamah saja dukung, wanita gak jelas mana bisa Papah terima jadi menantu."
Kania mengangguk, itu memang benar, tapi ya sudahlah, lama-lama waktu sendiri yang akan merubah semuanya.
"Ya sudah Bi, saya masuk ya mau ketemu Ayra."
"Silahkan, Bu."
Kania lantas masuk dengan mengajak Kemal juga, mereka naik ke lantai atas karena katanya Ayra memang ada di sana.
"Yang ini kan kamarnya?" tanya Kania.
Kemal hanya mengangkat sekilas kedua bahunya, untuk apa Kemal memikirkannya, lagi pula siapa dia bisa seenaknya saja tinggal di rumah tersebut.
Kania mengetuk pintu kamar itu dan terdiam menunggu, mungkin saja Ayra sedang istirahat sehingga cukup lama membukakan pintunya.
Saat Kania hendak mengulang ketukannya, pintu terbuka dan menunjukan sosok Zahra di sana.
Mereka sama-sama terdiam dengan tatapan satu sama lain, siapa yang mereka lihat sekarang, kenapa jadi wanita itu, lalu kemana Ayra.
"Om, Tante."
"Ngapain kamu disini?" tanya Kemal.
Zahra tak menjawab, kenapa Bian tidak katakan jika mereka akan datang malam ini, dan kemana Bian kenapa belum juga kembali.
"Jangan bilang kalau kamu itu Ayra," ucap Kania.
Zahra masih tetap diam, jantungnya kini telah bergemuruh hebat, Zahra takut menghadapi mereka berdua.
"Jawab!" bentak Kania.
__ADS_1
Zahra menunduk beberapa saat, dan mengangguk seraya kembali menatap Kania.
Kemal sedikit tertawa seraya berbalik membelakangi Zahra.
"Kamu lihat sendiri sekarang, memang ada yang tidak beres dari wanita itu."
Kania menoleh tanpa mengatakan apa pun juga, Kemal berlalu begitu saja meninggalkan semuanya, sekarang Kemal yakin jika Kania bisa mewakili kemarahannya pada wanita itu.
"Om, Om tunggu."
"Diam kamu."
Kania menahan Zahra yang hendak menyusul Kemal, Kania mendorong Zahra memasuki kamar dan menutup pintunya lagi.
"Tante, aku bisa jelaskan semuanya."
"Jelaskan apa, bisa-bisanya kamu melakukan semua ini terhadap saya dan suami saya."
"Tante, aku cuma ...."
"Siapa nama kamu?"
"Ayra."
"Jangan bohong."
"Aku gak bohong, aku Ayra, Ayrazahra."
Kania memejamkan matanya sesaat, bisa sekali Bian melakukan semua itu, padahal Bian tahu siapa wanita itu.
Plak .... Kania begitu saja menampar Zahra tanpa berniat mendengarkannya terlebih dahulu.
"Kenapa kamu melakukan ini, kamu masih menginginkan rumah ini, apa kamu tidak mengerti dengan alasan kenapa rumah ini menjadi milik kami."
Zahra tak menjawab, hanya diam menunduk dengan tetap menyentuh pipinya.
"Kamu sudah mempermalukan saya di depan keluarga Sintia, kamu sudah membohongi saya dan suami saya, apa maksud kamu?"
Zahra memejamkan matanya, apa Kania tidak bisa bicara lebih lembut padanya, kenapa harus terus membentaknya seperti itu.
"Jawab, apa maksud semua ini?"
Kania mengoyak pundak Zahra yang hanya diam saja, kenapa Kania tidak bisa mengenali jika Ayra adalah wanita yang telah diusirnya beberapa waktu lalu.
"Apa Bian tahu ini, apa Bian tahu siapa kamu?"
"Bian tahu."
"Jangan bohong kamu, kamu sengaja kan mau membohongi Bian juga."
"Gak sedikit pun Tante, aku gak berniat membohongi Bian atas semua ini."
"Kamu fikir saya percaya, kamu sengaja kan mendekati Bian demi bisa tetap tinggal di rumah ini, atau mungkin berharap bisa kembali memiliki rumah ini."
Zahra menggeleng, Zahra memang menginginkan rumah itu lagi, tapi Zahra tidak membohongi Bian.
"Bian tahu tentang ini, dan Bian yang telah membuat semua ini terjadi."
__ADS_1
"Kamu sekarang menyalahkan anak saya, Bian tahu siapa kamu, dan mana mungkin Bian begitu saja mau menikahi kamu, apa yang sudah kamu lakukan sama anak saya?"
"Aku gak melakukan apa-apa, Bian menginginkan ini sendiri, bukan karena permintaan aku."
Plakk .... tamparan kedua telah berhasil di dapatkan Zahra, kini air mata Zahra tak lagi bisa ditahan.
Rasanya sakit sekali, kenapa bisa Kania melakukan semua itu, padahal Zahra sudah menjawab semuanya dengan jujur.
"Licik sekali kamu, bisa-bisanya kamu mendekati Bian sampai minta dinikahi seperti itu."
"Aku gak pernah minta dinikahi, Tante tolong percaya sama aku."
"Percaya sama kamu, kamu lupa kalau kemarin saya sudah percaya sama kamu, saya setuju dengan Bian memilih kamu."
"Tapi itu bukan paksaan aku."
"Diam, diam kamu."
Zahra kembali menunduk, kemana Bian, kenapa tidak juga datang sekarang.
"Jangan pernah bermimpi, saya akan menerima kamu, kamu dengar baik-baik, kedatangan kamu telah merusak hubungan baik keluarga saya dengan keluarga Sintia, kamu akan menyesal Ayra."
Tak ada jawaban, hanya isakan Zahra yang terdengar saat ini, sepertinya tak ada gunanya juga jika Zahra banyak bicara sekarang.
"Kalau kamu tetap memaksa menikah dengan Bian, kamu akan rasakan sendiri akibatnya, kamu mungkin bisa mendapatkan rumah ini lagi, tapi tidak dengan kebahagiaan kamu yang pernah kamu dapat di rumah ini, ingat itu baik-baik."
Kania lantas berlalu meninggalkan Zahra, tak ada usaha Zahra untuk menghentikan Kania, apa yang bisa dilakukannya sekarang.
Zahra terduduk dengan menyentuh pipinya bergantian, ini kali pertama Zahra mendapatkan perlakuan seperti itu.
Kasar sekali, bahkan orang tua yang telah merawatnya selama hidup, tidak pernah memperlakukannya sekasar itu.
"Bu, minumnya."
"Mana, Bapak?"
"Bapak, tadi keluar."
Kania melanjutkan langkahnya, tanpa peduli dengan minuman yang dibawa mbak rumah.
Kania melihat Kemal bersama dengan Bian di sana, bagus sekali karena Kania bisa melihat anak itu sekarang juga.
"Mamah."
"Bisa sekali kamu bohongi Mamah, kamu bohongi kita semua."
Bian diam, jelas sudah jika mereka telah mengetahui semuanya sekarang, Kania telah berubah dan mungkin saja tidak akan bisa lagi baik pada Zahra.
"Kamu keterlaluan, Bian."
"Mah, Bian lakukan ini karena Bian gak mau menikah dengan Sintia."
"Omong kosong, kamu melakukan semua ini karena kamu memang mau mempermalukan orang tua kamu."
"Gak seperti itu, Mah."
"Diam, lihat saja akan seperti apa setelah ini."
__ADS_1