
Bian berjalan keluar sel, ia dipanggil untuk menemui Kania dan Inggrid, baguslah mereka berdua bisa masuk bersamaan saat ini.
Kania tersenyum saat melihat Bian berdiri di depannya, ia berjalan dan memeluk putranya itu, senang sekali karena masih bisa melihatnya dalam keadaan baik.
"Apa kabar kamu?"
"Seperti ini saja."
Kania mengangguk seraya melepaskan pelukannya, ia kembali mendekati Inggrid.
Bian tampak diam menatap Inggrid, mereka sama-sama diam untuk beberapa saat lamanya.
"Bagaimana dirimu sekarang, sudah tahu kenapa semua ini terjadi padamu?" tanya Inggrid.
Bian tetap diam, ia tidak mau bicara apa pun juga, bukankah baru sekarang mereka bertemu lagi.
"Sudah bisa kamu untuk berubah?"
"Mami."
"Biarkan saja, dia harus tahu diri mulai sekarang."
Kania menggeleng, apa itu tujuan Inggrid untuk menemui Bian, ia hanya ingin mengomeli Bian saja.
Kania meminta Bian untuk duduk, akan lebih baik jika mereka bicara sambil duduk, itu bisa lebih tenang lagi.
"Apa Zahra tidak mau kesini sampai sekarang?" tanya Bian.
"Apa menurut mu dia akan mau lagi melihat mu?" tanya balik Inggrid.
"Mami, sudahlah, jangan buat keadaan jadi buruk."
"Dia masih berharap belas kasihan Zahra, tapi dia sendiri tidak pernah memperlakukan Zahra dengan baik."
Bian mengangguk perlahan, ia juga menunduk, selama ada dalam sel, Bian telah memikirkan semuanya.
Sedikit banyak Bian mengakui kesalahannya, meski masih ada sisi lain yang menyimpan dendam terhadap Zahra.
"Bian, Ayra titip pesan buat kamu."
"Apa?"
"Dia minta agar kamu tetap baik-baik saja disini, dia juga mengatakan kalau dia merindukan mu."
"Sayangnya itu hanya sandiwara," sahut Inggrid.
Keduanya menoleh bersamaan, kenapa Inggrid masih saja seperti itu, tidak bisakah bicara lebih tenang lagi.
Kania ingin pertemuan mereka kali ini adalah kebaikan, jadi bisakah tanpa harus ada keributan.
__ADS_1
"Sebaik apa pun Istri mu itu, dia tetaplah memiliki pilihan dalam hidupnya, kamu bangga karena dia begitu mendambakan mu, sehingga kamu merasa berhak untuk melakukan semua keinginan mu, dan sekarang lihat hasilnya."
Bian tetap saja diam, tidak ada yang bisa dikatakannya, sedikit kesadarannya mampu membuat Bian untuk diam saja.
Inggrid berpaling sesaat, ia sedikit heran dengan Bian yang seperti itu, bukankah sebelumnya itu selalu bicara dengan kepala tegap.
"Ayra tidak akan membiarkan mu lama disini, kamu harus yakin itu, dia sedang berusaha untuk mengembalikan keadaan," ucap Kania.
"Itu tidak akan terjadi, dia sudah katakan kalau Bian akan bebas oleh hukum itu sendiri, bukan oleh Ayra," sahut Inggrid.
Kania menunduk sesaat, sebegitu tidak ingin Inggrid melihat kebebasan Bian, kenapa wanita itu sepertinya lebih ingin jika Bian terus ditahan.
"Kenapa Zahra tidak pernah kesini?" tanya Bian.
"Dia ...."
"Dia sudah benci dengan mu," sela Inggrid.
"Tidak, Ayra hanya sedang tidak baik-baik saja."
"Kenapa dia?"
"Jelas saja dia menderita karena mu, bodoh sekali pertanyaan mu itu," sela Inggrid.
Nada bicaranya mulai tak tenang, Kania dan Bian menatapnya bersamaan, bagaimana kalau Inggrid justru drop lagi sekarang.
"Tidak bisakah kamu perduli dengannya, sedikit saja berikan dia keperdulian dengan ketulusan mu, apa dirimu sekarang tidak punya lagi perasaan?" tanya Inggrid.
"Aku minta maaf."
"Tidak ada gunanya, sampai kamu bersujud pun, tidak akan bisa menghilangkan kekecewaan Istri mu."
"Mami, jangan seperti ini, Mami juga belum benar-benar sehat."
"Biarkan saja, menghadapi anak mu ini memang susah untuk baik-baik, dia selalu membuat keadaan menjadi tidak baik, kamu harusnya sadar jika kekacauan keluarga kita adalah ulah anak mu, bukan menantu mu."
Kania diam, apa lagi yang harus diragukan, Inggrid sekarang memang lebih menyayangi Zahra dari pada Bian.
Iya, Kania akui memang Zahra begitu pintar menarik perhatian Inggrid, wanita itu memang manis dalam bersikap dan bertutur kata.
Kehebatannya dalam berpura-pura, sudah berhasil membuat Inggrid begitu menyukainya, kesabaran Zahra memang sudah seharusnya dihargai.
"Lalu aku harus apa, aku tidak bisa menemuinya," ucap Bian.
"Dia juga tidak mau ditemui oleh mu," sahut Inggrid.
"Ayra pasti akan kesini esok hari," ucap Kania.
"Dan berharaplah kamu sebesar mungkin, agar kamu bisa merasakan kekecewaan yang tak kalah besar nantinya," sahut Inggrid.
__ADS_1
Bian kembali menatap Inggrid, iya Bian malu dengan semuanya, dia memang sudah kalah dari wanita itu, bocah yang dipaksa untuk menikah dengannya memang lebih mampu menjalani hidup dengan baik.
"Apa kamu mau marah, marah saja sekarang, agar jelas jika kamu memang tidak bisa berubah, otak mu itu tetap saja tidak berfungsi."
Bian memejamkan matanya sesaat, bisa sekali Inggrid bicara seperti itu padanya, padahal dulu Inggrid selalu berusaha melakukan semuanya untuk Bian.
Kania merapatkan bibirnya, apa sebaiknya mereka pulang saja, Inggrid akan semakin kacau jika terus ada di depan Bian.
"Kamu harusnya bisa lebih dewasa dalam bersikap, apa kamu tidak malu saat harus melawan Zahra, dia hanya anak kecil yang sepantasnya kamu lindungi."
Bian kembali menunduk, perasaannya semakin kacau saat ini, kalau pun memang Zahra ada di hadapannya, belum tentu Bian bisa bicara dengannya.
Mungkin sama halnya dengan Inggrid sekarang, Bian hanya akan mendengarkan omelan Zahra saja.
"Masih tidak mengerti kamu?" tanya Inggrid.
Bian menggeleng, tiba-tiba saja ia bangkit dan berlutut di hadapan Inggrid, ia menunduk dipangkuannya.
Inggrid dan Kania saling lirik, apa mereka tidak salah dengar, benarkah Bian menangis sekarang.
"Bawa dia ke hadapan ku, aku akan minta maaf padanya."
Tak ada jawaban, keduanya diam saja berusaha meyakinkan diri jika Bian tidak sedang bersandiwara.
"Tolong bawa dia kesini, aku akan meminta maaf padanya, apa tidak bisa kalian percaya pada ku?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri, apa masih pantas kamu untuk dipercaya?" tanya Inggrid.
"Bawa dia kesini, aku mohon."
Kania berpaling, ini buruk baginya, bagaimana bisa ia melihat putranya seperti itu.
Kania akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa mengembalikan perasaan Zahra, Kania harus lebih cepat membuat wanita itu luluh dan mau menerima Bian lagi.
"Dimana dia sekarang, tolong katakan pada polisi biarkan aku keluar sebentar saja."
"Dia di Rumah Sakit, untuk kesekian kalinya dia hampir mati karena ulah mu."
Bian tak mau dengar itu, kalimat macam apa itu, kesalahan apa lagi yang dilakukan Bian, bukankah sudah lama ia ada di dalam sel.
Inggrid sedikit mendorong Bian agar menjauh darinya, tidak ada guna seperti itu, Inggrid tidak mau memperdulikannya sama sekali.
"Tolong bawa aku menemuinya, sebentar saja aku mohon."
"Dia tidak akan mau ditemui oleh mu, apa itu terlalu sulit untuk kamu mengerti?"
Bian menggeleng dan melirik Kania, ia menatapnya dengan penuh harap, jika Inggrid tidak bisa membantunya, mungkin saja Kania akan mau membantunya.
Kania menggeleng, ia tidak mau mengambil resiko kalau nanti Zahra akan kembali memanas, sebaiknya mereka menunggu Zahra yang mau mendatangi Bian saja.
__ADS_1