Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Mengganggu


__ADS_3

Tidur Bian harus terganggu oleh kedatangan teman-temannya, Dion sengaja mengabari mereka tentang Bian, agar mereka bisa turut menjenguk Bian.


Mereka begitu ribut menyalahkan Bian atas kecerobohannya menyetir, entah sampai kapan karena itu masih belum berubah sampai sekarang.


"Bagaimana ini rasanya?"


Bian meringis saat kakinya dengan sengaja di pukul oleh temannya, melihat hal itu yang lain justru mentertawakannya.


"Seharusnya sejak awal kau sudah fikirkan, jika keadaan ini sangat menyakitkan."


"Apa tangan mu tidak bisa diam?" tanya Bian kesal.


Mereka dengan sengaja melakukan itu terus menerus, kenapa mereka jahat sekali.


Dion melihat sekitar, kemana Zahra, kenapa ia tidak ada di sana, bukankah semalam ia masih bertahan dengan Bian.


"Kau ditinggal sendiri sekarang, apa mereka tidak perduli lagi setelah kesadaran mu kembali?" tanya Dion.


"Dia memang tidak perlu diperdulikan, lelaki keras kepala selalu bisa melakukan semuanya sendiri."


"Itu benar, dan memang sebaiknya dia dibiarkan sendiri."


"Diamlah, berisik sekali kalian ini."


Mereka tersenyum bersamaan, dengan kompak mereka terlambat datang ke kantornya.


Sejak mendapat kabar dari Dion semalam, mereka langsung merencakan kedatangan pagi ini.


Dan sekarang mereka benar-benar berkumpul bersama dengan pasiennya, ledekan demi ledekan terus mereka lontarkan pada Bian.


"Aku baik-baik saja, kenapa kalian ini berisik sekali."


"Kalau begitu, ayo kita lari pagi."


"Mana bisa, kaki ku sakit sekali."


"Kepala ku juga masih pusing."


"Tenaga ku belum pulih total."


Bian menatap mereka semua dengan jengkel, sengaja sekali mereka mengejeknya seperti itu.


Melihat tatapan Bian, mereka justru tertawa kompak, itu lelucon bagus bagi mereka, kebersamaan mereka adalah ledekan yang membahagiakan.


"Mana Istri mu, kenapa kamu ditinggalkan sendiri disini, apa dia sudah tidak perduli, dia tidak lagi mau dengan mu?"


Dion mengangguk pelan, itu mewakili pertanyaan yang ingin dilontarkannya, Dion ingin tahu dimana Zahra sekarang.


Seharusnya wanita itu tetap ada di samping Bian, setelah semua ketakutan dan kekhawatirannya kemarin, kenapa sekarang justru Zahra meninggalkannya.


"Mana dia, kenapa diam saja?"


"Untuk apa mempertanyakannya, lebih baik kalian pergi saja."


Mereka saling lirik mendengar jawaban Bian, benarkah lelaki itu mengusir mereka, sangat tidak tahu terimakasih.


Bian menghembuskan nafasnya berat, kemana juga Zahra, ia sendiri tidak tahu kemana perginya wanita itu.


"Ada apa, gelisah sekali?"

__ADS_1


"Diamlah, kalian hanya mengganggu istirahat ku saja, lebih baik kalian pergi, bukankah ini jam Kantor?"


"Tepat sekali, kita akan pergi karena kita bukan pengangguran seperti itu."


Mereka sedikit tertawa, kalimat itu cukup membuat Bian kesal, masih saja mereka mengejeknya.


Lihat saja, sebentar lagi Bian juga akan jadi orang sibuk, bukankah Zahra sudah kembali padanya.


Bian sedikit tersenyum, kali ini Bian yakin jika kesempatannya atas perusahaan akan semakin besar, keadaannya saat ini akan sangat membantu Bian.


"Aku kembali."


Mereka menoleh bersamaan, Zahra terdiam saat melihat mereka semua, tentu saja Zahra tahu siapa mereka bagi Bian.


Zahra tersenyum menyapa mereka, dengan langkah kecil, Zahra berjalan menghampiri Bian.


Dion tersenyum, akhirnya ia bisa melihat Zahra di pagi harinya, wanita itu terlihat sangat baik-baik saja sekarang.


"Hey, apa kamu tidak pusing mengurus dia?"


Zahra menoleh, apa maksudnya, bisa sekali melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Dia itu keras kepala, harusnya kamu biarkan saja dia sendiri."


"Ah, dia pasti sangat merepotkan mu."


"Sudahlah, bahagiakan dirimu sendiri."


Zahra menggeleng, ia menyimpan kotak makan yang dibawanya dari rumah, apa yang mereka katakan tidak mau Zahra respon.


Biarkan saja mereka dengan keinginannya sendiri, karena Zahra juga akan mempertahankan keinginannya sendiri.


"Kamu sendiri kesini?" tanya Bian.


"Kamu tidak kesana?"


"Tidak, Oma tidak mengizinkan aku kesana."


Bian mengangguk, baguslah, setelah ini Bian akan kembali meminta haknya atas perusahaan.


Bian tidak mau terus menerus di rumah tanpa kesibukan apa pun, dan Bian juga tidak mau jika harus bekerja di perusahaan orang lain.


"Kamu mau makan sekarang?"


"Ya maulah, sekalian buat kita."


"Berisik sekali, sebaiknya kalian pergi saja sekarang, sana pergi."


Bian melemparkan bantal pada temannya itu, lama-lama Bian akan benar-benar marah, mereka telah merusak pagi harinya.


Zahra hanya menggeleng melihat itu, apa seperti itu kebersamaaan mereka, Bian selalu ingin kebersamaan itu padahal hanya kalimat menjengkelkan yang terdengar.


"Sana pergi, siapa yang mengundang kalian kesini?"


"Dion, dia yang mengundang kita kesini."


"Ah harusnya kau tak melakukan itu."


Zahra melirik Dion yang juga melirik kearahnya, keduanya tersenyum bersamaan, senang sekali karena Zahra masih mau memberikan senyum padanya.

__ADS_1


Dion berpaling, apa pun itu, mereka tidak boleh melihatnya, apa lagi sampai berfikir hal yang tidak seharusnya.


"Kamu bawa apa?" tanya Bian.


"Hah, bawa ini, makanan buat kamu, tadi Mbak sudah siapkan semuanya."


"Kenapa tidak kamu yang memasak?"


"Aku bangun kesiangan, dan makanan sudah siap semuanya."


Bian mengangguk, ya terserahlah, lagi pula bukankah Zahra tidak bisa memasak, dia malas untuk memasak.


Zahra membuka kotak makannya, sebaiknya makanan itu segera dimakan saja sebelum dingin.


"Kalian makan juga?" tanya Zahra.


"Sebaiknya memang makanan itu berikan saja pada kami."


"Itu benar, kita orang sibuk jadi harus makan pagi-pagi, sedangkan dia tidak ada guna."


Zahra tersenyum, Bian semakin kesal saja dengan ocehan teman-temannya itu, jika saja kakinya tidak bermasalah, Bian sudah memukulnya.


Nasib baik kaki Bian sedang sakit, sehingga mereka bisa bebas mengejeknya saat ini.


"Sudahlah, ayo kita pergi, sudah terlalu lama kita disini," ucap Dion.


"Itu yang paling benar," sahut Bian.


Mereka setuju saja karena memang itu yang seharusnya, mereka pamit masih dengan memukul kaki Bian.


Melihat lelaki itu meringis, mereka tertawa penuh kepuasan, Zahra juga tidak bisa berpura-pura jika itu terasa lucu baginya.


Senyuman Zahra perlahan menghilang saat Dion menatapnya, lelaki itu seperti tidak ingin pergi, tapi Zahra tidak mau berkata apa pun atau Bian akan marah padanya.


"Berhanti menatapnya seperti itu," ucap Bian.


Zahra mengalihkan pandangannya pada lantai, sedangkan Dion langsung keluar menutup pintu.


"Bisa sekali kamu seperti itu."


Zahra menoleh, ia tidak ingin ribut dipagi hari seperti saat ini.


"Aku minta maaf, tidak ada maksud apa pun."


"Kesempatan dalam kesempitan."


"Kenapa sih, baru juga bangun sudah marah saja."


Bian berdecak, apa yang dilihatnya cukup membuat kesal, Bian tidak suka itu.


Sebaiknya Zahra dan Dion tidak perlu bertemu lagi, mereka tidak ada urusan apa pun meski untuk alasan sekecil apa pun.


"Kamu mau makan sekarang?"


"Jelas saja, aku sudah lapar sejak tadi."


"Mau makan sendiri?"


"Aku sedang sakit, apa kamu tidak mengerti?"

__ADS_1


Zahra tersenyum seraya mengangguk, baiklah kalau memang seperti itu, Zahra akan memperlakukannya seperti orang sakit.


Zahra menyuapi Bian dengan hati-hati, tentu saja itu membuat Zahra merasa senang sendiri.


__ADS_2