Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tetap Akan Kembali


__ADS_3

"Kamu pergi saja, ini sudah siang."


"Tidak, aku sudah katakan kalau aku tidak akan masuk hari ini."


Zahra diam menatap Dion, kenapa Dion harus melakukan itu, padahal Zahra sudah katakan hanya ingin waktu sendiri saja.


"Tidak masalah, aku bisa ganti hari ini dengan hari yang lain, kamu tidak perlu merasa bersalah."


"Kalau kamu tidak pergi, biar aku saja yang pergi."


"Jangan seperti itu, kamu diam disini, jangan kemana-mana sebelum keadaan kamu membaik."


Zahra diam, tempat Dion memang menjadi pilihan pertama yang hinggap difikirannya, Zahra tidak ada siapa pun setelah Inggrid.


Saat Zahra datang, Dion sudah bersiap untuk pergi ke kantor, tapi ternyata Dion membatalkannya karena ingin menemani Zahra saja.


Sekarang, Zahra sudah sedikit lebih tenang, tak ada Bian sangatlah mampu membuat Zahra mengembalikan ketenangannya dengan mudah.


"Jadi, ada apa, sekarang kamu sudah bisa cerita?"


Zahra diam, sejak tadi Zahra memang terus saja menangis, banyaknya pertanyaan dari Dion tak mampu dijawab meski hanya salah satunya saja.


"Zahra, bukankah kamu percaya sama aku, kamu bisa ceritakan apa pun yang jadi beban kamu, ayo katakan."


"Aku tidak akan bisa meninggalkan lelaki itu."


"Apa maksudnya, aku tahu kalau memang kamu sudah menginginkannya."


"Tapi aku tidak mau terus seperti ini."


"Seperti ini apa, aku tidak tahu apa yang terjadi."


"Kenapa dia selalu saja kasar?"


Dion berpaling sesaat, jadi tangis Zahra adalah karena sikap kasar Bian, berani sekali lelaki itu.


"Kenapa tidak bisa menghargai aku sedikit saja, kenapa dia selalu memaksakan semuanya sesuai dengan keinginannya saja."


Dion mengusap pundak Zahra, bisakah jika Zahra tidak perlu menangis lagi, ia pasti akan kesulitan berbicara jika harus menangis lagi.


"Sabar dulu, cerita dulu, tenang jangan terlalu menggebu."


"Dia sudah kurang ajar, dia sama sekali tidak menghormati aku."


Dion menyipitkan matanya, fikirannya seketika kabur, Dion jadi kembali teringat dengan apa yang dilihatnya sebelum hari pernikahan Zahra dan Bian.


"Dia sangat bodoh untuk mengerhargai perempuan, apa dia tidak pernah berfikir sedikit saja tentang apa yang menjadi keinginan ku."


"Bian memang keras, aku tahu itu, tapi aku tidak pernah melihat dia memiliki kekasih, sehingga aku tidak tahu bagaimana cara dia memperlakukan wanita."


"Tapi pernah ada Sintia yang begitu mengejarnya."


"Bian mengabaikannya, aku berfikir semua karena Bian tidak bisa menerimanya, makanya Bian bersikap seperti itu."

__ADS_1


"Bian juga tidak menginginkan aku, pantas saja dia seperti itu juga padaku."


"Apa yang dilakukannya?"


Zahra menelan ludahnya, matanya terpejam, semua yang dilakukan Bian terhadapnya kembali menari diingatannya.


Zahra tidak bisa terima dengan semua itu, Bian sudah merenggut semuanya dengan tidak hormat.


"Zahra."


Zahra menunduk, ia menutup muka dengan kedua tangannya, tangisnya kembali terdengar, semakin dalam dan pilu lagi.


"Zahra, jangan membuat aku befikir buruk, katakan agar semuanya jelas."


Zahra menggeleng, apa pun yang difikirkan Dion pastilah benar, bukankah Bian memang kurang ajar sama seperti sebelumnya.


"Zahra."


Dion menggeleng, ia menarik Zahra ke dalam pelukannya, sesulit itu untuk Zahra berbicara, apa begitu buruk perlakuan Bian terhadapnya.


"Aku ingin membunuhnya semalam, aku ingin menyakitinya dengan semua yang bisa aku lakukan, semua yang tak pernah dia bayangkan, aku ingin melakukannya."


Dion diam, sepertinya Zahra akan mengatakan semuanya, dan semoga saja apa yang akan didengarnya tidaklah sama dengan apa yang difikirkannya saat ini.


"Aku ingin membunuhnya, tapi kenap aku tidak bisa melakukannya, kenapa?"


"Suttt, kamu yang tahu jawabannya, tanyakan pada dirimu sendiri."


"Tapi aku membencinya, aku tidak bisa terima semuanya, dia sangat kurang ajar."


Bukan menjawab, Zahra justru semakin menangis, tangisan yang membuat tangan Dion perlahan mengepal, apa salah jika Dion membenarkan semua yang difikirkannya saat ini.


"Dia benar-benar buruk."


"Kenapa kamu tidak melawannya, kamu bisa lari darinya Zahra."


Tak ada jawaban, Dion mengusap wajahnya kesal, jadi Bian sudah mendapatkan semuanya, dia sudah menyentuh Zahra sepenuhnya, bagaimana bisa lelaki itu melakukannya.


"Kamu juga menginginkannya bukan, kamu sama menginginkannya sehingga kamu diam saja saat Bian melakukannya."


Zahra seketika melepaskan pelukan Dion, ditengah isakan kemarahannya Zahra berusaha sabar menatap Dion.


Kalimat Dion terasa sangat merendahkannya, bukankah Dion tahu jika pernikahan itu bukanlah yang sebenarnya.


"Kamu menyukainya, dan kamu juga mulai menginginakannya, pantas saja kamu menerimanya."


Zahra tak bergeming, apa benar Dion sedang merendahkannya saat ini, kalimat itu dirasa sangat tidak menghargainya.


"Kenapa Zahra, apa yang aku katakan benar?"


"Sempit sekali fikiran mu, aku berterimakasih."


Zahra bangkit dan berlalu begitu saja, Dion memukul meja di hadapannya, jengkel sekali Dion dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Zahra."


Dion bangkit dan menyusulnya, ia menarik Zahra yang telah keluar dari rumahnya.


"Lepas, aku akan pergi dari sini, tidak perlu repot berfikir tentang hal lainnya lagi."


"Zahra, aku minta maaf."


"Lepas, aku harus pulang."


"Zahra, aku sudah bilang kamu tidak boleh kemana-mana sekarang."


Zahra berusaha menarik tangannga agar terlepas dari tahanan Dion, tapi semakin kuat Zahra berusaha, semakin kuat juga tenaga Dion menahannya.


"Lepas, apa kamu tidak dengar?"


"Kamu akan kembali pada lelaki itu, kamu akan kembali bersama dia?"


"Tentu saja, bukankah dia Suami ku."


"Omong kosong!" bentak Dion.


Zahra memejamkan matanya seraya menunduk, ia tak lagi menarik tangannya agar terlepas dari Dion.


"Jangan pernah menyebut dia Suami mu di depan ku lagi, apa kamu dengar?"


"Bagaimana bisa seperti itu."


"Kenapa harus tidak bisa, dia tidak menginginkan kamu, dan akan selamanya juga seperti itu."


Zahra menarik tangannya sekaligus, tenaga Dion yang berkurang cukup memudahkannya untuk lepas.


"Aku memang salah karena sudah datang kesini, seharusnya aku ingat jika pertemuan kita hanya akan membuat mu kecewa."


"Apa lagi maksud kamu?"


"Aku memang tidak suka dengan perlakuan Bian, tapi aku menginginkannya, aku tidak bisa pergi begitu saja."


"Zahra, dengan Bian sudah melakukan semuanya itu tak lantas membuat kamu memaksa untuk tetap tinggal, Zahra hidup kamu masih sangat berarti bagi orang yang bisa menghargai kamu."


"Aku minta maaf sudah mengganggu mu, aku tidak akan lagi seperti ini, aku harus pulang."


"Jangan bodoh, aku minta maaf karena sudah kasar tadi, aku gak bermaksud buruk."


Zahra menggeleng, itu sama sekali bukan masalah, Zahra tidak akan mungkin mempermasalahkan hal seperti itu.


Perlakuan kasar Bian sudah cukup membiasakan Zahra dengan bentakan, tidak ada yang perlu meminta maaf.


"Zahra, aku ...."


"Aku tidak pernah berniat memberi mu harapan, aku datang karena aku fikir aku bisa lebih baik, tapi ternyata aku salah, baik buat ku tak bisa jadi baik buat mu juga, aku akan pulang dan aku akan jalani semuanya sendiri, aku minta maaf."


Zahra berlalu meninggalkan Dion, ia tak perduli dengan panggilan Dion, Zahra harusnya bisa berfikir lebih hati-hati sebelum melangkah.

__ADS_1


Mendatangi Dion adalah keegoisannya sendiri, Zahra hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa berfikir tentang Dion juga.


__ADS_2