
"Sudah siap semuanya?"
"Sudah, Bu."
"Belum ada yang datang?"
"Belum."
Inggrid mengangguk, kemana Kania dan Kemal, kenapa mereka belum juga datang, padahal sudah ditelepon sejak tadi.
"Ya sudah, terimakasih."
Nur lantas berlalu meninggalkan Inggrid, ia akan kembali jika memang ada panggilan.
"Bian dan Zahra juga belum turun, apa mereka tidak merasa lapar sudah malam seperti ini."
Inggrid menggeleng, ia lantas berlalu menaiki tangga, ia akan membangunkan mereka berdua sebelum Kania dan Kemal datang.
Di dalam kamar sana, dua orang itu masih saja terlelap, Bian yang begitu enggan melepaskan pelukannya, dan Zahra juga sepertinya nyaman saja.
"Bian, Zahra, ayo makan dulu semua sudah siap."
Suara Inggrid berhasil mengusik tidur Zahra, ia bergerak perlahan dan sadar jika ada yang menahan tubuhnya, matanya perlahan terbuka dan melihat tangan yang melingkar di perutnya.
"Bian, Zahra," panggil Inggrid lagi.
"Apaan sih ini," ucap Zahra pelan.
Ia masih setengah sadar, matanya pun masih cukup sulit untuk terbuka.
"Kamu begitu mengganggu tidur ku."
Zahra mengernyit, tangan Bian semakin menarik tubuhnya, apa-apaan lelaki ini, sengaja sekali menyentuhnya seperti itu.
"Lepas," ucap Zahra seraya memukul tangan Bian.
"Diam."
"Apaan sih lepas, berani sekali kamu seperti ini."
Zahra menarik tangan Bian, ia berhasil melepaskan tangan itu dari perutnya, tapi Bian justru kembali memeluknya di dada, Bian menahan kedua tangan Zahra juga.
"Bian, ih."
"Diam, jangan ribut, aku masih mau tidur."
Zahra berdecak, memang kurang ajar lelaki itu, ucapannya tidak bisa dipercaya sama sekali, janjinya semua palsu.
"Bian."
Tak ada jawaban, Zahra terdiam beberapa saat, menghadapi orang menjengkelkan memang harus dengan hal yang menjengkelkan juga.
"Bian."
"Suttt."
Bian semakin mengeratkan pelukannya, Zahra memejamkan matanya sesaat, hembusan nafas Bian terasa hangat lehernya.
"Bian, lepas."
Tak ada jawaban, Zahra kembali tersenyum, dengan sengaja dan dengan kuatnya ia menggigit tangan Bian yang begitu kuat memeluknya.
"Aaaa," teriak Bian tak terkontrol.
__ADS_1
Matanya seketika membulat, Bian setengah bangun karena Zahra tidak melepaskan gigitannya.
"Sakit, aah."
"Bian, kamu kenapa, ada apa?" tanya Inggrid.
Bian seketika menutup mulutnya, begitu juga dengan Zahra yang melepaskan gigitannya, keduanya duduk bersamaan dan melirik pintu.
"Bian, Zahra."
Inggrid terus mengetuk pintu itu, teriakan Bian membuanya sedikit panik.
"Bodoh, apa-apaan kamu ini," ucap Bian pelan.
Zahra tersenyum, masa bodoh, siapa suruh kesempatan dalam kesempitan.
"Bian, Oma buka pintunya ya."
Keduanya kembali melirik pintu, apa yang akan terjadi jika Inggrid tahu mereka sedang ribut.
"Rasakan, aku akan bilang kalau kamu kurang ajar," ucap Zahra tak kalah pelan.
Bian mengernyit, bagaimana bisa seperti itu, Inggrid harus tahu kalau mereka baik-baik saja, bahkan romatis, suami istri yang saling menyayangi tentunya.
"Bian, permisi."
Bian menelan ludahnya, ia melirik selimut di belakangnya, hanya itu yang terlintas di otaknya saat ini.
"Oma, aku ...."
Bian segera membungkam mulut Zahra, ia menarik selimutnya lalu mendorong tubuh Zahra hingga kembali berbaring.
"Emmm, Bian."
Bian menutupi tubuhnya, ia melihat Zahra dan segera menimpa tubuh itu, dua tubuh itu telah tertutupi selimut dengan sempurna.
"Bian, aaa Bian."
Bian menahan kedua tangan Zahra di samping kepala, biarkan saja karena sekarang tubuh Zahra ada dalam kuasanya.
"Jangan kurang ajar kamu, kamu mengulangi kesalahan kamu, berani sekali."
"Tutup mulut mu itu."
"Bian," panggil Inggrid.
Suara Inggrid terdengar bersamaan dengan suara jetrekan pintu yang terbuka, Bian seketika itu menggigit leher Zahra.
"Aaaw aaa, sakit," erang Zahra seraya berontak.
Inggrid yang berhasil masuk seketika terdiam, ia melihat pergerakan asal dibalik selimut itu.
"Sakit, aaa ampun, ia ampun."
Zahra memejamkan kuat matanya, Bian memang keterlaluan, apa dia keturunan vampir.
"Sakit, ampun aaaw."
Inggrid justru menutup mulutnya menahan tawa, apa yang dilihatnya saat ini, mereka sedang melakukannya.
"Pantas saja tidak menjawab ku," ucapnya pelan.
"Sakit, ampun, sakit ah ampun."
__ADS_1
"Semoga kalian berhasil ya, berikan Oma hasil yang bagus."
Bian melepaskan gigitannya, Zahra juga diam, apa itu, bagaimana bisa Inggrid berkata seperti itu.
Tak berselang lama, pintu kembali tertutup, merasa tak ada suara apa pun lagi, Bian melirik Zahra, hal konyol apa ini, begitu dekat wajah mereka saat ini, sampai mereka bisa merasakan hangat hembusan nafas satu sama lain.
Keduanya sama-sama terdiam, tenggelam dalam tatapannya, entah apa yang mereka fikirkan sekarang, yang jelas Zahra merasa jantungnya begitu hebat bergemuruh.
"Ini bisa saja terjadi, kita tidak akan berdosa."
Zahra mengerjap, ia memejamkan matanya sesaat, tidak bisa seperti itu, Zahra tidak boleh hilang kontrol.
"Kurang ajar," umpat Zahra.
Dengan sekuat tenaga ia mendorong Bian hingga terjengkang, Zahra bangun dan kembali mendorongnya hingga jatuh ke lantai sana.
"Aaaa," erang Bian di bawah sana.
Zahra mengernyit, ia melihat kedua telapak tangannya, kuat juga, Zahra bisa mendorong Bian sampai seperti itu.
"Sss aah, sakit bodoh."
Bian bangkit dengan menekan pinggangnya, Zahra seketika berdiri dengan lututnya, lelaki itu bisa saja balik menyerangnya setelah berhasil bangkit.
"Apa kamu gila?"
Zahra mengernyit, kenapa jadi Zahra yang gila, Bian yang sudah kurang ajar padanya.
"Dasar bodoh, tunggu saja pembalasan ku."
Bian berlalu begitu saja, Zahra memutar tubuhnya mengikuti langkah Bian, lelaki itu memang keluar kamar tanpa berkata apa pun lagi, tak ada apa pun juga yang dilakukannya.
"Bodoh," ucap Zahra pelan.
Zahra kembali duduk, ia menarik selimutnya, apa yang terjadi beberapa detik lalu sangatlah di luar pemikirannya.
"Ssss."
Zahra menyentuh lehernya, sentuhan itu semakin membuatnya meringis sakit.
"Bian memang tidak waras, sakit sekali leher ku," omelnya kesal.
Zahra kembali diam, tapi apa yang terjadi tadi, Bian dengan cepat melakukan semua itu, perlahan senyumannya terlihat, Zahra menekan dadanya, sampai saat ini jantungnya masih saja bergemuruh.
"Aah bodoh, memang bodoh, apa juga yang aku fikirkan, emmm tidak tidak, Zahra jangan bodoh."
Zahra memukul kepalanya berulang kali, ia juga mengusap wajahnya berulang kali, fikirannya mulai kabur dan itu tidak boleh diteruskan.
"Sadar, sadar, sadar, ayo sadar, jangan gila, mana mungkin aku suka sama lelaki seperti itu, kasar sekali dia."
Zahra berdecak ia meraih bantal dan memukulnya berulang kali, Zahra kesal dengan pemikiran dan perasaannya sendiri saat ini.
"Gak boleh Zahra, kamu harus ingat setelah satu tahun ini kamu akan diceraikan, pernikahan ini hanya ada demi rumah masa kecil ku."
Zahra melihat sekitar kamar, benar, itulah pemikiran yang paling benar, pernikahan itu hanya syarat perjanjian, Zahra tidak boleh berfikir diluar perjanjian tersebut.
"Oke Zahra, sadar."
Zahra menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya perlahan, ia memejamkan matanya beberapa saat, tapi kejadian tadi seketika melintas diotaknya.
Pelukan erat itu, gigitan di tangan Bian, bungkaman Bian hingga dorongan Bian, dan tahanan Bian pada tubuhnya, lengkap dengan gigitan Bian dan umpatan Bian saat terjatuh ke lantai.
Zahra sedikit tertawa dengan hal itu, ia menunduk dengan menutup mulutnya, tapi sedetik kemudian, Zahra menegapkan kembali kepalanya, ia menggeleng cepat, bisa sekali Zahra merasa senang karena hal tersebut.
__ADS_1