Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Ingat, Sandiwara.


__ADS_3

"Bibi, biar aku saja yang masak pagi ini."


"Kenapa Non, tidak perlu biar Bibi saja."


"Tidak apa-apa, aku mau belajar masak, biar aku pintar masak seperti Bibi."


"Silahkan saja kalau mau coba, tapi Bibi harus tetap disini agar tidak kena marah Den Bian."


"Ya sudah biar aku juga bisa tanya-tanya ya."


Keduanya tersenyum bersamaan, Zahra sudah bergadang semalaman menonton youtube tentang memasak, meski bukan untuk Bian, tapi paling tidak Zahra bisa masak saja dulu.


Zahra mulai mengerjakan niatnya, ia memotong bahan yang memang harus dipotong, dan melakukan hal lainnya lagi.


"Hati-hati nanti luka."


"Jangan dong Bi, aku pasti bisa kan aku perempuan masa gak bisa masak."


"Iya Non harus pintar masak, biar Suaminya merasa senang."


Zahra hanya tersenyum singkat, benarkah seperti itu, dan mungkin Zahra memang mengharapkan itu terjadi.


Zahra mulai memasak bumbunya, ia berniat membuat sayur sop saja, karena memang bahan itu yang pertama dilihatnya di dapur.


"Den Bian belum bangun?"


"Belum, biarkan saja mungkin terlalu lelah juga bekerja."


"Iya pasti, setiap hari sampai malam terus kerjanya."


"Iya makanya itu, semoga saja masakan aku enak ya Bi, dan Bian bisa suka."


"Semoga saja, ayo semangat."


Zahra tersenyum, meski ini pertama kalinya Zahra mencoba memasak semoga hasilnya tidak mengecewakan.


"Asyik sekali kalian."


Keduanya menolah bersamaan, Zahra menghentikan kgeiatannya saat melihat sosok Kania.


"Mama"


Zahra menghampiri dan langsung menyalaminya hormat, tapi bukan senang, Kania justru mengibaskan tangannya yang sempat dipegang Zahra.


"Mana anak saya?"


"Tadi Bian masih tidur."


"Kamu mau buat dia terlambat pergi ke Kantor, kenapa kamu biarkan saja di tidur terus seperti itu. "


"Bian selalu bangun sendiri, dia tidak pernah kesiangan."


"Gak ada gunanya dong kamu sebagai Istri, kalau membangunkan saja kamu tidak bisa."


Zahra diam, biarkan saja tidak perlu melawannya, Zahra tidak mau ada keributan pagi ini.


"Kenapa masih diam, ayo cepat bangunkan dia."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sudah bangun, tenang saja."


Mereka menoleh melihat Bian di sana, Bian mendekati Zahra dan merangkulnya.


"Aku yang melarang dia membangunkan aku kalau pagi, aku bisa bangun sendiri, aku bukan yang dulu lagi yang masih harus dibangunkan Mama."


Kania diam, apa maksudnya Bian bicara seperti itu, dan bisa sekali dia merangkul wanita itu di depannya.


"Kamu lagi masak, Sayang?"


Zahra menoleh, ia menatap Bian tak percaya, pagi seperti ini, Bian memanggilnya sayang.


"Emm, lagi masak, sudah selesai belum, aku sudah lapar."


Zahra berpaling, ia berbalik mengaduk sayur yang dibuatnya, sepertinya sudah matang, Zahra sempat mencicipinya sedikit, tapi rasanya sangatlah tidak jelas.


"Bagaimana, sudah enak?" tanya Kania.


Zahra diam, ia menatap sayur buatannya, pertama kali yang ternyata gagal, Zahra tidak bisa memasak enak.


"Mana bisa dia masak."


Kania mengambil sendok dan mencicipinya sendiri, dengan sengaja Kania meludahkan masakannya lagi.


"Masakan macam apa ini, kamu coba sendiri, apa masakan ini cocok di lidah kamu."


Zahra menelan ludahnya, ia berusaha mempertahankan kesabarannya, tidak apa, Zahra sadar dia bukan ahli dalam memasak.


"Oke, biar aku coba."


"Nah, kerasa, itu hasil pilihan kamu, masak saja tidak bisa, gak guna."


Zahra menunduk seraya memejamkan matanya, tidak boleh marah, Zahra harus akui kekurangannya sendiri.


"Mama, sepertinya Mama harus sering makan disini bersama kami, agar Mama bisa setiap hari merasakan masakan Zahra."


"Apa maksud kamu, kamu suruh Mama makan makanan seperti itu, buruk sekali."


"Iya, menurut Mama pasti ini buruk, tapi menurut aku ini sangatlah spesial."


Zahra tak bergeming, ia tidak boleh senang dengan semua perkataan Bian, sama halnya di depan Inggrid, sekarang di depan Kania juga tidak ada arti apa-apa.


"Ayo selesaikan, aku tunggu makanannya di depan ya."


Zahra mengangguk saja, kedua matanya terpejam sesaat ketika Bian mencium kepalanya, seharusnya Bian juga tahu batasan jika perlakuannya yang terlalu manis akan semakin membuat Zahra senang.


"Kita tunggu di depan," ucap Bian.


Kania tak berkata apa pun, ia mengikuti Bian meninggalkan dapur, Zahra menghembuskan nafasnya perlahan, baiklah, semua bukan masalah, Zahra harus tenang.


"Sini, Bibi perbaiki sedikit rasanya."


Zahra menoleh dan bergeser, ia membiarkan wanita itu melanjutkan masakannya.


"Tidak apa, wajar saja seperti itu, semakin kita dikatai maka kita harus semakin semangat memperbaiki, hal buruk tidak akan selamanya jadi buruk, dan begitu juga sebaliknya, semua ada masanya."


Zahra tersenyum, ia memperhatikan bagaimana wanita itu menyempurnakan masakannya, mungkin memang Zahra yang kurang memberi bumbu dan itu memang masih bisa diperbaiki.

__ADS_1


"Sekarang, tinggal masuk ke mangkuk sayur, ayo lanjutkan."


Zahra mengangguk dan menurutinya, lain waktu Zahra akan membuat yang lebih enak lagi, Zahra akan tunjukan jika Zahra bisa.


"Aku bawa ke depan ya, Bi."


"Iya silahkan, masakan lain sudah ada di meja."


"Terimakasih, Bi."


"Sama-sama."


Zahra lantas pergi meninggalkan dapur, apa yang terjadi tadi memang menjengkelkan, tapi itu memang kesalahannya, dan Zahra akan memperbaikinya.


"Nah datang, ayo sini Sayang, simpan sini, kita makan sama-sama."


Zahra menyimpannya, ia menyiapkan makan untuk Bian di piringnya, Kania mendelik malas melihat itu.


"Mama, mau aku siapkan juga?"


"Saya bisa sendiri."


Zahra mengangguk, ia lantas mengisi gelas minum Bian.


"Sudah, kamu duduk, makan juga ya."


"Iya."


Zahra turut duduk dan mengisi piringnya, ia hanya makan sayur buatannya saja, karena mungkin tidak akan ada yang menghabiskannya.


"Jadi, kalian sudah bahagia sekarang?"


Keduanya menoleh bersamaan, Zahra kembali fokus pada makanannya, biarkan saja Bian yang menjawabnya.


"Kenapa diam?"


"Kenapa sih, tidak perlu tanyakan itu, kita akan selalu bahagia," ucap Bian.


"Benarkah, setiap hari makan makanan tidak enak seperti itu, kamu bilang bahagia."


"Tentu saja, karena ada kebahagiaan dari kebersamaan yang tidak bisa terpisahkan disini."


Zahra melirik Bian, jika saja itu benar adanya, jika saja Bian memang benar-benar menginginkannya, pasti Zahra akan bahagia.


"Zahra, kamu merasa sudah paling hebat mengurus Bian?"


Zahra diam, apa yang harus dikatakannya, Zahra tidak pernah melakukan apa pun untuk Bian.


"Apa kalian sedang bersandiwara?"


Bian seketika tersendak mendengarnya, ia batuk tak henti hingga Zahra memberikan minum padanya.


"Tidak perlu membohongi Mama, kalian ini masih tidak pandai berbohong."


Bian mengusap bibirnya, dan melirik Zahra, wanita itu juga tampak meliriknya.


"Dengar, kalian tidak perlu memaksakan kebahagiaan yang tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada, jika kalian ingin berpisah, Mama akan sangat mendukung perpisahan kalian itu, ayo katakan."

__ADS_1


__ADS_2