Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Lemah


__ADS_3

Zahra dibuat kaget oleh karyawan di kantor, mereka dengan sengaja menunggu kedatangannya.


Berdiri membuat barisan, mereka tersenyum bersamaan seraya membungkukan sedikit tubuhnya.


"Apa-apaan ini?" tanya Zahra heran.


"Selamat datang bos besar."


Zahra mengernyit dan melihat kedatangan Marvel yang terkesan terlambat, lelaki itu tersenyum seraya mendekat.


Zahra melihat mereka semua, apa Marvel yang membuat mereka melakukan itu, tapi untuk apa melakukan semua itu.


"Bagaimana kabarnya Bu Zahra, apa kali ini anda benar-benar siap mengurus perusahaan bersama kami?" tanya Marvel.


"Apa kamu ini, kenapa harus seperti ini?"


"Semua ini mereka yang mau, bukankah mereka semua menyukai mu, jadi mereka sudah sangat menunggu mu sejak kemarin."


Zahra kembali melihat mereka semua, kenapa Zahra merasa malu dengan mereka semua, Zahra hanya sebentar saja ada di tengah mereka kemarin.


"Jangan absen lagi, Bu."


"Kita harus bekerja sama dan selalu kompak."


"Saya tidak akan mengajukan pengunduran diri lagi, Bu."


Zahra mengernyit, tentu saja ia masih ingat dengan sosok itu, saat pertama Zahra datang, wanita itu sudah langsung mengajukan resign.


Tapi ternyata sampai saat ini ia masih bertahan, Zahra memang menolak pengajuannya waktu itu, karena Zahra tidak mengerti soal itu.


"Kita akan sama-sama lagi?" tanya Melvin.


Zahra tersenyum seraya mengangguk, akan ia usahakan untuk bertahan kali ini, semoga saja Zahra bisa.


Mereka bersorak karena anggukan Zahra, itu bagus dan mereka menyukainya, Zahra menggeleng, ia lantas meminta mereka semua untuk bubar saja.


Tanpa perdebatan, mereka menurut dan kembali ke tempatnya masing-masing.


"Bukankah ini menyenangkan?" tanya Melvin.


"Kamu membuat ku malu."


"Dengan begitu, Bu Zahra tidak akan pernah bolos lagi."


Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, mungkin Zahra tidak akan bolos, tapi bukan tidak mungkin jika Zahra akan hilang.


Perasaannya tetap keras, Zahra ingin pergi dari semua itu, perusahaan, dan semua masalah-masalah yang mengikatnya.


"Ada apa, kenapa tiba-tiba melamun?"


"Hah, ada apa, gak ada apa-apa, kenapa kamu masih disini?"


Melvin mengernyit, apa maksudnya, kenapa bertanya seperti itu.


"Aku sudah meminta kalian bubar, kenapa kamu tidak ikut mereka bubar."

__ADS_1


"Karena saya bekerja dengan Bu Zahra."


"Hey, kita beda ruangan."


Melvin tersenyum seraya mengangguk, tentu saja ia tahu itu, lagi pula Melvin hanya bercanda saja.


Keduanya lantas berpisah memasuki ruangan masing-masing, Zahra tersenyum seraya mengamati ruangannya.


"Tidak ada yang berubah, baguslah, aku bisa tetap nyaman ada disini dengan suasana yang sama."


Zahra lantas duduk, ia melihat-melihat berkas yang ada di mejanya, memang sudah lama Zahra tidak menyentuh kertas menyebalkan itu.


"Sekarang, aku akan kembali bergelut dengan tulisan-tulisan yang membuat kepala pusing, bahkan sakit."


Zahra memejamkan matanya sesaat, ia diam bersandar, ingatannya kembali membawanya pada sosok Bian.


Bagaimana kabar lelaki itu, sampai saat ini Zahra tidak bisa melupakannya, bahkan meski sebentar saja.


"Tidak, Zahra, sudahlah tidak perlu memikirkan itu, fikirkan dirimu sendiri sekarang."


Zahra menekan kedua matanya sesaat, apa tidak bisa jika Tuhan membuatnya lupa dengan semua masalahnya.


Zahra benar-benar ingin bebas, kembali pada kehidupannya sebelum ia mengenal mereka semua, bahkan meski ia tidak bisa kembali bersama orang tuanya sekali pun.


 -----


Kania terlihat berjalan dengan lemahnya menuju kamar mandi, ia ingin buang air, kepalanya yang terasa sakit dan pusing sangat menyulitkan langkahnya.


Tidak ada siapa pun di sana, karena mbak rumah pun hanya ada beberapa waktu saja, tidak ada Kemal maka tidak ada yang membantunya juga.


Ia berjalan menaiki tangga, cukup lama Inggrid tak mendatangi rumah itu, memang ada sedikit perubahan dari penempatan barangnya.


"Kania, kamu sedang tidur?"


Inggrid memasuki kamar, ia tak melihat Kania di kasur sana, apa mungkin kamarnya sudah berpindah.


"Kania," panggilnya lagi.


Inggrid melihat ada tas Kania di sana, sudah pasti wanita itu memang ada di kamar tersebut.


Inggrid duduk, ia menyimpan tasnya, suara air mengalir terdengar olehnya, Inggrid mengangguk itu pasti Kania.


"Dia tidak mendengar saat dipanggil."


Selang beberapa saat, pintu terbuka, Inggrid seketika bangkit untuk membantu menantunya itu.


"Apa kamu tidak ada pekerja?"


Kania menggeleng, ia duduk dengan bantuan Inggrid.


"Mami kesini."


"Kemal ke rumah kemarin, dia mengatakan kamu sakit, makanya kesini."


Kania mengangguk, ia memejamkan matanya sesaat, wajah pucatnya begitu jelas untuk menggambarkan keadaan buruknya.

__ADS_1


"Kamu sudah panggil Dokter?"


"Nanti sore baru datang, katanya masih banyak pasien."


"Kenapa tidak kamu yang kesana, biar Mami antar."


Kania menggeleng, ia tidak ingin pergi karena itu hanya akan membuatnya semakin susah.


Biarkan saja ia menunggu dokter yang datang, dengan begitu Kania bisa tidur tanpa merasa kesal karena perjalanan.


"Kenapa kamu seperti ini, apa masih karena Bian?"


"Bagaimana, apa Ayra sudah mau merubah keputusannya?"


"Tidak, semua tetap sama."


"Kenapa dia jahat sekali."


Kania mendadak terisak, entah bagaimana agar bisa membuat Zahra mau merubah pemikirannya.


Bahkan Inggrid sendiri pun tidak bisa membantunya, kenapa harus seperti itu, apa tidak ada lagi sisi baik dari wanita itu.


"Seharusnya kamu tahu kalau keadaan tidak akan tetap seperti ini."


"Tapi sampai kapan, Bian sudah terlalu lama disana."


"Waktu hukumannya masih lebih lama dari saat ini, kamu harus ingat itu."


Kania menggeleng, ia tak bisa terima semua itu, kenapa Zahra tidak memaafkan Bian saja dan memilih langkah lain tanpa harus menahannya.


Inggrid turut duduk di samping Kania, ia mengusap pundaknya, tidak ada yang bisa dilakukannya, semakin Inggrid membahas Bian, akan semakin keras juga pemikiran Zahra.


"Mami yakin, Bian akan baik-baik saja disana, kalau tidak bisa membantunya dalam tindakan, berdoa saja agar semua cepat kembali."


"Mami berikan saja rumah itu padanya, jangan lagi menahannya untuk bertahan dengan Bian, biarkan dia pergi."


"Itu tak kan lantas membebaskan Bian, bukan itu langkah yang harus dilakukan, Zahra akan pergi meski tanpa rumah itu kembali."


"Lalu harus bagaimana lagi?" tanya Kania prustasi.


Inggrid menghela nafasnya tenang, apa yang harus dikatakannya, Inggrid sendiri pun tak tahu harus seperti apa sekarang.


Ia sudah berusaha membujuk Zahra, tapi tetap saja tidak menghasilkan apa pun, jadi biarkan saja seperti apa keharusannya.


"Sebaiknya kamu tenangkan diri, apa kamu sudah makan, ini sudah waktunya makan siang."


"Mami makan saja duluan, aku mau tidur."


"Bagaimana dengan obat mu?"


Kania menggeleng, apa obat-obatan itu akan berguna baginya, Kania hanya ingin Bian kembali untuk saat ini.


Inggrid berpaling sesaat, sepertinya Inggrid harus pastikan jika makanan di rumah itu memang ada.


"Berbaring saja, biar Mami bawakan makanannya."

__ADS_1


Kania menurut saja, ia membiarkan Inggrid pergi dan melakukan apa yang jadi keinginannya.


__ADS_2