Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Apa Ini benar?


__ADS_3

Kania membuka pintu rumahnya, bel sudah berdenging berulang kali.


"Selamat malam."


"Selamat malam, cari siapa?"


"Pak Kemal ada?"


"Ada, dengan siapa?"


"Saya Sandi, dan saya perlu bertemu dengan Pak Kemal."


Kania diam, Sandi siapa, apa Kemal mendapat kenalan baru sekarang.


Kania tidak mengenalnya sama sekali, bahkan mendengar namanya pun tidak pernah.


"Mari masuk, biar saya panggilkan dulu."


"Terimakasih."


Keduanya lantas masuk, Kania melanjutkan langkahnya untuk memanggil Kemal yang bertahan di kamarnya.


Kemal tampak menoleh, ia tersenyum saat melihat Kania datang.


"Ada tamu untuk Papa."


"Siapa?"


"Katanya Sandi, tapi tidak tahu siapa."


Kemal diam, ia tidak memiliki janji dengan siapa pun juga termasuk Sandi.


Lagi pula siapa Sandi, Kemal rasanya tidak mengenal nama itu.


"Temui saja dulu, sepertinya dia bukan orang sembarangan."


Kemal mengangguk, ia lantas bangkit dan berjalan keluar, begitu juga Kania meski mereka berpisah karena Kania harus ke dapur.


"Selamat malam," sapa Kemal.


Sandi menoleh, ia segea bangkit dan berjabat tangan dengan Kemal.


"Maaf, tapi saya tidak buat janji dengan siapa pun."


"Memang saya yang sengaja datang, saya minta maaf karena sudah mengganggu malamnya."


"Ah sama sekali tidak masalah, hanya saja saya bingung dengan ...."


"Saya mengerti," sela Sandi.


Kemal tersenyum seraya mengangguk, ia sempat meneliti Sandi dari atas sampai bawah.


Benar kata Kania, sepertinya Sandi bukan orang sembarangan, tampilannya berkelas sekali.


"Saya Sandi, pemilik perusahaan Arpha Managemet, mungkin Pak Kemal mengetahuinya?"


Kemal mengangguk, tentu saja, itu adalah perusahaan besar yang jelas diketahui semua orang.


"Saya sedang mencari perusahaan untuk diajak kerjasama, dan saya dengar Pak Kemal memiliki perusahaan sukses."


Kemal tersenyum miris, benarkah seperti itu, apa kabar kebangkrutannya tidak sampai ke telingan Sandi.


Kemal masih berniat mendengarkan kalimat Sandi, jadi sebaiknya nanti saja Kemal mengatakan perihal keadaan bisnisnya.

__ADS_1


"Kalau Pak Kemal berminat, kita bisa bicarakan ini lebih jauh."


"Kenapa harus saya, kan masih banyak perusahaan yang lain?"


"Benar sekali, tapi minat saya jatuhnya sama perusahaan Pak Kemal."


"Benarkah, tapi sepertinya saya tidak bisa menyetujuinya."


Sandi diam, entah apa yang ada difikirannya karena lelaki itu justru sedikit tersenyum.mendengar kalimat Kemal.


"Saya tidak percaya jika kabar tentang perusahaan saya tidak sampai pada Pak Sandi."


"Kabar apa, saya belum dengar apa pun."


Kemal tersenyum seraya mengangguk, mungkin saja Sandi akan menyesal datang saat ini.


Tidak akan ada hasil apa pun untuk kedatangannya malam ini, seharusnya lelaki itu memastikan semuanya terlebih dahulu.


"Saya sudah tidak mengurus perusahaan lagi, Pak."


"Oh, tidak masalah, mungkin ada Anaknya yang diberi kepercayaan untuk itu, saya akan bicara dengannya."


"Tidak, bukan seperti itu, semuanya sudah hilang sekarang, saya mengalami kebangkrutan dan perusahaan tidak beroperasi lagi."


Sandi kembali diam, ia mengangguk perlahan, kalimat itu buruk tapi mau bagaimana lagi mana mungkin Kemal mengatakan kebohongan.


"Silahkan minumannya," ucap Kania menyimpan suguhannya.


"Terimakasih banyak," sahut Sandi.


Kania turut duduk dengan tetap membawa nampannya, ia tersenyum dan melirik Kemal.


Kemal mengangkat kedua bahunya sekilas, ia tidak bisa mengatakan apa pun sekarang.


Kemal diam, apa itu bisa, semua habis tanpa tersisa, dan Kemal membutuhkan banyak untuk bisa memulai semuanya kembali.


"Tenang saja, saya ada beberapa cabang perusahaan, semua bisa memasukan dana ke perusahaan Pak Kemal kalau memang menerima, perjanjian bisa dibuat sesuai dengan kesanggupan Pak Kemal sendiri."


"Itu tidak mungkin, sama saja saya meminjam ke Bank."


"Ini kerjasama Pak, kita anggap ini kerjasama saja, setelah perusahaan Pak Kemal kembali bangkit, kita bisa ganti isi perjanjiannya menjadi kontrak kerjasama baru."


Kemal melirik Kania, wanita itu tersenyum, tidak akan salah dia pasti akan setuju dengan tawarannya.


Tapi bagaimana dengan Kemal sendiri, apa itu akan dianggap hutang besar, dan Kemal tidak yakin bisa mengembalikannya dengan mudah.


"Silahkan difikirkan saja dulu, saya tidak main-main dengan bicara saya, meski itu bukan tujuan saya yang sebenarnya, tapi tidak masalah saya pernah mengalami keruntuhan disalah satu perusahaan saya, dan saya membutuhkan orang lain untuk bangkit."


Kemal mengangguk, itu memang benar adanya, tidak bisa diingkari Kemal membutuhkan orang lain juga saat ini.


Apa Kemal harus bicarakan ini pada Inggrid, mungkin wanita itu bisa memberinya satu pemikiran berbeda dan mungkin terbaik.


"Sepertinya, saya perlu bicara dulu dengan yang lain."


"Iya, tidak masalah, kalau memang setuju silahkan hubungi saya, ini kartu nama saya."


Kemal mengangguk dan meneriman kartu nama yang diberikan, mereka sama-sama menikmati hidangannya.


Kemal lebih banyak diam, Mungkin ini jalan pembuka untuk mengembalikan perusahaannya, Kemal tidak mungkin sia-siakan ini.


 


"Vanessa, kamu baru bangun?" tanya Sintia.

__ADS_1


"Apa mereka sudah pulang?"


"Tidak, mereka tidak akan pulang, mereka akan kembali bulan depan."


Vanessa menghembuskan nafasnya kesal, keadaannya sedang tidak baik-baik saja, tapi kedua orang tuanya justru pergi meninggalkannya.


"Segera bangun, kamu melewatkan jam makan malam mu."


"Aku tidak perduli."


"Benarkah, bukankah kamu paling tidak bisa menahan lapar, segera bangun dan makan."


Vanessa bangun, itu memang benar, perutnya sudah terasa lapar sejak tadi, tapi Vanessa malas untuk bangun.


"Aku tunggu di bawah, jangan lama, makanan keburu dingin lagi."


"Yaaa, bawel."


Sintia sedikit tertawa, ia lantas pergi meninggalkan kamar Vanessa.


Sintia sengaja tinggal di sana, agar tahu apa saja yang dilakukan Vanessa, utamanya Sintia ingin tahu siapa orang yang dikatakan akan Vanessa bunuh itu.


"Mana dia?" tanya Damar.


"Sebentar lagi turun, dia baru bangun."


"Kenapa malas sakali?"


Sintia menggeleng, bukankah Vanessa sedang kurang sehat, mungkin wajar saja jika ia malas.


"Apa-apaan ini, kenapa ada dia disini?"


Keduanya menoleh bersamaan, Vanessa tidak berganti pakaian, wanita itu tidak mandi sama sekali.


"Kenapa, aku kesini diundang Sintia, apa masalahnya."


"Ini rumah ku."


"Terserah saja, aku diundang kesini ya pasti datang kesini."


"Diamlah kalian, baru juga ketemu sudah ribut saja," sela Sintia.


Vanessa mendelik dan duduk, apa maksud Sintia meminta Damar datang, seenaknya sekali.


Damar melirik Vanessa dan Sintia bergantian, mereka memang jauh berbeda.


"Apa, ada masalah?" tanya Vanessa kesal.


Sintia menoleh, ia melihat Damar yang menggeleng saja.


"Kenapa sih, fokus makan."


"Jaga tuh mata," ucap Vanessa.


"Tenang saja, memang lebih enak menatap Sintia dari dirimu."


"Beraninya."


"Vanessa sudahlah," sela Sintia.


Damar tertawa, dan itu membuat Vanessa semakin kesal saja.


Selara makannya jadi berkurang, tapi lapar diperutnya justru semakin bertambah, menjengkelkan sekali.

__ADS_1


__ADS_2