Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kita Akan Tetap Sama-sama?


__ADS_3

"Kebetulan sekali Ibu datang, pasien baru saja sadar."


"Benarkah itu, sudah berapa lama?"


"Sekitar 30 menit lalu."


Inggrid tersenyum, itu kabar yang sangat baik, ia lantas meminta izin untuk masuk, tak ada yang menghalangi, Inggrid dibiarkan masuk tanpa syarat apa pun.


"Bian," panggil Inggrid.


Bian menoleh, ia sedikit tersenyum, saat ini Bian masih sangat lemah, dan alat medisnya pun masih lengkap terpasang.


"Syukurlah kamu sudah sadar, kamu harus kuat, kamu harus sehat kembali."


"Zahra," ucapnya pelan.


Inggrid diam, ia baru saja sampai dan belum melihat keadaan Zahra, tapi Damar sudah lebih dulu kesana.


Semoga saja Zahra juga memberikan kabar terbaiknya untuk Inggrid, Inggrid mengangguk seraya meraih tangan Bian.


"Dia ada disini, mungkin sebentar lagi dia akan mau menemui mu."


"Mana dia?"


"Oma belum bertemu dia, sabar dulu, dia juga sedang tidak baik-baik saja."


"Ada apa dengan dia?"


Inggrid menggeleng, mungkin saja Bian akan panik jika tahu keadaan Zahra kemarin malam, atau selama ini.


Inggrid mengusap kepala Bian, biarkan saja Bian istirahat dulu, bukankah Zahra juga sedang istirahat di sana.


"Zahra, aku mau melihatnya sebentar saja."


"Kalau begitu, tunggu dulu, biar Oma temui dia dulu."


Bian diam, ia membiarkan Inggrid pergi, meski sebenarnya Bian ingin ikut saja karena khawatir jika Zahra tidak mau menemuinya.


Inggrid benar-benar memasuki ruangan Zahra, perasaannya semakin senang dan tenang saat melihat mereka yang tertawa bersama.


"Oma datang," ucap Zahra.


Inggrid tersenyum seraya mendekat, mereka terlihat salam bergantian pada Inggrid.


Zahra memeluknya karena Inggrid yang berdiri di sampingnya, baguslah wanita tua itu kembali ada di pandangannya.


"Ayra, Oma minta maaf, tidak ada maksud apa-apa, tapi kamu harus tahu kalau Bian sudah sadar sekarang, dia mau melihat mu, Oma sudah katakan kalau kamu ada disini."


Sintia dan Damar seketika saling lirik, padahal Zahra sudah begitu tenang, wanita itu sudah tertawa dan banyak bicara.


Zahra melepaskan pelukannya, ia diam menatap selimut yang menutupi kakinya.


"Ayra, Oma hanya mau kalau kalian ....."

__ADS_1


"Aku akan kesana," sela Zahra.


Inggrid melirik mereka di sana, bukankah itu jawaban yang seharusnya, setelah sekian lama Zahra akan bertemu dengan Bian dalam sadar.


Damar mengangguk, ia setuju dengan itu, semoga saja setelah mereka bertemu, Zahra bisa kembali menjadi dirinya sendiri.


"Baiklah, biar aku bawakan kursi roda untuk mu," ucap Damar.


"Aku mau jalan kaki."


"Kalau begitu, biar aku yang pegang infusan itu," ucap Sintia.


Inggrid mengangguk setuju, biar Inggrid yang membantunya jalan saja.


Inggrid memegang tangan Zahra, wanita itu turun perlahan, Sintia lantas bangkit dan meraih infusnya.


Tanpa buang waktu mereka segera melangkah untuk bisa sampai ke ruangan Bian, jujur saja perasaan Zahra mendadak tak karuan saat ini.


"Ada siapa di dalam?" tanya Zahra.


"Tidak ada siapa-siapa, Bian hanya sendirian saja, dia sedang menunggu kamu datang."


Zahra sedikit tersenyum, untuk apa Bian menunggunya, untuk merayu Zahra agar mau membebaskannya.


Mereka lantas masuk, Zahra langsung melihat Bian di sana, lelaki itu memang sudah sadar sesuai dengan perkataan Inggrid.


Bian mengulurkan tangannya saat Zahra belum sampai di dekatnya, raut wajah Zahra berubah, fikirannya mulai kacau.


"Kamu mau duduk?" tanya Inggrid.


Inggrid mengangguk, mereka diam melihat Bian yang meraih tangan Zahra.


Sintia sempat melirik Damar sekilas, lelaki itu tampak biasa saja dan justru tersenyum melihat itu.


"Ada apa, kamu kenapa?" tanya Bian.


Zahra menggeleng, mulutnya mendadak kelu, Zahra tidak bisa berbicara untuk saat ini.


"Zahra, sebaiknya Oma dan yang lain tunggu di luar saja."


"Kenapa seperti itu?"


"Kamu harus tenang, kontrol diri kamu saat ini, semua akan baik-baik saja, kamu harus yakin."


Zahra diam, Inggrid melepaskan tahannya, dan mengajak mereka untuk keluar.


Sintia menggantung infusnya di tempat infus Bian, dengan begitu Zahra tidak akan kesakitan.


Mereka keluar, dengan harapan penuh atas kembalinya hubungan baik mereka.


"Zahra, aku minta maaf, aku sudah sangat mengecewakan kamu selama ini, aku sudah menyepelekakan kamu, aku tidak pernah bisa menghargai kamu."


Zahra mengepalkan tangannya, apa bisa Zahra marah sekarang, tapi ia sadar jika keadaannya tidaklah baik-baik saja.

__ADS_1


"Duduklah, beri aku waktu untuk bicara dengan mu lebih lama lagi."


Jantung Zahra telah bergemuruh, fikirannya semakin kacau, Zahra ingin memaki Bian sepuasnya, tapi hatinya justru ingin berbaik padanya.


"Kalau aku tidak seperti ini, kamu tidak akan mau menemui ku, aku sengaja melakukan ini agar kamu mau menemui ku, aku tahu kamu masih perduli sama aku meski itu hanya sedikit saja."


"Untuk apa melakukan ini, kamu tahu kalau kamu hanya membuat ku bersalah dimata mereka semua."


"Aku tidak tahu lagi harus seperti apa, aku menunggu mu lama di sel, tapi kamu tidak pernah datang bahkan meski hanya satu menit saja."


Zahra diam, nafasnya mulai sesak, Zahra tidak bisa menutupi kerinduannya lebih lama lagi.


Bian mencium tangan Zahra sesaat, terserah saja Zahra mau berfikir seperti apa, tapi itu adalah kebenarannya, Bian memang merindukan wanita itu.


"Aku tidak tahu harus seperti apa mengatakannya, aku tahu kamu tidak akan pernah bisa percaya sama aku, Ayra, selama aku di sel, aku sudah memikirkan semuanya, dan aku menyesal untuk semuanya, aku minta maaf."


"Dan kamu fikir aku mau memaafkan mu?"


"Aku tidak tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, yang penting aku sudah menyampaikan semuanya sama kamu, aku menyesal dan aku minta maaf, kalau kamu mau beri aku kesempatan, aku akan perbaiki semua hal buruk yang pernah aku lakukan padamu."


Zahra berpaling, tubuhnya terasa panas dingin, tidak tahukah Bian jika sejak dulu Zahra selalu percaya padanya.


Zahra selalu menutup mata sekali pun tahu jika Bian tengah membohonginya, Zahra tidak pernah protes untuk semua kesalahannya.


"Ayra, aku tidak akan lagi meminta mu untuk membebaskan aku, aku hanya minta agar kamu tetap ada menunggu ku sampai masa hukuman ku selesai."


"Itu terlalu lama, waktu ku hanya tinggal beberapa bulan lagi."


"Apa maksud kamu?"


"Sepertinya kamu sudah melupakan perjanjian pernikahan kita."


Bian diam, apa itu artinya Zahra akan meninggalkannya, lalu bagaimana cara Bian menebus semua kesalahannya itu.


Bian gak bisa terima itu, Zahra harus tetap ada bersamanya sampai akhir nanti, Zahra harus mau memberi Bian kesempatan untuk perbaiki semuanya.


"Aku tidak mau kamu pergi, aku tidak akan lagi mengingat perjanjian itu, Ayra, jangan pernah berfikir untuk pergi."


"Tapi untuk bertahan pun, aku tidak lagi memikirkan itu."


"Ayra, kamu tidak bisa pergi, kamu harus ingat kalau hanya aku yang bisa merubah penjanjian kita, kamu harus beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Zahra diam, ia tak tahu harus seperti apa, yang jelas saat ini Zahra sedang berusaha agar tak sampai menangis di depan Bian.


"Katakan, kamu tidak akan kemana-mana, kamu akan tetap bersama ku, kita akan sama-sama kan Aya, ayo katakan."


Zahra menarik tangannya yang masih digenggam Bian, tidak bisa lagi seperti itu, Zahra tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Katakan Zahra, kamu tidak akan pergi sebelum aku yang suruh kamu pergi, itu yang selalu kamu katakan dulu, seperti apa pun keadaannya kamu akan tetap bertahan selagi aku tidak meminta mu pergi, ayo katakan."


"Aku bukan Ayra yang dulu, kamu harus tahu itu."


"Tapi aku gak mau kamu pergi, tolong mengerti aku hanya minta kesempatan untuk perbaiki semuanya."

__ADS_1


Zahra menggeleng, ia menunduk sesaat, Zahra tidak tahu harus mengatakan apa, ia tidak bisa menguasai dirinya sendiri saat ini.


Zahra meraih infusnya, ia menatap Bian sesaat, sampai akhirnya ia pergi begitu saja, tak perduli dengan panggilan Bian sama sekali.


__ADS_2