
Bian memasuki ruangan meeting, karena ulah Sintia, Bian jadi terlambat datang kesana.
"Permisi, maafkan saya terlambat."
Bian berjalan menuju kursinya, sekretarisnya sudah menunggu di sana juga, karena mereka memang tidak pergi bersamaan.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Bian seraya melirik mereka semua.
"Tidak masalah, Pak Bian."
Bian terdiam melihat salah satu wanita di sana, ia duduk di samping lelaki berjas, dan bisa dipastikan jika ia juga sekretaris dari lelaki tersebut.
Wanita itu mengangguk hormat seraya tersenyum pada Bian, melihat itu Bian seketika berpaling.
"Ada apa, Pak?" tanya Kiki.
Kiki adalah sekretaris Bian di kantor, dia satu kepercayaan Bian untuk mengurusi semua kebutuhannya.
"Tidak, tidak ada apa-apa, kita mulai saja meetingnya."
Kiki mengangguk, ia lantas membuka laptopnya dan mulai berbicara pada mereka semua.
Bian kembali melirik wanita itu, ia tampak diam menyimak semua perkataan Kiki, dengan tidak sadar Bian tersenyum melihat manisnya wanita itu.
"Pak Bian," panggil Kiki.
"Emmm, iya, bagaimana?"
Kiki sedikit heran melihat Bian yang sepertinya tak fokus dengan meeting kali ini.
"Pa Arya, bertanya bagaimana pembagian hasil atas proyek ini, katanya apa yang ditulis disini tidak cocok dengannya."
"Benar, Pak, mohon maaf tapi menurut saya ini proyek besar, dan keberhasilannya pun cukup meyakinkan, jadi saya merasa jika nominal hasil yang tertulis bagi pihak kedua tidaklah masuk kriteria yang bagus."
Bian mengangguk, lelaki yang berbicara itu adalah lelaki yang duduk di samping wanita tersebut, Bian semakin merasa berkesempatan menatap wanita itu.
"Pak Bian, bagaimana?" tanya Kiki.
"Oke, tidak masalah, kamu catat saja dulu, nanti biar saya fikirkan lagi."
"Baik, Pak."
Kiki berkutat dengan laptopnya di sana, Bian melirik wanita itu, ia tampak berbincang dengan atasannya saat ini.
----
"Silahkan, Bu."
Zahra memasuki satu ruangan rawat, ia melihat Inggrid di sana.
"Oma," panggil Zahra seraya mendekat.
Inggrid menoleh dan tersenyum, nafas Zahra seketika terhembus lega saat melihat senyuman Inggrid.
"Kamu kesini."
Tak menjawab, Zahra memeluk Inggrid, bisa sekali wanita itu membuatnya khawatir.
"Kamu kenapa?"
"Oma yang kenapa, Oma bilang hanya satu minggu saja pergi, tapi sekarang malah masuk Rumah Sakit."
Inggrid kembali tersenyum seraya mengusap kepala Zahra.
"Oma gak apa-apa, bagaimana keadaan kamu?"
"Aku baik-baik saja, makanya bisa kesini sekarang."
Zahra melepaskan pelukannya dan duduk di kursi, ia diam menggenggam tangan Inggrid.
__ADS_1
"Bian, tidak mengantarkan kamu kesini?"
Zahra menggeleng, Inggrid pasti tahu kalau Bian selalu sibuk bekerja setiap hari.
"Bagaimana, apa kalian sudah lebih dekat sekarang?"
"Apa sih Oma, jangan bahas itu, Oma sebaiknya istirahat biar cepat pulang."
"Oma gak apa-apa, besok juga pulang, dan Oma akan langsung ke rumah kamu lagi."
"Benarkah?"
Inggrid mengangguk pasti, senang sekali perasaan Zahra, ia jadi ada teman lagi di rumah, dan tak perlu keluyuran tak jelas lagi.
"Bian, bagaimana?"
"Tetap saja seperti itu, Oma pergi dia juga pergi."
"Dia tidak pernah bersikap baik lagi sama kamu?"
Zahra menggeleng, Zahra merasa bebas mengatakan apa pun tentang Bian, Inggrid yang sudah tahu semuanya membuat Zahra memiliki pelarian terbaik.
"Kamu memperlakukannya dengan baik kan?"
"Aku selalu mencoba, tapi Bian selalu menolaknya, dia selalu dengan keinginannya sendiri."
"Baiklah, tidak masalah, kamu harus sabar ya."
Zahra sedikit tersenyum meresponnya, Zahra akan sabar karena memang Zahra menginginkan kebersamaan itu.
"Apa Kania dan Kemal suka mengganggu mu?"
"Tidak."
"Lalu wanita itu?"
"Tidak juga."
"Oma, aku mau bicara penting."
"Soal apa?"
"Tadi pagi, aku bertemu Mama di jalan."
"Kania, dia melakukan apa?"
"Tidak, dia hanya berkata kalau aku harus segera memberinya cucu."
Inggrid menahan tawa mendengarnya, dan itu cukup membuat Zahra heran.
"Oma, aku serius."
"Iya oke, lalu apa lagi?"
"Mama, minta cucu, dan kalau tidak secepatnya, Mama akan pisahkan aku dan Bian secara paksa."
"Benarkah?"
Zahra mengangguk pasti, Inggrid turut mengangguk, keduanya diam untuk beberapa saat.
"Bian, masih tidak menyentuh mu?"
"Ya gak mungkinlah Oma, gak mungkin seperti itu, pernikahan ini kan hanya sementara."
Inggrid kembali diam, tentu saja Inggrid ingat dengan penjelasan Zahra tentang masalah pernikahan itu.
"Oma, sebaiknya aku dan Bian pisah saja secepatnya, aku tidak mau mengecewakan semuanya."
"Apa maksud kamu, berani sekali bicara seperti itu."
__ADS_1
Zahra diam, lalu harus seperti apa dia bicara, bukankah lebih baik memang seperti itu, agar tidak ada harapan lain yang terlontar, karena pasti Zahra tidak akan bisa mengabulkannya.
"Tenang saja, Oma akan bantu kamu agar cepat hamil."
Zahra mengernyit, apa lagi maksud Inggrid, bukan itu yang ingin didengarnya, Zahra tidak mau hamil karena paksaan.
----
"Kiki," panggil Bian.
"Iya, Pak."
"Kamu ada kontak Pak Arya?"
"Pak Arya, sepertinya tidak ada, tapi kalau kontak Sekretarisnya ada."
"Sekretaris?"
"Iya, Bu Vanessa."
"Yang tadi ada di ruang meeting juga?"
"Benar, Pak."
Bian diam, bukankah itu sesuai dengan harapannya, Bian hanya alasan saja tentang kontak Arya, karena maksud utamanya adalah wanita itu.
"Bagaimana Pak, atau kalau Bapak mau bisa katakan saja keperluannya, nanti biar saya yang sampaikan."
"Oh tidak perlu, saya harus bicara langsung sama orangnya, kamu antarkan saja kontak wanita itu, biar nanti saya minta sendiri kontak Pak Arya."
"Baik, Pak."
"Oke, terimakasih."
Bian berlalu memasuki ruangannya, ia duduk di kursi kerajaannya, Bian terdiam mengingat senyuman Vanessa di ruang meeting tadi.
"Memang manis, dan juga cantik."
Bian mengusap telapak tangannya, dan mengepalkannya, ia yang sempat berjabat tangan dengan Vanessa, masih terasa lembut kulitnya itu.
Bian semakin tersenyum seraya berpaling, ada apa dengannya, kenapa harus sampai seperti itu hanya karena sosok Vanessa.
"Permisi, Pak Bian."
"Iya, masuklah."
Kiki masuk dan menghampirinya, ia memberikan satu map beserta kertas kecil bertuliskan angka-angka.
"Ini sedikit penawaran yang dibuat Pak Arya dari perbaikan meeting tadi, dan ini kontak Bu Vanessa yang Bapak minta."
"Oke, terimakasih, saya akan baca ini dulu."
"Baik, Pak, permisi."
"Silahkan."
Seperginya Kiki, Bian segera mencatat nomor itu di ponselnya, Bian juga segera mengirimkan pesan pada pemilik nomornya.
"Semoga saja responnya cepat."
Tingg ....
Bian melihat kembali ponselnya, benar saja wanita itu membalas cepat pesan darinya, Bian kembali membalasnya dan langsung mengajaknya bertemu dengan alasan pembahasan hasil meeting yang belum selesai.
"Ayolah," ucap Bian tak sabar.
Tingg ....
Bian membuka balasan pesannya, memang cepat tanggap.
__ADS_1
"Oke, saya akan datang tepat waktu," baca Bian.
Seperti menang perlombaan, Bian seketika bangkit dan menunjukan kesenangannya, ia begitu bahagia mendapatkan persetujuan langsung dari wanita itu.