
Suasa makan bersama itu dirasa cukup hangat, makanan yang disediakan hampir habis semua.
Bian yang sempat datang terlambat itu sudah kembali, meski tetap tanpa Zahra, tapi mereka tetap bahagia.
"Sayang sekali, aku harus langsung pulang sekarang," ucap Dion.
"Tidak tahu malu sekali kamu, baru selesai maka," sahut Sintia.
"Bagaimana lagi, aku harus pulang, orang rumah sedang sakit."
"Benarkah?" tanya Kania.
Dion mengangguk pasti, itu memang benar, dan Dion sudah ambil cuti di kantornya untuk bisa pulang.
Mereka tak bisa menghalanginya, Dion sudah turut datang untuk membantu menyenangkan Bian, sudah seharusnya mereka berterima kasih.
"maaf sekali," ucap Dion.
"Tidak masalah, salam buat orang rumah dari kami," ucap Kemal.
"Pasti."
Setelah melihat mereka semua, Dion lantas bangkit, ia melirik Bian dan berkata jika lelaki itu tampak kotor, dan dia harus segera mengurus dirinya agar kembali bersih.
Bukan marah, tapi Bian justru tertawa, dan begitu juga dengan mereka, tidak perlu ada yang tersinggung karena itu memang kenyataannya.
"Aku pamit."
"Hati-hati," ucap Bian.
Dion lantas pergi meninggalkan mereka semua, ia ingin titip salam untuk Zahra, tapi rasanya itu cukup buruk untuk dikatakan.
Selang beberapa waktu dari kepergian Dion, Damar turut pamit, sebenarnya ia ingin melihat respon Zahra saat melihat Bian, tapi itu tidak berhasil dilihatnya sama sekali.
"Aku juga pulang sekarang saja," sahut Sintia.
Damar menoleh, kenapa wanita itu ikut-ikut, apa dia tidak mau menemui Zahra terlebih dahulu.
"Kenapa kalian buru-buru sekali?" tanya Kania.
"Mungkin saja Bian mau segera bersih-bersih, dia harus kembali tampan agar Ayra tak lagi membencinya."
Kania melirik Bian, iya itu benar sekali, Bian memang harus memperbaiki semuanya sekarang.
Mendengar kalimat Sintia, lagi-lagi membuat Vanessa kesal, kenapa wanita itu selalu terlihat sengaja melakukan itu.
"Kita pulang sekarang, Van?" tanya Sintia.
"Aku bisa naik taxi," ucap Vanessa malas.
"Jangan, sebaiknya kamu bareng Sintia saja,kalian pasti datang sama-sama kan tadi kesini?" tanya Kania.
Sintia mengangguk, itu yang paling benar, Sintia yakin jika Vanessa akan mengganggu Bian nanti, dan itu sangatlah tidak boleh.
Damar lebih dulu bangkit, ia lantas pamit dan berlalu lebih dulu, tak lama Sintia dan Vanessa pun turut pergi.
Bian sepertinya harus bicara beberapa hal dengan Damar, tanpa berkata apa pun, ia bangkit dan berlari menyusul mereka semua.
__ADS_1
"Tunggu dulu," ucap Bian sedikit keras.
Damar yang hendak memasuki taxi, harus diam, begitu juga dengan Sintia dan Vanessa yang masih di teras.
Bian menghampiri Damar tanpa melihat dua wanita itu, seketika itu fikiran mereka kacau, apa Bian dan Damar akan ribut saat ini.
"Ada apa?" tanya Damar.
"Aku belum tahu siapa dirimu."
Damar mengangkat kedua alisnya, apa benar seperti itu, apa tidak pernah ada yang cerita tentang dirinya pada Bian.
"Siapa kamu, apa kamu teman baik Ayra?"
"Benar, itu benar sekali, jadi kamu jangan berani lagi menyakiti Ayra, karena aku tidak akan biarkan itu."
"Kamu menyukainya?"
Damar tersenyum seraya berpaling, apa harus selalu seperti itu pertanyaan yang dilontarkan untuk lelaki dan perempuan yang berteman baik.
Damar sedikit menggeleng dan kembali melirik Bian, lelaki itu tampak begitu mengharapkan jawabannya.
"Harusnya kamu tahu seperti apa Istri mu itu, dia tidak akan bisa menyukai lelaki lain, jadi jangan berfikir kalau akan ada lelaki yang berhasil mendekatinya, aku memang menyukainya karena dia wanita kuat, tapi aku tahu batasannya dan kamu tidak perlu khawatirkan itu."
Bian diam, apa benar seperti itu, jika Dion saja bisa mengkhianatinya, apa lagi Damar yang sama sekali tidak mengenal Bian.
Bian mengangguk ragu, semoga saja itu benar, tidak akan ada apa pun diantara Damar dan Zahra.
"Kalian kenapa?" tanya Sintia.
Keduanya menoleh bersamaan, Damar menggeleng, yang terlihat sudah cukup untuk menjelaskan jika mereka baik-baik saja.
"Tidak, aku hanya tidak tahu siapa dia, makanya aku harus tahu sekarang."
"Ya, dan sekarang dia sudah tahu siapa aku, aku harus pergi."
"Baiklah, hati-hati," ucap Bian.
Lelaki itu kembali memasuki rumah tanpa perduli dengan dua wanita itu, Vanessa hendak menyusulnya tapi Sintia segera menahannya.
"Tidak perlu membuat masalah, ayo pulang."
"Lepas."
Vanessa menepis tangan Sintia, semakin menyebalkan saja Sintia sekarang.
"Aku akan naik taxi."
Vanessa menarik Damar agar menjauh dari pintu taxi, ia lantas masuk dan memaksa sopir itu membawanya pergi.
"Apa-apaan dia, hey itu taxi ku," teriak Damar.
"Biarkan saja, yang penting dia pergi dari rumah ini," ucap Sintia.
Damar mengernyit, kalimat apa itu, tidak semudah itu, Damar harus mencari taxi lain untuknya pulang.
Damar lantas melangkah pergi, malas sekali seperti itu, Vanessa sangatlah aneh.
__ADS_1
"Damar," panggil Sintia.
Damar hanya menoleh tanpa menjawab, bukankah mereka akan berpisah, urusan mereka telah selesai sekarang.
"Biar aku antarkan pulang, taxi akan penuh jam segini."
Damar seketika tersenyum, itulah yang seharusnya, tanpa berfikir lagi Damar langsung kembali dan memasuki mobil Sintia.
Bagus gak dikunci, karena kalau dikunci, Damar pasti akan malu, Sintia turut masuk dan melajukan mobilnya.
"Dimana rumah mu?"
"Aku tidak punya rumah, aku tinggal di mes yang diberikan perusahaan."
"Benarkah, lalu orang tua mu?"
"Entahlah."
Sintia mengernyit, apa maksudnya, itu jawaban yang sangat buruk.
Sintia melirik Damar sesaat, mereka memang sudah beberapa kali bertemu, tapi Sintia tidak pernah berbincang banyak dengannya.
"Sejak kapan kamu kenal Zahra?"
"Aku tidak mengingatnya."
"Kamu menyukainya?"
"Diamlah, muak sekali dengan pertanyaan seperti itu."
Sintia tersenyum, mungkin saja Damar juga menyukainya, bukankah Dion juga menyukai Zahra.
Mungkin lelaki yang dekat dengan Zahra, akan selalu jadi menyukainya, Sintia akui kelebihan Zahra.
"Kamu dulu kekasih Bian?"
Sintia mengernyit, ia diam tanpa berniat menjawab, berusaha fokus pada menyetirnya saja saat ini.
"Mungkin kamu masih mengharapkannya."
"Kalau seperti itu, aku tidak akan mendekati Ayra."
Damar mengangguk, jawaban yang benar, dan Damar paham itu.
"Aku menyukai Ayra, tapi lebih tepatnya aku mengaguminya, dia wanita kuat, dia berani juga, tapi sepertinya aku akan lebih memilih mu untuk dijadikan pasangan."
Sintia mengernyit dan melirik Damar sekilas, lelaki itu tampak tersenyum karena ucapannya sendiri.
"Kalau aku jadi kamu, aku belum tentu bisa berbaik hati pada Ayra, mengingat dia yang sudah merebut cinta ku, kalau aku jadi kamu, aku akan membencinya dan aku akan mengutuk pernikahannya jadi pernikahan paling buruk."
"Hey, apa kau sudah gila?" tanya Sintia kesal.
Damar tertawa mendengarnya, mungkin saja benar, tapi itu hanya semisal saja.
"Tapi memang benar, pertama mereka menikah, aku bersumpah akan menghancurkan pernikahan mereka, aku mengutuk pernikahannya juga."
"Hey, rupanya kau yang gila disini," ucap Damar serupa Sintia tadi.
__ADS_1
Keduanya saling lirik, bertahan sesaat, hingga mereka tertawa bersamaan, topik macam apa itu rasanya buruk sekali terdengar oleh telinga mereka.