Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Mau Mengalah


__ADS_3

Bian menarik Zahra agar segera bangkit dari tidurnya, sudah berulang kali Bian meminta untuk bangun, tapi tetap saja tak didengar.


Namun meski begitu, Zahra tetap menolak, ia berdecak kesal seraya melepaskan paksa tarikan Bian, Zahra tidak mau lagi berbaik hati padanya saat ini.


"Apa-apaan kamu ini?" tanya Bian.


Zahra mendelik, ia kembali berbaring seraya menarik selimutnya.


"Bangun, apa kamu tidak dengar, makan dulu, aku sudah repot membawakan itu untuk mu."


Zahra tak perduli, ia diam saja dengan mata yang terpejam, tidak mengerti lagi bagaimana harus menghadapi Bian yang semena-mena.


Zahra harus berfikir lebih baik lagi untuk semuanya, bukankah sekarang semua sudah hilang, dan Zahra tidak bisa lagi tenang.


"Bangun, makan dulu, kalau bukan Oma yang suruh, aku tidak akan mau bawakan itu untuk mu."


Zahra membuka matanya, meski tetap tak menjawab, tapi Zahra mendengar semua perkataan lelaki itu dengan benar.


"Ayo bangun, sampai kapan akan diam saja?"


Zahra bergerak, tapi bukan untuk menejawab Bian, ia merogoh ponsel di bawah bantalnya, rupanya Zahra membuka pesan masuk di sana.


Bian mengangkat kedua alisnya, memang menjengkelkan wanita itu, diajak bicara justru sibuk dengan ponselnya.


"Biar ku banting saja ponsel mu."


Bian nyaris merebut pensel tersebut, jika saja Zahra terlambat menghindarinya, Zahra membawa ponselnya ke balik selimut yang dipakainya, sehingga tidak sempat direbut Bian.


"Kamu sengaja mau buat aku kesal?"


Zahra menghela nafas panjang, ia juga memejamkan matanya sesaat, setidak sadar itu Bian yang selalu saja membuat Zahra kesal.


Zahra menggeleng, ia lantas mengembalikan ponselnya ke bawah bantal, dengan perlahan ia duduk dan melirik Bian di sana.


"Apa, mau apa kamu?"


Zahra menyipitkan matanya, mungkin Bian sedang menunjukan seperti apa dirinya yang sebenarnya, dan sepertinya itu bagus untuk Zahra, dengan begitu Zahra bisa tahu harus seperti apa menghadapinya untuk ke depan nanti.


"Menjengkelkan."


"Kalau tidak suka, silahkan pergi, bawa saja lagi makanan yang kamu bawa."


"Tidak tahu terimakasih."


Zahra melirik makanan di meja sana, dengan sengaja ia mendorongnya hingga jatuh berantakan di lantai.


Bian menatapnya tak percaya, sepertinya Zahra mulai berniat untuk menantangnya sekarang.

__ADS_1


"Ayo marah, bukankah hanya itu kemampuan kamu, kamu hanya bisa marah-marah saja, kamu hanya bisa mengikuti emsoi kamu saja, ayo marah."


"Diam kamu."


"Kenapa, kenapa aku harus diam, apa kamu fikir hanya kamu yang bebas berbicara, apa hanya kamu yang bisa marah-marah disini."


"Aku bilang diam."


"Seharusnya kamu memperistri wanita bisu saja, bukan wanita yang mampu berbicara seperti aku."


Ekspresi Bian mulai berubah, ia tak lagi baik sekarang, tapi Zahra tak perduli dengan itu, bukankah sudah pernah terjadi juga perlakuan kasar Bian padanya.


"Apa lagi sekarang, mau apa lagi sekarang?"


Bian mencengkram kedua pipi Zahra, jengkel sekali dengan mulutnya itu, tak perduli dengan sikap tersebut, Zahra menjauhkan tangan Bian meski akhirnya Zahra sendiri yang merasakan sakit.


"Wah," ucap Bian tak percaya.


Ia tersenyum seraya berpaling, sesaat kemudian ia mengangguk dan kembali melirik Zahra.


"Jadi seperti itu dirimu?"


"Lalu apa, kamu keberatan, mau kamu, aku seperti apa, diam saja, nurut saja, menerima saja dengan sikap kasar dan semena-mena dari kamu, harus seperti itu?"


Bian mengepalkan tangannya sesaat, jika saja di hadapannya adalah seorang lelaki, Bian sudah menghajarnya tanpa ampun.


"Kenapa hanya diam saja, ayo bicara, kamu paling pintar dalam bicara bukan?"


"Diam, dan segera bereskan apa yang sudah kamu buat berantakan."


"Aku sudah bilang, aku gak mau makan, tidak bisa sekali saja kamu mengerti dengan ucapan aku, biarkan saja seperti itu."


Bian berdecak, Zahra sudah keterlaluan, tidak seharusnya Zahra seberani itu padanya seperti sekarang.


"Sebaiknya kamu keluar saja, kamu temani Oma, aku sudah katakan kalau aku akan keluar setelah baik-baik, tidak perlu ada makanan diantar kesini."


"Tidak tahu terimakasih, aku sudah bilang kalau itu suruhan Oma."


"Ya sudah, aku tidak perlu berterimakasih padamu, nanti saja aku akan katakan itu pada Oma."


"Zahra!" bentak Bian.


Zahra diam, ia keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain, Zahra tidak akan perduli lagi apa pun yang akan terjadi padanya sekarang.


"Aku pergi, kamu sudah mendapatkan semuanya kan sekarang."


Zahra turun dan berlalu meninggalkan Bian, biarkan saja Zahra akan menjadi apa yang diinginkannya sekarang.

__ADS_1


"Zahra, Zahra kamu mau kemana?"


Bian benar-benar jengkel dengan istrinya itu, ia berlari menyusul Zahra dan menariknya yang hendak menuruni tangga.


Zahra menolaknya dengan sekuat tenaga, Bian harus tahu jika tak selalu wanita itu lemah.


"Ah lepas."


Zahra mendorong Bain hingga menabrak tembok di sana, Zahra tak lagi tenang sekarang.


"Benar-benar kamu, kurang ajar sekali kamu."


"Berkaca, kalimat itu juga berlaku untuk mu."


Bian menegapkan tubuhnya, dengan kasar ia menjambak Zahra hingga membuatnya meringis.


"Kamu masih tidak mengerti seperti apa diriku, tidak cukup waktu kebersamaan kita selama ini untuk membuat mu mengenal ku dengan baik?"


Zahra memejamkan matanya sesaat, semakin lama Bian semakin menguatkan tarikannya, memang sakit tapi Zahra tidak mau mengeluh.


"Mau pergi kemana kamu, apa kamu fikir aku akan membiarkan kamu pergi, aku hanya minta kamu bangun dan makan, itu saja."


Zahra tak menjawab, ia juga berusaha bertahan untuk menatap Bian tanpa rasa takut, Zahra sudah memutuskan untuk melawannya saja, tak perduli dengan apa pun yang akan terjadi.


"Semakin kurang ajar, kamu akan semakin tertekan, harusnya kamu sadar dengan itu."


"Dan apa bisa menjamin jika diam ku akan menjadi bahagia, kamu itu egois Bian, kamu hanya memikirkan keinginan kamu sendiri, kamu egois."


Plak ....


Meski tak keras, tapi tamparan Zahra cukup membuat Bian semakin kehilangan kontrol, bahkan disaat seperti itu pun, Zahra bisa menamparnya.


Bian yang tak bisa terima dengan semua itu, lantas menyeret Zahra memasuki kamar, wanita itu sudah terlewat batas baginya.


"Jangan fikir kamu akan selamat."


Bian mendorongnya hingga tersungkur jatuh di lantai sana, Zahra diam, jujur saja saat ini ia merasa takut, tapi Zahra tidak boleh menunjukannya.


Zahra tersentak saat Bian menarik dan menahan kedua tangannya di belakang, jika seperti itu bagaimana caranya Zahra bisa melawan lagi.


"Katakan dengan jelas, kamu mau aku lakukan apa sekarang, kamu lupa yang terjadi semalam, apa yang bisa kamu lakukan, hanya menangis saja, kamu fikir kamu hebat hanya dengan menangis seperti itu?"


"Lepas."


"Diam, dengar baik-baik, aku bisa lakukan apa saja sekarang, apa kamu sudah siap dengan resikonya?"


Zahra berusaha melepaskan tahanan di tangannya, tapi memang cukup sulit untuk melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2