
Satu bulan berlalu, keadaan sudah semakin membaik, Zahra sudah kembali seperti sebelumnya.
Ia terlihat lebih ceria dari pada hari-hari kemarin, tapi meski begitu, terkadang Zahra memang masih kerap melamun sendiri.
Tentu saja perubahan Zahra membuat Inggrid merasa senang, dan Inggrid berharap jika itu akan terus terjadi ke depannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Inggrid
"Aku mau keluar sebentar, aku merasa tidak baik-baik saja pagi ini."
Inggrid mengangguk, sejak pulang dari rumah sakit, Zahra memang hanya diam saja di rumah.
Pantas kalau dia merasa bosan, dan alasan itu sangat bisa Inggrid terima, tidak ada alasan untuk menghalanginya.
"Oma, tidak ke Kantor?"
"Nanti siang, Zahra, kapan kamu mau kembali ke Kantor, sudah lama kamu istirahat."
"Aku akan kembali kalau memang masih ada kepercayaan."
Inggrid mengangkat kedua alisnya, untuk apa Zahra berkata seperti itu, tentu saja Inggrid masih percaya padanya.
"Oma tetap percaya sama kamu, siapa yang bisa bantu Oma kalau bukan kamu."
"Aku berterimakasih sekali."
"Kapan kamu mau kembali?"
"Besok, tapi biarkan aku dengan semua keinginan ku hari ini."
Inggrid mengangguk setuju, Zahra sudah memberikan jawaban terbaiknya, Inggrid akan membiarkan Zahra dengan keinginannya.
Jika Zahra sudah kembali ke kantor, artinya Inggrid sudah bisa meninggalkannya, dan Inggrid bisa mengurus urusan lainnya lagi.
"Aku pergi dulu ya."
"Kamu pergi sama siapa?"
"Sendiri saja, aku ingin menikmati waktu sendiri."
"Baiklah, hati-hati."
Zahra lantas pamit dan berlalu meninggalkan rumah, ia akan kembali dengan keadaan terbaiknya.
Bahkan meski waktu masih terbilang pagi, Cafe sudah terlihat ramai, Damar ada di tengah keramaian itu sendirian.
Ya, Zahra memang berbohong mengatakan ingin menikmati waktu sendirinya, karena pada kenyataannya Zahra telah membuat janji dengan Damar.
"Silahkan, Pak."
"Oh, iya terimakasih."
"Tidak ada pesanan makanan?"
"Nanti saja, saya sedang menunggu teman."
"Baik, permisi."
Damar mengangguk, ia menikmati minumannya, apa Zahra kesulitan keluar, kenapa lama sekali ia datang.
Damar membuka ponselnya, bersamaan dengan itu ada pesan masuk, Damar membacanya, sesaat kemudian Damar menoleh.
"Akhirnya," ucapnya pelan.
Damar bangkit dari duduknya, keduanya tersenyum saat telah berpapasan.
__ADS_1
"Apa aku terlalu lama?"
"Tentu saja, aku sudah menghabiskan 4 gelas jus."
Zahra mengangkat kedua alisnya, bagaimana bisa seperti itu, bukankah gelasnya hanya satu saja.
"Kamu percaya?"
"Tentu saja tidak, bukankah aku ini pintar?"
Damar sedikit tertawa, keduanya lantas duduk bersamaan, Damar memberikan buku menu untuk hidangan mereka.
Setelahnya, Damar memanggil pelayan dan memberikan catatan pesanannya.
"Jadi, ada apa kamu ajak bertemu?"
"Kenapa memangnya, kita sudah lama tidak bertemu, apa salahnya kita bertemu?"
Damar mengangguk, baiklah itu jawaban yang bisa ditoleransi, Damar menerimanya dan memang benar adanya.
"Aku mau ajak kamu kerja bareng aku?"
"Bagaimana bisa seperti itu, aku sudah memiliki pekerjaan, dan aku suka dengan pekerjaan ku."
Zahra mengangguk, tentu saja itu diketahuinya, lagi pula Zahra juga belum bicara sama yang lain tentang keinginannya itu.
"Kenapa tiba-tiba kamu befikir seperti itu?"
"Aku tidak mau ada disana, mereka tidak menyukai mu, mungkin saja jika aku bertingkah, mereka akan melepaskan aku."
"Melepaskan?"
"Aku ingin berhanti dari semuanya."
"Itu tidak akan bisa terjadi, hubungan kamu dan Bian sudah mengunci mu bersama dengan mereka."
"Lalu aku harus berpisah?"
Hanya karena Bian dipenjara saja, Zahra sudah sekacau itu, bagaimana lagi kalau mereka sampai berpisah.
"Ayra, tidak semua keburukan harus dibalas dengan keburukan, aku tahu saat ini kamu sedang menjadi orang lain, dan kamu tidak nyaman dengan semua itu."
"Mungkin itu benar."
"Terkadang, kita bisa merubah seseorang dengan membuatnya malu karena ulah sendiri."
"Aku sudah melakukan itu sejak awal, aku sudah bertahan agar bisa membuatnya malu."
Damar mengangguk, tidak mungkin Damar meminta Zahra untuk bercerita masalah rumah tangganya dengan Bian.
Damar akan melewati batas jika seperti itu, jadi pendengar saja sudah cukup untuk memberi arti bagi Zahra.
"Silahkan."
Keduanya menoleh, Damar menggeser makanan yang diturunkan ke meja.
"Terimakasih," ucap Damar.
"Sama-sama, permisi."
Damar mengangguk, ia lantas meminta Zahra untuk menikmati makanannya.
Berbincang bisa nanti saja, sekarang sebaiknya mereka fokus untuk makan saja.
"Enak?"
"Tentu saja, aku sedang lapar, jadi aku rasa ini enak."
__ADS_1
Damar mengangguk, baguslah kalau seperti itu, dengan begitu Zahra bisa menikmati makanannya dengan baik.
"Mana Ayra?" tanya Kemal.
"Dia sedang keluar."
"Kemana dia?"
"Mami tidak tanya dia mau kemana."
Kemal mengernyit, bagaimana bisa seperti itu, kenapa inggrid membiarkannya pergi dengan kebebasan.
Inggrid duduk, ia diam menatap putranya itu, jelas saja Inggrid bisa melihat kekacauan di wajah Kemal, tapi Inggrid tidak mau bertanya.
"Duduklah, sampai kapan akan berdiri?"
Kemal mengangguk dan duduk, Kemal ingin mengatakan semuanya keinginannya, tapi Kemal terlalu malas untuk melakukannya.
"Mana Kania, kenapa kamu hanya sendirian saja?"
"Dia di rumah, sedang tidak enak badan."
"Sudah ke Dokter?"
"Sudah."
Inggrid mengangguk, bagus kalau memang seperti itu, jadi Kania tidak menambah keadaan buruk yang sudah ada.
"Mami tidak coba bujuk Ayra untuk bebaskan Bian?"
"Itu tidak akan bisa, kamu harus tahu itu."
"Tapi tidak ada salahnya mencoba."
"Tidak akan ada gunanya."
Kemal diam, kenapa mudah sekali Inggrid berbicara, padahal itu menyangkut cucunya sendiri.
Apa Kemal harus berbaik hati pada Zahra agar bisa membebaskan Bian, tapi Kemal tidak pandai berpura-pura, dan Kemal tidak akan bisa melakukan itu.
"Kamu sudah kembalikan keadaan baik perusahaan?"
"Aku sudah berusaha."
"Tapi kamu gagal?"
Kemal kembali diam, Inggrid mengangguk, ia sadar jika ia sudah jahat terhadap putranya sendiri.
Tapi sama dengan pemikiran Zahra, Inggrid ingin mereka sadar jika sikap mereka tidaklah baik selama ini.
"Mami ...."
"Urus perusahaan, jangan fikirkan hal lain, bahkan meski itu tentang Bian."
"Mana bisa seperti itu, aku gak bisa biarkan Bian terus ada di sana."
"Sudah seharusnya kita saling percaya, Ayra tidak akan selamanya seperti itu, dia juga memiliki perasaan."
Kemal menelan ludahnya, masih saja Inggrid membela wanita itu, kapan Inggrid akan kembali membela Bian.
Bahkan setelah semua yang terjadi, sedikit pun Inggrid tak perduli dengan Bian, ia tetap saja membela Zahra.
"Kembalikan keadaan baik perusahaan, setelah itu, baru kamu bisa fikirkan hal lainnya, urusan Bian biar jadi urusan Zahra."
"Mami, Kania sampai sakit sekarang karena memikirkan Bian."
__ADS_1
"Biarkan saja, meski begitu dia tetap saja semena-mena terhadap Zahra."
Kemal berpaling, muak sekali ia dengan kalimat Inggrid tentang Zahra, semua hanya pembelaan sebelah pihak.