
Zahra berjalan dengan tenang memilih apa yang dibutuhkannya, Zahra sedang ada di pusat perbelanjaan saat ini.
Ia akan memulai kebiasaan barunya di rumah, Zahra akan belajar masak agar bisa menyiapkan makanan untuk Bian.
Saat ini Zahra sedang membeli kebutuhan dapurnya, mencari apa yang mungkin akan Bian sukai nantinya, meski Zahra tidak bisa memasak tapi semoga saja Bian bisa menghargai usahanya.
"Bu, yang ini ya 1 kg saja."
"Silahkan."
Zahra mengangguk, ia melihat sekitar seraya menunggu pesanannya selesai.
Sudah cukup banyak yang dibelinya, mungkin itu cukup untuk beberapa hari ke depan.
"Silahkan, Bu."
"Oh iya, ini uangnya ya, cukup?"
"Ada kembalinya."
"Ah tidak perlu, ambil saja, terimakasih banyak."
"Terimakasih, Bu."
Zahra lantas pergi, sekarang ia akan kembali ke rumah karena semua sudah di dapatkannya.
Mungkin Bian juga sudah selesai dengan kesibukannya, mereka bisa santai-santai jika semua sudah selesai.
"Apa aku harus beli cemilan, sepertinya aku sedang ingin banyak makan sekarang ini."
Zahra melihat mereka semua, ia sedikit heran dengan tatapannya, ada yang berbeda, tapi ada apa.
Zahra melihat sekelilingnya, tidak ada apa pun, tapi kenapa mereka menatapnya seperti itu.
"Aneh sekali," ucap Zahra pelan.
Ia menggeleng dan berjalan dengan tetap tenang, biarkan saja mereka mau melihatnya seperti apa.
Cukup jauh Zahra berjalan, ia semakin merasa risih dengan tatapan mereka semua, Zahra menghentikan langkahnya dan balik menatap mereka bergantian.
"Ada ...."
Belum sempat selesai kalimat Zahra, suara teriakan mereka begitu kompak terdengar olehnya.
"Awas," jeritnya.
Zahra menunduk seraya jongkok, ia memejamkan matanya kuat.
Bukk ....
"Aww," ringis Zahra seraya menoleh.
Sebuah bat terjatuh di sampinya, kayu yang biasa digunakan untuk permainan kasti itu mengenainya pundaknya.
"Apa kau gila," ucap mereka kompak.
Zahra menekan pundaknya sekilas, ia segera bangkit saat orang-orang itu berjalan dan mengerubunginya.
__ADS_1
Zahra menoleh, ia terkejut saat melihat Damar dan Vanessa di sana, lelaki itu tampak menahan kedua tangan Vanessa.
"Ada apa ini?" tanya Zahra.
"Dia hampir saja membunuh mu," ucap satu dari orang di sana.
Zahra menyipitkan matanya, ia menatap Vanessa yang menatapnya penuh amarah.
Jadi dia penyebab tatapan aneh dari mereka semua, tapi kenapa Vanessa melakukan itu padanya.
"Mana Bian?" tanya Damar.
"Bian di rumah, ada apa ini, kenapa begini?"
"Dia hampir saja memukul mu dengan kayu itu."
Zahra melirik dan meraih kayunya, untuk apa Vanessa melakukan itu, bukankah mereka tidak punya urusan apa-apa lagi.
Tanpa bisa dihindari, Vanessa merebutnya dengan cepat dan mengayunkannya kearah Zahra.
Entah bodoh atau apa, Vanessa sampai tidak bisa menahan dirinya sendiri, jelas saja ia akan gagal karena begitu banyak orang yang akan menghalanginya.
"Hey dia sudah gila, seret dia keluar," ucap seseorang seraya merebut hayu tersebut.
"Kau harus mati!" bentak Vanessa.
Zahra mengernyit, tidak ada yang bisa difikirkannya sekarang, Zahra tidak mungkin diam saja di sana.
"Kau tahu, kau itu bawa sial, kau harus mati Ayra."
"Diam," ucap Damar menarik Vanessa.
"Pulanglah cepat, kau hanya sendirian?"
"Aku sendiri."
"Pulang sekarang, tidak aman untuk terus di luar."
"Terimakasih banyak."
"Berhati-hatilah."
Zahra mengangguk, ia kembali melirik arah pergi Damar, sepertinya Zahra harus mengejarnya.
Dengan cepat ia berlalu agar tidak kehilangan dua orang itu, tidak bisa dimengerti kenapa tiba-tiba ada Vanessa dan Damar di sana.
"Lepas, apa kau tidak dengar, lepas," jerit Vanessa.
"Diam, bodoh sekali kelakuan mu itu."
"Dia harus mati, kau dengar, dia harus mati."
Damar dengan sengaja mendorong Vanessa keluar, tidak ada gunanya berteriak seperti itu, Vanessa hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Kau membelanya, dia adalah wanita bawa sial."
"Dan kau wanita, pergi dari sini, Pak, usir dia."
__ADS_1
"Baik."
Security itu menarik Vanessa bangkit untuk membawanya pergi, tapi Vanessa tetap menolak, ia berontak dari tarikan tersebut.
"Hentikan," ucap Zahra.
Mereka menoleh bersamaan, Vanessa berusaha melepaskan dirinya, tapi tahanan itu cukup kuat untuk dilawannya.
"Ada apa sebenarnya, kenapa kamu lakukan ini?"
"Aku ingin agar kau mati, dengan kematian mu itu tidak akan ada lagi yang menghalangi ku untuk bersama Bian."
Zahra mengangkat kedua alisnya, masih tentang Bian, apa benar Bian sudah memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan Vanessa.
Sekarang Vanessa sampai seperti ini, wanita itu pasti kecewa dengan keputusan Bian terhadap hubungan mereka.
"Kau mati, Zahra lebih kau mati saja," jerit Vanessa.
"Aku tidak akan mati, apa lagi ditangan orang seperti mu, berfikirlah dengan benar sebelum memutusakan untuk bertindak, apa kamu sebodoh itu?"
"Tutup mulut mu, kali ini mungkin kau selamat, lihat saja setelah ini aku akan bisa menyingkirkan dirimu."
"Lakukan saja, kamu fikir aku takut, kamu tidak akan lupa seperti apa tadi, begitu banyak orang yang mau membantu ku, kamu tidak akan bisa melakukan apa pun padaku."
Vanessa justru tertawa mendengarnya, dan itu cukup untuk membuat mereka merasa heran.
Damar menggeleng, itu tampak buruk, sampai seperti itu Vanessa demi bisa bersama Bian, otaknya sampai tidak berfungsi dengan benar, kasihan sekali.
"Aku kasihan sama kamu, seharusnya kamu tidak seperti ini Vanessa, kamu masih mendapatkan kebahagiaan lain bersama laki-laki yang memang buat kamu."
"Jangan besar kepala kamu, kamu fikir Bian benar-benar menginginkan mu, kamu masih saja tertipu olehnya."
"Tapi dengan melihat mu seperti ini, aku tidak akan salah lagi untuk percaya sama Bian, dia telah membuangan mu bukan?"
Vanessa mengeraskan rahangnya, berani sekali Zahra berkata seperti itu, dengan sekuat tenaga Vanessa berontak, tapi tetap saja gagal.
Ingin sekali Vanessa menyakitinya saat ini, wanita itu sudah sangat mengganggu kebahagiannya.
"Bawa dia pergi, Pak, tidak ada gunanya banyak bicara dengan orang tidak waras seperti itu," ucap Damar.
"Baik, Pak."
Security itu menarik paksa Vanessa, tidak mungkin ia membiarkan keributan terjadi di sana.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Damar.
"Tidak, bagaimana bisa kamu disini?"
"Aku sedang menunggu Sintia, dia bilang mau belanja disini, tapi belum juga datang."
Zahra mengangguk, kebetulan yang sangat baik, jika saja tidak ada Damar, mungkin kayu itu telah benar-benar menyakitinya.
"Kamu sendirian, kenapa tidak diantar Bian?"
"Bian masih ada kerjaan, dan harus selesai besok pagi, dia tahu aku kesini kok."
"Tetap saja, harusnya dia temani kamu."
__ADS_1
Zahra tersenyum seraya mengangguk, yang penting sekarang semua baik-baik saja, tidak ada Bian pun bukankah ada Damar.
Tuhan memiliki banyak cara untuk melindungi manusia, dan itu tidak akan ada yang bisa menerkanya.