
"Cukup ya Sintia, jangan pernah lagi kamu mengharapkan lelaki seperti Bian, dia sangat keterlalun," ucap Fadli
Mereka telah sampai di rumah sekarang, sepanjang perjalanan Fadli tak henti mengomel, dan sekarang ketika sampai ke rumah pun masih saja tak berhenti.
"Sudahlah Pah, Sintia pasti tahu harus seperti apa sekarang," ucap Novi.
Sintia tak berniat untuk merespon satu kalimat pun juga, Sintia juga pusing dengan semuanya, Sintia kecewa dan sakit hati.
Apa mereka fikir jika Sintia baik-baik saja sekarang, Sintia juga tidak menyangka Bian akan tega melakukan semua itu padanya.
"Kamu lupakan saja lelaki itu, masih banyak yang lain yang bisa menghargai kamu."
"Sintia mau ke kamar dulu."
"Sintia."
"Sudahlah Pah, sudah Sintia kamu ke kamar saja."
Sintia berlalu meninggalkan keduanya, malas sekarang Sintia harus berdebat, biarkan saja mereka mau berfikir apa tentang keadaan saat ini.
"Kenapa Mamah ini?"
"Gak ada gunanya marahi Sintia seperti itu, biarkan tenang dulu, Sintia juga pasti kecewa dengan kejadian saat ini."
Fadli menggeleng, ia lantas berlalu meninggalkan Novi, fikirannya tak karuan sekarang tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
Novi menghembuskan nafasnya sekaligus, apa yang terjadi sangatlah mengecewakan, kenapa mereka tidak bisa mengerti jika akan seperti ini.
"Kasihan sekali Sintia, padahal perjodohan ini ajakan orang tua Bian sendiri, bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti ini pada anak ku."
Novi menggeleng dan turut pergi, lebih baik Novi menemani Sintia saja di kamarnya, saat ini Sintia pasti sedang sedih.
"Bian, aku tidur dimana malam ini?"
Bian menoleh dan menarik Zahra untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Ya karena aku butuh kejelasan."
"Kejelasan apa, aku sudah bilang kamu akan tinggal disini."
"Tapi kita belum menikah."
Bian tersenyum menatap Zahra, dan itu membuat Zahra berpaling.
"Mau banget dinikahi?"
Zahra mengernyit tanpa menoleh, tidak mungkin jika Bian lupa dengan perjanjian mereka.
"Iya, kita menikah secepatnya, nanti aku minta ketemu sama Nenek dulu, baru kita menikah."
Zahra kembali melihat Bian, apa semudah itu mereka menikah, kenapa terdengar enteng sekali.
__ADS_1
"Kenapa, gak percaya?"
"Apa bisa semudah itu?"
"Ya bisalah, kenapa harus gak bisa, pernikahan ini permintaan Nenek aku sendiri, jadi kalau aku sudah bawa kamu ke hadapan Nenek, pasti pernikahan itu akan langsung terjadi."
Zahra diam, benarkah seperti itu, memangnya kenapa neneknya mengharuskan Bian menikah cepat.
Apa tidak bisa melihat jika Bian belum siap untuk itu, Zahra juga sewaktu orang tuanya hidup sama-sama orang kaya, tapi tidak dipaksa menikah seperti Bian.
"Mikir apa?"
Zahra menggeleng dan kembali berpaling, lebih baik Zahra tidak perlu banyak bicara, Zahra ikuti saja semuanya yang terpenting rumah itu masih tetap milik Zahra.
"Kamu tidur disini, aku sama Mamah dan Papah pulang kok."
"Orang tua kamu tahu?"
"Ya tahulah, sudah tenang saja, kamu aman dan bebas tidur disini."
Zahra tersenyum dan mengangguk, baguslah kalau seperti itu berarti Bian menepati janjinya, dan memang mampu membuktikan ucapannya.
"Senang?"
Zahra menoleh tanpa menghilangkan senyumannya.
"Makasih ya."
Perjodohan itu telah selesai dan batal, Bian tidak akan kehilangan kebebasannya meski telah menikah nanti.
Zahra sudah sepakat dengan semuanya, dan itu sesuai sekali dengan keinginan keduanya, jadi memang adil dan menguntungkan keduanya.
"Ayo Pah, kita pulang saja."
Kemal menolah dan mengangguk, mungkin itu seharusnya, lebih baik Kemal pulang saja sekarang agar bisa lebih menenangkan diri di rumahnya nanti.
"Mana Bian?"
"Bian di bawah sama Ayra."
Kemal bangkit dan berlalu lebih dulu, Kemal tidak ingin melihat Bian saat ini, lelaki itu telah sangat mempermalukan Kemal.
"Papah," panggil Kania.
Kania lantas menyusul, jangan sampai ada keributan antara Bian dan Kemal sekarang, atau semua akan semakin berantakan lagi.
"Papah, tunggu."
Kemal tak peduli dan terus saja berjalan menuruni tangga, Bian memang ada disana, ia sedang berbincang dengan wanita itu.
Kemal mengepalkan tangannya, siapa wanita itu kenapa bisa mengacaukan pertemuannya dengan Fadli tadi.
Zahra menoleh dan melihat Kemal yang berdiir dianak tangga terakhir, Zahra menyikut Bian dan mengisyaratkan untuk menoleh.
__ADS_1
Bian pun menoleh dan bangkit, ketika kakinya terayun hendak menghampiri Kemal, Kemal justru pergi begitu saja.
Bian kembali diam dan melirik Kania, Kania menggeleng dan turut pergi menyusul suaminya.
"Apa aku akan tetap aman setelah sikap Papah kamu seperti itu?"
Bian menoleh dan kembali duduk, untuk apa memikirkan itu, bukankah Bian sudah katakan kalau akan menjaga Zahra.
"Aku takut."
"Takut apa sih, sudahlah, urusan kamu cuma sama aku bukan sama mereka."
Zahra berdecak dan berpaling, Bian terlalu menganggap remeh semuanya, apa akan tetap seenteng itu permasalahan mereka nanti.
Bagaimana kalau Bian justru mengabaikan Zahra, dan sibuk dengan kesenangannya sendiri, Zahra belum tentu bisa menghadapi orang tua Bian.
"Kenapa sih, gelisah banget?"
"Kamu katanya mau pulang."
"Kok diusir?"
"Ya biar saja memangnya aku harus biarkan kamu tetap disini?"
Bian mengangkat kedua bahunya sekilas, Zahra menggeleng dan meneguk minumannya.
"Sudahlah tidak perlu bingung seperti itu, apa pun yang akan terjadi nanti kita akan selalu sama-sama, jadi tidak perlu gelisah seperti itu sekarang."
"Diam, gak usah banyak ngomong."
Bian mengernyit dan menggeleng, kenapa jadi nyolot seperti itu, padahal Bian sedang berusaha menenangkannya.
"Minum dulu ya," ucap Novi seraya memberikan gelasnya.
Sintia menerimanya meski tidak meneguknya, Novi tersenyum dan mengusap kepala Sintia.
"Tidak apa-apa, bukannya kamu sudah biasa mendapatkan penolakan dari Bian."
Sintia menoleh sekilas, tapi kali ini Sintia tidak bisa terima meski sedikit pun juga.
Biarkan saja, Bian akan dapat balasannya nanti, kamu jangan khawatir setiap perbuatan mau itu baik atau buruk, tetap saja akan mendapatkan balasannya.
Sintia sedikit tersenyum, ingin sekali Sintia menangis sekarang, tapi ada Novi di sampingnya.
"Kamu istirahat ya, jalani hari dengan sebaik mungkin, apa pun yang terjadi hari ini jangan kamu jadikan beban."
Tak ada jawaban, apa bisa Sintia seperti itu, apa yang dilakukan Bian sangat menyakitinya dan Sintia tidak bisa melupakannya begitu saja.
"Sintia, memang Mamah dan Papah yang salah karena telah setuju dengan perjodohan yang ditawarkan orang tua Bian, kami minta maaf ya, kami tidak akan mengulanginya lagi nanti."
Sintia kembali tersenyum dan memeluk Novi, mungkin kesalahan Sintia juga karena telah dengan mudah menyukai Bian.
Sintia tidak bisa mengontrol dan membatasi hatinya, sehingga perasaannya terhadap Bian justru semakin bertambah saja setiap harinya.
__ADS_1