
Semakin lama, semakin habis tenaga Zahra untuk bisa menjauhkan Bian, kekacauan yang dirasakannya sudah membuatnya semakin lemah.
Zahra perlahan diam, ia membiarkan Bian menyentuh tubuhnya dengan bebas, lelaki itu begitu liar mempermainkan tubuhnya.
"Nikmati saja," bisik Bian.
Di malam yang mendekati pagi, Zahra harus rela karena untuk kedua kalinya, Bian melepaskan paksa pakaiannya.
Mata Zahra terpejam, kenapa ia tidak mati saja menyusul orang tuanya, mungkin dengan begitu Zahra tidak perlu merasakan tekanan seperti saat ini.
Pejaman mata Zahra semakin kuat, saat ia merasakan sakit akibat ulah Bian, setelah seperti ini memang sudah tidak ada gunanya lagi Zahra berontak.
"Jangan terus menahannya, bukankah kamu tidak mau jika aku marah?"
Zahra tak bergeming, ia tidak melakukan apa pun, Bian harusnya mengerti dengan apa yang saat ini dirasakannya.
Pergerakan Bian yang semakin tak terkendali, membuat Zahra mengerang sakit, sedikit pergerakan Zahra untuk menjauhkan Bian, tak ada artinya sama sekali, Bian juga tak perduli dengan tangis Zahra yang begitu jelas.
"Ini yang paling benar," bisik Bian.
Ia mencubu Zahra sesuka hatinya, bukankah Bian juga lelaki normal, ia pasti akan menginginkan hal seperti itu, apa lagi terhadap istrinya sendiri.
Erangan Zahra semakin lama telah berubah menjadi *******, suara Zahra terasa semakin membuat Bian menggila.
Tak ada perjanjian apa pun yang diingatnya, semua sudah terlupakan karena persetubuhan mereka saat ini.
Bian memperlakukan Zahra semaunya, tak ada yang terlewatkan dari tubuh wanita itu, Bian tak perduli meski berulang kali Zahra memintanya berhenti.
"Ini menyenangkan, seharusnya aku tahu jika hal ini begitu menyenangkan."
Zahra menggeleng, ia meremas kuat sprei yang disentuhnya, Bian sama sekali tidak memberinya celah untuk bernafas.
Dengan kegiatan tersebut, rasanya sangat mampu menghilangkan kekesalan Bian, menghilangkan pusing di kepalanya, dan menghilangkan semua tekanan sempat yang dirasakannya.
Iya, Bian memang telah melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri, janji dimana Bian tidak akan menyentuh Zahra meski sedikit saja, janji itu telah hilang sekarang karena Zahra sedang ada dalam kendali permainannya.
"Sss aaa ....," erang Bian.
Pergerakan Bian perlahan melambat, hal itu mampu membuat Zahra sedikit bernafas, hingga akhirnya semua terhenti, Zahra menoleh saat Bian berbaring di sampingnya.
"Harusnya kita melakukan ini sejak awal," ucap Bian seraya tersenyum.
__ADS_1
Zahra menelan ludahnya dengan susah payah, ia menarik selimut dan berbaring membelakangi Bian.
Lepas sudah semuanya, Zahra sudah kehilangan semuanya, tak ada yang bisa dilakukannya selain dari pada menerimanya saja.
Zahra tak pernah berfikir akan melepas kehormatannya dengan keterpaksaan, Zahra selalu menjaga semuanya, tapi sekang sudah tidak ada lagi.
"Berhenti menangis, Suami mu sendiri yang melakukannya, apa yang harus ditangisi?"
Zahra diam saat Bian memeluknya, betapa ingin Zahra marah dan menyakitinya saat ini, tapi akan seperti apa respon Inggrid.
Bisa saja wanita itu tak terima dan marah pada Zahra, dan akhirnya Zahra akan dibenci mereka semua, tidak akan ada lagi yang membelanya.
"Apa aku harus minta maaf padamu, apa aku harus bersujud di kakimu untuk menghentikan tangisan mu?"
Zahra tak bergeming, ia hanya fokus dengan tangisnya sendiri, entah apa yang harus difikirkannya saat ini, semua sangatlah memuakan.
"Tapi aku memang harus minta maaf padamu, aku minta maaf karena meski semua ini telah terjadi, aku tetap tidak bisa membalas perasaan mu."
Zahra meremas selimut yang digenggamnya,tidak bisakah Bian diam saja, ucapannya hanya membuat Zahra semakin terluka.
"Satu lagi, tadi kamu sempat bertanya tentang wanita itu, kamu benar Zahra, aku memang menyukainya, aku tidak mengerti kenapa bisa semudah itu aku tertarik padanya padahal kita baru saja bertemu."
"Aku akan berusaha untuk melupakan perasaan aku terhadapnya, tapi aku tidak akan berusaha untuk bisa membalas perasaan kamu, itu tidak bisa aku lakukan Zahra, aku tidak mengarahkan perasaan aku terhadap kamu."
Zahra merapatkan bibirnya, bisakah Zahra menjerit saja sekarang, meluapkan sakit hatinya yang begitu saja datang.
Zahra masih bisa menahan kecewa akibat sikap abai Bian, tapi kali ini, apa Zahra bisa menahan sakit hati karena suaminya sendiri.
"Berhenti menangis, apa kamu tidak bisa mendengar ku, kenapa kamu tidak menuruti aku?"
Zahra tetap saja bungkam, tangisnya sudah sangat sulit untuknya bisa berbicara, Zahra tak habis fikir jika Bian bisa melakukan semua itu.
Perlakuan dan perkataannya, seharusnya tidak Bian lampiaskan padanya, sekarang akan seperti apa hidup Zahra setelah semuanya direnggut Bian.
Bian berdecak seraya duduk, tangis Zahra sangat membuatnya jengkel, Zahra sama sekali tidak menghiraukan perintahnya untuk diam.
"Cengeng, bocah cengeng."
Zahra merasakan pergerakan Bian yang turun dari tempat tidur, tak lama kemudian, Zahra mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali.
Zahra menggigit telunjuknya, tangisnya yang semakin dalam membat Zahra tak bisa mengontrol suaranya.
__ADS_1
Tidak ada yang boleh mendengar tangisnya saat ini, atau akan banyak pertanyaan yang didapatkannya, dan itu hanya akan membuatnya semakin tertekan.
"Sintia bangun," teriak Vanessa seraya mengoyak tubuh Sintia.
Hari sudah pagi, sesuai janji mereka semalam, pagi ini mereka akan lari pagi mengelilingi komplek rumahnya.
Tapi apa yang terjadi, Sintia justru betah dalam balutan selimut tebal milik Vanessa, niat mereka untuk melupakan tidur ternyata gagal, Sintia tidak bisa melawan kantuknya.
"Hey bangun, apa kamu tidak sadarkan diri, Sintia bangun atau aku panggilkan Dokter."
"Untuk apa panggil Dokter?" tanya Sintia lemah.
Vanessa mengernyit, kenapa tidak menjawab sejak tadi, Sintia hanya membuatnya kesal saja.
"Ayo bangun, bangun, bangun, aku sudah siap bukankah kita akan lari pagi sekarang?"
"Iya, tunggu 10 menit lagi."
"Gak, matahari akan panas jika semakin siang, dan itu tidak baik untuk kesehatan."
"Hey, kamu bukan Dokter, tahu dari mana semua itu."
Vanessa berdecak, paginya sudah harus kesal saja karena ulah Sintia, kenapa malas sekali sepupunya itu.
"Pantas saja kamu tidak juga mendapatkan pacar, malas seperti ini."
Sintia mengernyit, ia seketika terduduk dan menatap Vanessa dengan mata yang masih sulit terbuka.
Vanessa menahan tawa melihatnya, ya, tentu sepupunya itu memang konyol, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga jadi lelucon seperti itu.
"Tertawa saja, aku memang lucu."
Vanessa diam, ia lantas menarik Sintia untuk turun, mendorongnya perlahan ke kamar mandi.
"Tidak ada waktu, sekarang lari atau tidak sama sekali, besok aku harus kembali kerja."
"Ya, aku tahu wahai wanita karir, kau memang sangat sibuk."
Sintia menutup pintunya, Vanessa hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah, jadi masih seperti itu saja sepupunya setelah bertahun tidak bertemu.
__ADS_1