
Zahra duduk di ruang meeting bersama dengan yang lainnya, tatapannya tampak kosong, ia seperti tidak fokus dalam meeting kali ini.
Mereka sudah menjelaskan semuanya, tapi Zahra tetap tak bergeming, Marvel yang melihat itu sejak awal merasa sangat heran.
"Jadi, bagaimana sekarang?"
Marvel menoleh, ia mengangguk dan kembali melirik Zahra, entah wanita itu akan setuju atau tidak kali ini.
Marvel menepuk pundak Zahra, dan itu membuat Zahra terkejut, ada satu yang menambah heran Marvel, yaitu tatapan Zahra yang seperti siap menerkamnya.
"Maaf Bu, mereka sudah menjelaskan semuanya, bagaimana menurut Ibu, apa ...."
"Apa kalian tidak bisa kerjakan sendiri, tidak bisakah kalian berfikir sendiri?" sela Zahra.
Mereka tampak saling lirik, nada bicara Zahra sangat tidak tenang, ada apa dengan wanita itu saat ini.
"Bukankah kamu sudah terbiasa mengurusi hal seperti ini, kenapa selalu saja bertanya padaku, tidak punyakah pemikiran sendiri?"
"Maaf Bu Zahra, tapi saya harus menghormati Ibu sebagai atasan saya."
"Gak perlu berlebihan."
Mereka kembali saling lirik, padahal pertanyaan seperti itu selalu ada disetiap meeting, kenapa Zahra harus emosi.
Mereka tak bisa mengerti itu, apa pun alasannya Zahra tak seharusnya bicara tidak sopan seperti itu di depan tamu.
"Ada apa ini, kita mulai meeting ini dengan baik-baik saja."
Mavel mengangguk, tentu saja ia sadar itu, tapi Marvel juga tak mengerti kenapa Zahra jadi seperti itu.
"Selesaikan ini sendiri, saya tidak mau urus semua ini."
"Bu Zahra."
"Kerjakan."
Zahra bangkit dan berlalu begitu saja, meski berulang kali panggilan Marvel sampai ketelinganya.
Marvel menunduk sesaat, benar-benar tidak bisa dimengerti, kenapa bisa Zahra bersikap seperti itu di hadapan mereka semua.
"Kenapa seperti itu atasan anda?"
"Orang seperti itu seharusnya tidak menduduki posisinya saat ini."
Marvel berpaling sesaat, Zahra memang keterlaluan, seharusnya dia tidak perlu hadir sejak awal, dari pada membuat malu seperti ini.
"Kita baru saja berencana untuk bekerja sama, apa ini akan berjalan dengan baik, saya tidak yakin jika yang terlihat justru seperti ini."
"Ah, tunggu dulu Pak, ini sepertinya ada sedikit masalah dari fokus Bu Zahra, saya akan bicarakan ini nanti dengan beliau, saya mohon pengertiannya dari Bapak."
"Pengertian apa, saya juga kerap pusing saat mengurus pekerjaan, dia ada masalah, saya juga sama ada masalah, tapi profesional kerja itu harus utama jika dalam keadaan seperti ini."
"Iya Pak, saya mengerti dan saya mohon maaf, kita bisa atur pertemuan berikutnya, saya akan usahakan yang terbaik."
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot berjanji, saya tidak butuh itu, saya permisi, ayo kita kembali ke Kantor."
"Baik, Pak."
"Pak Kelvin, Pak, ini bisa dibicarakan terlebih dahulu Pak."
Tak ada respon, mereka keluar tanpa mengatakan apa pun lagi.
Marvel mengepalkan tangannya, apa wanita itu kerasukan, sudah beberapa hari ini Zahra terlihat uring-uringan, fokusnya kerap hilang disaat yang dibutuhkan.
"Menjengkelkan sekali, ada apa dengan wanita itu."
Marvel lantas keluar, dan segera menuju ruangan Zahra, sampai di sana Marvel melihat Zahra yang tampak menunduk di meja kerjanya.
Apa dia tidur di sana, bagus sekali kelakuannya, membuat meeting kacau, dan justru diam tenang seperti itu.
"Bu Zahra," panggil Marvel seraya mendekat.
"Pergi, tidak ada yang meminta mu datang kesini."
"Bu, kenapa bisa seperti ini, Ibu tahu meeting jadi gagal hari ini."
Zahra bangkit seraya menggebrak mejanya, ia menatap Marvel dengan kesal, tapi Marvel menanggapinya sesantai mungkin.
Ia tidak merasa salah saat ini, bukankah Zahra yang membuat kacau semuanya, sudah seharusnya Marvel yang kecewa dan marah padanya.
"Bukankah kau ini hebat, kau adalah kepercayaan di perusahaan ini sebelum aku datang, kenapa harus bergantung padaku hanya karena meeting seperti itu saja."
"Saya tidak bergantung, saya sudah katakan kalau saya harus menghargai Ibu sebagai atasan saya, seharusnya Ibu paham siapa Ibu disini."
Marvel menggeleng, sepertinya saat ini kewarasannya sudah terganggu.
Zahra tidak jelas sejak beberapa hari ini, dia kerap emosi tanpa alasan yang jelas, lebih baik wanita itu tidak masuk kantor dari pada mengacaukan semuanya.
"Tunggu apa lagi."
"Kalau memang Ibu sedang tidak enak badan, atau sedang banyak fikiran diluar kerjaan, lebih baik Ibu di rumah saja."
"Kamu masih saja menceramahi saya, saya sudah bilang, keluar!"
Marvel mengangguk, ia sedikit tersenyum melihat wajah prustasi Zahra, sepertinya wanita itu perlu pemeriksaan dokter.
Marvel lantas pergi meninggalkan Zahra, tidak ada yang didapatkannya dari sana, semua tetaplah berantakan.
"Marvel."
Marvel menoleh, bagus sekali wanita itu datang sekarang, dia harus tahu kelakuan cucunya seperti apa.
"Kamu kenapa, terlihat kesal?" tanya Inggrid.
"Ibu tanya saja sendiri pada pimpinannya."
"Ada apa, Ayra kenapa?"
__ADS_1
"Saya tidak mengerti, dia sudah membuat meeting berantakan, dan entah akan mau lanjut atau tidak mereka dengan kerjasama kita."
Inggrid diam, ada apa lagi degan Zahra, sejak kepulangannya saat bersama Damar, Zahra jadi tidak jelas.
Wanita itu kerap melamun dan marah-marah, emosinya sangat tidak terkontrol dengan baik, hal itu membuat Inggrid sedikit curiga dengan Damar.
Ditambah lagi dengan Damar yang tidak pernah menemui Zahra sejak hari itu, Inggrid jadi kehilangan batas fikiran baiknya.
"Saya permisi, Bu."
"Baiklah, apa pun yang terjadi, saya tidak tahu, tapi jika itu kesalahan, tolong maafkan Zahra."
"Entahlah, minta maaf saja sama pihak sebelah, mereka sudah sangat kecewa."
Inggrid mengangguk, Marvel melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, percuma banyak bicara juga, Marvel hanya akan jadi pengadu saja.
Inggrid lantas berjalan memasuki ruangan Zahra, ia menghampirinya dengan tatapan yang tak bercelah.
"Ayra, kamu kenapa?"
"Oma ngapain kesini?"
"Ayra, kalau kamu tidak bisa bekerja, kamu bisa diam rumah, jangan memaksakan seperti ini."
"Oma lebih baik di rumah, tidak perlu banyak berpergian."
"Ayra."
Zahra mengusap wajahnya berulang kali, ia menjambak rambutnya sesaat, kepalanya terasa sangat sakit.
Sudah berhari-hari Zahra tidak bisa tidur dengan tenang, begitu banyak tekanan yang dirasakannya begitu saja dan bersamaan.
"Ada apa, jangan disimpan sendiri, kamu tidak akan kuat."
"Aku tidak apa-apa, Oma bisa pulang saja."
"Oma kesini untuk melihat keadaan mu, kalau memang kamu mau istirahat, Oma bisa gantikan kamu disini."
Zahra diam, sepertinya itu memang lebih baik, Zahra sedang tidak tahu apa keinginannya saat ini, semua dirasa sangat kacau.
Inggrid mengusap kepala Zahra, sepertinya keadaan buruk Zahra telah kembali, dia kembali pada masa sulitnya yang telah mampu dilewatinya kemarin.
"Pulanglah, dan istirahat, kalau perlu kamu ke Dokter dulu."
"Tidak, aku akan pulang saja."
"Jangan lakukan apa pun yang akan merugikan dirimu sendiri, kamu harus bisa jaga diri sendiri meski kamu tidak bisa menjaga yang lainnya."
Zahra mengangguk, ya saja, Zahra malas banyak bicara, Inggrid tidak akan mengerti apa-apa, karena Zahra pun tidak mengerti dirinya sendiri saat ini.
Zahra meraih tasnya, ia lantas bangkit dan berlalu begitu saja, bukankah itu bukan hal biasa, Zahra selalu mencium tangan Inggrid ketika akan pergi.
"Hati-hati."
__ADS_1
Tak ada respon, Inggrid hanya bisa menggeleng melihat Zahra yang seperti itu.
Jelas saja Inggrid khawatir dengan mentalnya, tapi entah apa yang harus dilakukannya karena Zahra tidak mau cerita apa-apa padanya.