Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Itu Menggoda Ku


__ADS_3

"Sss aaaa kesal sekali aku dengan wanita itu, kenapa tidak biarkan saja tadi aku menamparnya," ucap Sintia kesal.


Saat ini keduanya sedang ada di perjalanan pulang, meski malam sudah larut tapi mereka memang harus segera pulang.


"Sudahlah lupakan, mereka sudah selesaikan semuanya, kenapa kamu masih saja ngomel seperti ini?"


"Apa kamu tidak merasa kesal dengan dia, kelakuannya sangatlah buruk."


"Iya, aku tahu, tapi tidak perlu seperti ini juga, kamu hanya menghabiskan tenaga kamu dengan ngomel gak jelas kayak gini."


Sintia mendengus, bagaiamana bisa tenang, Vanessa sangatlah menjengkelkan, setelah permintaan maaf itu terjadi tapi Sintia merasa semua belum berakhir.


"Lihat saja, setelah ini pasti akan ada hal lainnya lagi, wanita itu tidak akan diam."


"Biarkan saja, asalkan jangan kamu yang seperti itu."


"Semua saja kamu bilanf biarkan, apa kamu tidak punya hati, kamu tidak punya emosi?"


Damar mengernyit, ia seketika meminggirkan mobilnya, apa kali ini harus mereka berdua yang berdebat, apa untungnya.


Sintia menoleh, kemudian mendelik, kenapa juga harus menghentikan mobilnya seperti itu.


"Sampai kapan kamu akan ngomel seperti ini?"


"Sampai aku puas, kalau saja tadi aku bisa menamparnya sekali saja, aku sekarang pasti diam."


Damar menghembuskan nafasnya sekaligus, sabar sabar dan sabar bisik Damar pada hatinya sendiri.


"Kamu kenapa, kamu kasihan sama dia, kamu mau membelanya juga?"


"Untuk apa, untuk apa aku membelanya dan untuk apa juga aku membencinya, aku gak ada urusan apa-apa sama dia."


Sintia memghentakan kakinya asal, bukan itu yang ingin didengarnya saat ini, karena saat ini Sintia hanya ingin mendapatkan dukungan.


Damar tersenyum, ia meraih kedua tangan Sintia, menciumnya beberapa saat dan mengusapnya dengan ibu jadi.


"Berhenti ngomel seperti itu, aku menyukai itu, kalau kamu terus seperti itu jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri."


"Apa maksud kamu?"


"Ini sudah malam, jalanan cukup kosong, dan kita hanya berdua saja disini."


Sintia mengernyit, lalu kemana arah bicaranya itu, bagaimana bisa Sintia berfikir dengan benar jika seperti itu.


"Kamu mengeri maksud ku?"

__ADS_1


"Kamu mau kurang ajar padaku?"


Damar tersenyum, ia mengangguk seraya berpaling, jelas saja itu membuat Sintia semakin kesal.


Tanpa permisi, Sintia memukul Damar berulang kali, baguslah itu mewakili kemarahannya terhadap Vanessa.


"Aaah sakit ah."


Sintia berdecak, ia kembali pada posisinya, terdiam di sana dengan tatapan lurus ke jalan di depannya.


Damar menggeleng, seperti itukah wanita, kenapa menyabalkan sekali tingkahnya itu.


 


"Zahra, aku ...."


"Kamu harus istirahat, jangan banyak bicara lagi," sela Zahra


Mereka tinggal berdua di kamar itu, semua sudah bubar ke penginapan.


Bian sedang berusaha berbicara dengan Zahra, tapi wanita itu tetap berusaha menghindarinya.


"Aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku?"


"Zahra, kali ini ....."


"Diam."


Bian diam, keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain, Zahra tidak mau banyak bicara karena ia takut akan tangisnya yang mungkin tidak akan bisa ditahan.


"Kamu mau kita bicara serius?" tanya Zahra.


Bian hanya mengangguk saja, itu memang keinginannya, tapi sejak tadi Zahra terus saja menghindarinya.


"Dengar, aku sudah berusaha melupakan semua yang terjadi padaku selama kita sama-sama, kamu tahu kalau itu sulit, belum sempat aku melupakan semuanya dan sekarang terjadi hal seperti ini, bagaimana cara aku untuk bisa menerimanya?"


"Aku tahu, aku memang sadar atas semua yang terjadi adalah kesalahan aku, itu alasannya sekarang aku benar-benar minta maaf sama kamu."


"Aku sudah memaafkan semuanya bukan hanya kamu, tapi aku tidak tahu kapan aku bisa melupakan semuanya."


Bian mengangguk paham, sampai detik ini Bian memang belum berubah, hanya sedikit saja dan mungkin itu tidak berarti untuk Zahra.


"Bian, aku sudah katakan kalau aku akan tetap sama kamu selama kamu tidak mengusir ku, tapi sekarang aku rasa semua memang sudah berubah."


Bian mengangkat kedua alisnya, perasaannya seketika panik, apa yang akan dikatakan Zahra selanjutnya, kenapa Bian merasa tidak ingin mendengarnya sama sekali.

__ADS_1


Zahra menghela nafas, sejak awal Zahra selalu berusaha untuk setiap halnya, berusaha meski harus sendirian, tapi sekarang Zahra ingin keadilan benar-benar bersamanya.


"Aku mau kita pisah, selesaikan semuanya dengan ku, dan kita jalani hidup masing-masing saja tentu dengan arah masing-masing agar tidak ada yang dipaksakan."


Jantung Bian seolah berhenti berdetak, rasa sakit mendadak menyeruak menekannya, bisa sekali Zahra berkata seperti itu.


Zahra tersenyum, meski air mata mulai berontak untuk keluar saat ini.


"Kamu tahu, aku juga manusia biasa, aku bisa marah dan kecewa, dan aku juga punya hak atas hidup aku sendiri."


"Tapi aku sudah katakan kalau aku tidak mau perpisahan itu, aku sudah janji akan berubah sebisa aku, apa tidak ada kesempatan itu?"


Zahra menggeleng, rasa lelahnya sudah ada diakhir, kesabarannya sudah tidak ada lagi, Zahra juga takut dengan keputusannya sendiri tapi Zahra harus berani.


Bian menggenggam kedua tangan Zahra, apa yang terjadi pada dirinya, apa benar Bian mulai mencintai Zahra lebih dari yang disadarinya.


"Kita sudah terlalu jauh memaksakan semuanya, aku memaksakan keinginan ku terhadap mu dan juga sebaliknya, tapi hasilnya selalu saja buruk tidak ada hal baiknya sama sekali."


"Tapi bukan tidak mungkin kalau semua akan berubah setelah ini."


"Kita akan berubah, semua akan berubah, dan itu akan terjadi setelah kita berpisah."


Bian menggeleng, ia menunduk ke pangkuan Zahra, entah apa sebutan yang pantas untuk Bian, karena saat ini lelaki itu menangis tanpa bisa ditahan.


Zahra sedikit tersenyum, itu seharusnya sudah bisa mewakili tangisnya yang sejak tadi ditahan mati-matian.


"Aku tidak bisa melakukan itu, kenapa tidak berikan aku waktu sebentar lagi saja, aku akan benar-benar perbaiki semuanya."


"Terlalu banyak gangguan dari sana dan sini, aku sudah tidak mau lagi pusing karena itu, aku ingin hidup tenang bahkan meski dalam.kesendirian."


"Gak, aku gak bisa terima ini, aku gak bisa kabulkan keinginan kamu, jangan seperti ini."


Zahra berpaling, ia mengerjapkan matanya berulang kali, tidak Zahra tidak boleh ikut menangis sekarang.


Bian kembali pada posisinya, ia menatap Zahra sesaat dan memeluknya erat.


"Aku sudah fikirkan semuanya, aku berjanji akan merubah semuanya, aku akan berusaha memberikan kehidupan sesuai yang kamu impikan selama ini."


"Aku tidak bisa untuk tidak mempercayai mu, bahkan sampai detik ini, tapi hasilnya selalu saja mengecewakan aku."


"Kali ini tidak akan lagi, aku janji sama kamu, biarkan aku membuktikannya untuk terakhir kali, satu kali kesempatan lagi aku mohon."


Zahra diam, bukankah Zahra adalah manusia paling bodoh, bagaimana bisa Zahra menghindar dari semua janji yang diutarakan Bian.


Bahkan meski ia sadar, hasil akhir tak akan sesuai dengan khayalannya, meski sedikit pun tidak pernah ada yang sesuai.

__ADS_1


__ADS_2