Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Harus Lebih Berjuang


__ADS_3

Sintia dan Vanessa sedang menikmati bubur di pinggiran jalan kompleknya, sejak dulu bubur itu adalah langganan Vanessa setiap pagi.


"Pak, gak bosan jualan bubur terus?"


"Mana bisa seperti itu, kalau Bapak bosan, lalu mau dapat penghasilan dari mana?"


"Iya juga sih, Bapak, mau gak kerja di tempat saya bekerja, ada lowongan sih tapi untuk bagian OB."


"Tidak, terimakasih, kasihan pelanggan bubur nanti kehilangan."


Vanessa tersenyum seraya mengangguk, ia melirik Sintia yang tampak anteng saja menikmati buburnya.


"Stop stop stop."


Keduanya menoleh, Sintia seketika menghentikan kegiatannya saat melihat dan Dion bersama dengan temannya.


"Jauh-jauh cuma untuk beli bubur?" tanya Dion.


"Kan yang ada cuma disini, maksudnya yang enak cuma ini."


Dion berdecak, ia membiarkan temannya itu pergi untuk membeli bubur.


Melihat kesendirian Dion, Sintia segera menyimpan buburnya dan berjalan menghampiri Dion.


"Hey, kamu kemana?" tanya Vanessa.


Sintia tak perduli, ia juga tak perduli saat berpapasan dengan temannya Dion, Sintia lurus saja hingga sampai di samping Dion.


"Bubur 4 bungkus, Pak."


"Baik, silahkan duduk dulu."


"Oke."


Ia lantas duduk dan melirik Vanessa, mereka tersenyum bersamaan, Vanessa kembali melirik Sintia, siapa yang ditemuinya itu.


"Sepertinya kita berjodoh," ucap Sintia.


Dion menoleh, satu detik kemudian ia berdecak dan kembali berpaling, kenapa buruk sekali pagi harinya sampai harus bertemu Sintia.


"Tenang saja, aku tidak akan lama, aku hanya ingin memberi kabar saja kalau Zahra sedang dalam ancaman."


Dion kembali menoleh, ia diam menatap Sintia, mendapat tatapan seperti itu, Sintia justru tertawa.


"Apa maksud kamu?"


Sintia mengangguk dan menunjuk Vanessa di sana, Dion meliriknya dan memang melihatnya juga.


"Dia sepupu ku, Vanessa."


"Apa urusannya dengan ku?"


"Ada, karena ini menyangkut Zahra."


"Tidak perlu berbelit, katakan saja dengan jelas."


Sintia kembali mengangguk, Dion sempat kembali melirik Vaessa, wanita itu pun seperti sedang memperhatikan keduanya.


"Ada apa?" tanya Dion kesal.


"Bian, menyukai Vanessa, dan kemarin mereka sudah jalan berdua, dan satu lagi jika Vanessa juga menyukai Bian, kamu mengerti sampai situ?"


Dion diam, kalimat Sintia begitu saja mengusik ketenangannya, bagaimana bisa seperti itu, siapa Vanessa, kenapa bisa Bian menyukainya.

__ADS_1


Sekarang Bian tahu mana wanita yang pergi seharian dengan Bian, bisa-bisanya mereka seperti itu berdua.


"Aku rasa, Zahra sedang tidak baik-baik saja, karena kalau sampai dia tahu soal ini, dia mungkin akan kecewa."


"Diam kamu."


Sintia tersenyum dan menggeleng, tentu saja Sintia tidak akan diam, bagaimana mungkin saat seperti itu Sintia bisa diam.


"Bian memang tidak bisa menerima aku, tapi yang lebih tidak bisa dipercaya, Bian justru menyukai Vanessa sejak jumpa pertama, dan aku rasa memang ...."


"Aku bilang diam," sela Dion.


Sintia diam, Dion kembali melirik Vanessa, bisa sekali wanita itu mengusik Bian dan Zahra.


"Suruh dia berhenti," ucap Dion.


"Tentu saja, aku sudah jelaskan jika Bian sudah menikah, tapi tentunya kamu mengerti jika hati memang tidak bisa dipaksakan."


Dion diam, lihat saja apa yang akan dilakukannya jika sampai Zahra terluka karena mereka berdua.


Apa yang dikatakan Sintia memang benar, Zahra akan kecewa jika tahu Bian menyukai wanita lain, karena Zahra memang sudah mengharapkan Bian sekarang.


"Ayo jalan."


Keduanya menoleh, Dion melirik Sintia yang masih saja menatapnya, wanita itu pasti senang dengan keadaan saat ini.


"Aku sudah beri tahu ini, dan sebaiknya kamu gerak cepat sebelum dia sakit hati."


"Katakan pada sepupu mu itu, jangan bertingkah, bukankah dia wanita baik-baik?"


Lelaki yang duduk di belakang Bian menatap keduanya bergantian, ada apa dengan mereka, kenapa seperti sedang berseteru.


"Dia memang wanita baik-baik, dia selalu pakai hati untuk setiap langkahnya, dan seharusnya yang dipertanyakan itu Bian, apa dia punya hati sampai bisa menyukai wanita lain setelah beristri?"


Sinta hanya tersenyum seraya mengangguk, itu cukup mudah untuk dimengerti, hanya sayang Sintia tidak mau melakukannya.


"Tidak perlu repot mengurusi sepupu ku, dan lebih baik kamu fokus saja untuk menjaga Zahra, bukankah itu lebih penting?"


"Tidak perlu ingatkan aku tentang itu, kamu tahu apa soal perasaan?"


"Baiklah, sebaiknya kamu cepat melangkah, karena telat sedikit saja hati wanita itu akan patah, dan tidak akan bisa balik sempurna lagi."


Dion mengepalkan tangannya, berisik sekali mulut Sintia, apa dia tidak bisa berfikir sebelum berbicara.


"Woy, ada apa sih ini?"


Dion menoleh sekilas, ia menyalakan motornya dan melaju pergi begitu saja.


Kepergian Dion membuat Sintia tersenyum senang, baiklah, Sintia akan menunda untuk membawa Vanessa menemui Zahra, karena ada yang ingin dilihatnya terlebih dahulu.


"Dion cukup untuk membuat keadaan jadi rumit," ucap Sintia pelan.


"Sin," panggil Vanessa.


Sintia menoleh dan berjalan kembali, ia duduk dan melanjutkan makan buburnya.


"Siapa dia, jangan bilang dia lelaki yang kamu sukai?"


"Bukan, sembarangan saja kalau bicara, dia teman ku, heran saja bisa sampai sini padahal rumahnya jauh."


"Ya itulah memang, bubur ini paling enak di Kota ini, meski adanya di pinggiran jalan."


Sintia mengangguk saja, terserah, karena bukan itu fokus utamanya, sekarang Sintia merasa paginya begitu menyenangkan.

__ADS_1


 


"Mana Ayra, kenapa dia tidak ikut sarapan?"


"Masih tidur, katanya tidak enak badan, nanti akan turun kalau sudah baikan."


"Segera bawa dia ke Dokter."


"Gak mau, aku sudah ajak tadi, tapi gak mau."


Inggrid mengangguk, kenapa wanita itu, padahal semalam dia masih baik-baik saja, dan sekarang mendadak sakit.


Inggrid menatap Bian, lelaki itu terlihat santai menikmati makanannya, apa mungkin mereka berdua bertengkar semalam, tapi Inggrid tidak mendengar keributan apa pun juga.


"Kenapa, Oma?"


Inggrid mengerjap lalu menggeleng, ia melahap makanannya tanpa menjawab pertanyaan Bian.


"Tenang saja, Ayra pasti baik-baik saja, nanti aku bujuk lagi untuk ke Dokter."


"Memang harusnya seperti itu."


"Iya, Oma jangan fikiran dulu."


Inggrid tak menjawab, semoga saja memang Bian tidak kasar pada wanita itu, perihal Vanessa seharusnya mereka bisa bicara baik-baik.


"Apa keputusan kamu untuk wanita itu?"


"Wanita siapa?"


"Vanessa."


Bian diam, apa yang harus dikatakannya, jika ternyata Bian tidak ingin melupakannya begitu saja.


"Jangan macam-macam kamu."


"Apa sih, Oma?"


"Apa sih apa sih, jawab."


"Iya, aku akan jauhi dia."


"Jangan berani kamu bohong."


"Iya, Oma."


Bian meneguk minumnya, berisik sekali wanita itu, kenapa tidak mengerti dengan perasaan Bian.


"Aku lihat Zahra dulu."


"Sekalian kamu bawakan sarapannya."


"Suruh Bibi sajalah."


"Apa susahnya kamu bawa sendiri?"


Bian memghembuskan nafasnya perlahan, ia lantas mengisi piring makan untuk Zahra, Bian memang tidak bisa membantah Inggrid.


"Aku ke atas."


"Rawat Istrimu."


Bian hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan Inggrid, Zahra memang menyusahkan sekali, pagi-pagi sudah membuatnya kesal saja.

__ADS_1


__ADS_2