
Zahra keluar dari Kantor, jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Zahra benar-benar pulang terlambat hari ini.
"Bu, saya duluan," ucap Marvel.
"Silahkan, terimakasih untuk bantuan kamu."
"Sama-sama, Bu."
Keduanya berpisah, Marvel melaju pergi dengan mobil pribadinya, sedangkan Zahra memasuki taxi online yang dipesannya tadi.
Kringgg ....
Zahra segera membuka tasnya untuk mengambil ponselnya, ada panggilan dari Inggrid, mungkin saja ia kerepotan mengurus Bian.
"Jalan Pak."
"Baik, Bu."
"Kenapa Oma?" tanya Zahra setelah teleponnya tersambung.
Zahra mengernyit, mendengar kepanikan di sana, entah apa yang terjadi tapi Zahra mendengar teriakan Kania.
"Ada apa, kenapa berisik sekali."
Zahra tidak bisa mendengar suara Inggrid dengan baik, terlalu berisik, suara itu justru menyakiti telinga Zahra.
Sambungan terputus begitu saja, dan itu sangat membuat Zahra panik, ia menyimpan kembali ponselnya.
"Pak, tolong lebih cepat, sepertinya ada masalah di rumah saya."
"Baik Bu."
Zahra diam, hati dan fikirannya mendadak kacau, ada apa, kenapa seperti itu, bahkan Inggrid pun tidak mengatakannya dengan jelas.
Zahra menggeleng, mungkin saja acara dari tetangga rumah sehingga terdengar begitu bising.
"Pak tolong cepat."
"Sabar Bu, di depan banyak kendaraan lain juga."
Zahra berdecak, sabar, apa Zahra harus sabar, seharian Zahra tidak mendengar kabar orang rumah.
Harapannya yang selalu ingin semua baik-baik saja sepertinya memang sulit, karena sekarang Zahra dibuat panik oleh panggilan Inggrid.
Hampir setengah jam Zahra mengahbiskan waktu perjalanannya dengan gelisah, sampai di dekat rumahnya Zahra melihat ada mobil polisi.
"Ada polisi, Bu."
Zahra melihat halaman rumahnya, memang cukup banyak orang di sana dan memang ribut sekali.
Zahra diam, ia kembali ingat dengan lelaki yang datang ke rumah sakit sambil memaki Bian, apa ini ulahnya lagi.
"Bu," panggil sopir.
Zahra mengerjap, ia lantas keluar dan berlari menghampiri kerumunan itu.
"Bu, Ibu belum bayar, Bu."
Teriakan sopir taxi itu tak digubris Zahra, ia tak perduli dengan itu, apa yang melintasi fikirannya lebihlah penting.
"Ada apa ini, tolong minggir," ucap Zahra.
Mereka juga sepertinya tak perduli dengan Zahra, mereka mengabaikan permintaan Zahra untuk memberinya jalan.
__ADS_1
Tapi itu tak lantas membuat Zahra diam, ia mendorong setiap tubuh yang menghalanginya hingga ia bisa sampai di depan sana.
Zahra mengernyit, melihat Kania yang menangis dan Kemal yang berdebat dengan lelaki di sana.
"Memang dia lagi," ucap Zahra pelan.
"Ada apa ini?" tanya Zahra.
Mereka semua menoleh, Zahra melihat Bian yang memang ada dalam tahanan polisi.
Tidak, itu tidak boleh terjadi, Zahra tidak mau berfikir apa pun tentang apa yang sedang dilihatnya.
"Nah, kamu kan Istrinya, lama sekali kamu pulang, sekarang ayo Pak bawa dia saja."
"Bawa kemana, kenapa Bapak lagi-lagi buat keributan?"
"Saya buat keributan, apa kamu gila?"
Zahra menggeleng, ia kembali melirik Bian, tongkatnya tidak ada, Bian juga tampak kesakitan, apa yang sudah terjadi sebelum ini.
"Maaf Bu, kami harus membawa Pak Bian ke Kantor."
"Tapi kenapa, dia masih terluka."
"Kami harus melakukan pemeriksaan atas kejadian kecelakaan beberapa waktu lalu."
"Dia sudah membunuh anak saya, bukankah saya sudah jelaskan di hadapan mu?"
Zahra berusaha mengontrol dirinya, berusaha mempertahankan ketenangannya yang hanya tinggal sedikit lagi.
Keadaan sudah buruk, jadi Zahra harus bisa untuk tetap baik-baik saja saat menghadapinya.
"Bawa, Pak."
"Jangan, jangan tolong jangan, Suami saya masih sakit."
"Dia tidak bersalah, Pak Polisi, bukankah tidak ada satu orang pun yang menginginkan kecelakaan seperti itu terjadi, Suami saya juga terluka."
"Tapi dia masih hidup, sedangkan anak saya tidak."
"Tapi itu takdir Tuhan, jangan salahkan manusianya."
Lelaki itu berdecak, ia menarik Bian dari tahanan polisi dan menyeretnya pergi.
Dengan terpincang-pincang Bian mengikuti tarikan itu, tentu saja Zahra tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Berhenti, tolong jangan seperti ini."
"Ayra," panggil Inggrid.
Zahra menoleh, tapi satu detik kemudian ia menggeleng dan kembali menyusul Bian.
"Hentikan, jangan seperti ini, kasihan dia masih sakit."
"Jangan menghalangi jalan ku, apa kamu merasa lebih kuat dari ku?"
Zahra melirik Bian, lelaki itu pasti sangat kesakitan saat ini, Zahra tidak mungkin diam saja.
Polisi tampak menghampiri, mereka berusaha menenangkan lelaki itu, tapi sulit, karena ia tetap dengan keinginannya membawa Bian ke kantor polisi.
"Pak tolong, kita bisa bicarakan ini dulu, saya janji Suami saya tidak akan lari, tolong Pak."
"Ini sudah lama dari kejadian, saya sudah diam menunggu niat baik kalian, tapi mana?"
__ADS_1
"Iya, saya minta maaf, tapi saya juga harus mengurus Suami saya, Bapak tahu sendiri keadaan Suami saya waktu itu."
"Alasan, kalian memang keluarga tidak bertanggung jawab."
"Tutup mulut mu itu."
Kemal menyusul dan langsung menyela perdebatan mereka, Zahra melihat emosi di wajah Kemal saat ini.
Emosi hanya akan membuat keributan semakin tak terkendali, bisakah mereka lebih tenang lagi.
"Lepaskan anak saya."
"Itu tidak akan pernah terjadi."
"Saya bilang lepaskan anak saya."
"Papa," panggil Zahra.
Zahra sedikit menggeleng, Kemal tidak boleh emosi, atau Bian akan semakin tersakiti nantinya.
Mereka tampak diam beberapa saat, sampai akhirnya Zahra berlutut dengan menyentuh kaki lelaki itu.
"Zahra," panggil Bian.
"Percaya sama saya Pak, Suami saya akan bertanggung jawab untuk semuanya jika memang ia bersalah, tapi tolong jangan seperti ini caranya."
"Zahra bangun," ucap Kemal.
"Tolong, berikan waktu untuk saya dan keluarga saya, saya janji akan temui Bapak untuk jalan terbaiknya."
"Kamu fikir saya bisa percaya?"
"Ini rumah kami, kalau kami berbohong, silahkan datang kembali."
Lelaki itu tampak melirik polisinya, sedikit pun ia tak perduli, kesabarannya sudah habis menunggu mereka berbuat baik padanya.
Tapi bagaimana sekarang, ternyata ia merasa kasihan dengan Zahra, wanita itu begitu membela suaminya.
"Tolong biarkan dia pulih, jangan ganggu dengan hal seperti ini, saya akan tanggung jawab kalau sampai Suami saya lari, berikan waktu untuk kami bicara."
"Saya hanya akan berikan waktu satu hari saja, jika sampai besok malam kalian masih diam saja, tidak perlu lagi ada drama seperti ini."
Zahra mengangguk pasti, itu lebih baik dari pada pemaksaan saat ini, mereka bisa lebih tenang dalam berfikir.
Ia melepaskan Bian dengan sedikit mendorongnya, jelas saja itu cukup untuk membuat Bian ambruk.
"Bagaimana, Pak?" tanya polisi.
"Saya akan kembali besok malam."
"Baik, kalau begitu kita pergi, mohon maaf atas keributan yang terjadi."
Tak ada jawaban, mereka semua hanya diam saja membiarkan 3 orang itu pergi dari hadapannya.
Zahra melirik Bian dan segera mendekatinya, ia menyentuh kaki Bian sekilas, entahlah tapi Zahra tahu jika itu sakit.
"Ayo bangun, kita masuk, dimana tongkat kamu?"
Zahra menarik Bian untuk bangkit, tapi Bian justru membalik keadaan, ia menarik Zahra hingga ikut ambruk, memeluknya erat, mungkin boleh jika Bian merasa malu untuk semuanya.
Perlahan orang-orang itu pergi, dengan bisikan tak berguna dari mulutnya, kini tidak ada lagi kerumunan karena semua sudah pergi.
"Ayo masuk," ucap Inggrid.
__ADS_1
Kemal yang berniat mendekati Bian dan Zahra itu harus mengurungkan niatnya, ia melirik Inggrid yang memintanya untuk segera menjauh.
Biarkan saja mereka berdua di sana, karena sepertinya Inggrid suka dengan apa yang dilakukan Bian saat ini.